
⭐⭐⭐⭐⭐
Setelah Bintang merasa cukup tenang dan kondisinya dipastikan oleh Nenek Viona baik-baik saja, Surya kemudian mengantar sang kekasih pulang dengan menggunakan mobil milik Gio yang tadi datang menyusul ke apartemen.
Sementara Gio dan Riko membawa motor sport milik Surya dan langsung menuju ke rumah Surya, menunggu sahabatnya di sana.
Sepanjang perjalanan pulang, keheningan tercipta di kabin mobil yang dikendarai kekasih Bintang tersebut. Tak ada yang bersuara, baik Bintang maupun Surya.
"Sayang, jika memang aku harus membatalkan kepergianku, aku akan mengusahakannya dan meminta ijin pada ayah dan bunda," ucap Surya mengurai keheningan.
Bintang menggeleng pelan. "Jangan, Kak. Tidak apa-apa, kok, Kakak tetap berangkat. Ke depan, Bintang akan lebih berhati-hati jika bertemu dengan dia," balas Bintang yang tak ingin menjadi egois dengan melarang Surya pergi.
Bintang tak ingin menjadi penghambat bagi kesuksesan sang kekasih. Dia harus merelakan, meskipun itu sangat berat. Toh, kepergian Surya demi masa depan mereka berdua.
Surya menghela napas panjang. Masih merasa berat jika harus melepas dan membiarkan Bintang sendirian tanpa ada dirinya dan kedua sahabatnya.
"Apa kamu yakin, Cinta?" tanya Surya seraya menoleh ke arah sang kekasih sekilas dan kemudian kembali fokus ke jalan raya.
Bintang tersenyum, mencoba menunjukkan ketegaran dirinya. "Bintang serius, Kak. Kakak berangkat saja, belajar sungguh-sungguh di sana dan segeralah pulang."
Surya membalasnya dengan senyuman dan usapan lembut di puncak kepala Bintang. "Aku pasti akan sangat merindukan kamu, Beib," ucap Surya yang semakin membuat Bintang merasa berat jika ditinggalkan.
Bintang buru-buru menoleh ke sisi kiri, untuk menyembunyikan wajahnya yang tiba-tiba mendung. 'Tidak, aku tidak boleh menunjukkan kesedihan di hadapan Kak Surya. Aku harus tegar, aku enggak mau Kak Surya menjadi sedih.'
Surya tersenyum getir melihat pemandangan tersebut. Dia tahu pasti, sang kekasih berpura-pura tegar di hadapannya.
"Nanti aku akan mencoba untuk minta ijin kembali sama papa kamu, agar kamu diperbolehkan untuk ikut pindah." Suara Surya membuat Bintang menoleh ke arah sang kekasih.
"Jangan terlalu berharap, Kak. Papa itu orangnya teguh pendirian. Kalau sudah bilang tidak, akan sulit untuk membujuknya," balas Bintang, tidak yakin.
__ADS_1
"Enggak ada salahnya mencoba 'kan, Beib," kekeuh Surya yang tetap ingin mencoba membujuk Pak Hadi.
"Terserah Kakak saja," balas Bintang.
Obrolan keduanya pun terhenti ketika mobil yang dikendarai Surya memasuki pintu gerbang kediaman Hadinata. Surya kemudian memarkirkan mobilnya di halaman rumah megah tersebut.
Sigap, Surya membukakan pintu untuk sang kekasih hati setelah dirinya turun, dan dia kemudian membantu Bintang untuk turun dari mobil.
"Mau digendong?" tawar Surya yang masih khawatir dengan kondisi Bintang, meskipun neneknya Sean telah mengatakan bahwa Bintang baik-baik saja.
"Tidak perlu, Kak. Bintang udah enggak apa-apa, kok," tolak Bintang seraya tersenyum bahagia karena mendapatkan perhatian penuh dari kekasihnya.
Kedua sejoli tersebut kemudian memasuki rumah megah milik orang tua Bintang dengan bergandengan tangan.
Bi Narsih yang melihat semua itu tersenyum. "Adem kalau lihat Non Bintang tersenyum seperti itu," gumamnya yang kemudian berjalan mendekati tuan putrinya.
"Kopi ya, Bi, buat Kak Surya. Bintang, air putih hangat saja," pinta Bintang.
"Baik, Non." Bi Narsih kemudian segera berlalu dari hadapan Bintang dan Surya.
"Kak, kita mandi dulu, yuk, biar segar. Rasanya, badan Bintang lengket semua," ajak Bintang.
"Kita mandi bareng, begitukah?" goda Surya seraya menaik turunkan kedua alisnya.
"Yeay, maunya! Kakak di kamar Kakak sendiri, sana!" Bintang mendorong tubuh tegap Surya menuju kamar tamu, tempat di mana Surya sering menumpang mandi jika sampai seharian dia bermain di rumah Bintang.
Surya terkekeh senang. "Ayolah, Beib. Kali ini, saja," pinta Surya semakin menggoda dan kemudian menarik tubuh Bintang untuk ikut masuk ke dalam kamar.
Pemuda itu bahkan langsung membopong tubuh sang kekasih dan menutup pintu kamar dengan sebelah kakinya, lantas membawa Bintang menuju tempat tidur.
__ADS_1
Bintang yang terkejut dengan gerakan cepat Surya, sampai tak bisa berkata-kata. Dia hanya pasrah saja, ketika Surya membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Kak, Ka-kakak mau ngapain?" tanya Bintang, gugup, ketika Surya mulai melepaskan baju seragamnya.
Ya, karena kejadian yang menimpa Bintang tadi, Surya dan Bintang sampai belum sempat berganti pakaian dan masih mengenakan seragam sekolah.
Surya hanya menjawab dengan senyuman dan pemuda itu kemudian mendekatkan tubuh ke atas tubuh Bintang. Dekat dan semakin dekat, seolah hendak menindih, membuat Bintang berdebar.
Surya menatap manik hitam Bintang dengan jarak yang sangat dekat dengan tatapan lekat.
"Kamu cantik sekali, Cinta," bisik Surya seraya meraba pipi halus Bintang dengan satu tangannya. Sementara satu tangan yang lain, menumpu beban tubuhnya agar tidak jatuh dan menimpa tubuh sang kekasih.
Bintang semakin berdebar. Jujur dia ingin Surya melakukan lebih pada dirinya, tapi akal sehat Bintang masih berfungsi dengan baik dan dia tak ingin sang kekasih melakukannya sekarang.
Ingin menolak dan menendang tubuh Surya yang seolah hendak menindih tubuhnya, tetapi Bintang tak kuasa melakukan, entah karena apa.
Surya semakin mendekatkan wajah, hingga jarak keduanya hampir terkikis.
'Gila! Ini benar-benar gila! Kenapa tubuh Bintang seolah mengandung magnet dan menarikku untuk mendekat?' Surya menatap intens wajah pasrah kekasihnya.
'Oh, ****! Kenapa dia harus membuka bibirnya? Sumpah, bibirnya sangat seksi,' gerutu Surya dalam hati ketika melihat Bintang membuka sedikit bibirnya, seolah siap menyambut apapun yang akan dilakukan Surya pada dirinya.
"Beib," panggil Surya dengan tatapan entah, membuat Bintang semakin salah tingkah.
"I-iya, Kak," balas Bintang yang dilanda kegugupan.
"Bolehkah aku, aku ...."
🌟🌟🌟🌟🌟 tbc ...
__ADS_1