
Pak Hadi tidak banyak bicara setelah melihat dengan mata kepala sendiri seperti apa kelakuan sang calon istri.
"Mulai besok, jangan pernah lagi datang ke kantor saya dan menunjukkan muka di hadapan saya!"
Papanya Bintang itu kemudian segera berbalik, tetapi Sesil langsung beringsut dan beranjak mengejar.
"Mas, tunggu! Aku bisa jelasin semua, Mas," mohon Sesil yang membungkus tubuh polosnya dengan selimut.
Wanita seksi itu memeluk kaki Pak Hadi, hingga membuat papanya Bintang kesulitan berjalan.
"Toni! Singkirkan dia, cepat!" titah Pak Hadi pada sang asisten.
Bukan Toni yang maju, tetapi dengan sigap Leon-lah yang maju dan menarik tubuh Sesil agar menjauh dari Pak Hadi.
"Sayang, biarkan dia pergi. Mari kita lanjutkan permainan yang belum aku mulai," ucap Leon seraya tersenyum smirk, membuat Sesil menjadi semakin geram pada teman kencan yang sedari tadi mempermainkan hasratnya.
Pak Hadi segera berlalu setelah terbebas dari jerat tangan Sesil.
"Lepaskan tubuhku, Bang*sat!" hardik Sesil yang ingin kembali mengejar Pak Hadi.
Tubuh Leon yang tinggi tegap dan tenaganya sangat kuat, tentu membuat Sesil tidak mampu melepaskan diri dari cengkraman tangan Leon.
"Kurang ajar kamu! Lepaskan! Biarkan aku mengejar calon suamiku!" geram Sesil karena tubuh Pak Hadi yang diikuti oleh sang putri dan Asisten Toni, hampir menghilang dari pandangan matanya.
Sementara Riko yang masih berada di sana, tersenyum puas.
"Makanya, jangan coba-coba bermain api dengan menebar fitnah, Nona Sesil," ucap Riko, sinis.
"Apa maksud kamu?" tanya Sesil yang menatap Riko dengan tatapan tidak suka.
"Aku tahu rencana kamu dengan Delon, Mbak Sesil, mantan calon mama tiri Bintang," balas Riko seraya tersenyum mengejek.
__ADS_1
Sesil mengepalkan tangan, sangat marah dengan ucapan Riko yang mengatakan dirinya mantan calon mama tiri bagi Bintang karena dia masih menyimpan harapan, suatu saat nanti dapat meyakinkan Pak Hadi bahwa dia tulus menyayangi papanya Bintang tersebut.
"Jangan pernah coba-coba untuk menjauhkan Bintang dari Surya, apalagi menjodohkan gadis baik-baik seperti Bintang dengan cowok breng*sek yang doyan meniduri anak perawan macam Delon!" lanjut Riko dengan tatapan penuh ancaman, tepat di hadapan Sesil.
"Itu bukan urusan kamu karena kamu hanyalah orang luar yang tidak penting!" Sesil menatap Riko dengan tatapan tajam.
"Bro, mangsa aja dia!" suruh Riko kemudian yang tak ingin lagi berada di sana berlama-lama.
"Enggak perlu pakai pengaman, biar saja dia ikut merasakan penderitaan yang kamu rasakan!" Delon tersenyum smirk.
"Apa maksud kamu?" tanya Sesil, berteriak.
"Tenang seksi, jangan teriak-terik!" ucap Leon. "Aku tertular penyakit kela*min oleh lawan mainku dan aku juga akan menularkannya padamu," bisiknya kemudian.
"Tidak! Aku tidak mau!" jerit Sesil, semakin menjadi.
Wanita muda itu mencoba untuk berontak, tetapi selalu gagal karena tenaga Leon terlalu kuat.
"Have fun, Bro. Aku tinggal dulu," pamit Riko seraya menyerahkan amplop coklat yang berisi uang kepada Leon.
"Thank you, Bro. Senang bekerja sama dengan Anda!" seru Leon sebelum Riko menutup pintu kamar tersebut.
Kini hanya tersisa Leon dan Sesil, di kamar yang cukup luas dengan ranjang king size yang kondisinya telah acak-acakan karena ulah Sesil tadi yang kelojotan seperti cacing kepanasan.
Tanpa membuang waktu, Leon yang juga sudah menahan hasratnya semenjak tadi, langsung membuang selimut yang menutupi tubuh Sesil dan membawa tubuh polos wanita muda itu ke atas ranjang yang empuk.
"Tidak, Leon! Aku tidak mau!" Sesil yang sudah berada di bawah kungkungan Leon, meronta.
"Ssssttt ... diamlah baby, bukannya tadi kamu menghiba menginginkan agar ular sanca raksasa milikku ini memasuki goa kehangatan milikmu yang telah banjir?" Leon berbicara sambil melucuti pakaian dengan satu tangannya.
"Aku tidak sudi, Leon! Minggir dari atas tubuhku!" teriak Sesil dengan air mata yang semakin deras mengucur.
__ADS_1
Rasa takut menghampiri Sesil. Dia takut jika tertular penyakit kelamin. Sesil merasa tidak siap, jika sampai dikucilkan oleh keluarga besar kalau sampai dia mengidap penyakit yang menjijikkan seperti itu.
"Leon, kumohon," rintih Sesil ketika Leon mulai mencumbui tubuh mulusnya.
Pemuda yang telah dibayar oleh Riko itu tak lagi peduli dengan rengekan Sesil, dia terus menciptakan banyak tanda di area dada Sesil.
Leon bahkan menggigit puncak dada wanita muda yang tengah terisak tersebut, hingga buah cerry itu terluka dan membuat Sesil menjerit kecil. "Aw ... sakit, Leon!"
Mendengar jeritan kecil Sesil, Leon semakin bersemangat. Gairahnya semakin terpacu dan pemuda itu semakin liar menelusuri tubuh polos Sesil hingga ke perut dan terus turun ke bawah.
"Please, Leon ... aku tidak mau!" Sesil masih saja menolak, tetapi apa yang dia katakan berbeda dengan respon tubuhnya yang sepertinya menikmati cumbuan Leon.
"Berhentilah berpura-pura menolak, Sayang. Aku tahu kamu menikmatinya," ucap Leon seraya tersenyum.
Pemuda bertato itu sangat senang karena lawan mainnya menikmati permainan dan cumbuannya, hingga membuat Leon ingin segera menuntaskan hasrat yang sudah dia pendam semenjak tadi.
Ya, Sesil hanya bisa pasrah, menikmati sentuhan Leon yang memang lihai membuat gairahnya kembali naik.
Akal sehatnya yang menolak karena khawatir akan tertular penyakit, kalah dengan nafsunya yang kembali menggebu karena sentuhan Leon.
"Hentikan, Leon ... kumohon," pinta Sesil dengan suara yang bergetar karena menahan amarah, serta nafsu yang bercampur menjadi satu.
Air mata wanita muda itu semakin deras mengalir.
"Tidak, Sayang. Bersiaplah karena sebentar lagi, aku akan membuatmu melayang ke atas awan," bisik Leon yang kembali merangkak naik dan menciumi leher jenjang Sesil.
Sesil memejamkan mata seraya menggigit bibir bawah dengan kuat, ketika Leon mulai melakukan penyatuan.
'Matilah, aku,' bisik Sesil dalam hati, ketika ular sanca milik Leon masuk semakin dalam.
πππππ tbc ...
__ADS_1