
Keesokan harinya, seperti biasa Bintang sarapan pagi bersama sang papa. Usai sarapan, Bintang yang hendak bergegas ke sekolah dengan diantarkan oleh papanya, tiba-tiba berlari kecil menuju toilet.
Bi Narsih yang melihat Bintang berlari, mengikuti nona mudanya tersebut. Kembali wanita paruh baya tersebut tertegun, kala mendengar di dalam kamar mandi Bintang memuntahkan semua makanan yang baru saja masuk ke dalam perutnya.
"Non Bintang kenapa, ya? Dari kemarin lusa, tiap habis makan selalu muntah?" gumam Bi Narsih, bertanya-tanya.
"Bi, Bintang kenapa?" Suara Pak Hadi yang ternyata juga mengikuti sang putri, mengagetkan Bi Narsih yang menempelkan telinga ke daun pintu.
"Eh, Tu ... Tuan," sapa Bi Narsih, gugup. "Bibi tidak tahu, Tuan. Sudah tiga hari ini, setiap habis sarapan Non Bintang selalu muntah. Persis seperti almarhumah nyonya sewaktu ...." Bi Narsih menghentikan ucapannya dan kemudian menampar mulutnya sendiri yang bisa-bisanya hampir keceplosan mengatakan yang tidak-tidak.
'Tidak-tidak, tidak mungkin Non Bintang seperti itu.' Bi Narsih mencoba menepis pikirannya sendiri yang berpikir negatif tentang nona mudanya.
Sementara Pak Hadi mengerutkan kening dengan dalam. "Maksud Bibi, apa? Persis seperti mamanya Bintang? Yang bagaimana?" cecar Pak Hadi yang mulai panik karena dapat menangkap kemana arah pembicaraan pengasuh putrinya tersebut.
"Tidak, Tuan. Bukan apa-apa," balas Bi Narsih.
Pak Hadi merasa belum puas dengan jawaban Bi Narsih dan masih ingin mendesak kembali wanita yang telah setia mengabdikan diri pada keluarganya, tetapi suara pintu yang terbuka, menghentikan semuanya.
"Papa, Bibi." Wajah Bintang seketika menjadi pias. Dia khawatir, sang papa dan juga Bi Narsih mengetahui bahwa dirinya baru saja muntah-muntah.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Pak Hadi yang penasaran sekaligus khawatir bahwa apa yang dia pikirkan adalah sebuah kenyataan.
"Bintang tidak apa-apa, kok, Pa. Tadi cuma buang air kecil," kilah Bintang seraya tersenyum pada sang papa.
"Ayo, Pa! Nanti Bintang terlambat kalau tidak segera berangkat," ajak Bintang, sengaja menghindar dari tatapan sang papa san juga pengasuhnya.
Pak Hadi yang masih ingin bertanya, mengurungkan niat dan kemudian mengikuti langkah Bintang.
Ayah dan anak itu kemudian segera masuk ke dalam mobil yang telah disiapkan oleh Pak Jaya. Setelah keduanya naik ke dalam mobil, Pak Hadi yang mengemudi sendiri segera melajukan city car mewahnya, keluar dari pintu gerbang yang tinggi menjulang untuk menuju ke sekolah Bintang.
Sepanjang perjalanan menuju ke sekolah, keduanya sama-sama terdiam. Bintang sibuk memikirkan dengan gejala yang dialaminya akhir-akhir ini, sementara sang papa sibuk memikirkan apakah yang terjadi pada sang putri seperti yang dia dan Bi Narsih duga?
__ADS_1
"Sayang, nanti pulang sekolah ke kantor papa dulu ya. Ada yang harus kita bicarakan," pinta Pak Hadi mengurai keheningan.
Pak Hadi harus gerak cepat, dia harus segera bicara sama sang putri agar jelas semuanya.
Bintang mengangguk, patuh. "Iya, Pa."
Keheningan kembali tercipta di kabin mewah tersebut. Tidak ada lagi yang bersuara, hingga mobil Pak Hadi tiba di depan pintu gerbang sekolah Bintang.
Gadis berambut panjang sebahu yang dibiarkan tergerai indah itu menyalami sang papa, sebelum turun dari mobil. Pak Hadi kemudian mencium dalam puncak kepala sang putri, sangat berharap apa yang dia pikirkan tidak pernah terjadi.
Pak Hadi segera berlalu untuk menuju kantornya, setelah memastikan sang putri melewati pintu gerbang dan kemudian menghilang di balik gerbang yang tinggi tersebut.
Pak Hadi sempat melihat ke sekeliling sebelum benar-benar menjauh dan laki-laki yang memiliki wajah tampan meski usainya sudah tak lagi muda tersebut, tersenyum, ketika dua orang pengawal Bintang sudah stand by di sana dan mobil yang dikendarai Pak Jaya, juga sudah terlihat di belakangnya.
πππ
Di dalam kelas, Bintang tidak dapat fokus mengikuti pelajaran di jam pertamanya. Gadis berkulit putih seputih susu tersebut, nampak gelisah dan hal itu dapat ditangkap oleh Fitri, teman sebangkunya.
"Enggak apa-apa, kok, Fit," kilah Bintang yang belum ingin menceritakan apapun kepada siapapun.
"Jangan bohong!" desak Fitri. "Aku tahu kamu lagi memikirkan sesuatu," lanjut Fitri, menebak.
Bintang terdiam, dia menimbang apakah harus bercerita sama Fitri atau tidak.
"Eh, Fit. Kamu bawa motor, kan?" tanya Bintang setelah beberapa saat.
"Hem, kenapa?" balas Fitri, seraya menatap Bintang.
"Nanti di jam istirahat pertama, aku pinjam bentar, ya? Aku ada perlu, tapi aku enggak mau kalau sampai sopirku tahu," pinta Bintang seraya menatap Fitri, penuh harap.
Ya, Fitri dan semua teman Bintang tahu, kalau sopir Bintang, Pak Jaya, selalu menunggui Bintang di gerbang sekolah, tepatnya di pos jaga, dari pagi sampai Bintang pulang sekolah.
__ADS_1
Hanya Pak Jaya yang mereka tahu karena dua orang body guard Bintang, sengaja tidak menampakkan diri.
"Boleh. Mau kemana, sih?" balas dan tanya Fitri, kepo. "Mau aku temani, enggak?" tawar Fitri kemudian.
Bintang menggeleng. "Tidak perlu, Fit. Aku bisa sendiri," tolak Bintang yang tidak ingin Fitri tahu kemana dia akan pergi.
"Yakin, bisa naik motor?" tanya Fitri, ragu. Sebab, teman sebangku Bintang tersebut tahu persis, bahwa gadis yang merupakan primadona di sekolah itu adalah anak orang kaya yang tidak pernah kenal dengan sepeda motor.
"Bisa, kok. Kamu tenang aja," balas Bintang. "Kak Surya 'kan sering ngajarin aku naik motor," lanjutnya seraya tersenyum, membayangkan ketika Surya dengan sangat cerewet mengajari Bintang yang maksa pengin bisa naik motor.
"Malah senyum-senyum," tegur Fitri, mengurai lamunan Bintang.
πππ
Tepat di saat bel jam istirahat pertama berbunyi, Bintang segera menuju parkiran. Dibantu oleh Fitri, Bintang diam-diam meninggalkan sekolah.
Bintang mengenakan hoodie milik teman sebangkunya itu, agar tidak dikenali. Dia juga mengenakan helm full face, membuat penyamaran Bintang semakin sempurna.
Setelah berhasil melewati pintu gerbang dan memastikan kedua pengawal pribadi yang bersiaga di luar gerbang sekolah tidak menyadari bahwa yang menaiki motor berwarna merah itu adalah dirinya, Bintang segera melajukan motor tersebut dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit.
'Sepertinya, Pak Jaya yang sedang ngobrol sama satpam tadi juga tidak ngeh kalau yang naik motor ini adalah aku,' batin Bintang, tenang.
Bintang terus melajukan sepeda motor tersebut, membelah jalanan beraspal yang tidak terlalu padat karena saat ini adalah jam kerja.
Setelah menempuh perjalanan sekitar lima belas menit, motor matic yang dikendarai Bintang berbelok dan kemudian parkir di area parkir rumah sakit Permata.
Bintang bergegas turun setelah melepaskan helm dan menyimpan helm berwarna merah, senada dengan warna motornya tersebut di atas motor yang dia pinjam.
Melangkah pasti, Bintang menuju ke tempat pendaftaran pasien dan kemudian segera mendaftarkan diri untuk menjalani medical check up.
Berharap cemas, Bintang menunggu antrean. Tak berapa lama kemudian, namanya dipanggil untuk segera menjalani pemeriksaan.
__ADS_1
πππππ tbc ...