
Beberapa tahun kemudian.
Sekang usia Laura menginjak 18 tahun.
Laura tidak tahu berapa lama lagi ia bisa bertahan. Kakinya pegal setengah mati. Tangannya membawa nampan berisi piring bekas makan yang beratnya minta ampun. Sebentar lagi tangannya akan menyusul merasakan apa yang dirasakan kakinya. Ia benar-benar kelelahan.
Waktu menunjukkan pukul dua belas malam. Laura mengistirahatkan kakinya sebentar di kursi dapur. Dilihatnya para pelayan lain sibuk membersihkan meja dan kursi. Melihat rekan-rekannya bekerja keras, Laura berdiri kembali dan bergabung dengan mereka.
Sepindahnya ke kota baru, hidup Laura tidak berjalan seperti yang diinginkannya. Ia tidak pernah memikirkan seberapa mahalw biaya kuliah yang harus dikeluarkan mama untuk membiayainya. Mama meyakinkan Laura bahwa ia bisa kuliah tanpa harus memikirkan masalah keuangan. Tapi Laura tahu ia tidak bisa melakukannya. Jadi ia memutuskan untuk mencari kerja.
"Tapi, bagaimana dengan kuliahmu?" tanya mama kecewa.
Laura bersiteguh. "Sampai kini aku belum tahu mau masuk jurusan apa. Lebih baik kuliahnya ditunda dulu, ma."
Untuk pertama kalinya Laura dan mama tidak bersepakat.
"Aku tahu kau ingin membantu mama, tapi tugasmu sekarang adalah kuliah," protes mama.
Akhirnya Laura menemukan jalan tengah. "Bagaimana kalau begini saja. Aku akan bekerja selama setahun ini. Selama itu aku juga akan menabung untuk membiayai kuliahku nanti."
"Apa kau yakin itu yang kau inginkan?" tanya mama masih ngotot
Laura mengangguk. "Aku ingin membiayai kuliahku sendiri. Sekarang aku sudah dewasa, Ma. Kurasa aku berhak memutuskan sendiri apa yang ingin kulakukan."
Setelah mendengar putrinya berkata demikian, mama akhirnya mengalah. Beberapa hari kemudian, dalam perjalanan pulang dari supermarket, Laura melewati sebuah restoran italia yang memampang tawaran kerja sebagai pelayan disana. Tanpa pikir panjang, Laura langsung mengambil tawaran itu dan diterima hari itu juga. Ada dua alasan mengapa Laura memutuskan bekerja direstoran itu. Yang pertama adalah karena letaknya yang dekat dengan rumah. Hanya sepuluh menit berjalan kaki. Yang kedua adalah karena bekerja di restoran artinya setiap hari ia harus berurusan dengan makanan. Dan Laura memang sudah menyukai hal itu sejak SMA.
Tetapi kedua alasan itu, terutama yang kedua, membuatnya memikirkan kembali apakah ia sudah membuat pilihan yang tepat. Terutama saat-saat punggungnya serasa mau patah, kakinya kesemutan, dan tangannya teramat sangat pegal. Bulan pertama bekerja direstoran, ia dapat melihat bahwa bosnya adalah seseorang yang cepat naik darah. Setiap tiga bulan sekali, selalu ada asisten chef baru,k arena Antonio____ namanya dijadikan nama restorannya____selalu punya alasan untuk memecat mereka. Sebagai seorang chef, Antonio adalah seorang genius yang bisa membuat makanan italia yang sangat lezat. Laura mengagumi aspek tersebut, tapi tidak temperamenya.
"Kau dipecat!" teriak bosnya tiba-tiba dari dapur restoran.
Laura mendesah kembali sambil mengelap meja. Bosnya memecat asistennya lagi. Kali ini bahkan belum sampai tiga bulan.
"Dia melakukannya lagi, "keluh maya, seorang pelayan senior yang sudah bekerja hampir lima tahun, sama seperti umur restoran mereka.
Seorang pria paruh baya keluar dari dapur dengan kesal. Dia berjalan melewati ruang makan, membuka pintu keluar, dan melenggang pergi tanpa sepatah katapun. Laura merasa sedikit kasihan pada si asisten. Bekas asisten, maksudnya.
Tak berapa lama kemudian, pintu dapur terbuka. Seorang pria italia, berjanggut putih, berumur lima puluh tahunan berteriak. "Maya, carikan aku asisten baru! Aku tidak mau idiot seperti yang tadi. Mengerti?"
Maya hanya bisa menelan ludah dan mengangguk. "Oke, Antonio," katanya membalas.
Setelah Antonio keluar dari restoran,para pelayan menarik napas lega.
"Aku tidak tahu harus mencari asisten chef di mana lagi," keluh Maya di dekat Laura.
Laura mendekati Maya. "Jangan menyerah, mbak. Mbak pasti menemukannya."
__ADS_1
Maya memandang wajah Laura yang menyemangatinya. Walaupun Laura karyawan baru. Maya sudah menyukainya sejak awal karena Laura tipe pekerja keras yang tidak pernah menyerah. "Thanks, Laura. Aku harap begitu."
Pukul setengah satu malam ,restoran Antonio ditutup.Laura berhenti sejenak di depan restoran. Terdapat sebuah papan tulis disana.
Open.
Mon_Thurs: Lunch 11.30 - 14.30 Dinner, 18.00 - 24.00
Fri-Sun: Lunch 11.30 - 14.30 Dinner, 18.30 - 00.30
Laura mendesah panjang. Jam sebelas siang nanti ia akan mengulang kembali semua yang dikerjakannya tadi. Membersihkan meja, membereskan bangku, melayani pelanggan, membawa makanan, mengambil piring bekas makanan untuk dicuci, lalu mengulang lagi dari awal. Satusatunya yang membuatnya bertahan bekerja di restoran Antonio adalah kesempatannya untuk melihat bagaimana seorang juru masak hebat membuat makanan mentah menjadi santapan lezat. Seperti karya seni.
Laura memasukkan tangan ke saku jaketnya. Sehelai kertas kecil berada disana, ia mengeluarkannya dan membukanya. JANGAN MENYERAH. Tulisan tangan Niko.
Ia tahu, tidak seharusnya ia menyimpan kertas tersebut kalau ingin benar-benar melupakan Niko, tapi entah mengapa ia tidak sampai hati membuang kertas tersebut. Setelah membacanya, Laura merasa semangat baru menyelimutinya. Ia meletakkan kertas tersebut hati-hati ke dalam dompet dan berjalan pulang.
Setibanya di rumah sekitar pukul satu dini hari, Laura duduk di sofa sebentar, lalu mandi dan tidur. Jam kerjanya di restoran membuatnya jarang bertemu dengan mama di sore hari. Ketika mama pulang, Laura masih di restoran, dan saat Laura pulang, mama sudah tidur. Tapi Laura masih terbiasa untuk bangun pagi, sehingga masih sempat bertemu mama sebelum berangkat ke kantor.
Minggu-minggu pertama bekerja di restoran Antonio, Laura tidak terbiasa. Jadwal makan dan tidurnya berubah. Laura harus makan sebelum restoran dibuka, yaitu sebelum jam makan siang, sedangkan makan malamnya bergeser menjadi makan sore. Awalnya semua itu membuatnya merana, apalagi sebagai pelayan tahun pertama Laura harus bekerja setiap hari. Ia hanya tidur selama lima sampai enam jam setiap hari. Tetapi lama kelamaan, ia menjadi terbiasa. Waktu luangnya sebelum ia pergi ke restoran ia memanfaatkan untuk memasak makanan italia di rumah. Laura sering memperhatikan Antonio memasak di dapur, lalu mempraktikannya di rumah. Terkadang para koki lain membantu Laura dengan memberikan tips-tips memasak makanan italia di sela-sela istirahat mereka.
Selama hampir empat bulan bekerja disana, Laura banyak belajar tentang seni memasak makanan italia. Setelah cukup menabung nantinya, Laura memutuskan untuk belajar menjadi seorang chef pasta.
Di tempat tidur, Laura tersenyum puas memikirkan hal itu.
***
Pagi harinya, Laura bertemu mama di ruang makan.
"Pagi,ma," sapanya.
Mama mencium putrinya. "Pagi,sayang."
Laura mengambil nasi dan sayur yang sudah di masak mama.
"Sayur asem buatan mama memang yang paling hebat," kata Laura sambil mencicipinya lagi.
Mama tertawa. "Terima kasih, sayang". lalu menggodanya. "Lebih hebat daripada masakan restoranmu?"
Laura tersenyum simpul. "Ya, tentu saja."
"Mama tidak percaya," kata mama sambil bercanda.
__ADS_1
"Benar kok," kata Laura. "Habisnya mana ada sayur asem di restoran italia?" Mama tertawa lebar.
***************************************
Terdapat perbedaan yang sangat besar antara pelanggan dan pelayan. Seorang pelanggan melihat menu dan memesan makanan,sedangkan seorang pelayan harus menghafal menu dan mencatat pesanan.
Setiap pelanggan pun punya sifat tersendiri. Kalau mendapat pelanggan yang tidak rewel, pelayan itu beruntung. Tapi kalau mendapat yang sebaliknya, sang pelayan harus bisa menahan emosinya.
Hari ini bukan hari keberuntungan Laura. Harinya dimulai dengan seorang pelanggan yang sangat cerewet. Butuh waktu sekitar sepuluh menit sampai si pelanggan selesai memesan. Kemudian saat Laura membawakan pesanannya, si pelanggan merasa tidak puas dan berteriak pada Laura. "Aku sudah bilang tidak mau pedas, kenapa kau masih memberiku spageti yang pedas?"
Laura hanya menelan ludah. "Maaf, saya akan mengganti yang baru." Ia tidak bisa balas memarahi karena walau bagaimanapun pelanggan adalah raja.
Laura masuk kedapur untuk meminta dibuatkan spageti baru pada Antonio. Bosnya melotot kesal. "Apa? Buat baru? Kenapa kau tidak bisa mencatat pesanan dengan benar?"
"Saya sudah mencatat dengan benar," ucap Laura berusaha memberi penjelasan. Kakinya melangkah ke meja pesanan dan memperlihatkan tulisan pesanannya pada Antonio. Di pesanan itu tertulis tidak pedas.
"Bagaimana mungkin aku bisa melihat tulisan sekecil ini?" teriak bosnya lagi pada Laura.
Laura menelan ludah. "Saya mohon, signor(tuan) Antonio. Tolong dibuatkan spageti baru. Yang tidak pedas." (Dan lain kali, aku akan menulis dengan huruf kapital yang besar kalau ada pesanan khusus dari pelanggan).
"Ini peringatan pertama untukmu, Laura", kata Antonio kesal.
Laura tidak bisa melawan. Karena bagaimanapun bos selalu benar. Ia juga menyadari sesuatu hari itu. Seorang pelanggan rewel dan bos temperamental merupakan kombinasi yang mematikan.
"Sabar ya," kata seseorang, menyentuh pundaknya.
Laura berpaling dan melihat Maya tersenyum keibuan. Maya satu-satunya orang yang bisa membuat Laura tenang kembali. Laura tersenyum sambil mengangguk. Tapi kemarahan Laura pada Antonio berakhir ketika bosnya itu menyajikan masakan baru di nampannya. Spageti buatan Antonio selalu membuatnya terpesona.
Hal ini menumbuhkan semangat baru di hati Laura.
"Maaf, sudah menunggu lama," kata Laura pada pelanggan yang tadi mengomel. "ini spageti barunya." Laura menyuguhkan spageti itu dengan hati-hati. "Saya harap anda menikmatinya".
Si pelanggan mencicipi terlebih dahulu.
"Apakah spagetinya sudah sesuai dengan selera anda?" Tanya Laura memastikan.
Si pelanggan mengangguk. "Ya. Terima kasih."
"Selamat menikmati," kata Laura sambil tersenyum. "Kalau masih ada yang belum puas, anda bisa memanggil saya lagi."
Selama menjadi pelayan, Laura belajar menahan emosi dan bersikap ramah dalam segala situasi. Terkadang itu bukan perkara mudah. Tapi untungnya Laura mencoba berpikir positif pada kondisi terburuk sekalipun.
Keesokan harinya, Laura melihat orang yang sama dengan yang dilayaninya kemarin di sebuah majalah masakan. Laura cukup terkejut. Ternyata orang tersebut adalah kritikus makanan. Di majalah tersebut orang itu menjelaskan ia menyantap makanan italia terenak yang pernah dirasakannya. Ia tidak sabar untuk mencobanya lagi dan merekomendasikan spageti buatan Antonio kepada para pecinta makanan lain. Di akhir artikelnya, ia berterima kasih pada seorang pelayan yang telah melayaninya dengan sabar.
Mata Laura berkaca-kaca karena ia tahu si pelanggan telah berterima kasih padanya. Dan saat itu Laura bangga dengan pekerjaannya. Ia tidak pernah bisa tahu siapa yang akan ia layani esok harinya.
__ADS_1