
Setelah mengucapkan selamat tinggal pada Niko, dengan kesedihan yang mendalam Laura menemui wali kelasnya.
"Ini ijazahmu, Laura." Pak Bambang memandang anak didiknya dengan tersenyum.
"Terima kasih, pak," kata Laura sambil menerima ijazahnya dari tangan pak Bambang. "Terima kasih sekali lagi atas semua bimbingan bapak."
"Ibumu bilang kau akan pindah ke luar kota besok," kata pak Bambang lagi.
Laura mengangguk. "Iya. Mama saya dipindah tugaskan ke kota lain."
Pak Bambang berkata lagi, "Semoga kau berhasil di masa depanmu nanti."
Laura mengucapkan terima kasih lagi pada pak Bambang lalu keluar dari ruang guru. Sebelum meninggalkan sekolah, Laura berbalik memandang sekolahnya sekali lagi. ("selamat tinggal sekolahku"), katanya dalam hati.
Tak berapa lama kemudian, Laura berada dalam bus kota yang akan mengantarkannya ke terminal. Ia menyadari ini terakhir kalinya ia akan menaiki bus di kota ini. Pandangannya beralih ke gedung - gedung tinggi di seberangnya.
Tiba - tiba matanya berhenti pada spanduk besar di sebuah gedung. Pameran perhiasan Julian Bardeux. Tatapannya lalu beralih pada amplop cokelat di tangannya. Karena pertemuannya dengan Niko di kelas tadi pagi, Laura lupa ia masih membawa gambar rancangan Niko.
"Pak! Berhenti!" teriaknya pada supir bus.
Laura bergegas turun dari bus dan berlari menyeberangi jembatan penyeberangan menuju ke hotel berbintang lima tempat pameran perhiasan Julian Bardeux diadakan. Laura terengah-engah memasuki lobi hotel. Ia bertanya pada resepsionis dimanakah pameran tersebut diadakan, lalu bergegas kesana.
Dalam lift yg membawanya, Laura mengenggam erat gambar Niko. ("setidaknya ini hal terakhir yg bisa kulakukan untuk Niko,) pikirnya.
Pintu lift membuka, Laura melangkah keluar dan menemui petugas pameran.
"Saya ingin menemui Mr. Julien Bardeux," katanya tanpa ragu sedikitpun.
Salah seorang petugas penjaga pameran tersenyum lalu bertanya, "Apakah kau membawa undangan masuk pameran?"
Laura menggeleng. "Saya tidak punya undangan."
Si petugas tersenyum menyesal. "Maaf. Kau tidak boleh masuk tanpa undangan."
"Apakah saya tidak bisa menemui Mr. Julien Bardeux sebentar saja?" tanya Laura tanpa patah semangat.
Si petugas menggeleng. "Maaf. Jadwal beliau padat sekali. Apalagi ini hari terakhir pameran. Apakah kau punya janji temu sebelumnya?"
Laura menggeleng.
"Maaf kalau begitu," kata si petugas.
"Tapi Mr. Bardeux ada didalam sana kan?" tanya Laura penasaran. "Dia akan keluar melalui pintu ini nanti?"
Si petugas menatap Laura dengan penasaran. "Ya. Tapi beliau masih lama berada di dalam sana." "Tidak apa-apa," kata Laura tersenyum ramah. "Saya akan menunggu disini."
Si penjaga menggeleng atas tekad Laura dan mulai melayani tamu lain yang menunjukan undangan masuk.
Laura berdiri menunggu di samping pintu depan dengan sabar.
Setelah tiga jam Laura berdiri tanpa mengeluh, si petugas bersimpati dengan kegigihannya. Ia memanggil Laura dan menyuruhnya duduk di kursi yang ditinggalkan salah satu temannya. Laura tersenyum. "Terima kasih."
.
***
Sementara itu di rumah sakit, Niko membawakan makan siang untuk Erika.
"Bagaimana kondisi kakimu?" tanyanya.
"Masih sakit," jawab Erika.
"Aku membawakan makan siang untukmu. Makanlah dulu," saran Niko.
"Thanks," sahut Erika.
Selama Erika menyantap makan siangnya, pikiran Niko melayang pada pertemuanya dengan Laura.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Erika penasaran setelah merasa Niko tidak memperhatikannya.
Niko memandang Erika dengan serius. "Sebenarnya apa yang kau pertengkarkan dengan Laura kemarin malam?"
Erika sedikit kaget mendengar pertanyaan itu. "Apa maksudmu?"
Niko mendesah. "Aku masih belum mengerti mengapa Laura tiba-tiba mendorongmu dari tangga."
Mendengar itu Erika jadi kesal. "Laura cemburu padaku. Dia cemburu pada kepopuleranku dan kedekatanku denganmu."
"Benarkah?" tanya Niko curiga. "Sepertinya Laura bukan tipe cewek seperti itu."
Erika mencibir. "Apakah kau mengetahui semua tentang Laura? Kau tidak tahu sifat Laura yang sebenarnya. Kau baru mengenalnya satu tahun ini."
Niko terdiam. Perkataan Erika memang masuk akal. Kalau dipikir-pikir lagi, Niko memang tidak mengenal Laura seperti ia mengenal Erika.
"Ah, sudahlah," kata Erika kesal, "Aku tidak mau membicarakan Laura lagi. Nafsu makanku jadi hilang."
"Maaf," kata Niko. "tidak seharusnya aku membuatmu kesal." "Aku mau istirahat," kata Erika ketus.
Niko mengangguk. "Baiklah, aku akan kembali sore nanti."
***
Tiga jam berikutnya, Laura masih duduk di depan pintu pameran. Matanya melirik jam tangan warna perak di tangannya. Hari semakin sore.
"Kau mau menunggu Mr. Bardeux sampai kapan?" tanya si petugas pameran.
"Sampai saya bertemu dengannya," jawab Laura singkat.
"Apakah bertemu dengan Mr. Bardeux benar-benar sangat penting?" tanya si petugas lagi.
Laura mengangguk. ''Ya. Penting sekali. Saya ingin memberikan Mr.Bardeux mimpi seseorang."
Si petugas tertegun mendengar perkataan Laura. Hatinya tersentuh. Lalu tersenyum pada Laura. "Aku akan membantumu."
Laura tersenyum senang. "Terima kasih".
Tak berapa lama kemudian, seorang pria prancis berambut pirang keluar dari pintu.
Si petugas pameran bergegas menghampiri pria tersebut dan berbicara padanya lalu menunjuk pada Laura.
Menyadari bahwa si petugas pameran sedang berbicara dengan Julien bardeux, Laura berdiri. Jadi, dialah sang ahli perhiasan terkenal.
Laura mendekati pria asing di hadapannya.
"Kau ingin menemuiku?" tanyanya pada Laura.
Laura sedikit kaget. Julien bardeux bisa berbicara bahasa indonesia dengan masih. "Anda bisa berbicara bahasa saya?"
Julien bardeux tersenyum singkat. "Ibuku orang Indonesia."
Laura mengerti sekarang. "Saya ingin memberikan ini kepada anda." Laura menyodorkan amplop cokelat di tangannya. "Di dalamnya berisi gambar rancangan perhiasan karya teman saya."
Julien bardeux menerima amplop tersebut dari tangan Laura.
__ADS_1
Si petugas pameran tersenyum pada Julien dan menambahkan, "Dia bilang dia ingin memberikan mimpi seseorang pada Anda."
Julien Bardeux tersenyum hangat sambil menatap jam di tangannya. "Ehm, saya masih agak sibuk. Tapi nanti malam, saya akan melihat rancangan temanmu "
Laura tersenyum lebar. "Terima kasih. Nama perancang dan nomor HP nya ada di depan amplop. Sekali lagi terima kasih, Mr. Bardeux."
Julien Bardeux tersenyum singkat. "Saya pergi dulu," katanya lalu bergegas menuju lift.
Laura menemui si petugas pameran lagi dan mengucapkan terima kasih atas bantuannya. Sekeluarnya dari hotel, Laura menatap mentari sore sambil tersenyum. Hatinya senang bukan main. Ia berharap Julien Bardeux bisa melihat rancangan karya Niko dan menyadari bakat yang ada disana.
***
Pada hari wisuda, Laura memasukan baju terakhir ke koper kemudian menutupnya.
"Kau sudah siap?" tanya mama dari ambang pintu kamar.
Laura mengangguk. "Ya".
Mama tersenyum lalu mengulurkan sesuatu pada Laura. "HP barumu. Kau bilang HP lamamu hilang, jadi mama putuskan untuk membeli yang baru. Mama juga membelikanmu nomor baru untukmu."
"Terima kasih, Ma", kata Laura. Ia melihat HP berwarna merah yang diberikan mama dan tersenyum. HP baru. Awal yang baru.
Tak berapa lama kemudian, Laura dan mama berjalan keluar dari rumah menuju taksi yang akan membawa mereka ke bandara.
***
Sementara itu di sekolah, Niko mendorong kursi roda yang diduduki Erika. Erika berkeras menghadiri wisudanya. Sesampainya Erika di kelas 3 IPA 2, teman-temannya berlarian menemuinya.
"Aku harus mempersiapkan pidato kelulusan terlebih dulu," kata Niko.
Erika mengangguk. "Pergilah. Buat pidato yang bagus, ya". Niko mengangguk.
Setengah jalan menuju aula, Niko baru sadar tasnya masih berada di pangkuan Erika dan bergegas kembali untuk mengambilnya.
"Kau melihat Laura hari ini?" tanya Erika pada salah satu temannya.
Temannya menggeleng. "Tidak. Sepertinya dia tidak datang."
Erika mengangguk senang. "Baguslah. Akhirnya si siswi kampung itu tidak akan membuatku marah lagi. Semuanya sudah berakhir."
"Aku benar-benar tidak menyangka Laura punya keberanian untuk mendorongmu dari tangga," komentar temannya.
Erika mendengus. "Keberanian apa? Mana mungkin dia bisa mengalahkanku?" Lalu Erika berdiri dari kursi rodanya dan berjalan menuju tempat duduknya.
"Kau bisa berjalan?" tanya temannya kaget.
"Aku bosan duduk terus," kata Erika. "kakiku cuma terkilir kok"
"Kalau begitu kenapa harus pakai kursi roda?" tanya temannya bingung.
Erika mendesah kesal. "Supaya Niko bersimpati padaku dong. Kalau dikiranya aku tidak luka serius, dia tidak akan pernah marah pada Laura dan mungkin saja dia bisa memaafkannya. Aku tidak mau itu terjadi."
Erika memandang muka temannya yang berubah pucat pasi. "Ada apa?" tanyanya. Ia berbalik kemudian menatap Niko di pintu kelas. Erika terkejut bukan main. "Niko... sejak kapan kau disini?"
Niko berjalan ke arah Erika dengan kesal. "Aku kembali ke sini untuk mengambil tasku." Niko mengambil tasnya yang berada di atas kursi roda.
"Kau mendengar semuanya?" tanya Erika panik.
Niko terdiam, lalu berkata dengan marah, "Kau tidak terluka parah, kau masih bisa jalan. Apakah kau tidak tahu betapa khawatirnya aku memikirkan keadaanmu?"
"Jawab aku satu hal," sela Niko tegas. "Apakah Laura benar-benar mendorongmu dari tangga?
katakan yang sebenarnya."
Erika akhirnya memberikan jawaban jujur. "Iya. Tapi dia tidak melakukannya dengan sengaja. Aku merebut HP nya dan dia berusaha mengambilnya kembali. Lalu, dia tidak sengaja mendorongku."
Niko mengepalkan tangan kanannya kuat-kuat unttuk menahan amarahnya. "Kenapa? Kenapa kau berbohong padaku? Aku sudah mengenalmu sejak kecil. Aku peduli padamu... Aku percaya padamu."
Erika benar-benar menyesal. "Maaf. Aku benar-benar menyesal melakukan semua ini."
"Kalau kau menyesal," tegas Niko lagi, "mengapa kau tega berbohong padaku?"
Mendengar amarah Niko, Erika tidak bisa menahan emosinya, "karena aku takut, oke?! Aku benar-benar takut, Niko. Aku melihat caramu menatapnya. Aku tidak mau kehilanganmu."
Erika tertegun. Ia tidak pernah melihat Niko sesedih ini. Bahkan sewaktu orangtua Niko memarahinya soal gambarnya, Niko hanya kecewa, tapi tidak pernah seperti ini.
Erika berkata perlahan, "Aku takut, kau lebih menyukainya daripada aku."
Niko menatap mata Erika tanpa ragu. "Saat ini... perkataanmu tidak salah."
Erika menatap Niko dengan kaget. Ia berusaha meraih tangan Niko, tapi Niko sudah berlari keluar dari kelasnya. Erika jatuh terduduk di kursinya sambil menangis. Ia tahu ia telah kehilangan Niko.
Niko berlari ke kelasnya dan mencari Laura. Ia benar-benar harus meminta maaf pada Laura.
"Kau melihat Laura?" tanyanya pada temannya yang duduk di kelas. Temanya menggeleng.
Niko melanjutkan pencariannya ke taman sekolah, kantin, dan terakhir aula. Para murid kelas tiga sudah duduk di sana. Para guru sudah berkumpul untuk memulai acara wisuda.
Pak Bambang melihat Niko. "Kau sudah mempersiapkan pidatomu? Acara wisudanya akan dimulai."
Niko hanya bisa terdiam dan memandang ruang aula yang sudah dipenuhi orangtua murid dan putra-putri mereka.
Papa dan mamanya sendiri juga sudah duduk. Papa memanggil Niko untuk duduk disampingnya.
"Duduklah dulu di samping orangtuamu," kata pak Bambang. "Bapak yakin kau tidak akan bermasalah dengan pidatomu."
Karena tidak punya pilihan lain, Niko duduk di samping orangtuanya dan mengikuti acara wisuda selama dua jam berikutnya. Dia menyadari Laura tidak berada di aula.
Setelah acara wisuda selesai, Niko bertanya pada pak Bambang soal Laura.
"Pak," katanya penasaran, "kenapa Laura tidak ikut acara wisuda hari ini?"
"Oh, Laura," jawab pak Bambang. "Kemarin dia meminta ijazahnya lebih awal. Dia mau pindahan ke kota lain. Ibunya dipindah tugaskan."
Jelas Niko kecewa mendengar kabar tersebut. "Apakah bapak tahu kemana Laura akan pergi?
Pak Bambang menggeleng. "Bapak tidak tahu, tapi sepertinya hari ini mereka berangkat.
Mungkin mereka sudah di bandara sekarang."
Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, Niko berlari kencang menuju parkiran mobil, meninggalkan pak Bambang yang mengernyit kebingungan dengan sikap Niko.
Niko memacu mobilnya secepat mungkin menuju bandara. Ia mencoba menghubungi HP Laura dari mobilnya, tapi selalu tidak aktif. Niko mencoba lagi ,lagi, dan lagi sampai dia melihat pintu masuk bandara dan memarkir mobilnya di tempat parkir, lalu berlari secepat mungkin ke dalam bandara.
Matanya berkeliling mancari Laura. Ia melihat jadwal keberangkatan pesawat. Ada puluhan keberangkatan di sana. Ia tidak tahu Laura akan pergi dengan pesawat yang mana.
"LAURA!" teriaknya putus asa di tengah-tengah kerumunan.
***
__ADS_1
Saat memberikan tiket pesawatnya pada petugas bandara, Laura menoleh ke belakang.
"Ada apa?" tanya mama.
Laura menggeleng sambil tersenyum. "Tidak apa-apa. Sepertinya seseorang memanggilku. Tapi itu tudak mungkin, kan?"
Mama tersenyum. "Ayo kita masuk."
Laura mengangguk dan berjalan masuk.
Beberapa saat kemudian, pesawat yang membawa Laura lepas landas. Laura melihat lautan awan di bawahnya dan tersenyum. Ia sudah memutuskan untuk melupakan masa lalunya dan memulai lembaran baru.
***
Niko berlari-lari selama beberapa jam dari satu terminal ke terminal lain, tapi tetap tidak menemukan Laura. Kakinya kelelahan dan ia terduduk di sebuah kursi. Niko menyadari Laura pasti sudah berada di salah satu pesawat yang lepas landas. Ia telah kehilangan Laura. Tiba-tiba telepon genggamnya berbunyi. Niko melihat nomor tak dikenal di sana. Harapannya melambung tinggi. Ia langsung mengangkat telepon.
"Laura?" harapnya.
Tapi suara di telepon tersebut bukan suara wanita. "Apakah ini Niko Fareli?"
Niko menjawab. "Ya, benar. Saya Niko fareli."
Si penelepon berkata lagi, "Nama saya Julien Bardeux. Apakah kau tahu siapa saya?"
Niko tercengang. "Saya tahu siapa anda. Tapi, mengapa anda menelepon saya?" "Saya sedang melihat gambar rancangan perhiasanmu," kata Julien.
("Gambar rancanganku?) tanya Niko semakin bingung. "Bagaimana gambar rancangan saya bisa berada di tangan anda?"
"Bisa kita bertemu?" tanya Julien. "Kita bisa membicarakan hal ini lebih lanjut." kemudian Julien memberikan informasi hotel tempat dia dia menginap.
Niko mengangguk. "Saya tahu tempatnya. Saya akan ke sana sekarang."
***
Niko menatap pria di hadapannya dengan sedikit gugup. Julien Bardeux. (Ahli perhiasan terkenal dari prancis). Setelah memperkenalkan diri, Niko dipersilahkan masuk ke kamar hotel Julien.
Tatapan Niko beralih pada gambar rancangannya di meja tamu. "Jadi", katanya perlahan, "bagaimana anda bisa mendapat gambar rancangan saya?"
"Temanmu yang memberikannya," jelas Julien. "Seorang gadis muda." Niko bisa menebak siapa yang menyerahkan rancangannya. Pasti Laura.
"Kau masih sekolah?" tanya Julien ingin tahu.
"Saya baru lulus SMA," kata Niko.
Julien meminum kopinya perlahan, lalu menatap Niko. "Kau tertarik pada perhiasan?"
Tangan Niko gemetaran menutupi kegugupannya. "Begitulah."
"Gambar rancanganmu benar-benar menawan," kata Julien sambil tersenyum. "kau sangat berbakat."
Mendapat pujian dari ahli perhiasan terkenal membuat Niko benar-benar tersanjung. "Terima kasih."
"Apa rencanamu setelah lulus SMA?" tanya Julien.
"Kuliah," kata Niko singkat.
Julien menatap mata Niko dengan serius. "Kau tertarik masuk GIA (Gemological Institute of America) di New york? Aku bisa memberimu rekomendasi. Kau bisa belajar banyak tentang perhiasan disana."
Niko sungguh-sungguh tergoda dengan tawaran Julien. Tapi orang tuanya pasti tidak setuju. Ia sudah diterima di fakultas kedokteran universitas terkenal. Kalau ia memutuskan masuk GIA, ia tidak akan mendapat dukungan dari orangtuanya sama sekali.
"Saya tidak tahu," jawab Niko jujur. "Sebenarnya saya ingin sekali masuk ke sana, tapi saya tahu biaya kuliah di GIA tidak murah." Niko tahu ia tidak punya uang banyak untuk membiayai kuliahnya. Apalagi papa pasti tidak akan memberi dukungan material sama sekali.
Julien menatap anak muda di depannya dengan tertarik. "Masalahnya bukan dana. Masalahnya adalah apakah kau sungguh-sungguh ingin menjadi perancang perhiasan. Aku tertarik membeli karya rancanganmu. Karyamu akan sangat cocok untuk koleksi musim gugurku nanti. Kalau kau berminat menjualnya padaku, kurasa uangnya cukup untuk membiayai kuliah pertamamu di GIA."
Niko kaget tidak percaya. "Anda mau membeli karya saya?"
"Kau kelihatanya terkejut sekali," kata Julien tertawa lebar. "Aku tidak pernah main-main dalam hal perhiasan."
Sedikit demi sedikit harapan Niko untuk menggapai mimpi yang telah lama terpendam muncul ke permukaan.
"Saya jatuh cinta pada perhiasan sejak saya berumur sepuluh tahun," kata Niko berterus terang. "setelah itu saya tidak pernah bisa berhenti menggambarnya."
Melihat kesungguhan di mata Niko, Julien tersenyum. Ia mengerti apa yang Niko rasakan. "Aku menyukai gambar rancanganmu". katanya kemudian. "Kau bisa menjadi perancang perhiasan yang hebat."
"Aku benar-benar berharap demikian." ujar Niko.
"Kalau kau benar-benar ingin belajar di GIA, aku bisa membantumu. Aku kenal dengan pengajar disana. Kau tidak perlu khawatir soal tempat tinggal, kau bisa tinggal di apartemenku di New York.”
Niko menatap Julien tidak percaya. "Anda benar-benar akan membantu saya? Anda bahkan tidak mengenal saya."
Julien menyodorkan gambar Niko padanya. "Sudah lama sekali aku tidak pernah setertarik ini pada karya seseorang. Apalagi kau masih muda. Kalau semuda ini saja kau sudah menunjukkan bakatmu, aku tidak bisa membayangkan apa yang bisa kau lakukan di masa depan."
Niko berpikir keras. (Apakah aku punya keberanian mempertaruhkan segalanya untuk menggapai mimpiku? Bertahan seorang diri di negeri asing tempat aku tidak mengenal seorang pun?)
"Temanmu menunggu berjam-jam untuk bertemu denganku kemarin," kata Julien lagi sambil membetulkan letak kacamatanya.
"Ketika memberikan rancangan-rancangan ini kepadaku, dia bilang dia ingin menyerahkan mimpi seseorang."
Tangan Niko berhenti gemetaran. Benaknya dipenuhi wajah Laura, lalu perlahan senyumnya mengembang. (Laura ingin mewujudkan mimpiku. Mengambil karyaku dari tempat sampah dan memberikannya pada orang yang kukagumi. Seandainya kau ada disini Laura. Aku pasti akan lebih bahagia).
Dengan tekad dan semangat baru, Niko menatap Julien. "Aku tidak mau menerima pemberian seseorang secara cuma-cuma. Anda bisa membeli semua karya saya kecuali gambar rancangan cincin bintang saya", usulnya. "Tentang apartemen anda di New York, saya akan menempatinya, tapi dengan syarat saya akan bekerja pada anda selama dua tahun setelah kelulusan saya dari GIA."
Julien mengusap dagunya perlahan. (Seseorang yang punya prinsip dan harga diri). Sebelumnya Julien hanya mengagumi rancangan pemuda ini, kini ia juga menyukai pribadinya. "Kenapa kau tidak mau menjual karya rancangan yang satu itu padaku?" tanyanya penasaran.
Niko menjawab dengan tenang. "Karena karya itu sudah menjadi milik seseorang." (milik
Laura). Mata Niko menantang Julien. "Jadi, apakah kita telah mencapai kesepakatan?"
Julien mengulurkan tangannya. "Aku sepakat." Niko menjabat tangan Julien dengan erat.
Malam harinya, Niko menatap kedua orantuanya dengan serius sesudah makan malam. "Aku tidak akan kuliah kedokteran," ucapnya tenang.
Papa membelalak tidak percaya. "Ada apa lagi ini, Niko? bukankah kita sudah sepakat kau akan menjadi dokter?"
"Maaf," kata Niko tulus. "Aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak pernah ingin menjadi dokter. Itu mimpi papa, bukan mimpiku."
"Beraninya kau berkata seperti itu!" Teriak papa.
Mama langsung pindah ke sisi papa untuk menenangkannya. "Tenanglah, Pa. Niko, jangan buat papamu marah. Bukankah kau sudah diterima di fakultas kedokteran? Kalau kau tidak kuliah kedokteran, kau mau belajar apa?"
"Aku akan belajar perhiasan di GIA." Niko menatap kedua orangtuanya tanpa perasaan takut. "Maafkan aku, pa, ma. Aku tidak bisa mewujudkan impian kalian. Ini hidupku. Dan kali ini aku ingin mengejar impianku."
Papa menatap putranya sambil tersenyum sinis. "Kalau kau pergi kuliah disana, papa tidak akan mendukungmu. Papa tidak akan membantumu secara finansial. Apakah kau mengerti?"
Niko mengangguk. "Aku mengerti. Aku tidak akan meminta dukungan finansial pada Papa selama aku kuliah disana."
Papa kaget mendengar perkataan putranya. "Kalau kau ingin pergi, pergilah. Papa tidak akan menahanmu. Kita lihat saja nanti, sampai berapa lama kau bertahan disana."
Niko menarik napas dalam-dalam. "Terima kasih, pa."
Seminggu kemudian Niko pergi meninggalkan rumahnya untuk berangkat ke New York.Mengejar mimpinya.
__ADS_1