
⭐⭐⭐⭐⭐
Bintang menatap papanya dengan tatapan putus asa. Gadis berambut panjang sebahu itu seperti tidak mengenali papanya.
Papa yang dulu selalu percaya padanya dan senantiasa memprioritaskan apapun yang Bintang inginkan, kini seolah seperti orang asing yang tidak ada ikatan apapun di antara mereka berdua.
Sejenak, Bintang memejamkan mata.
"Maaf, Pa. Bintang tetap tidak mau menikah dengan dia," tolak Bintang, kemudian.
Gadis itu perlahan mundur dan kemudian segera berbalik meninggalkan sang papa, tanpa meneteskan air mata.
Baru beberapa langkah dia berlalu, sang papa berseru.
"Jangan bawa apapun fasilitas yang papa berikan!"
Bintang berbalik badan dan kembali mendekati sang papa. Dia ambil dompet dari dalam tas punggung dan kemudian Bintang simpan di atas bangku, di dekat papanya.
Bintang juga mengambil ponsel, bertepatan dengan adanya panggilan masuk dari Surya.
Dia terima telepon tersebut, mungkin untuk yang terakhir kali sebelum dia serahkan ponselnya pada sang papa.
"Halo, Kak," sapa Bintang, berusaha untuk berbicara dengan setenang mungkin. Meskipun hatinya saat ini hancur lebur.
"Sayang, apa benar papamu memaksa untuk menikah dengan Delon? Barusan, Delon mengirimkan pesan rekaman suara Om Hadi yang menyuruh kamu untuk menikah dengan dia. Benarkah itu suara papamu, Sayang? Atau suara orang lain yang mirip dengan suara Om Hadi?" cecar Surya, di ujung telepon.
Dari nada bicaranya, Bintang dapat menangkap bahwa sang kekasih begitu khawatir padanya.
"Dan, apakah benar hasil tes USG yang aku terima ini, Sayang? Disitu tertulis bahwa kamu, kamu ...." Surya terdiam. Sepertinya, pemuda tersebut tidak mampu untuk melanjutkan kalimatnya.
Ya, rupanya Delon bergerak cepat. Dia merekam ucapan Pak Hadi dan mengirimkan sepotong pesan dimana papanya Bintang tersebut menyuruh putrinya untuk menikah dengan Delon dan kemudian mengirimkan rekaman suara tersebut kepada Surya.
Delon juga mengirimkan foto hasil tes palsu milik Bintang kepada kekasih Bintang tersebut, tentu saja dengan tujuan untuk merusak hubungan Surya dan Bintang.
Bintang pun terdiam, mendengar rentetan pertanyaan Surya. Dia tidak ingin membebani sang kekasih yang tengah menuntut ilmu nun jauh di sana, dengan masalah yang sedang dihadapinya.
'Maafkan Bintang, Kak. Bintang tidak dapat berbagi dengan Kakak karena Bintang tidak mau Bunda dan Ayah kecewa, jika Kakak sampai gagal meraih apa yang Kakak cita-citakan,' bisik Bintang dalam hati.
Ya, biarlah semua ini dia simpan sendiri dan mungkin itu akan lebih baik untuk Surya jika mereka berpisah karena Bintang dianggap tidak setia, daripada jika mereka berpisah karena penyakit yang dia derita.
__ADS_1
"Katakan padaku, Sayang, bahwa semua itu tidak benar," lanjut Surya, mengurai lamunan Bintang.
"Itu semua benar, Kak. Maaf, Bintang tidak bisa setia," pungkas Bintang yang kemudian segera menutup ponsel secara sepihak, tanpa memberikan kesempatan pada Surya untuk berbicara.
Bintang segera mematikan ponsel dan mengambil sim card miliknya. Mematahkan sim card tersebut dan menyimpan ponsel di atas bangku, di samping dompetnya yang masih berada di sana.
Tanpa kata, Bintang kembali berbalik dan berlari kecil meninggalkan sang papa yang terduduk lesu dengan didampingi oleh wanita muda yang berusaha mendapatkan cinta dan perhatiannya.
Bintang terus berlari tanpa menoleh ke belakang.
Sesil memberikan isyarat pada Delon, agar mengejar Bintang. Namun, Delon menggeleng, menolak saran Sesil. Entah apa alasannya.
Wanita muda yang tengah menenangkan Pak Hadi itu kemudian beranjak dan mendekati Delon.
"Kenapa enggak dikejar?" cecar Sesil, berbisik.
"Malas, ah! Penyakitan gitu," balas Delon dengan santainya.
"Terserahlah," ucap Sesil, pasrah.
Wanita yang senang mengenakan gaun seksi tersebut kembali mendekati Pak Hadi, tetapi papanya Bintang tersebut beranjak dan segera berlalu meninggalkan Sesil begitu saja.
"Mas, tunggu!" cegah Sesil, mengejar.
Sementara di tepi jalan, di depan rumah sakit, Bintang menghadang taksi yang lewat untuk menuju ke suatu tempat. Gadis itu menghitung dalam hati, cukupkah sisa uang yang dia miliki.
Setelah mendapatkan taksi, gadis itu kemudian duduk di bangku belakang seraya merenungi nasib diri.
Semua yang barusan terjadi melintas dengan jelas di pelupuk mata Bintang, membuat gadis itu menangis dalam diam.
"Kemana, Mbak?" Suara sopir taksi yang berusia setengah baya, mengurai lamunannya.
Bintang kemudian menyebutkan sebuah tempat dan sopir taksi tersebut mengangguk, mengerti.
Hening, menyapa kabin taksi tersebut.
Bintang kembali melamun. Sementara sopir taksi yang seolah memahami perasaan penumpang yang duduk di bangku belakang, hanya bisa menatap Bintang melalui pantulan kaca spion dengan menyimpan rasa penasaran.
"Maaf, Mbak. Yakin, Mbak mau pergi ke daerah sana?" tanya sopir taksi setelah cukup lama membiarkan Bintang dengan kesendiriannya.
__ADS_1
"Iya, Pak," balas Bintang, pasti.
Sopir tersebut kembali mengangguk.
Tak ada lagi pembicaraan. Bintang kembali terdiam, begitu pula dengan sopir taksi tersebut.
Setelah cukup lama melaju meninggalkan pusat kota, taksi yang membawa Bintang sampai ke daerah yang dituju.
Aroma tidak sedap langsung menyapa kehadiran Bintang, sama tidak sedapnya dengan kehidupan Bintang kini dan gadis yang wajahnya sembab itu sudah mengambil keputusan, untuk menetap di sini, di tempat yang aromanya tidak sedap ini.
'Aku yakin, di sini tempatku. Mereka pasti akan menerima kehadiranku dengan baik.' Bintang tersenyum ketika turun dari taksi.
Setelah membayar ongkos taksi dengan sisa uang yang dia miliki, Bintang kemudian berjalan menyusuri tepian sungai yang berbau anyir dengan langkah pasti.
Sapaan dari anak-anak yang berpapasan dengan dirinya, bagai suara nyanyian merdu yang menyejukkan jiwa, membuat Bintang melupakan kesedihannya.
Senyum gadis yang memiliki hidung mancung, yang menambah pesona kecantikan Bintang tersebut, semakin lebar kala langkahnya sudah semakin dekat dengan tempat yang dia tuju.
"Dek, sama siapa? Kok, jalan kaki?" tanya Bima seraya mengedarkan pandangan, mencari sosok pemuda yang biasa mendampingi Bintang.
Sedetik kemudian, Bima merutuki dirinya sendiri karena melupakan sesuatu. "Astaga, aku lupa!" Bima menepuk jidatnya sendiri.
"Surya 'kan udah berangkat ke luar, ya?" lanjutnya bertanya. Pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban tentunya.
Mendengar nama Surya disebut, wajah Bintang yang tadinya full senyum, kini berubah menjadi mendung.
"Maaf, Dik. Aku tidak bermaksud membuatmu menjadi sedih," sesal Bima.
Bintang menggeleng. "Enggak apa-apa, kok, Kak," balas Bintang, mencoba tersenyum kembali.
"Masuk, yuk!" ajak Bima.
Bintang menurut dan mengikuti langkah Bima, masuk ke dalam rumah singgah yang sesungguhnya tidak layak disebut sebagai rumah.
Baru saja Bintang duduk di lantai yang beralaskan spanduk bekas, ponsel Bima terdengar berdering.
Bima mengambil ponsel dari dalam kantong celana, pemuda tersebut nampak mengerutkan dahi dengan dalam. "Surya? Ada apa Surya menghubungiku?"
Bima menatap Bintang dan Bintang menggelengkan kepala seraya menangkup kedua tangan di depan dada.
__ADS_1
"Tolong, Kak Bima jangan pernah mengatakan pada Kak Surya kalau Bintang ada di sini," pinta Bintang, penuh harap.
🌟🌟🌟🌟🌟 tbc ...