Mengejar Bintang

Mengejar Bintang
bab 16


__ADS_3

LANGIT kota Paris berwarna biru cerah. Niko memandang menara Eiffel dari jendela apartemennya. Sudah mau memasuki musim panas. Niko sibuk merancang koleksi musim panas untuk Julien. Dia sudah di Paris selama enam bulan. Niko tidak pernah menyangka enam bulan berlalu dengan cepat.


Niko memandang cincin bintang di meja kerjanya. Kini sudah empat bintang yang terisi.Tinggal tersisa satu bintang lagi.


Niko menyantap roti Prancis dengan selai stroberi sebagai sarapan serta secangkir kopi. Di kepalanya penuh ide baru untuk koleksi musim panas. Tapi dia memutuskan untuk beristirahat sejenak setelah sarapan. Dia memutar lagu klasik gubahan Mozart untuk menenangkan pikirannya.


Tiba-tiba HP nya menyala. Niko mengambilnya. Ada pesan masuk.


Dapat nomor ini dari Tante.


Ada pesta reunian sekolah minggu depan.


Datang ya. Aku tunggu.


Erika.


Niko tersenyum. Sudah empat tahun dia tidak bertemu Erika. Niko mendesah. Dia tidak bisa datang. Pameran koleksi perhiasan Julien untuk musim panas tinggal sebulan lagi. Sebagai asisten Julien di Bardeux Jewelry, tuntutan tugasnya tidak pernah berhenti setiap hari.


Niko membalas SMS Erika.


Maaf, tidak bisa datang.


Sibuk mempersiapkan koleksi musim panas.


Mungkin lain kali.


Niko.


Mata Niko tertuju pada tumpukan buku di lemari kerjanya. Kebanyakan buku tersebut adalah buku tentang perhiasan. Kakinya berjalan mendekat. Di paling ujung deretan buku tersebut terdapat buku tahunan sekolahnya. Niko mengambilnya dan membuka halaman demi halaman. Kenangannya kembali ke masa sekolah.


Ketika sampai pada halaman yang menampilkan foto-foto teman sekelasnya, Niko menatap wajah Laura dengan lembut. Di bawah foto tersebut terdapat pesan dan kesan yang ditulis tangan oleh siswa-siswi sendiri. Niko menyentuh foto Laura perlahan. Satu-satunya foto Laura yang dimilikinya. ("Apakah Laura akan datang?") tanyanya dalam hati. ("Mungkin sebaiknya aku pergi ke pesta reunian sekolah. Siapa tahu aku bisa bertemu Laura disana.")


Tanpa sengaja buku tahunannya jatuh ke lantai.Ketika Niko hendak memungutnya kembali, buku tahunan tersebut terbuka pada halaman terakhir. Niko melihat sebuah kalimat disana. *Aku menyukaimu.*


Niko mengambil buku tahunan itu dan mendekatkan jarak pandangnya. ("Apakah Erika yang menulis ini? Tapi ini tidak seperti tulisan tangan Erika.") Tangan Niko dengan cepat mambalikkan halaman ke foto-foto siswa 3 IPA 1. Napasnya terhenti. Tulisan tangan di belakang buku sama persis dengan tulisan Laura.


("Aku benar-benar bodoh") jantung Niko berdetak kencang. ("Aku tidak pernah menyadarinya"). Selama ini dia menyangka Laura hanya menganggapnya teman baik. Ketika wisuda, Niko baru menyadari dirinya menyukai Laura, tapi dia tidak tahu bagaimana perasaan Laura padanya.


Niko berlari ke meja tamunya dan menelepon nomor Erika.


"Erika," katanya cepat, "aku akan datang ke pesta reuni."


Erika terdengar senang dengan kabar tersebut. Selanjutnya, Niko mengetuk pintu apartemen Julien di lantai bawah.


"Aku harus pulang," kata Niko ketika Julien membuka pintunya.


"Apa maksudmu, pulang?” tanya Julien bingung.


"Beri aku waktu tiga hari. Aku harus pulang minggu depan," Niko memohon pada Julien.


"Apakah ada yang sakit? Orangtuamu?" Julien tidak pernah melihat Niko sepanik ini, bahkan pada saat tertekan karena tuntunan pekerjaan sekalipun.

__ADS_1


"Bukan itu. Aku harus menemui seseorang. Aku harus menemuinya Julien." Niko menatap Julien dengan serius.


Julien menarik napas. "Seseorang yang istimewa, bukan?"


Niko mengangguk sambil tersenyum. "Seseorang yang telah membantuku mewujudkan mimpiku."


"Ah... gadis itu." Julien mengangguk-anggukan kepala. "Gadis yang memberikan karyamu beberapa tahun yang lalu. Aku mengerti. Pergilah."


Niko memeluk Julien singkat. "Merci( terima kasih), Julien.”


Niko mulai menelepon bagian tiket penerbangan, dan langsung membeli tiket pulang untuk minggu depan.


 


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


Niko memasuki area sekolahnya. Dia tersenyum. Sekolahnya tidak berubah. Ruang kelas masih mengelilingi lingkungan sekolah. Di tengah-tengah terdapat taman sekolah. Lalu lapangan basket. Niko berjalan menuju aula sekolah, tempat pesta reuni diadakan.


"Niko!" teriak Erika sambil memeluknya. "Aku senang sekali kau bisa datang."


Niko tertawa dan balas memeluknya. "Lama tidak bertemu Erika."


Di belakang mereka seseorang berdehem. Erika langsung melepaskan pelukannya. "Maaf," katanya pada Niko. "Kenalkan ini Ari, pacarku."


Niko menjabat tangan Ari. "Halo, Ari. Aku Niko."


Ari mengangguk. "Aku tahu."


Erika merangkul tangan Ari sambil tersenyum. "Ari seorang dokter."


Erika menonjok pelan lengan Niko. "Hei. Aku juga dokter, tahu! Ehm, maksudku sekitar satu atau dua tahun lagi."


"Aku tidak pernah menyangka kau masuk kedokteran." Niko terkejut.


"Salah sendiri tidak pernah mengontakku. Aku harus menyambut peserta lain," kata Erika sambil tersenyum. "Silahkan berkeliling sendiri, oke?"


Niko mengangguk. "Baiklah."


Pandangan Niko menyapu seluruh ruang aula. Dia mengenal teman-teman sekolahnya dulu dan tersenyum lalu mulai menyapa mereka. Kebanyakan dari mereka sudah bekerja atau ada yang masih kuliah.


Setelah menyapa hampir semua orang yang dia kenal, Niko duduk di sebuah meja yang menghadap pintu masuk. Setiap ada orang masuk, Niko berharap itu Laura. Ketika wajah yang diharapkannya tak kunjung muncul, hati Niko sedikit kecewa.


Erika memulai acara pesta reunian dengan meriah. Ada pertunjukan musik, sandiwara, dan rekaman video tentang aktivitas mereka selama sekolah dulu. Niko menyadari bahwa Laura tidak pernah berada dalam video rekaman tersebut. Kebanyakan didominasi oleh dirinya dan Erika. Seakan-akan Laura tidak pernah berada di sekolah yang sama dengannya. Niko sudah putus asa ketika pesta reuni sudah mencapai puncak acara dan Laura tak kunjung datang.


Jam sebelas malam, acara berakhir. Yang tersisa hanya panitia. Niko duduk di atas panggung.


Erika mendekatinya. "Kopi?" tawarnya.


Niko tertawa dan menerima tawaran kopi dari Erika. "Thanks."


"Dia tidak datang, ya? Laura?" Erika menatap mata Niko yang bersinar sedih.

__ADS_1


Niko menggeleng perlahan.


Erika menemani Niko duduk di panggung. "Aku benar-benar egois waktu sekolah dulu. Aku ingin meminta maaf padanya. Tapi dia tidak datang. Aku bertanya pada teman-teman yang lain, tapi sepertinya tidak ada yang tahu kabar Laura."


Niko meletakan gelas kopinya. "Laura bukan gadis populer di sekolah."


Erika menarik napas perlahan. "Laura benar-benar menyukaimu. Dia pernah mengatakannya padaku. Tapi aku tak bisa menerimanya, dan malah menyakitinya. Maafkan aku,  Niko."


"Tidak apa-apa," kata Niko lembut. "Kau tidak bisa mengubah masa lalu. Aku hanya berharap dia datang. Aku ingin mengatakan perasaanku padanya. Walaupun terlambat empat tahun. Maaf, aku juga telah menyakitimu di acara wisuda sekolah dulu. Dan aku pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal padamu."


Erika tersenyum mengingat waktu tersebut. "Kau tahu, aku... marah dan sedih ketika kau meninggalkanku dan pergi ke New York. Tapi... aku tidak patah hati. Aku rasa karena kita sudah bersama sejak kecil, kita pikir itu adalah cinta. Ketika aku kuliah kedokteran di tahun pertama, aku bertemu Ari dan aku baru benar-benar merasakan bagaimana mencintai seseorang."


"Aku menyayangimu, Erika." Niko tersenyum sambil menyentuh bahu Erika perlahan. "Kita sudah bersama sejak kecil. Benar seperti katamu, kita sudah terbiasa satu sama lain. Apa yang kita rasakan waktu itu bukan cinta. Tapi... aku tetap akan memukul pacarmu seandainya dia menyakitimu."


Erika tertawa keras. "Aku rasa itu tidak mungkin terjadi. Kau tidak lihat pacarku? Dia tergilagila padaku."


"Aku senang kau bersama dengan orang yang kau cintai," kata Niko tulus.


"Aku berharap aku bisa berkata yang sama..." Erika tersenyum lemah. "Oh iya, aku dengar kau sudah menjadi perancang perhiasan hebat di Paris. Aku melihat koleksi musim gugurmu tahun kemarin. Aku membeli salah satu kalungmu." "Terima kasih," kata Niko.


"Aku benar-benar bangga padamu," ucap Erika sungguh -sungguh. "Kalau aku menikah nanti, aku ingin cincin pernikahanku kau yang rancang."


Niko tertawa. "Baiklah. Khusus untukmu tidak usah pakai biaya."


Erika tersenyum senang. "Thanks, Niko. Kau bekerja pada Julien Bardeux sekarang?"


Niko mengangguk. "Ya. Tapi setelah itu aku ingin membuka toko perhiasanku sendiri."


"Kau pasti berhasil." Erika tersenyum pasti. "Aku akan menjadi pelanggan pertama yang membeli perhiasanmu. Ah... Ari sudah memanggilku. Aku pergi  dulu ya. Bye,Niko."


"Bye, Erika," kata Niko.


Niko turun dari panggung dan melihat ruang aula sebelum keluar dari sana. Di pintu depan terdapat foto-foto semasa mereka sekolah dulu. Niko melihat foto Laura saat sedang bazar sekolah dulu. Laura tersenyum sambil mengambil spagetinya tanpa tahu bahwa dirinya sedang difoto. Niko mencopot foto tersebut dari dinding aula. "Aku bisa mengambil foto ini?" tanyanya pada salah seorang panitia. Setelah mendapat persetujuan dari panitia tersebut, Niko mengantongi foto itu di sakunya. Setidaknya kini dia memiliki foto Laura selain yang ada dibuku tahunan.


Niko berjalan keluar ruangan dan duduk di taman sekolah. Musik di pengeras suara mengalun lembut. Sebuah lagu lama berdendang perlahan. Lagu IF yang dinyanyikan oleh bread.


Niko mulai mengingat kenangan-kenangannya bersama Laura.


*if a picture a thousand words, then why cants i paint you?*


Pertama kali Niko menyadari keberadaan Laura ketika dirinya menghadapi ulangan fisika bersama gadis itu sepulang sekolah. Niko melihat Laura hampir menyerah. Kemudian dia memberinya semangat dengan kertas bertuliskan JANGAN MENYERAH. Kenangannya berganti pada saat hujan, saat mereka berduaan di mobilnya.


*If a face could launch a thousand ship ,then where am i to go?*


Menjaga kedai makanan bersama-sama saat bazar sekolah. Piknik sekolah ke pantai.


*If a man could be two places at one time,I'd be with you.*


Kepala Laura tanpa sengaja terjatuh di bahunya selama perjalanan pulang. Wajah Laura yang sedih saat Niko mengatakan tak bisa jadi temannya lagi sehari sebelum acara wisuda. Perpisahan terakhirnya dengan Laura.


* Then one by one the stars would all go out,then you and i would simply fly away...* Musik di pengeras suara berhenti.

__ADS_1


Niko memandang bintang di langit yang berkelip tiada henti. Niko menutup matanya perlahan. (Dimana kau sekarang,Laura?).


 


__ADS_2