Mengejar Bintang

Mengejar Bintang
Takkan Pernah Tergantikan


__ADS_3

Bintang dan Surya terus melangkah untuk menghampiri keluarga Surya yang telah menunggu sejak beberapa waktu yang lalu di lobi bandara dan sepanjang jalan tersebut, ekor mata Bintang terus mengawasi gerak-gerik Sesil.


Bintang tersenyum tipis kala melihat Sesil memberikan isyarat pada seseorang. 'Sebenarnya, ada hubungan apa antara Kak Delon dengan Mbak Sesil?' batin Bintang, bertanya.


"Kak Bintang!" seru Bulan yang langsung menghambur memeluk kekasih kakaknya tersebut.


"Kak Surya bilang, Kak Bintang enggak bisa ikut ngantar ke bandara?" protesnya seraya melerai pelukan dan menatap sang kakak, menuntut jawab.


Bintang maupun Surya tak langsung menjawab, tapi gadis berambut panjang sebahu tersebut menyalami kedua orang tua Surya terlebih dahulu.


Bintang juga menyalami kedua orang tua Gio yang diikuti oleh Surya.


"Tadinya memang seperti itu, Dik, tapi tahu-tahu papanya Kak Bintang pengin ikut mengantar Kakak ke bandara. Ya udah, Kak Bintang akhirnya ikut ke bandara," balas Surya, kemudian.


Kedua orang tua Surya itupun berdiri, ketika melihat di belakang Bintang dan Surya ada papanya Bintang bersama seorang wanita muda yang berjalan dengan memeluk lengan Pak Hadi, posesif.


Begitu pula dengan Gio dan kedua orang tuanya, termasuk Riko yang ikut mengantarkan kedua sahabatnya.


Para orang tua tersebut kemudian saling menyalami.


"Kita check-in dulu, yuk!" ajak Gio.


Mereka semua kemudian beranjak, untuk menuju ke area check-in yang memiliki fasilitas lengkap.


Surya selalu menggandeng tangan Bintang, sementara Gio mengekor di belakang mereka berdua bersama adiknya Surya dan juga Riko yang diam-diam memiliki rasa terhadap Bulan.


Sepanjang jalan menuju area check-in, ekor mata Gio awas menatap ke sekeliling dengan penuh kewaspadaan.


Rupanya, bukan hanya Bintang yang melihat keberadaan Delon, Gio pun melihat sosok Delon sebelum Bintang dan Surya datang.


"Rik, tadi aku kayak lihat si Delon sewaktu di lobi," bisik Gio.


"Cowok macam apa, sih, dia! Segala cara dilakukan untuk mendapatkan mangsanya!" gerutu Riko, geram.


Riko pun ikut waspada. Pemuda tersebut mengedarkan pandangan, mencari-cari sosok yang dimaksudkan oleh Gio.

__ADS_1


"Ada apa, sih, Kak?" tanya Bulan yang berjalan di samping Riko.


"Tidak apa-apa, Dik. Tadi Kak Gio layak lihat salah satu temen, mungkin mau berangkat ke luar negeri juga," balas Riko yang tak ingin membuat Bulan ikut khawatir.


"Beib, kamu tunggu bersama mereka, ya," pamit Surya yang hendak menuju counter check-in, setelah mereka tiba di area tersebut.


Bintang mengangguk dan kemudian bergabung bersama keluarga yang lain, di bawah pengawasan Riko.


Surya bersama Gio kemudian menuju counter check-in untuk menunjukkan tiket online yang sudah mereka beli dan menukar dengan boarding pass.


Tak berapa lama, boarding pass sudah berada di tangan. Setelah mengurus bagasi, mereka berdua kemudian menghampiri keluarga yang telah menanti di salah satu tenant food, untuk makan siang bersama.


Disinilah keluarga Bintang, keluarga Surya dan keluarga Gio, bersama Riko, menghabiskan waktu dengan makan siang sambil bercengkrama dengan hangat, sebelum Surya dan Gio terbang ke Ausie.


Sepanjang obrolan tersebut, Bintang selalu mengawasi gerak-gerik Sesil yang nampak gelisah, entah apa yang sedang wanita muda itu pikirkan.


'Di sebelah mana, sih, mereka?' Sesil terus menatap ke arah lalu lalang orang-orang yang melintas di depan tempat mereka makan, dia sampai mengabaikan makanan di hadapannya.


"Sayang, ada apa? Kenapa tidak dimakan? Apa tidak enak?" bisik Pak Hadi, bertanya.


"Eh, tidak kok, Mas. Aku cuma pengin ke belakang," balas Sesil berkilah. Calon istri Pak Hadi itu kemudian beranjak.


"Perlu aku antar?" tawar Pak Hadi.


"Tidak perlu, Mas. Aku bisa sendiri," tolak Sesil yang segera berlalu.


"Maaf, saya juga ijin ke toilet," pamit Riko kemudian yang langsung melesat keluar menyusul Sesil.


"Udah tahu enggak tahan makan saos, masih aja makan pakai saos," ucap Gio sambil melihat ke arah piring Riko, untuk mengurai tatapan curiga papanya Bintang ketika melihat Riko langsung keluar seperti hendak menyusul wanita muda calon istrinya.


Riko yang berhasil mengejar Sesil, segera memakai masker dan kaca mata hitam serta menjaga jarak aman.


Benar dugaan Riko, Sesil bukan ke toilet tetapi menemui Delon dan seorang gadis cantik dengan pakaian super seksi.


Riko lebih mendekat agar dapat mendengarkan percakapan mereka bertiga.

__ADS_1


"Pokoknya, nanti kamu langsung saja peluk pemuda yang ini," titah Sesil sambil memperlihatkan layar ponselnya.


Mungkin saja itu adalah foto Surya, begitu yang diperkirakan oleh Riko.


"Kamu harus berakting senatural mungkin dan tunjukkan pada semua kalau kalian adalah pasangan kekasih dan sudah janjian untuk menempuh studi bersama di Ausie," lanjutnya.


Riko segera mengambil gambar mereka bertiga dan mengirimkan ke nomor Surya dan Bintang, serta Gio yang disertai sedikit keterangan.


Riko segera kembali ke tempat semula, sebelum kehadirannya di sadari oleh Sesil ataupun Delon.


Kembalinya Riko, disambut tatapan penuh tanya oleh Surya, Bintang dan Gio yang sudah membuka pesan yang dia kirimkan.


"Pokoknya, kalau nanti ada yang tiba-tiba meluk Surya, kamu pura-pura marah aja, Bin," bisik Riko. "Dia gadis suruhannya Delon dan Sesil," lanjutnya dan Bintang mengangguk, mengerti.


Riko kemudian tersenyum pada Surya yang duduk di sebelah Bintang. "Siap-siap dapat jackpot, Bro. Lumayan kok, enggak terlalu mengecewakan," canda Riko, pelan, dan hanya mereka berempat yang mendengar karena para orang tua sedang asyik dengan obrolan mereka.


Gio terkekeh. "Lumayan, Sur, belum apa-apa udah dapat jackpot," timpalnya.


"Ck, jackpot apaan!" Surya berdecak kesal. Pemuda itu kemudian menatap sang kekasih dengan tatapan penuh kekhawatiran.


"Bintang enggak apa-apa kok, Kak. Itu 'kan bukan maunya Kak Surya," bisiknya, membuat Surya menjadi tenang.


Sesil kembali dengan senyuman lebar.


"Buruan dimakan, Sayang. Bentar lagi Surya harus segera ke boarding lounge," suruh Pak Hadi begitu Sesil duduk kembali di tempatnya semula.


Sesil mengangguk, patuh, dan kemudian segera menikmati makanan yang telah dia pesan.


Mereka semua kemudian beranjak untuk melepaskan kepergian Surya dan Riko karena setengah jam lagi, adalah jadwal keberangkatan pesawat yang akan membawa kedua sahabat tersebut menuju ke Ausie.


Surya dan Gio menyalami anggota keluarga dan memeluk mereka satu-persatu. Riko kemudian maju dan memeluk kedua sahabatnya bersamaan.


"Aku harap, kalian berdua tidak melupakan aku," ucap Riko dengan netra berkaca-kaca karena hanya dia sendirilah yang berpisah.


"Tentu, Bro. Kita akan selamanya bersahabat, bersaudara," balas Surya.

__ADS_1


Surya kemudian memeluk Bintang tanpa kata. Hanya dekapan erat mereka berdua yang mengatakan bahwa masing-masing begitu berarti dan takkan pernah tergantikan.


🌟🌟🌟🌟🌟 tbc ...


__ADS_2