Mengejar Bintang

Mengejar Bintang
bab 18


__ADS_3

LAURA mencoba mengangkat panci spageti ke ruangan hotel. Pesta karyawan Rafael akan dimulai satu jam lagi. Semua makanan sudah sampai di hotel, tinggal menata penyajiannya di meja.


"Biar mama bantu," kata mama sambil meraih pagangan panci satunya lagi.


"Terima kasih, ma?" Kata Laura mulai menata masakannya. Dia melihat mama membantu pelayan yang lain. Mama bilang dia bosan kalau kerjanya hanya menjahit dirumah. Jadi setiap kali Laura bertugas menyiapkan katering, mama pasti membantunya. Mama bilang ia senang bisa bekerja dengan putrinya.


Spanduk pesta mulai dipasang. Dan beberapa detik kemudian suara piring pecah terdengar. Konsentrasi Laura langsung buyar. Ia melihat mama tertegun memandang spanduk dan tidak menyadari piring yang berada di tangannya sudah berada di lantai.


Laura menyuruh seorang pelayan lain membersihkannya, lalu berjalan mendekati mama. "Mama, mama tidak apa-apa?"


Mama tersadar kembali. “Maaf, mama menjatuhkan piringnya."


"Tidak apa-apa, ma." Laura cemas melihat gelagat mamanya yang tidak seperti biasanya. "Mama tidak apa-apa? Kalau mama tidak enak badan, sebaiknya mama beristirahat dan pulang saja."


"Pesta ini..." mama memegang kedua tangan putrinya dengan erat. "Untuk... karyawan Rafael?"


Laura mengangguk bingung. "Ya. Benar. Pesta untuk karyawan Rafael group. Ada apa,ma?"


Pegangan tangan mama semakin erat. "Kau pernah bertemu dengan direkturnya?"


Laura semakin bingung dengan pertanyaan mama. "Tentu saja. Minggu kemarin aku bertemu


Charles Rafael. Ada apa, ma? Muka mama pucat sekali. Sebaiknya mama pulang dulu."


"Laura...," kata mama terbata-bata, "...ehm... kau benar.... sebaiknya mama pulang saja."


Tiba-tiba dari belakang mereka seorang pria berseru. "Helen?"


Mama sama terkejutnya. "Charles?"


Laura melihat mama kemudian om Charles. "Kalian saling kenal?"


"Mama ingin pulang sekarang," kata mama pada Laura dengan panik.


"Baiklah." Laura masih bingung dengan sikap mamanya, tapi ia memutuskan untuk menuruti kemauan mama. "Robi, tolong gantikan aku."


Laura menuntun mama keluar dari hotel.


"Helen, tunggu!" Teriak Charles. Tapi sebuah tangan menahan kepergiannya.


"Jangan ikuti, pa," kata Luki sambil mengenggam tangan papanya. "Biarkan mereka pergi. Ingat, pa. Ada banyak karyawan yang memperhatikan kita. Kita tidak ingin mereka tahu tentang masa lalu papa, kan?"


Papa melepaskan tangan putranya. "Baiklah. Tapi setelah pesta ini usai, papa akan menemuinya."


Luki terdiam kesal. Masa lalu akan berbenturan kembali dengan masa sekarang.


 


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


Sepanjang perjalanan pulang, Laura melihat mama terdiam seribu bahasa. Sesampainya dirumah, rasa penasaran Laura semakin memuncak. "Aku tidak pernah melihat mama panik seperti tadi. Ada apa sebenarnya, ma? Kenapa mama bisa mengenal om Charles?"


Mama menyuruh putrinya duduk. "Mama rasa sudah saatnya kau mengetahui yang sebenarnya." "Mengetahui apa?" Tanya Laura bingung.


"Tentang ayahmu." Mama menggenggam tangan putrinya. "Sewaktu kau kecil, mama sudah berjanji akan memberitahukan tentang ayahmu kalau kau sudah besar nanti. Dua tahun yang lalu, ketika mama ingin memberitahumu, kau bilang kau tidak ingin tahu. Apakah kau ingat."


Laura mengingatnya dengan jelas. "Aku tidak ingin tahu siapa ayahku. Mama terlihat sedih setiap kali mengingatnya. Aku lebih memilih hidup bersama mama. Aku memilih untuk tidak mengetahui siapa ayahku karena selamanya mama adalah ayah sekaligus ibuku. Aku tidak butuh yang lainnya."


Mama tersenyum sendu. "Saat itu, mama merasa sedikit lega karena tidak perlu bercerita tentang ayahmu. Tapi setelah hari ini, kau berhak mengetahui yang sebenarnya. Karena cepat atau lambat, kau pasti tahu juga."


"Tentang ayahku." Laura mengangguk mengerti.


"Mama akan menceritakan semuanya dari awal." Mama berusaha tersenyum di depan putrinya. "Ayahku Charles Rafael, bukan?" Laura memandang mama tanpa ragu.


Mama tahu Laura sudah berhasil menyimpulkannya sendiri.


"Ya. Kau lahir ketika mama berpisah dengan papamu."


"Kenapa mama berpisah dengannya?" Laura ingin tahu.


"Karena dia tidak mencintai mama." Mama mengenang sedih.


"Kau tentu tahu bagaimana rasanya mencintai seseorang yang tidak mencintaimu." Laura mengangguk. Ia tahu betul bagaimana rasanya.


"Mama menikahi Charles setahun setelah kematian Anna, istrinya," mama mulai menjelaskan. "Sebelumnya, mama adalah pengasuh Luki. Setelah kematian istrinya, Charles berusaha memberikan seluruh kasih sayangnya pada Luki, buah hatinya dengan Anna. Hal tersebut membuat mama dan Charles menjadi dekat. Charles melihat betapa mama sangat menyayangi Luki dan berpendapat di usia Luki yang masih muda waktu itu, sekitar enam tahun, Luki sebaiknya memiliki seorang ibu lagi. Dan Charles memilih mama. Awalnya mama sempat menolak, tapi lama kelamaan mama tertarik dengan Charles, dan akhirnya mencintainya. Mama tahu Charles tidak pernah berhenti mencintai istrinya. Jadi kami sepakat menikah hanya supaya Luki bisa mendapat kasih sayang seorang ibu yang tidak akan dia rasakan lagi dari ibu kandungnya."

__ADS_1


"Setelah itu apa yang terjadi?" Laura menatap mama penuh rasa ingin tahu.


"Luki tidak mau menerima mama menjadi ibu barunya." Mama menatap Laura dengan sedih. "Luki bilang mama tidak bisa menggantikan mamanya. Mama tahu itu. Tapi... mama benarbenar menyayangi Luki. Luki tidak mau menerima sedikitpun penjelasan mama.


"Suatu hari Luki kabur dari rumah. Charles dan mama benar-benar panik. Setelah semalaman mencarinya, akhirnya seorang wanita menemukannya tergeletak pingsan di pinggir jalan. Mama berusaha merawat Luki, tapi Luki menatap mama dengan dingin. Dia bilang mama pasti senang seandainya dia tidak ada. Saat itu, tatapan Luki sudah berubah. Tatapan polos seorang anak di matanya hilang. Luki benar-benar membenci mama karena mama telah menikahi ayahnya. Dia juga berkata dia akan terus melarikan diri dari rumah.


"Charles berusaha membujuk Luki, bahkan memarahinya, tapi Luki malah balas memarahi papanya karena papanya telah berkhianat pada mamanya. Keesokan harinya, mama bertanya pada Luki apa yang harus mama lakukan supaya dia berhenti melakukan hal konyol tersebut.


Luki memberi mama dua pilihan. Mama yang pergi atau dia yang pergi. Tapi masa depan Luki pasti hancur. Mama tidak ingin Charles harus memilih antara mama dan putranya. Jadi mama memutuskan untuk meninggalkannya. Mama menandatangani surat cerai dan meminta Charles tidak mencari mama. Lagi pula, mama tahu Charles tidak pernah mencintai mama. Bersama dengan orang yang tidak mencintaimu bukanlah hal yang bisa kau tahan seumur hidupmu. Tapi, mama tidak menyangka saat itu mama sedang mengandung dirimu."


"Mama tidak pernah menghubungi om Charles setelah aku lahir?" Laura menatap mama yang tengah bersedih.


Mama menggeleng. "Maaf, sayang. Mama takut kalau Charles tahu kau putrinya, dia akan mengambilmu dari mama. Mama tidak bisa kehilanganmu. Mama tahu mama egois, tapi mama bisa bertahan hidup karenamu."


Laura memeluk mama yang mulai menangis. "Tidak apa-apa ma. Aku tidak peduli kalau Charles Rafael adalah ayahku. Aku tetap akan memilih berada disamping mama sampai kapanpun."


Mama memeluk putrinya sambil menangis. Laura menyentuh punggung mama perlahan. Laura kemudian berpikir,("kalau aku putri Charles Rafael, berarti Luki kakak tiriku"). Laura mendesah perlahan. Sewaktu kecil, Laura pernah berandai-andai memiliki saudara, tapi Luki jauh sekali dari harapannya.


Dua jam kemudian, seseorang mengetuk pintu rumah Laura. Laura membuka pintu dan melihat Charles Rafael berdiri dihadapannya. Laura memandang pria dihadapannya dengan tatapan berbeda.


"Laura," kata Charles perlahan. "Boleh aku bertemu ibumu?"


"Mama sudah menceritakan semuanya," kata Laura terus terang. "Sebaiknya om pulang saja. Mama tidak siap berbicara dengan Om sekarang. "Laura baru saja menemani mama beristirahat sejam sebelumnya.”


"Kau benar-benar putri Helen." Charles menatap Laura dengan seksama. "Seharusnya aku sudah menyangka. Kau benar-benar mirip dengannya."


Laura keluar dan menutup pintu rumahnya perlahan. Ia tidak ingin mama terbangun. "Saya juga putri anda." Laura memutuskan untuk berterus terang.


"Aku tahu." Charles Rafael mamandang Laura dengan mata cerdasnya. "Aku sudah menyuruh salah seorang tim legalku mencari informasi tentang dirimu dan mamamu. Kau lahir delapan bulan setelah mamamu meninggalkanku."


Laura tahu orang kaya bisa mendapatkan informasi tentang siapa saja dengan cepat. "Sebaiknya om pergi saja. Om bisa berbicara dengan mama kalau mama sudah siap."


"Aku mencari mamamu kemana-mana." Charles Rafael menolak pergi. "Bekas bosnya, agensinya, teman-temannya. Tapi tidak ada yang tahu mamamu pergi kemana. Mamamu menghilang tanpa jejak."


Laura sedikit bingung. "Kenapa harus bersusah payah mencari mama? Bukankah om tidak mencintainya? Mama bilang om mencintai istri om."


Charles Rafael menatap Laura dengan sedih. "Aku mencintai Anna istriku. Tapi Anna sudah tiada. Awalnya aku memang tidak mencintai mamamu, tetapi setelah Helen meninggalkanku, aku baru menyadari bahwa aku mencintainya dan merindukannya."


Laura sedikit kaget dengan pengakuan Charles. Perkataannya benar-benar terdengar tulus. Dia mengatakan yang sebenarnya. "Tapi, mama bilang dia sudah menandatangani surat cerai."


"Aku tidak pernah menandatangani surat itu," kata Charles jujur. "Mamamu masih istriku. Aku benar-benar ingin menemuinya. Aku berkata yang sejujurnya, Laura. Tolong percayalah padaku."


Charles Rafael mengangkat tangannya ingin menyentuh putrinya, tapi tidak jadi. "Bisakah kau memanggilku papa?"


"Saya akan memanggil om dengan sebutan papa, kalau mama sudah bisa menerima om kembali. Selamat malam, om."


Charles Rafael tersenyum. "Aku tidak akan menyerah, Laura."


 


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


Esok paginya, Charles Rafael mengetuk pintu rumah Laura. Laura mempersilahkan masuk. Mama duduk di kursi ruang tamu. "Kalian berdua perlu bicara." Laura mengambil jaketnya dan pergi keluar rumah.


"Helen....,"ucap Charles perlahan.


Mama menarik napas perlahan. "Charles..."


"Aku rasa Laura sudah menyampaikan yang kukatakan kemarin malam?" Charles menatap Helen dengan lembut.


"Ya,"jawab Helen. Ia memikirkan kenangannya bersama Charles bertahun-tahun silam, dan menyimpulkan bahwa sampai saat ini ia tetap mencintai Charles.


"Aku mencintaimu Helen," kata Charles perlahan. "Percayalah padaku. Aku berusaha mencarimu selama ini."


"Maaf." Helen gemetar melihat pria yang tetap dicintainya hingga kini.


"Tidak apa-apa. Aku sudah menemukanmu sekarang." Charles tersenyum. "Maukah kau dan Laura tinggal bersamaku?"


Helen menggeleng. "Aku tidak bisa melakukannya kalau Luki tidak setuju."


Charles mendesah kesal. "Kau tidak perlu memikirkan pendapat Luki. Dia sudah dewasa sekarang. Kalau dia tidak suka dengan keputusanku, itu urusannya."


"Aku ingin Luki menerimaku," kata Helen perlahan.


"Anak itu benar-benar keras kepala," Charles mengeluh. "Dia tetap saja membencimu walaupun sudah lebih dari dua puluh tahun. Kalau harus menunggu persetujuannya, kita tidak akan bisa bersatu."

__ADS_1


"Kalau begitu, aku tidak akan tinggal bersamamu," komentar Helen singkat.


Charles tidak bisa menerima jawaban Helen. "Kenapa kau bersikeras meminta persetujuan Luki?"


"Charles.....,sebelum aku mencintaimu, aku sudah terlebih dahulu menyayangi Luki. Bagaimana mungkin kita bisa menjadi satu keluarga kalau salah seorang dari kita tidak menginginkannya?"


Charles terdiam. "Baiklah, aku akan membicarakan hal ini dengan Luki." "Terima kasih," kata Helen.


"Tapi aku tidak mau berhenti mengunjungimu," kata Charles tiba-tiba.


Helen tertawa. "Tentu saja. Kau boleh datang kesini kapan saja. Bagaimanapun, kau adalah ayah Laura. Kau pasti ingin mengenalnya."


 


****************************


"Aku tidak akan menerima wanita itu." Luki menatap papanya dengan kesal. "Mungkin saja dia berbohong. Laura bukan putri papa. Apakah papa tidak curiga?"


Charles manatap putranya dengan marah. "Aku tahu dia tidak berbohong. Kenapa kau sangat membencinya? Dia selalu bersikap baik padamu."


Luki tersenyum kecut. "Dia cuma ingin uangmu, pa?"


"Tuduhanmu tidak benar Luki," kata papa geram. "Dia bahkan bilang dia tidak akan tinggal dengan papa kalau kau tidak setuju."


Luki tersenyum. "Baguslah. Aku tidak akan menyetujuinya sampai kapanpun." "LUKI.....!" Teriak Charles, tapi Luki sudah keluar dari kantor.


 


*************************


"Ada seseorang yang ingin menemuimu," kata Maya pada Laura yang sedang bekerja di dapur.


Laura meminta salah seorang asisten menggantikannya lalu keluar dari dapur. Ia melihat Luki duduk di salah satu meja di sudut restoran. Laura datang menghampirinya.


"Duduklah," kata Luki tanpa memandang mata Laura.


Laura duduk di depan Luki. "Kenapa kau kemari?"


"Ibumu mengatakan pada ayahku bahwa kau putrinya," kata Luki tanpa basa-basi. "Aku tidak memercayainya."


Laura menatap Luki dengan sedih. "Kenapa kau sangat membenci ibuku?"


Luki membalas dengan kesal. "Apakah kau pernah kehilangan seorang ibu?"


Laura menggeleng. "Tidak."


"Kalau begitu kau tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya." Luki mengenggam jemarinya sampai memutih. "Ibumu memiliki cara hebat untuk membuat ayahku menikahinya."


"Ibuku mencintai ayahmu," kata Laura.


"Aku tidak percaya pada cintanya." Luki tertawa pendek. "Itu hanya alasan yang dibuat ibumu."


Laura mengerti sekarang. "Kau tidak pernah mencintai seseorang bukan?"


"Aku mencintai ibuku," sanggah Luki.


"Ya. Aku tahu itu," kata Laura. "Tapi dia sudah meninggal. Setelah itu kau tidak pernah mencintai siapa-siapa lagi, bukan? Hidupmu pasti terasa hampa."


Luki mendengus pelan. "Kau berani menguliahiku tentang hidupku? Kau tidak tahu apa-apa tentang hidupku. Aku datang kesini untuk menawarimu uang." "Hah?" Laura binggung.


"Berapa uang yang kau mau supaya kau dan mamamu tidak pernah menemui ayahku lagi?" Luki mengeluarkan selembar cek dari sakunya.


Laura tidak percaya Luki mengajukan tawaran seperti itu. "Kalau kau bukan kakakku, aku pasti sudah membencimu saat ini juga. Aku tidak mau uangmu."


"Oh....kau mau uang yang lebih banyak? Tidak masalah." Luki mulai menulis sejumlah uang pada cek nya.


"Kau benar-benar menghinaku, Luki!" Laura menatap kakaknya dengan sedih. "Tidak ada uang sebanyak apapun di dunia ini yang bisa mengantikan hubungan keluarga. Aku tidak akan pergi. Aku ingin mengenal ayahku. Aku ingin mengenalmu juga."


Luki tercengang, tapi kemudian bertepuk tangan. "Bravo! Perkataanmu benar-benar membuatku tersentuh." Dia tidak memercayai satu pun perkataan yang keluar dari mulut Laura.


Laura tahu dia tidak bisa meyakinkan Luki. Akhirnya dia berkata perlahan. "Kau menganggap semuanya bisa diselesaikan dengan uang. Hubungan seorang putri dengan ayahnya tidak bisa dibeli dengan uang, Luki. Tapi, baiklah, kau ingin tahu berapa uang yang ku inginkan? Aku ingin setengah dari uang yang kau punya."


Luki merobek cek di tangannya. "Kau benar-benar serakah."


"Kalau aku benar-benar serakah, aku sudah meminta uang saat pertama aku tahu aku putri Charles Rafael. Sebelum kau menawarkanya padaku. Pikirkanlah, Luki. Aku percaya pada ibuku. Lakukanlah tes DNA kalau kau tidak percaya aku putri ayahmu. Aku tidak akan menolaknya."

__ADS_1


"Bagus. Aku akan melakukannya," kata Luki. "Aku tidak ingin papa tertipu. Kau akan dihubungi oleh pengacaraku."


"Aku akan menantikannya." Laura balas menatap tantangan di mata Luki.


__ADS_2