
Surya mengurai pelukan dan menatap Bintang dengan tatapan dalam. "I love you," bisiknya seraya mencium pipi sang kekasih, membuat Bintang berkaca-kaca.
"Hai, jangan menangis, Sayang! Tadi kamu udah janji, kan, bahwa tidak akan ada air mata," protes Surya yang sebenarnya dadanya pun terasa sesak.
Surya kemudian mengelus pipi Bintang dengan penuh kasih. "Ausie tidak terlalu jauh, Sayang. Setiap bulan aku akan pulang, jika kamu menginginkan," bujuk Surya agar Bintang tak lagi bersedih.
"Jangan, Kak! Kalau Kak Surya sering pulang, nanti studi Kakak jadi terganggu. Biar Bintang aja yang ke sana, kalau libur sekolah," tolak Bintang penuh pengertian.
Surya tersenyum dan kembali mencium kening Bintang dengan dalam.
"Ehem." Suara dehaman Gio, menyudahi perpisahan keduanya yang mengharu-biru.
"Kalau enggak disudahi, enggak bakal selesai pamitannya. Pasti berat dan akan semakin berat kalau terlalu lama bersama," ucap Gio yang dibenarkan Riko dengan anggukan kepala.
"Hem, benar banget, tuh. Udah, buruan berangkat sana!" usir Riko, meski jauh di dalam lubuk hatinya, dia pun merasa sangat kehilangan.
Sekali lagi, Surya menatap Bintang dengan dalam, seolah ingin menyimpan tatapan indah mata sang kekasih dalam memori dan tak ingin melupakan seumur hidupnya.
"Aku berangkat, jaga diri baik-baik. Aku pasti akan segera kembali untukmu," bisik Surya seraya melepaskan genggaman tangannya perlahan.
Bintang tersenyum. Sekuat hati gadis cantik itu menjaga, agar air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata tidak terjatuh yang akan membuat langkah Surya menjadi berat.
Semua ikut terharu melihat perpisahan dua sejoli tersebut. Bulan bahkan ikut menitikkan air mata, seraya memeluk sang bunda yang juga berkaca-kaca.
Pak Hadi pun menatap keduanya dengan tatapan sendu. Sementara Sesil tersenyum sinis melihat pamitan Surya pada Bintang yang seakan enggan untuk berpisah.
Bintang menatap kepergian Surya dengan air mata berderai. Ya, air mata Bintang akhirnya tumpah juga setelah Surya berlalu.
Buru-buru Bintang menyeka air matanya, ketika baru beberapa langkah berjalan, Surya menoleh.
Bintang tersenyum seraya melambaikan tangan pada sang kekasih.
Tepat di saat yang sama, seorang gadis berpakaian minim yang fotonya sudah dilihat oleh Bintang, Surya dan Gio, menubruk Surya dan memeluk pemuda itu dengan erat.
"Sayang, kamu kemana aja? Anggi tungguin dari tadi, enggak datang-datang," protes gadis yang bernama Anggi dengan sengaja mengeraskan suara, seraya bergelayut manja pada leher Surya.
__ADS_1
Membuat Bintang dilanda cemburu, meski kekasih Surya tersebut sudah tahu bahwa ini semua adalah skenario Sesil dan Delon.
"Anggi seneng banget akhirnya kita bisa melanjutkan studi bareng di sana," lanjut gadis tersebut yang tak ingin melepaskan pelukannya, membuat Surya menjadi sesak dan tak bisa bernapas dengan lega.
Kedua orang tua Surya beserta sang adik, dibuat bingung dengan pemandangan di hadapan yang tak begitu jauh dari mereka.
Pak Hadi mengerutkan dahi, sedetik kemudian papanya Bintang tersebut terlihat geram. Sementara Sesil nampak tersenyum, penuh kemenangan.
Melihat senyuman di wajah Sesil, Bintang memulai aktingnya seperti yang disarankan Riko tadi.
Bintang kemudian mendekati Surya yang disusul oleh Riko.
"Siapa dia, Kak?" tanya Bintang, marah.
Surya nampak gugup.
"Kenalkan, aku Anggi. Kekasih Surya." Gadis seksi tersebut melepaskan pelukannya pada Surya dan kemudian mengulurkan tangan, memperkenalkan diri.
"Sudah sejak beberapa bulan yang lalu, kami jadian. Hanya saja, selama itu Surya menyembunyikan hubungan kami karena belum siap jika kekasihnya yang manja tahu," lanjutnya.
"Jadi seperti itu kelakuan Kakak dibelakang Bintang?" Bintang menatap Surya dengan tatapan marah.
"Kalau begitu, kita sudahi aja hubungan kita," pungkas Bintang yang kemudian segera berlari menjauh.
Riko yang sedari tadi bersiaga di samping Bintang, langsung mengejar kekasih Surya tersebut sambil berseru pada sang sahabat. "Aku akan segera hubungi kamu!"
Bintang menoleh ketika Riko menepuk punggungnya. "Langsung ke mobil, kita harus segera telepon Surya agar dia tidak khawatir," ajak Riko. yang segera manarik lengan Bintang untuk keluar dari bandara.
Riko dan Bintang langsung masuk ke dalam mobil Riko. Pemuda berbadan tinggi tegap tersebut kemudian mengeluarkan ponsel dari dalam saku dan menelepon Surya.
Tepat pada panggilan pertama, teleponnya diterima oleh Surya.
"Apa ulat bulu itu masih bersama kamu?" tanya Riko, membuat Bintang yang mendengar pertanyaan Riko, mengerutkan dahi.
"Ulat bulu?" tanya Surya yang sepertinya juga mengerutkan dahi seperti halnya sang kekasih.
__ADS_1
"Gadis yang pakaiannya kurang bahan tadi," balas Riko.
"Oh, dia barusan ijin ke toilet dan sepertinya Mbak Sesil mengekori langkahnya," balas Surya di seberang sana.
"Apa Bintang bersama kamu, Rik?" tanya Surya yang terdengar khawatir.
Bintang yang dapat mendengar kekhawatiran sang kekasih karena Riko sengaja mengaktifkan mode load speaker, tersenyum bahagia.
"Aku sekarang ada di dalam mobil Kak Riko, Kak Surya jangan khawatir, ya," balas Bintang.
"Syukurlah, Cinta. Aku tadi benar-benar takut kalau kamu marah sama aku," ucap Surya.
"Oh ya, Sayang. Setelah ini, kabari papa kamu karena sepertinya beliau sangat khawatir ketika melihat kamu berlari tadi," pinta Surya.
"Iya, Kak," balas Bintang, patuh.
Gadis tersebut segera melakukan panggilan ke nomor sang papa, meski dia masih memegang ponsel Riko yang tadi langsung diberikan pada Bintang ketika Surya menanyakan tentang kekasihnya.
"Kak Surya diam dulu, ya. Bintang lagi menghubungi papa," pinta Bintang.
Surya pun diam mendengarkan, ketika Pak Hadi menerima panggilan dari sang putri.
"Sayang, kamu di mana? Kamu baik-baik saja, kan, Nak?" Suara Pak Hadi terdengar sangat khawatir.
"Bintang baik-baik saja, Pa. Dan sekarang Bintang lagi bersama Kak Riko dan akan pulang bareng dia," balas Bintang, memberitahukan.
"Mas, telepon siapa? Bintang? Dimana dia sekarang, Mas?" Suara Sesil terdengar oleh Bintang sedang mencecar sang papa.
"Kasihan sekali putrimu itu ya, Mas. Dari awal, aku sudah tidak suka melihat si Surya dan sekarang terbukti, kan, kalau ternyata dia tidak setia!" lanjut Sesil.
Bintang ingin tertawa sekaligus marah dan ingin merobek mulut Sesil karena telah memfitnah Surya di hadapan sang papa, dengan mengatakan bahwa Surya adalah laki-laki yang tidak setia.
"Baguslah kalau sekarang Bintang sudah tahu dan kemudian memutuskan hubungannya dengan Surya, agar Delon bisa kembali mendekati Bintang karena memang di antara mereka sudah pernah ada hubungan," imbuh Sesil, membuat dahi Bintang berkerut dalam.
'Pernah ada hubungan? Hubungan apa?' batin Bintang bertanya-tanya.
__ADS_1
πππππ tbc ...