Mengejar Bintang

Mengejar Bintang
Memastikan Kebenaran


__ADS_3

⭐⭐⭐⭐⭐


Pak Hadi menghela napas kasar, bingung harus mempercayai yang mana. Di satu sisi, dia sangat tahu sifat sang putri. Sementara di sisi yang lain, apa yang disampaikan oleh Sesil cukup masuk akal bagi orang yang awam mengenai minuman alkohol seperti Pak Hadi.


Pak Hadi tidak pernah tahu aroma alkohol itu seperti apa. Yang dia tahu, bahwa minuman tersebut memabukkan dan dapat membuat seseorang melakukan sesuatu diluar kendalinya.


Papanya Bintang tersebut menatap khawatir pada sang putri, dia takut jika memang benar Bintang mabuk dan putrinya itu telah melakukan suatu hal di luar kesadaran Bintang seperti apa yang dikatakan oleh Sesil.


"Kamu istirahatlah, Sayang. Kita bicarakan ini lagi, besok," titah Pak Hadi dengan memelankan suara. Dia tidak ingin membuat kesalahan dengan mengambil kesimpulan tanpa bukti seperti tadi siang.


Putrinya sudah sangat terluka dengan sikapnya tadi dan Pak Hadi tidak ingin melakukan kesalahan yang sama, dengan menambah luka di hati Bintang hingga luka itu semakin menganga.


Bintang patuh. Gadis berambut sebahu tersebut segera berlalu meninggalkan meja makan tanpa sepatah kata.


Bintang hanya berani menyimpan harapan kecil di dalam hati, kiranya sang papa mau mempercayai ucapannya daripada perkataan sang calon mama tiri.


"Mas, Mas percaya padaku, kan?" Sesil menatap kesal pada calon suaminya karena Pak Hadi malah menyuruh Bintang untuk beristirahat dan bukannya langsung meminta Bintang untuk menerima Delon karena mereka telah berbuat jauh, seperti yang dia rencanakan.


Pak Hadi menghela napas panjang.


"Sebaiknya, kamu pulang dulu," pinta Pak Hadi seraya beranjak, membuat Sesil semakin kesal pada calon suaminya itu.


Bintang yang masih dapat mendengar sang papa mengusir Sesil dengan halus, tersenyum tipis. 'Bolehkah aku berharap lebih, pa? Berharap, papa lebih mempercayai Bintang daripada perempuan muda yang papa hadirkan di antara kita?'


🌟🌟🌟


Semalam, Bintang tidur cukup nyenyak setelah mendengar sang papa menyuruh Sesil pulang.


Bahkan, beberapa saat kemudian papanya juga menyusul ke kamar dan mencium kening Bintang dengan cukup lama, ketika semalam dirinya pura-pura tidur saat mendengar ada langkah kaki mendekati kamar.


Bintang tersenyum dan dia mulai berani menabur harapan lebih. 'Moga aja, papa lebih percaya padaku ketimbang pada serigala wanita itu.'

__ADS_1


Kekasih Surya tersebut kemudian melihat ponselnya dan senyumnya makin lebar ketika melihat ada deretan pesan masuk dari sang kekasih.


Ya, semalam setelah Pak Hadi keluar dari kamar Bintang, Surya menelepon dirinya. Mereka berdua ngobrol hingga larut malam dan kini ketika baru membuka mata, ucapan selamat pagi sudah Bintang dapatkan dari sang kekasih hati.


"Rasanya, Bintang sudah tidak sabar ingin segera menyusul Kakak," tulis Bintang, membalas pesan berderet Surya.


"Jangan bilang seperti itu, Cinta. Perkataanmu membuatku semakin rindu dan ingin segera pulang untuk menjemputmu."


Baru saja Bintang selesai membaca pesan dari sang kekasih, panggilan video dari Surya menyusul masuk.


"Kak, kok malah telepon," protes Bintang setelah menerima panggilan video dari sang kekasih.


Jelas saja dia protes karena Bintang belum sempat mencuci muka, rambutnya pun masih acak-acakan karena dia belum sempat beranjak dari tempat tidur.


"Hahaha ...." Tawa Surya pecah melihat kondisi sang kekasih, membuat Bintang cemberut.


"Sudah kuduga, kamu pasti baru saja bangun dan belum cuci muka Tuh, masih ada iler di sudut bibir kamu." Wajah Surya yang memenuhi layar ponsel Bintang, tersenyum jenaka.


Bintang semakin mengerucutkan bibir, pura-pura marah dan Surya sangat menikmati pemandangan indah di hadapannya.


Pemuda yang saat ini sudah tampil rapi tersebut menatap Bintang tanpa berkedip dan dengan senyuman yang tersungging di bibir.


Bagi Surya, seperti apapun penampilan Bintang, gadisnya itu tetap cantik di matanya. Dan Surya lebih menyukai penampilan Bintang yang polos seperti sekarang ini karena wajah innocent Bintang, akan terlihat bersinar.


"Sayang, udah dulu, ya. Aku harus segera berangkat, Gio udah menungguku," pamit Surya setelah puas menatap wajah kekasihnya.


"Nanti dulu, Kak. Bintang masih kangen," rajuknya, manja.


Surya menghela napas panjang seraya memejamkan mata. Dia paling tidak bisa menolak keinginan Bintang.


"Sayang ... jangan paksa aku untuk pulang dan kemudian menculikmu!" tegas Surya yang kali ini sepertinya tidak main-main.

__ADS_1


Perasaan rindunya terhadap Bintang meski baru sehari mereka berpisah, mampu membuat Surya melakukan apapun, termasuk pulang ke tanah air dan kemudian memaksa Bintang untuk ikut bersamanya.


Apalagi kemarin nomor Bintang sempat tidak bisa dia hubungi, hingga membuat Surya khawatir, sesuatu hal buruk terjadi pada sang kekasih hati.


Untuk beberapa saat, kedua netra mereka saling terpaut dalam melalui layar ponsel. Tak ada yang bersuara, hanya hembusan lembut napas keduanya yang terdengar samar.


"Cinta, buruan mandi. Biar enggak telat pergi ke sekolahnya," suruh Surya kemudian, sebelum mengakhiri panggilan videonya.


Bintang mengangguk, seraya tersenyum. "Oke, Kak. Have a nice day," pungkas Bintang.


🌟🌟🌟


"Sayang, pagi ini kamu diantar sama sopir, ya. Nanti pulangnya, papa yang jemput," ucap Pak Hadi, di sela-sela mereka berdua sarapan.


"Iya, Pa," balas Bintang, menurut.


"Memangnya, Papa ada meeting pagi, kah?" tanya Bintang kemudian. Sebab, tidak biasanya sang papa berangkat pagi-pagi sekali jika tidak sekalian mengantarkan dirinya ke sekolah.


"Tidak ada. Papa hanya mau mampir dulu ke hotel dan mengecek CCTV di sana," balas sang papa, membuat Bintang sejenak menghentikan makannya.


"Papa tidak percaya sama Bintang?" Bintang menatap sang papa dengan tatapan sendu.


Sakit rasanya tidak dipercaya oleh orang yang disayang, dihormati dan dibanggakannya selama ini.


"Bukan tidak percaya, Sayang. Papa hanya ingin memastikan kebenaran, agar papa tidak salah sangka terhadap kamu ataupun Mama Sesil?" balas Pak Hadi yang ikut menghentikan sarapannya.


"Kalau di layar CCTV memang terbukti bahwa Bintang keluar dari toilet bersama Delon, apa papa juga akan percaya bahwa di dalam sana Bintang dan Delon melakukan hal yang menjijikkan?" cecar Bintang dengan netra yang mulai berembun.


Bintang ingat, bahwa malam itu Delon menyusul ke toilet yang memang tidak dia tutup sewaktu dirinya merasakan mual dan kemudian muntah di sana. Delon juga membantunya keluar dari toilet dengan memapah tubuhnya yang lemah tanpa daya.


Pak Hadi menghela napas kasar. Laki-laki itu merasa dilema.

__ADS_1


"Kita bisa lihat sama-sama nanti, Sayang," pungkas Pak Hadi yang tidak ingin berdebat dengan sang putri.


🌟🌟🌟🌟🌟 tbc ...


__ADS_2