Mengejar Bintang

Mengejar Bintang
Boleh, ya?


__ADS_3

"Bolehkah aku, aku ...." Surya menjeda ucapannya sejenak. Pemuda itu mengatur napasnya yang mulai memburu.


"Boleh apa, Kak?" kejar Bintang dengan perasaan tak karuan.


"Mandi, aku mau mandi sekarang," balas Surya seraya mencuri kecupan di pipi lembut Bintang. Pemuda itu segera berguling ke sisi kanan Bintang dan kemudian tertawa lepas.


Surya sangat senang karena berhasil mengalahkan keinginannya sendiri yang ingin menyentuh lebih pada sang kekasih.


Sementara Bintang tersenyum malu, tetapi sekaligus merasa lega karena Surya tetap bisa menjaganya meskipun mereka memiliki kesempatan untuk melakukan hal yang lebih.


"Makasih ya, Kak," ucap Bintang seraya menoleh ke samping kanan.


Surya menoleh ke arah sang kekasih dan kemudian tersenyum manis. "Kita sama-sama jaga hati dan jaga diri, ya," pintanya dengan tatapan dalam.


Bintang mengangguk, netra bulatnya kini telah berkaca-kaca. Dia merasa beruntung memiliki Surya, pemuda yang tidak pernah bersikap kurang ajar kepada dirinya.


"Hei, kenapa menangis?" Surya memiringkan tubuhnya dan kemudian mengusap air mata yang menggenang di pelupuk mata Bintang dengan ibu jarinya.


"Makasih ya, Kak. Makasih karena Kakak udah menjaga Bintang selama ini," ucap Bintang, terisak.


Surya kemudian melabuhkan ciuman di kening Bintang, ciuman yang lama dan dalam.


"Udah, yuk. Kalau seperti ini terus, aku takut lepas kontrol." Surya beringsut dan kemudian segera beranjak.


"Buruan, mandi! Habis ini, temani calon suami kamu ini ngopi," titahnya dengan senyuman jenaka, membuat Bintang tersenyum lebar.


"Siap, calon suami," balas Bintang yang ikut beranjak. Gadis itu kemudian segera berlalu, dengan diiringi tatapan Surya yang terus tertuju kepada dirinya.


Surya menghirup udara sebanyak-banyaknya setelah Bintang menghilang di balik pintu yang ditutup rapat.


"Om Hadi ada benarnya jika tidak mengijinkan anak gadisnya untuk ikut aku pindah. Sebab, bahaya juga jika kami selalu bersama, tetapi kami belum resmi menikah. Keinginan untuk menyentuh Bintang akan selalu ada dan aku takut lama-lama bisa melakukan kesalahan fatal," monolog Surya sambil menatap dirinya yang sudah bertelanjang dada, dari pantulan cermin besar di hadapan.


Surya menghela napas kasar. Pemuda itu kemudian buru-buru menuju kamar mandi untuk membersihkan diri setelah seharian tadi, dia melakukan aktivitas yang memacu adrenalinnya.

__ADS_1


Tak berapa lama, Bintang dan Surya sudah duduk dengan saling berhadapan di teras samping sambil menikmati segarnya udara di sore hari.


Secangkir kopi untuk Surya, segelas air hangat untuk Bintang, dan camilan ringan sudah tersaji di atas meja bulat di bawah payung besar, tempat mereka berdua saat ini duduk sambil menikmati suasana.


"Kak, tumben duduknya disitu?" tanya Bintang karena biasanya, Surya akan memilih duduk menempel padanya.


"Agar aku bisa menikmati mahakarya indah hasil ciptaan-Nya," balas Surya seraya menatap dalam manik hitam Bintang, membuat pipi putih sang kekasih menjadi merona.


Bukan, bukan itu yang sebenarnya. Surya hanya tidak ingin lepas kendali jika berdekatan dengan Bintang, apalagi saat ini aroma tubuh sang kekasih begitu wangi.


Surya pasti ingin terus memeluk dan menciuminya dan dia tak ingin melakukan hal itu sekarang.


"Bintang juga ingin menikmati kesempurnaan mahakarya-Nya," balas Bintang kemudian, tak mau kalah.


Gadis itu bahkan menopang dagunya dengan kedua tangan, seraya menatap lekat wajah sang kekasih. Wajah Surya yang tegas, hidungnya mancung, tatapannya tajam, sangat sempurna berpadu dengan bibir Surya yang tipis dan merah alami.


Diperhatikan seperti itu oleh sang kekasih, Surya tersenyum lebar, menampakkan deretan giginya yang rapi dan putih bersih.


"Sudah puas, belum?" tanya Surya seraya mengibaskan salah satu tangannya di hadapan Bintang.


Surya terkekeh pelan. "Pandai menggombal juga kamu, Beib," ucap Surya.


"Bintang enggak sedang menggombal, Kak. Bintang bicara yang sejujurnya," protes Bintang.


Surya kemudian beranjak mendekati sang kekasih dan memeluk Bintang dari belakang.


"Aku tak sabar menanti empat tahun lagi, untuk kita bisa menikah, Cinta," ucapnya seraya menciumi puncak kepala Bintang bertubi-tubi.


Surya terus melakukannya, seolah dia tak ingin kehilangan momen indah tersebut.


"Kalian di sini." Suara Pak Hadi, menyudahi ciuman Surya di pencak kepala Bintang.


Pemuda itu segera mengurai pelukan dan kemudian menoleh ke arah sumber suara. Surya menyambut kedatangan papanya Bintang dengan menyalaminya.

__ADS_1


"Selamat sore, Om," sapa Surya, sopan.


Pak Hadi membalasnya dengan tersenyum hangat dan kemudian ikut duduk bersama Bintang dan Surya, setelah Bintang menciumnya.


"Papa sudah pulang dari tadi?" tanya Bintang.


"Lumayan," balas Pak Hadi. "Tadi bibi yang bilang kalau ada Nak Surya, tapi papa mandi dulu sebelum menemui kalian," lanjutnya.


"Oh, ya. Tumben kamu bawa mobil, Nak Surya?" tanya Pak Hadi.


Surya dan Bintang saling pandang.


"Itu mobil Kak Gio, Pa," balas Bintang mewakili.


Gadis cantik itu kemudian menceritakan kejadian yang dia alami tadi, ketika Delon memaksanya untuk ikut masuk ke dalam mobil. Bahkan mamanya Delon sampai tega membekap Bintang hingga pingsan, ketika berada di dalam mobil tadi.


"Kurang ajar! Ini tindak kriminal, Sayang! Kita tidak bisa membiarkan Delon dan maminya begitu saja!" Pak Hadi nampak sangat geram.


"Apa, Papa mau lapor polisi?" tanya Bintang.


Pak Hadi terdiam. Laki-laki yang terlihat lebih muda dari usianya tersebut, terlihat sedang menimbang.


Papanya Bintang tersebut tidak mau kejadian seperti ini terulang pada sang putri, tetapi dia juga tidak mau jika sampai masalah ini membawa dampak buruk bagi perusahaannya.


Pak Hadi menghela napas berat. "Papa akan mencoba berbicara pada Om Marcus, semoga dia bisa mengendalikan Delon agar tidak mengganggumu lagi," balas Pak Hadi.


"Tapi, Pa ...."


"Kamu tenang saja, Sayang. Setelah ini, papa akan menugaskan pada salah satu anak buah papa untuk mengawal kemana pun kamu pergi," sergah Pak Hadi, memotong perkataan sang putri.


"Bukan itu maunya Bintang, Pa, tapi Bintang mau ikut pindah ke Ausie bareng Kak Surya," pinta Bintang.


"Boleh ya, Pa?" rajuknya, memohon.

__ADS_1


🌟🌟🌟🌟🌟 tbc ...


__ADS_2