
⭐⭐⭐⭐⭐
Meski menyimpan tanya dalam hati, kenapa tiba-tiba Bintang meminta untuk dibawa ke rumah sakit setelah sekian lama membujuk dan tidak berhasil, Bima tetap menuruti keinginan Bintang.
Pemuda berwajah ganteng tersebut membopong tubuh Bintang dan dia dudukkan di bangku terlebih dahulu, sebelum dia pergi ke ujung jalan untuk memanggil angkot.
"Dik Fajar, tolong jaga Kak Bintang sebentar, ya," pamit Bima.
Tanpa menunggu jawaban Fajar, Bima segera berlari menuju ke arah jalan raya. Bima sampai tidak menyadari, ponsel yang berada di kantong celananya terjatuh di jalanan.
Setelah mendapatkan angkot, Bima segera membawa Bintang ke rumah sakit terdekat agar gadis yang sudah mendanai pembangunan rumah singgah impian Bima dan anak-anak di tempat tersebut, segera mendapatkan perawatan.
Sepanjang perjalanan, Bima terus saja mengajak Bintang untuk berbicara agar gadis berkulit putih seputih susu itu tidak tertidur.
Bima takut jika melihat Bintang terpejam. Khawatir gadis yang beberapa bulan ini dekat dengannya, tidak mau membuka mata kembali.
"Bentar lagi kita sampai, Dik. Bertahanlah," ucap Bima seraya mengusap puncak kepala Bintang, penuh rasa sayang.
Bima sudah menganggap Bintang seperti adiknya sendiri, setelah sekitar empat bulan gadis yang saat ini bersandar dengan lemah pada sandaran jok mobil, tinggal bersama Bima di rumah singgah.
Pemuda itu segera turun dari mobil angkot, ketika tiba di depan lobi rumah sakit. Bima berlari memanggil petugas medis agar segera menolong Bintang.
Dua orang perawat segera mendekat sambil membawa brankar. Sopir angkot kemudian membantu Bima, membopong tubuh Bintang dan memindahkan ke atas brankar.
Dua orang perawat segera mendorong brankar tersebut menuju ruang IGD. Setelah membayar ongkos angkot, Bima segera menyusul masuk ke dalam rumah sakit.
"Maaf, Mas. Anda tidak dapat ikut masuk, silahkan tunggu di sana," cegah seorang perawat ketika Bima hendak ikut masuk ke ruang IGD.
Bima menurut, pemuda itu kemudian duduk di bangku yang tersedia di depan ruangan yang bercat putih bersih seraya menatap ke arah pintu yang juga bercat putih.
Bima merogoh saku celana bermaksud mengambil ponsel karena hendak menghubungi Surya, tetapi barang yang dia cari tidak ditemukan.
"Kemana ponselku? Apa tertinggal di rumah bintang?" gumamnya, bertanya-tanya.
Bima menghela napas panjang dan kemudian menyugar kasar rambutnya. Dia nampak kebingungan karena tidak dapat menghubungi siapa-siapa.
__ADS_1
🌟🌟🌟
Di belahan bumi yang lain.
Surya dan Gio tengah bersiap menuju bandara untuk segera terbang ke tanah air. Mereka berdua pergi ke bandara dengan diantarkan oleh saudara sepupu Surya yang juga melanjutkan study di sana.
Begitu tiba di bandara, pemuda tampan tersebut nampak tidak sabar menunggu jam penerbangan yang masih sekitar tiga puluh menit lagi.
Surya yang sudah duduk menunggu di lounge bersama Gio, kemudian mengambil ponsel yang dia simpan di dalam tas kecil. Dia kemudian menghubungi nomor Bima.
Panggilan pertama Surya, tidak terjawab. Pemuda bertubuh tinggi atletis tersebut mendial kembali nomor Bima dan barulah pada panggilan kedua, ada seseorang yang menerima telepon Surya, tapi bukan suara Bima.
"Halo, Kak Bima mana, ya? Ini nomor Kak Bima, kan?" cecar Surya, panik.
"I-iya, benar. Ini nomor Kak Bima," balas suara di seberang, terbata.
"Kamu siapa? Kak Bima-nya mana? Saya Surya, ingin bicara sama Kak Bima," lanjut Surya, bertanya dengan tidak sabar.
"Kak Bima sedang ke rumah sakit, Mas. Tadi ponselnya jatuh di jalanan, beruntung ditemukan oleh adik-adik dan sekarang ponselnya ada pada saya. Saya Fajar, adiknya Kak Bima," terang suara seorang gadis, membuat Surya mengerutkan dahi karena baru kali ini dia mendengar nama Fajar.
"Ke rumah sakit? Siapa yang sakit? Jangan bilang kalau ... kalau Bintang yang sakit," cecar Surya sedetik kemudian, penuh kekhawatiran.
Surya memejamkan mata, menikmati rasa nyeri di hati mendengar sang kekasih hati di bawa pergi ke rumah sakit.
"Apa kamu tahu, nama rumah sakitnya?" tanya Surya, setelah beberapa saat terdiam.
"Saya tidak tahu, Mas. Kak Bima cuma bilang, rumah sakit terdekat dan saya juga belum tahu dan belum pernah melihat daerah sini," balas Fajar, apa adanya karena memang dia bukan berasal dari daerah tersebut.
Fajar berasal dari kota yang sama dengan Surya dan Bintang, hanya saja dia nyasar sampai daerah pinggiran karena gadis itu hanya mengikuti langkah kakinya tanpa mengetahui arah.
Surya menghela napas panjang. "Terimakasih informasinya, Dik," pungkas Surya, kemudian.
"Semoga kamu baik-baik saja, Sayang," gumam Surya, setelah menutup telepon yang dapat di dengar oleh Gio.
"Kenapa?" tanya Gio seraya menelisik ke kedalaman mata elang Surya.
__ADS_1
"Bintang dibawa Kak Bima ke rumah sakit," balas Surya, sendu.
Gio menepuk pundak Surya, untuk memberikan sedikit kekuatan pada sahabatnya.
🌟🌟🌟
Di bandara internasional Soekarno-Hatta, Asisten Toni baru saja kembali dari kunjungan ke luar daerah mewakili Pak Hadi yang masih saja menghukum diri, dengan tidak melakukan kegiatan apapun selain menyusuri jalanan mencari Bintang.
Laki-laki yang usianya tidak jauh berbeda dengan bosnya tersebut baru saja hendak masuk ke dalam mobil yang menjemputnya, ketika netranya menangkap bayangan Surya bersama Gio.
"Mas Surya!" serunya seraya melambaikan tangan pada Surya yang baru saja keluar dari bandara untuk mencari taksi.
Ya, Surya sengaja tidak memberitahukan pada ayah dan bundanya jika malam ini dia pulang ke tanah air karena kedatangan pesawatnya telah larut malam.
Selain itu, Surya juga akan langsung menuju rumah sakit untuk menemui Bintang dan barulah esok hari nanti, Surya akan pulang ke rumah dan mengajak serta sang bunda yang juga sudah kangen dengan Bintang untuk menemui kekasihnya.
"Om Toni, Om sama siapa?" tanya Surya, mengedarkan pandangan. Mencari tahu, barangkali papanya Bintang ada bersama asistennya tersebut sehingga Surya bisa memberitahukan pada Pak Hadi tentang kondisi Bintang saat ini.
"Saya sendiri, Mas," balas Asisten Toni. Asisten yang setia kepada bosnya itu kemudian menceritakan perihal Pak Hadi yang begitu menyesali kebodohannya karena telah mengusir Bintang.
"Saya sudah tahu keberadaan Bintang, Om, dan saat ini dia sedang dirawat di rumah sakit," terang Surya.
"Sekarang, saya mau langsung ke sana," lanjutnya.
"Bareng sama saya saja, Mas. Ayo!" tawar Asisten Toni.
Surya mengangguk, setuju, dan mereka bertiga kemudian segera masuk ke dalam mobil perusahaan yang menjemput Asisten Toni, untuk menuju ke rumah sakit.
Di perjalanan, Asisten Toni kemudian menghubungi atasannya.
"Halo, Tuan. Maaf, jika malam-malam saya mengganggu istirahat Tuan Hadi. Ada kabar mengenai Nona Bintang yang akan saya sampaikan," ucapnya.
"Ada apa, Toni? Apa polisi sudah menemukan keberadaan putriku?" tanya Pak Hadi yang terdengar tidak sabar.
"Bukan polisi, Tuan, tapi Mas Surya. Sekarang saya sedang bersama Mas Surya untuk menuju ke rumah sakit, tempat di mana Non Bintang dirawat," terang Toni, membuat Pak Hadi terkejut.
__ADS_1
"Apa? Ru-rumah sakit? Putriku sakit apa?"
🌟🌟🌟🌟🌟 tbc ...