Mengejar Bintang

Mengejar Bintang
Bab 2


__ADS_3

Suasana sekolah masih sepi, yang terdengar hanya langkah Laura di lorong kelas. Hari ini hari pertama Laura akan menempati kelas barunya di kelas 3. Seperti tahun sebelumnya, langkahnya terhenti di depan mading sekolah. Sekali lagi ia melihat daftar nama siswa di dinding tersebut.


Jantungnya berdegup kencang. Ia melihat daftar nama kelas 3 IPA 1. Namanya berada di daftar tersebut. No. 22, Laura Amalia. Perlahan lahan jarinya melihat daftar nama dibawahnya. Lily... Leonel.... Lily... Margaret... Michael... Moira... Natalie... Niko... jarinya berhenti. No. 29 Niko Fareli. Luara sampai harus melihatnya 2 kali utk memastikan. Ia menutup matanya kemudian membukanya lagi. Nama tersebut masih ada. Seulas senyum lebar menghiasi bibirnya. Akhirnya ia bisa sekelas jg dgn Niko. Laura meloncat kegirangan.


Laura berlari keruang kelas barunya. Ia melihat seisi kelas yang masih kosong. Selama 1 tahun berikutnya ia akan menghabiskan sisa masa SMA nya di ruang yang sama dengan Niko.


***


Dua hari kemudian, Laura memandang Niko yg sedang memberikan tanda tangan untuk para siswa kelas 1. Sebagai Ketua Osis, Niko memang sangat sibuk saat masa orientasi sekolah. Tapi tidak seperti rekan-rekan nya yang mengerjai adik kelasnya dan memberikan tanda tangannya tanpa meminta mereka melakukan apapun. Hal itu membuat Laura semakin menyukainya.


Tiba-tiba Niko bertemu pandang dengan Laura, Jantung Laura seakan berhenti berdetak, wajahnya merah padam, lalu ia memalingkan wajah dan kembali ke kelas. Dengan lemas, ia duduk dibangkunya. ''Aku memang payah'', keluhnya dalam hati.


Di sinilah ia, satu tahun setengah setelah dua perkataan ''maaf'' dan ''thanks'' yang dilontarkannya pada Niko. Ia masih belum punya keberanian untuk berbicara dengan nya. Pandangannya jatuh pada tempat duduk Niko, dua bangku di depannya.


Enam langkah, hanya enam langkah jaraknya kini dengan Niko. Tetapi Laura masih belum bicara dengan nya. Pandangannya jatuh pada tempat duduk Niko, dua bangku di depannya.


Dan pada akhirnya ia menyimpulkan ia memang tidak punya keberanian untuk berbicara dengan orang yang ia sukai, saat masa orientasi sekolah usai, dan hari telah berganti minggu, Laura tetap tidak punya kesempatan untuk berbicara dengan Niko. Niko selalu di kerumuni teman-temannya, terutama pacarnya, Erika dari kelas 3 IPA 2.


***


Pada minggu ke empatnya di kelas, ketika memandangi rerumputan dari kaca jendela bus, Laura mendesah. Ia benar-benar berharap diberi kesempatan untuk berbicara dengan Niko, sekali saja.


Tiba-tiba bus yg dinaikinya berhenti, Laura membuka jendela bus & melihat kedepan jalan. Sepertinya tak jauh dari sana baru terjadi tabrakan antara truk & mobil barang. Hal itu menyebabkan jalan dari dua arah tidak bisa dilalui. Laura melirik jam ditangannya. Butuh waktu lama untuk tim derek mobil tiba dilokasi & membuat jalan lancar kembali.

__ADS_1


Laura menelepon wali kelasnya & memberitahu kemungkinan besar ia tdk bisa mengikuti setengah pelajaran pagi sampai istirahat. Padahal jam pertama ada ulangan fisika. Pak Bambang, sang wali kelas sekaligus guru fisika, memahaminya. Dia meminta Laura tidak usah khawatir & bisa mengikuti ulangan susulan sepulang sekolah.


Waktu menunjukkan pukul 10 ketika akhirnya Laura sampai disekolah. Setelah membuat laporan pada guru piket, Laura melangkah ke kelasnya. Terus terang, menunggu 3 jam didalam bus tanpa bergerak sama sekali benar-benar membuatnya bosan. Belum lagi, ia harus mengikuti ulangan susulan seusai sekolah. Dan dari perkataan teman sekelas yang didengarnya, soal fisika tadi pagi sangat sulit. ''Apalagi usai sekolah nanti'', keluhnya, ''pasti lebih sulit lagi''.


Saat itu Laura menyadari, masuk IPA dengan alasan supaya sekelas dengan orang yg disukainya adalah alasan yang salah. Ketika Pak Bambang memberikan soal ulangan seusai sekolah, Laura menerimanya dengan berat hati. Ia melihat selembar kertas bolak balik berisi 10 soal yang pasti sebentar lagi bisa membuat kepalanya pusing. Padahal ulangan kali itu open book.


15 menit berlalu, tapi Laura belum juga menemukan solusi untuk sebagian besar soal di depannya. Pak bambang duduk di meja guru dengan santai sambil membaca koran.


Tiba-tiba seorang cowok masuk dan duduk di meja sebelah Laura. Laura menatap cowok itu dan terkejut, Niko.


''Ah Niko'', sapa Pak Bambang sambil berdiri di depan meja Niko, ''kau juga tadj pagi tidak bisa ikut ulangan bapak kan? Ini soal ulangannya.''


''Maaf pak. Tadi pagi ada rapat Osis,'' kata Niko memberi penjelasan. Pak Bambang mengangguk mengerti.


Bagaimana mungkin Laura bisa berkonsentrasi kalau dirinya hanya ingin memandang orang yang paling disukainya saat ini?


Perkataan Pak Bambang membuat Laura tersentak dari pandangannya pd Niko. ''OK bapak pergi dulu. Nanti kalau sudah selesai, tinggalkan saja jawaban kalian di meja guru. Kalian tidak akan bekerja sama,kan?''


Laura dan Niko menggeleng berbarengan. Lalu Pak Bambang keluar dari ruang kelas. Kini hanya tinggal Laura dan Niko disana. Laura berusaha sekuat mungkin mengerjakan soal didepannya, tapi jawaban utk soal-soal tersebut hilang entah kemana.


Kebalikan dirinya, ia melihat Niko mengerjakan soal tanpa masalah. Dua puluh menit kemudian, Laura menyerah. Ia yakin ia tdk akan mendapat nilai bagus untuk ulangannya kali ini.


''Apa yg harus kulakukan?'' tanyanya dalam hati sambil menutup wajahnya dgn ke dua tangan. ''Aku tidak bisa mengerjakan soal-soal fisika kali ini.''

__ADS_1


Ketika ia membuka matanya lagi, Niko sudah tidak ada di sana. Laura mendesah panjang. ''Dia pasti sudah selesai,'' pikirnya. Matanya kembali menatap soal-soal di depannya. Tiba-tiba ia menyadari ada sehelai kertas terlipat di sebelah buku fisikanya.


Laura membuka kertas berlipat 4 itu dgn hati-hati dan membaca 2 kata yg tertera disana. JANGAN MENYERAH.


Perlahan-lahan Laura tersenyum. Ia yakin Niko yg menulisnya sebelum keluar dari ruang kelas. Senyum Laura semakin lebar. Kini,hatinya penuh dengan semangat baru. Perlahan tapi pasti, Laura menyelesaikan semua soal ulangan fisika itu.


***


Ketika sorenya ia makan malam dengan mama di meja makan, wajahnya masih tetap tersenyum.


''Kau kelihatan senang hari ini,'' komentar mama. ''Mau memberitahu mama apa yang membuatmu bahagia?''


Laura tersenyum tipis. ''Hari ini orang yang aku sukai memberi semangat. Tadi siang ketika ulangan fisika susulan, aku sudah menyerah. Tapi tiba-tiba dia memberiku sehelai kertas. Isinya ''JANGAN MENYERAH'' .


''Jadi,'' lanjut mama,'' akhiranya kau bisa mengerjakan ulanganmu hari ini.'' Laura mengangguk.


''Laura.'' ujar mama serius, ''kau benar-benar menyukai cowok ini, ya?''


Laura mengangguk lagi.


''Kau tau kan, mama percaya padamu.'' mama menatap putrinya dgn lembut. ''Mama hanya ingin kau berhati-hati.”


"Iya ma."

__ADS_1


__ADS_2