Mengejar Bintang

Mengejar Bintang
Editan Rekaman CCTV


__ADS_3

⭐⭐⭐⭐⭐


Selama berada di sekolah, Bintang sama sekali merasa tidak tenang. Gadis itu kepikiran dengan perkataan sang papa yang akan mengecek CCTV di hotel.


Bintang khawatir, sang papa akan menyimpulkan seperti apa yang dilihat dan termakan hasutan Sesil, calon mama sambung yang sepertinya tidak menyukai dirinya.


'Bagaimana kalau papa percaya, bahwa aku dan Delon memang berbuat yang tidak-tidak di dalam toilet?' Perasaan Bintang berkecamuk tak karuan.


"Bintang," panggil Fitri yang baru masuk kembali ke dalam kelas karena jam istirahat sudah habis.


Bintang menoleh. "Eh, Fit," balas Bintang sedikit terkejut.


"Dari tadi melamun aja, di ajakin ke kantin enggak mau. Mikirin apa, sih?" tanya Fitri, teman sebangku Bintang.


"Kak Surya, ya? Masak baru ditinggal sehari udah kangen?" lanjutnya, menebak. Fitri kemudian mendudukkan diri di bangkunya, di sebelah Bintang.


Bintang hanya menjawab dengan senyuman.


Fitri yang memang tidak terlalu dekat dengan Bintang mencoba mengajak teman sebangkunya itu untuk bercanda sebelum guru masuk ke dalam kelas, agar Bintang sejenak melupakan kerinduannya pada Surya seperti yang disangka oleh gadis berkaca mata tebal tersebut.


Seorang guru laki-laki yang masih sangat muda, masuk dan menghentikan obrolan mereka berdua.


Guru berkulit putih bersih itu kemudian tersenyum manis pada Bintang.


"Bin, Pak Andra senyum, tuh, sama kamu," bisik Fitri seraya menyenggol lengan Bintang.


"Bukan hanya sama aku, tapi sama kita semua," kilah Bintang.


Bukannya tidak tahu, kalau guru Bahasa Inggris itu menyukainya, tetapi Bintang hanya mencoba untuk bersikap wajar dan menjaga jarak dengan guru baru di sekolahnya tersebut.


Pak Andra memang guru baru, dia baru beberapa bulan mengajar di sekolah Bintang. Sejak pertama kali mengajar di kelas Bintang, guru yang wajahnya mirip artis Korea itu nampak memberikan perhatian lebih pada siswi yang paling menonjol di kelasnya, siapa lagi kalau bukan Bintang.


Sepanjang mengikuti pelajaran Bahasa Inggris yang diampu Pak Andra, Bintang sama sekali tidak bisa fokus. Bahkan di jam pelajaran berikutnya, gadis berambut sebahu itu masih saja murung, tak seperti biasanya yang selalu penuh semangat.

__ADS_1


Bukan kepada Surya seperti yang disangka Fitri pikiran Bintang saat ini tertuju, tetapi pada sang papa yang saat ini tengah mencari bukti mengenai tuduhan Sesil terhadap dirinya.


🌟🌟🌟


Sementara Pak Hadi yang baru saja tiba di kantor, disambut dengan senyuman hangat oleh Sesil.


Sekretaris yang selalu mengenakan pakaian seksi tersebut langsung menyambut sang calon suami dan menuntun bos di perusahaan tempatnya bekerja itu dengan bergelayut manja, pada lengan Pak Hadi.


"Gimana dengan hasilnya, Mas?" cecar Sesil dengan tidak sabar.


Calon istri Pak Hadi itu kemudian ikut duduk di sofa, di samping calon suaminya.


"CCTV di sana lagi eror, belum bisa dibuka," balas Pak Hadi, lesu. "Aku sudah nyuruh Toni untuk mengurus semuanya," lanjutnya seraya melonggarkan dasi yang seolah mencekik leher karena perasaannya yang sedang tak karuan.


Pak Hadi masih berharap, apa yang dikatakan Sesil itu tidaklah benar. Bintang tidak pernah keluar dari toilet bersama Delon dan dalam keadaan seperti orang mabuk.


"Mas, sudah. Jangan terlalu dipikirkan! Kalau memang di CCTV nanti terbukti bahwa mereka memang berduaan di dalam toilet, ya sudah, nikahkan saja putri Mas dan Delon," ucap Sesil seraya tersenyum samar, senyuman yang tidak dapat dilihat oleh Pak Hadi.


"Tapi Bintang tidak pernah mencintai Delon, Sayang," tolak Pak Hadi yang masih memikirkan perasaan sang putri.


"Mas, meskipun Bintang dalam keadaan mabuk, jika memang dia tidak memiliki rasa nyaman bersama Delon, dia pasti akan menjerit dan menolak Delon, Mas." Sesil masih saja mencoba untuk mempengaruhi sang calon suami.


Pak Hadi mengangguk, membenarkan. Laki-laki yang wajahnya kini terlihat kusut tersebut menghela napas berat. "Kita lihat saja nanti, semoga Toni bisa mengatasinya dengan cepat."


🌟🌟🌟


Di tempat lain, Delon tengah sibuk menelepon seseorang.


"Aku tidak mau tahu bagaimana caranya. Dalam rekaman tersebut, waktu Bintang dan aku berada di toilet harus lama, minimal lima belas menit!" suruh Delon pada seseorang di seberang telepon.


Rupanya, Delon sedang menghubungi pihak keamanan hotel untuk merekayasa hasil rekaman CCTV ketika malam gathering perusahaan di hotel tersebut.


Delon bergerak cepat setelah Sesil memberitahukan dirinya, bahwa papanya Bintang akan mencari tahu rekaman CCTV di sana.

__ADS_1


"Baik, aku tunggu hasilnya segera!" pungkas Delon yang kemudian mengakhiri panggilan secara sepihak.


Delon tersenyum lebar. Pemuda yang saat ini hanya mengenakan boxer itu membayangkan kesuksesan yang akan segera diraihnya.


Keinginan Delon untuk dapat memiliki Bintang, sedikit lagi akan dapat terwujud. Begitulah yang dipikirkan oleh pemuda berwajah blasteran tersebut.


Delon segera mematikan rokok yang dihisapnya, menenggak minuman beralkohol dalam botol favorit dan kemudian segera masuk kembali ke dalam kamar dimana seorang gadis tengah menanti dirinya dengan keadaan tanpa busana.


Ya, Delon membawa mangsa baru ke unit apartemen miliknya. Seorang gadis belia yang masih berseragam putih biru.


"Kak, kenapa lama sekali?" rajuk gadis tersebut yang nampak tidak sabar karena Delon meninggalkan dirinya begitu saja dan memilih menerima telepon terlebih dahulu, ketika sang gadis sedang berada di puncak kenikmatan akibat cumbuan Delon.


"Kenapa, hem? Kamu sudah tidak sabar, ya?" goda Delon seraya memulai kembali menggerayangi bagian sensitif si gadis, hingga membuat gadis berwajah imut itu mende*sah manja.


Kamar mewah milik Delon yang berpendingin udara maksimal, kini terasa panas seiring bergemanya suara-suara desa*han dan lengu*han dari kedua insan yang berburu kenikmatan sesaat, memenuhi ruangan tersebut.


Dering ponsel Delon yang kembali terdengar, menyudahi pergulatan panjang Delon dan sang gadis. Delon langsung mencabut miliknya dengan paksa, hingga membuat gadis belia yang masih berada di bawah kungkungannya tersebut, menjerit sakit.


"Sakit, Kak!" pekik sang gadis, tetapi Delon tak menggubris.


Telepon dari orang yang ditunggunya tersebut nampaknya lebih penting, hingga membuat Delon melupakan after play seperti yang biasanya dia lakukan dengan teman kencannya.


"Halo, bagaimana?" tanya Delon dengan tidak sabar.


Delon fokus mendengarkan suara di seberang, tanpa mempedulikan gerutuan sang gadis yang terisak karena kesakitan dan mungkin saja sedikit penyesalan.


"Oke, kamu kirimkan hasil editan rekaman CCTV ke nomorku sekarang juga!" titah Delon.


Sedetik kemudian, Delon yang kembali membuka layar ponselnya, tersenyum lebar.


"Perfect. Aku yakin, Om Hadi pasti percaya, kalau kami memang telah melakukan sesuatu di dalam toilet."


🌟🌟🌟🌟🌟 tbc ...

__ADS_1


__ADS_2