Mengejar Bintang

Mengejar Bintang
Bab 13


__ADS_3

NIKO FARELI menggigil kedinginan. Butiran-butiran salju bulan Januari kota New York jatuh mengenai mantelnya. Niko memasuki gedung GIA yang terletak di Madison Avenue. Di dalam ruangan, dia melepaskan mantel dan membiarkan udara hangat mengaliri tubuhnya. Ini musim dingin pertamanya. Tubuhnya belum terbiasa dengan hawa dingin yang berada dibawah sepuluh derajat celcius.


Pertama kali masuk GIA, Niko merasa sedikit gugup. Tetapi para pengajar dan teman-teman seangkatannya benar-benar baik padanya. Hampir semua. Kecuali satu orang, George finley. Niko tidak tahu mengapa George begitu tidak menyukainya. Apalagi setelah Niko mendapat banyak pujian dari para pengajarnya pada bulan-bulan pertama. Niko merasa kemungkinan George iri karena Niko mendapat perhatian banyak orang, sedangkan George, sebagai putra Elliot Finley___ahli perhiasan terkenal di New York, yang namanya sudah melegenda dan memiliki puluhan cabang Forever Jewelry___tidak bisa menyamai jejak ayahnya.


Butuh lebih dari sekedar bakat untuk bertahan dibidang perhiasan. Niko menyadarinya setelah masuk GIA. Ada banyak sekali yang harus dipelajarinya tentang perhiasan sebagai hobi.


GIA membagi pelajarannya menjadi dua program utama. Ilmu gemologi dan seni perhiasan. Dalam program ilmu gemologi, Niko belajar bagaimana menilai berlian dan batu-batu berharga, berdasarkan warna, kejernihan, potongan, dan berat karatnya. Selain itu, dia juga diajari bagaimana menggunakan peralatan terbaru untuk menganalisis, menilai, dan mengidentifikasi batu perhiasan.


 


Saat ini Niko memulai pembelajarannya dengan ilmu gemologi, dan setelah mendapatkan diplomanya dia akan melanjutkannya pada seni perhiasan. Di bidang ilmu tersebut dia bisa belajar cara merancang perhiasan menggunakan teknologi komputer terbaru dan membuat modelnya menjadi nyata.


Niko melangkah memasuki kelasnya. GEM 2500. Pengajarnya, Dr. Patrick Evans, merupakan ahli geologi yang menyukai batu perhiasan dan astronomi sejak berusia sepuluh tahun, seumur dengan Niko ketika Niko pertama kali tertarik pada perhiasan.


Niko sangat menyukai metode pengajaran Dr. Evans, yang benar-benar menyukai perhiasan dan mengharapkan anak didiknya menyukainya sebesar dia menyukainya. Pengajar-pengajar lain juga benar-benar berpengalaman dalam bidangnya dan Niko menyukai setiap pelajaran yang dilaluinya.


Niko tidak bisa membayangkan seandainya dia jadi masuk fakultas kedokteran. Dia pasti akan putus asa dan membencinya pada tahun pertama.


Jalanan kota New York masih diselimuti salju. Pertama kali datang ke New York, Niko tertarik dengan keramaian kota itu. Saat didalam bus, taksi kuning melewatinya sepanjang perjalanan. Niko memejamkan mata sebentar lalu membukanya kembali, melihat pemandangan kota New York. New York memiliki semuanya. Teater-teater Broadway, museum-museum, aneka restoran, dan ratusan galeri seni.


Niko akan menyelesaikan kuliah gemologi pertamanya pada bulan maret. Dia sudah mendaftarkan diri untuk program beasiswa yang diberikan GIA. Dia berharap bisa mendapatkan beasiswa tersebut, bersaing dengan puluhan murid lain yang juga menginginkannya. Terutama George Finley. Biasanya Niko mudah menyukai seseorang, tapi perilaku George padanya membuat Niko tidak bisa menolerirnya. Niko tidak suka George yang selalu membawa-bawa nama ayahnya dalam setiap kesempatan. Seperti ketika mendaftar beasiswa tadi, George amat yakin akan mendapatkannya karena ayahnya adalah Elliot Finley. Niko yakin George akan kecewa sekali kalau beasiswa itu jatuh ketangan orang lain.


Niko melangkah pasti menuju kereta bawah tanah. Ia menikmati perjalanannya. Kereta itu berhenti di sebuah stasiun. Pintu kereta terbuka dan Niko turun. Tak berapa lama kemudian dia sampai di sebuah kedai makanan. Dia memasuki kedai tersebut, menyapa para pelayan yang berada disana dan masuk keruangan. Dia mengganti bajunya dengan kemeja putih dan celana hitam.


Sekeluarnya dari sana, dia sudah membawa bolpoin dan buku catatan. Siap menerima pesanan. Niko tersenyum ramah pada salah seorang pelanggannya dan membacakan menu spesial hari itu. Setelahnya, dia mencatat pesanan kemudian membErikannya pada juru masak di dapur.


Niko sudah bekerja di kedai makan Mike selama empat bulan. Walaupun gaji per jamnya tidak besar, tapi bila ditambah tips dari pelanggan, cukup untuk membiayai kehidupannya sehari-hari. Kedai makan Mike terletak di 9th Avenue, dekat apartemen tempat tinggalnya. Pemiliknya, Mike, pria gemuk berumur 55 tahun, telah membuka kedainya selama lima belas tahun. Dan selama itu kedainya tidak pernah sepi pengunjung.


Kedai Mike buka setiap hari dari pukul 08.00 sampai pukul 02.00. Menunya lengkap tersedia, mulai dari penchakes, omelet, sandwich, egg benedict, sampai burger, tacos, macaroni and cheese. Niko bekerja di kedai Mike hampir setiap hari, setelah selesai mengikutu kuliahnya di GIA.


Awal Desember lalu Niko memutuskan tidak pulang ke Indonesia. Dia tidak ingin menghadapi pertengkaran yang sama tentang pilihan yang diambilnya dengan orangtuanya. Dia akhirnya memilih terus bekerja di kedai Mike selama liburan tersebut. Mike pulang lebih awal untuk merayakan natal bersama keluarganya. Tidak ada kuliah GIA selama liburan natal dan tahun baru. Mike memberi bonus kepada pelayan yang bekerja selama hari-hari tersebut, dan Niko membutuhkan uang tersebut untuk membiayai kursus perhiasan berikutnya.


Walaupun tinggal di apartemen Julien tanpa uang sewa, Niko masih membutuhkan uang seandainya dia tidak menerima beasiswa yang telah diajukannya. Sebagian lainnya dia sisihkan untuk menabung. Dia ingin membeli berlian pertamanya dengan uang hasil usahanya sendiri.


Delapan jam berikutnya Niko bergantian dengan pelayan lain dan mengakhiri kerjanya hari itu. Dia kembali menganti bajunya dan merapatkan mantelnya. Jarak apartemennya dan kedai Mike hanya berbeda dua blok, dan Niko memilih berjalan kaki menuju apartemennya. Tangannya menggenggam erat buku sketsa pemberian Laura tahun sebelumnya.


Niko masih merasakan kesedihan mendalam saat memikirkan Laura. Dia tidak tahu sampai kapan rasa sedih itu akan terus menghantuinya. Laura telah membantunya mewujudkan mimpinya. Saat ini Niko berharap gadis itu berada disisinya, menyemangatinya. Dia sungguhsungguh ingin bertemu kembali dengan Laura suatu saat nanti.


Sesampai di depan apartemennya, Jack, penjaga pintu apartemen, tersenyum padanya. "Selamat malam, Jack," sapa Niko.


"Selamat malam, sir," kata Jack. "Ada orang yang hendak bertemu dengan anda."


Niko mengernyit keheranan. "Terima kasih, Jack."


Niko berjalan ke lobi depan apartemen. Sepasang pria dan wanita duduk di sana. Niko mendesah. Papa dan mama.


"Niko!" Sapa mama gembira melihat kedatangan putranya.


Niko menghampiri kedua orangtuanya dan duduk diseberang mereka. "Kapan mama dan papa saampai di New York?"


"Baru tadi sore," kata mama sambil tersenyum. "Kau tidak pulang liburan, padahal mama merindukanmu. Mama membujuk papamu untuk datang kemari."


Niko memandang papa yang diam saja sejak kedatangannya. Dia merasa papa masih marah padanya.


"Mama benar-benar kedinginan sejak tadi," kata mama lagi. "Kau pasti tidak tahan juga dengan hawa dingin di kota ini."


Niko tersenyum dan mengangguk. "Ya, aku juga belum terbiasa. Mungkin tahun depan aku baru terbiasa."


"Jadi kau masih ingin belajar di sini?" potong papa tiba-tiba.


Niko menatap mata papa dengan serius. "Ya.Tentu saja. Aku menyukai apa yang kupelajari sekarang."


Papa memandang Niko dengan kesal. Putranya sudah berani menentang keinginannya tahun lalu. Dia menyangka seiring berjalannya waktu,putranya tidak akan bertahan dengan pilihannya. Tapi pilihan Niko untuk tidak pulang saat liburan membuat papa menyangsikan hal itu. Niko tidak pernah meminta bantuannya dan tidak pernah menghubunginya. "Kalau kau ingin kuliah di sini, papa bisa mengaturnya. Banyak kuliah kedokteran yang bagus di New York. Kau masih bisa masuk semester depan."


"Papa masih belum menyerah?" kata Niko keras. Hatinya benar-benar kesal. "Aku tidak akan masuk kuliah kedokteran, tidak di sini, tidak di mana pun, sampai kapan pun. Kenapa papa tidak pernah menghargai pilihanku? Aku menyukai perhiasan dan aku tidak akan melepaskan impianku."


Papa mengepalkan kedua tangannya menahan marah. "Kau tidak akan bertahan lama. Suatu saat nanti kau pasti akan memohon pada papa dan meminta bantuan papa."

__ADS_1


"Aku rasa tidak, pa. Aku sudah bisa bertahan sampai sekarang tanpa bantuan papa. Seharusnya itu menjadi indikasi bahwa aku tidak akan pernah mewujudkan impian papa untuk menjadi dokter." kata Niko tegas. Ingatannya kembali ke masa lalu. Saat itu usianya baru dua belas tahun, papa menyuruh Niko menghafal nama latin seluruh anatomi tubuh. Setiap hari, saat sarapan, papa selalu mengadakan kuis untuk mengetahui perkembangan hafalan putranya. Kalau melakukan kesalahan, Niko harus menghafal ulang dari awal. Niko tidak pernah menyukai kuis tersebut.


"Sekarang kau sombong sekali." Papa menatap putranya dengan kesal. "Papa ingin lihat sampai kapan kau bisa seperti ini. Jangan harap papa akan membantumu saat kau menyadari kau telah membuat pilihan yang salah dan menyesalinya."


Niko kesal bukan main. "Papa tenang saja. Aku tidak akan pernah memohon untuk meminta bantuan papa."


"Hentikan kalian berdua." Mama berdiri dan menengahi keduanya. Mama tahu keduanya samasama keras kepala.


"Maaf, ma." Niko menatap mama dan tahu hati mama sedih melihat kedua orang yang paling disayanginya bertengkar. "Aku tidak ingin berdebat lagi dengan papa," kata Niko pada papa. "Sebaiknya papa pergi sekarang."


Papa berdiri dan menatap putranya sekali lagi dengan penuh kekesalan. "Ayo, kita pergi saja!" katanya pada istrinya.


Mama hanya mendesah sambik menarik napas. Ia mengusap wajah putranya dengan lembut, kemudian mengikuti suaminya keluar dari apartemen.


Niko melihat punggung keduanya lenyap dibalik pintu. Ia merasa sedih dengan pertengkaran tadi. Bagaimanapun,papa adalah orangtuanya. Di lubuk hatinya yang terdalam, Niko masih menyayanginya. Niko takut kalau papa masih memaksanya seperti tadi, rasa sayangnya akan terkikis perlahan-lahan dan digantikan rasa benci. Niko tidak mau itu sampai terjadi. Dia benarbenar berharap papa dapat mengerti pilihannya suatu hari nanti.


 


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


Aktivitas Niko keesokan harinya sama seperti sebelumnya. Malam harinya ketika dia sudah sampai di lobi depan apartemen, mama sudah menunggunya. Kali ini tanpa papa. Mama menggenggam tas belanja. Mama tersenyum melihat putranya, dan Niko balas tersenyum.


"Mama mau minum apa?" tanya Niko setelah mereka berada di apartemennya.


"Teh saja," kata mama sambil melihat-lihat ruangan tempat Niko tinggal beberapa bulan ini. Ruang tamu yang luas, dua kamar tidur, dan satu dapur." Apartemenmu terlihat sangat nyaman.


Kau betah tinggal disini?"


Niko menghangatkan air untuk membuat teh. "Ya. Papa tidak menemani mama?"


Mama duduk di sofa putih ruang tamu. "Mama yakin kalian pasti bertengkar lagi kalau bertemu.”


Niko memutuskan untuk tidak berkomentar.


Suara air mendidih mengalihkan perhatiannya. Dia mematikan kompor dan mulai menyeduh teh hangat untuk mama.


Niko mengangguk. "Aku sangat menyukainya."


Mama menaruh gelas tehnya dan menatap Niko dengan serius.


"Kau sungguh-sungguh ingin menjadi perancang perhiasan?" "Ya," jawab Niko pasti.


Mama melihat keseriusan di mata putranya dan akhirnya mengangguk. "Baiklah mama mendukung keinginanmu."


"Thanks, ma," seru Niko sambil tersenyum lebar.


"Ada sebagian hati mama yang masih ingin kau meneruskan jejak mama dan papa." Mama menatap Niko lembut. "Tapi, mama sadar kau harus menemukan jalan hidupmu sendiri."


Niko menarik napas panjang. "Aku berharap papa juga bisa berpikiran seperti mama."


Mama tersenyum kecil. "Papamu sama sepertimu. Kalian berdua sama-sama keras kepala. Mama akan mencoba berbicara dengan papa."


"Ma, aku masih tetap akan melanjutkan pelajaranku, walaupun sampai akhir papa tetap tidak menerima pilihanku," kata Niko sungguh-sungguh. "Aku tidak bisa melepaskan impianku." "Mama mengerti." Mama mengambil tas belanjanya. Dia mengeluarkan sebuah mantel tebal hitam yang dibelinya siang tadi.


"Untukmu," katanya. "Mama lihat mantelmu tidak cukup tebal untuk menahan hawa dingin dikota ini. Jadi mama memutuskan untuk membeli mantel ini untukmu."


Niko mengamabil mantel pemberian mama. "Terima kasih ma, aku akan mengenakannya selama musim dingin ini."


Mama mendekati putranya dan memeluknya. "Jaga kesehatanmu, dan sering-sering telepon mama."


"Aku akan melakukannya," kata Niko balas memeluk mama. Mama melepaskan pelukannya.


"sekarang ceritakan tentang kuliah gemologimu di GIA."


Niko tersenyum kemudian menceritakan semuaanya sejak awal sampai sekarang. Mama melihat mata Niko bersinar-sinar ketika bercerita tentang pelajaran gemologinya. Mama ikut bahagia melihat putranya bahagia.


Dua jam kemudian, mama memutuskan untuk pulang. Dan Niko mengantarnya sampai pintu depan apartemen.

__ADS_1


"Terima kasih karena sudah mendengarkanku, ma." Niko mengambil mantel mama dari tangannya dan membantu mama mengenakannya..


"Jangan lupa. Telepon mama," kata mama mengingatkan. "Dan semoga berhasil, Niko."


"Aku akan menelepon mama sering-sering." Niko menghentikan sebuah taksi kuning di depan jalanan apartemennya,membukakan pintu untuk mama dan melihat mama masuk ke taksi.


Niko melihat mama melambaikan tangan dari dalam taksi. Niko balas melambaikan tangannya. Hatinya terasa lebih ringan. Setidaknya salah satu orangtuanya sudah bisa menerima keputusannya.


Niko kembali ke apartemennya. Dia duduk disofa kemudian kemudian melihat buku sketsa yang tergeletak di meja. Halaman demi halaman dibukanya. Saat senggang, dia selalu menyempatkan diri untuk menggambar rancangan perhiasan yang ada di benaknya. Kini buku sketsa tersebut sudah terisi berpuluh-puluh rancangannya. Niko kembali pada halaman pertama. Sketsa cincin bintangnya. Tangannya mengelus gambar itu perlahan-lahan. Gambar tersebut telah membuatnya berkenalan dengan Laura. Pada kuliah seni perhiasan nanti, dia bertekad untuk membuat cincin tersebut sebagai karya pertamanya. Tujuh buah bintang dengan lima sudut. Dengan dua lingkaran yang menghubungkan satu sudut atas dan dua sudut bawah bintang-bintang tersebut. Tiga puluh lima butir berlian yang akan menghiasi sudut-sudut ketujuh bintangnya. Niko berharap tidak lama lagi dia bisa membeli berlian pertamanya dan memasangkannya pada cincin tersebut.


 


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


Dua bulan berikutnya, saat ujian akhir kelas grmologi usai, Niko tertegun melihat pengumuman di kelasnya. Namanya tertulis sebagai penerima beasiswa GIA. Niko tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Dia memang berharap bisa mendapatkannya, tapi juga tahu bahwa dia harus bersaing dengan siswa lain yang tidak kalah berbakat darinya. Dia benar-benar tidak menyangka beasiswa tersebut bisa jatuh ketangannya.


Niko tertawa lepas. Teman-teman sekelasnya memberi selamat atas prestasinya. Kecuali George Finley. Dia melihat Niko seakan-akan Niko sudah merebut hal yang paling berharga darinya.


"Kau harus selalu menang dariku bukan, Fareli?" kecamnya.


Niko memandang George dengan kesal. "Kenapa kau selalu membenciku, Finley?"


"Kau mengambil segalanya dariku," kata George Finley sambil menatap Niko dengan benci.


Niko beranggapan perkataan George tidak masuk akal. Niko tidak merebut beasiswa tersebut dari siapa pun. Dewan fakultas GIA sudah menentukan pilihannya dan seharusnya George menghormati keputusan mereka.


"Ucapanmu tidak masuk akal," keluh Niko. Dia tahu George tidak pernah menyukai pelajaran kelasnya, rancangan gambar perhiasannya tidak bagus, masih kalah jauh dengan temantemannya yang lain.


"Jadi menurutmu kau lebih berbakat dari pada aku?" George menantangnya.


Niko menatap George dengan tajam. Dia memutuskan untuk nengakhiri pertikaiannya dengan George. "Aku mendapatkan beasiswa ini bukan karena aku lebih berbakat darimu,Finley." "Kalau begitu karena apa?" tanya George penasaran dan setengah kesal.


"Karena kau sama sekali tidak berbakat di bidang perhiasan," jawab Niko jujur. "Maaf kalau aku berkata terus terang. Mungkin seharusnya kau mengakuinya juga pada dirimu sendiri.”


Muka George Finley merah padam. Disekelilingnya, para siswa lain terdiam mendengar pertikaian itu. "Berani-beraninya kau berkata seperti itu. Apa kau tidak tahu bahwa ayahku ahli perhiasan ternama?"


"Aku tahu," kata Niko perlahan. "Ayahmu salah seorang ahli perhiasan yang kuhormati. Tapi maaf, aku tidak bisa menghormati karya putranya. Apalagi tingkahnya."


George terdiam.


Lalu Niko pergi meninggalkannya.


 


************************************


Di dalam kereta yang membawanya menuju tempat kerja, HP Niko berbunyi.


"Selamat," kata suara seseorang dari teleponnya. Aku dengar kau mendapatkan beasiswa dari GIA."


Niko tersenyum. "Thanks, Julien."


"Aku tidak pernah meragukanmu, Niko," kata Julien dari seberang telepon. "Minggu depan kau akan mendapatkan diploma gemologimu, bukan?"


"Ya. Aku berencana untuk menggunakan uang beasiswa itu untuk mengikuti paket kuliah berikutnya."


"Aku sudah tidak sabar menerima kehadiranmu di Paris."


Niko mendengar suara tawa Julien dari teleponnya. "Ya, aku juga. Tapi masih banyak yang harus kupelajari di sini."


"Aku tahu," kata Julien perlahan. "Semoga berhasil dengan kuliahmu."


"Thanks, Julien," kata Niko, lalu menutup teleponnya.


Seminggu kemudian, Niko mendapatkan diplomanya. Di situ tertulis Niko Fareli, G.G (Graduate Gemologist/ lulusan gemologi). Dia menatap diplomanya dengan bangga. Malam itu Niko menelepon mama untuk memberitahukan hal tersebut, dan mama ikut bahagia. Niko tidak tahu apakah hati papa sudah melunak, tetapi dia memutuskan untuk tidak merusak momen bahagianya bersama mama dengan tidak menanyakan pendapat papa.


Kuliah intensif berikutnya di mulai bulan juni sampai Desember. Untuk mengisi kekosongan waktu, Niko mengambil kursus komprehensif merancang perhiasan menggunakan teknologi komputer terbaru, yang memakan waktu tujuh minggu. Cukup waktu sebelum memulai kuliah berikutnya.

__ADS_1


__ADS_2