
⭐⭐⭐⭐⭐
Sebagaimana permintaan pelanggan yang tadi menelepon, teman Sesil yang merupakan pengelola diskotik tersebut segera menuntun Sesil menuju lantai atas.
"Kenapa harus kamu yang mengantarkan aku, Oppa? Kenapa bukan dia yang menjemputku?" cecar Sesil, sambil berjalan terhuyung karena kebanyakan meminum minuman beralkohol tinggi.
Meski jalannya sedikit oleng, tetapi kesadaran Sesil masih sembilan puluh sembilan persen, itu karena dia adalah peminum yang handal.
Minuman beralkohol sudah Sesil konsumsi semenjak duduk di bangku sekolah menengah pertama, di negara sang mama, di belahan bumi bagian barat.
"Tidak. Dia bilang, dia akan menyiapkan kejutan buat kamu di sana," balas sang oppa.
"Sudah, kamu ikuti aja. Aku jamin, kamu bakal puas bersenang-senang dengan dia nanti," lanjutnya ketika Sesil seperti hendak protes.
Wanita yang memakai blouse ketat dengan belahan dada lebar, dipadukan dengan rok span berukuran mini yang tidak dapat menutup penuh paha mulusnya, mengikuti langkah panjang si oppa dengan sedikit terseok karena sepatu hells yang dia kenakan.
"Apa mau, aku gendong?" tawar pemuda teman Sesil tersebut, ketika melihat wanita muda itu berjalan seperti jalannya seekor mentok yang keseleo.
"Tidak perlu, udah hampir sampai juga, kan?" tolak Sesil karena memang benar adanya, kamar khusus yang sering dipakai Sesil untuk bersenang-senang, sudah berada di depan mata.
Sesil semakin mempercepat langkah, ketika melihat seorang pemuda keluar dari kamar yang pintunya tidak ditutup tersebut dan menyambut kehadiran dirinya dengan tersenyum, macho.
'Gila, bentuk tubuhnya oke banget,' kagum Sesil dalam hati, seraya menatap pemuda yang kini berada tak jauh dari tempatnya berdiri.
Sesil menggigit bibir bawahnya sendiri melihat sosok pemuda berbadan atletis yang menyambutnya di ambang pintu.
Pemuda tersebut hanya mengenakan boxer, hingga ular sanca yang bersembunyi di dalam boxer, terlihat sangat menonjol dan nampak mulai menggeliat.
Mungkin karena pemilik ular sanca tersebut melihat mangsanya mendekat, hingga si ular yang dapat mencium aroma wangi mangsanya langsung terbangun.
Sesil menelan saliva, miliknya langsung berkedut dan mulai basah karena mengharap belitan dari ular sanca, milik pemuda di hadapannya.
"Apa Anda, yang akan menemani saya?" tanya Sesil seraya melangkah maju dan semakin mendekat.
Tangan wanita seksi itu mulai meraba dada bidang sang pemuda yang ditumbuhi bulu-bulu halus, hingga sampai ke perut.
"Benar, Nona. Saya yang akan membuat Anda melayang sampai esok pagi," balas pemuda tersebut seraya tersenyum puas.
__ADS_1
Pemuda itu menikmati kenakalan tangan Sesil yang tidak berhenti menelusuri dada hingga ke perut dan terus turun ke bawah, menyentuh ular sanca miliknya dan kemudian meremas, gemas.
"Apa Anda ingin, kita melakukannya di sini, Nona?" tanyanya kemudian seraya tersenyum menggoda.
"Bro, seret aja dia ke dalam!" titah si oppa seraya terkekeh pelan. Pengelola diskotik tersebut kemudian meninggalkan dua insan yang sama-sama menginginkan pelampiasan kenikmatan.
Pemuda yang akan melayani Sesil pun ikut terkekeh dan tanpa menunggu lama, langsung menarik tangan Sesil dan membawa wanita berpenampilan berani tersebut masuk ke dalam kamar yang telah dipersiapkan.
🌟🌟🌟
Sepulang sekolah, Bintang langsung ke kantor sang papa seperti permintaan papanya yang barusan menelepon.
Sepanjang perjalanan menuju kantor sang papa tersebut, perasaan Bintang tak karuan. Rasa khawatir dan takut bercampur menjadi satu, jika sang papa ternyata lebih mempercayai hasutan Sesil dan kemudian memaksanya untuk menerima Delon.
"Non Bintang mau langsung ke kantor bapak, atau mampir kemana dulu, Non?" tanya sopir kantor yang disuruh oleh Pak Hadi untuk menjemput sang putri.
"Langsung ke kantor saja, Pak," pinta Bintang yang sudah tidak sabar ingin segera mengetahui apa yang akan disampaikan oleh sang papa.
Sopir tersebut terus melajukan kendaraannya, membelah jalanan beraspal yang cukup padat.
Bintang segera turun setelah mobil tersebut berhenti di tempat parkir khusus. Melangkah cepat gadis berkulit putih tersebut memasuki lobi, seraya menebarkan senyum ramah pada orang-orang yang dia temui.
"Non Bintang baru pulang sekolah, ya?" tanya salah seorang pegawai di kantor Pak Hadi.
"Iya, Mbak. Mari," balas Bintang, sopan.
"Udah cantik, ramah pula," bisik salah seorang dari mereka yang berpapasan dengan Bintang di lobi.
Putri tunggal Pak Hadi itu terus berlalu menuju lift yang akan membawanya naik ke lantai teratas, di mana kantor sang papa berada.
"Om Toni. Om sudah mau pulang?" tanya Bintang ketika bertemu dengan Toni yang baru saja keluar dari lift.
"Belum, Non. Papa Non Bintang menyuruh saya untuk menjemput seseorang di parkiran," balas Toni, membuat Bintang mengerutkan dahi.
"Mari, Non," pamit Toni, meninggalkan Bintang yang mematung dengan menyimpan tanya dalam hati.
"Siapa, sih, pakai dijemput segala?" tanya Bintang. Gadis itu mengedikkan bahu dan kemudian segera masuk ke dalam lift.
__ADS_1
Kotak besi tersebut segera bergerak naik, setelah Bintang memencet angka di mana lantai ruangan sang papa berada.
Di dalam lift, pikiran Bintang semakin berkecamuk. Resah, gelisah, melanda batinnya.
Bintang segera keluar dari lift begitu pintu lift terbuka, dia melangkah dengan cepat karena sudah tidak sabar ingin bertanya pada sang papa, siapakah tamu yang dijemput oleh Toni.
"Selamat sore, Pa," sapa Bintang setelah memasuki ruangan sang papa yang luas dan elegans.
"Sore, Sayang," balas Pak Hadi yang segera mengakhiri aktifitasnya begitu melihat sang putri datang.
Ayah satu anak itu kemudian beranjak dan menerima uluran tangan sang putri yang menyalaminya.
Pak Hadi membalas dengan mencium kening putrinya dengan dalam dan mengusap surai hitam Bintang, penuh kasih.
"Bagaimana tadi di sekolah, tidak ada masalah, bukan?" tanya Pak Hadi setelah keduanya duduk di sofa.
"Tidak, Pa," balas Bintang seraya menggeleng.
"Oh ya, Pa. Om Toni, jemput siapa?" tanya Bintang, penasaran.
"Oh, itu, teman Surya," balas Pak Hadi, membuat dahi Bintang semakin berkerut dalam.
"Teman Kak Surya?"
"Iya, papa juga belum tahu ada apa dia ingin bertemu papa dan sepertinya sangat penting," balas Pak Hadi seraya mengedikkan bahu.
Bintang mengangguk-angguk.
"Oh ya, Pa. Apa Papa sudah melihat rekaman CCTV di hotel kemarin?" tanya Bintang, sesaat kemudian. Perasaan gelisah kembali hadir, membuat Bintang menjadi tidak tenang.
"Papa percaya sama Bintang, kan?"
Pak Hadi menatap sang putri seraya tersenyum. Papanya Bintang itu tak langsung menjawab, tetapi malah beranjak dan mengambil laptop dari meja kerjanya.
"Kamu bisa lihat sendiri rekaman CCTV-nya, Sayang." Pak Hadi menyimpan laptop yang terbuka dan menampilkan video hasil rekaman CCTV di hotel, membuat Bintang semakin tak karuan.
🌟🌟🌟🌟🌟 tbc ...
__ADS_1