Mengejar Bintang

Mengejar Bintang
Selalu Puas Bermain Denganmu


__ADS_3

Di apartemen Sesil. Pak Hadi menghabiskan waktu dengan melamun, hingga membuat Sesil menjadi geram sendiri karena usahanya untuk merayu calon suaminya tersebut diabaikan.


Mati-matian dia bersolek dan berdandan seksi agar Pak Hadi melirik, tetapi laki-laki dewasa yang akan memperistrinya itu seolah sama sekali tak tertarik.


"Aku harus bisa membuat Mas Hadi meniduriku agar pernikahan kami dipercepat dan aku bisa bebas berkuasa di rumah itu, serta mengendalikan Bintang agar mau menerima perjodohannya dengan Delon," gumam Sesil yang kembali ke kamarnya setelah lelah merayu Pak Hadi di ruang keluarga, tetapi laki-laki itu bergeming.


"Tapi aku harus menggunakan cara apalagi? Pakai gaun kayak gini aja, tidak dapat membuatnya menoleh padaku!" geram Sesil.


"Apa iya, aku harus menggunakan obat yang bikin nikmat itu?" Sesil tersenyum dan wanita muda itu langsung membayangkan, calon suaminya dengan gagah mendatangi dirinya dan langsung menyerang.


Sesil menggigit bibir bawahnya sendiri dan tangan kanannya meremas dadanya yang menonjol dengan gerakan erotis.


Dalam bayangan Sesil saat ini, calon suaminya-lah yang sedang mencumbunya, hingga desa*han manja keluar dari bibir seksi wanita muda itu.


Dering ponsel Sesil yang menggelepar di atas nakas, membuyarkan lamunan me*sum calon istri Pak Hadi tersebut dan Sesil buru-buru mengambil ponselnya dengan wajah kesal karena miliknya telah basah hanya dengan membayangkan calon suami mencumbunya.


"Sialan! Pokoknya, aku harus bisa mendapatkan kepuasan dari Mas Hadi!" geramnya sambil menggeser tombol camera ke atas untuk menerima panggilan video dari nama brother.


"Halo, Sayangku, Sisterku yang paling seksi," sapa Delon yang wajahnya telah memenuhi layar ponsel Sesil.


Sesil buru-buru melangkah menuju pintu dan kemudian mengunci pintu kamarnya karena tak ingin obrolannya dengan Delon didengar oleh sang calon suami.


"Halo, brother," balas Sesil seraya tersenyum manis.


"Terimakasih untuk hari ini, aku cukup puas dengan hasilnya," ucap Delon sambil menikmati indahnya dada Sesil yang hanya tertutup gaun tipis, hingga buah cerry di puncak dadanya dapat terlihat dengan jelas.


"Sama-sama, De. Aku juga sangat senang karena papanya Bintang mulai percaya padaku," balas Sesil seraya tersenyum puas.


"Kamu tahu enggak, De. Mas Hadi bahkan saat ini ikut aku ke apartemen karena sangat marah pada anaknya," lanjutnya bangga.


"Oh, pantesan kamu pakai baju yang merangsang seperti itu. Aku pikir, kamu sengaja menggodaku karena ingin merayakan keberhasilan kita," balas Delon, sedikit kecewa.

__ADS_1


"Huh ... kayaknya bakal sia-sia, deh, De, aku pakai gaun kayak gini. Aku sudah merayunya dari tadi, tapi tidak berhasil juga," kesal Sesil yang mulai berhasrat dengan bayangannya sendiri, tadi.


Delon tersenyum seringai. "Dah, tinggalin aja dia. Lebih baik, kita pesta di apartemenku," pinta Delon.


"Memangnya, kamu tidak kangen dengan senjata laras panjangku yang katamu kalah besar dari belalai gajahnya orang timur itu, tapi lebih lama punyaku mainnya?" Delon menunjukkan miliknya yang mulia menegang, membuat Sesil menelan saliva.


Ya, mereka berdua sudah terbiasa melakukan panggilan video mesum dan kemudian akan berakhir dengan kencan di apartemen Delon yang tempatnya masih satu komplek dengan apartemen yang ditempati Sesil.


Hanya saja, apartemen Delon masuk dalam kategori apartemen mewah yang penjagaannya sangat ketat. Sementara yang ditempati Sesil adalah kelas menengah, yang semua orang bebas keluar masuk.


"Oke, De. Wait a minute." Sesil yang sudah tidak sabar ingin segera mendapatkan kepuasan, menutup telepon dan kemudian menyambar cardigan di gantungan baju.


Melangkah panjang Sesil menuju pintu, membuka kunci pintu kamar dengan tergesa dan kemudian berlari kecil menghampiri Pak Hadi yang menyandarkan tubuh di sofa sambil menatap langit-langit.


"Mas, aku keluar sebentar, ya," pamit Sesil seraya mencium pipi sang calon suami.


"Hem." Hanya gumaman kecil yang keluar dari mulut papanya Bintang.


Setelah berjalan kurang lebih sepuluh menit, Sesil membuka pintu unit milik Delon dengan kartu akses khusus pemberian Delon.


"De," panggil Sesil yang langsung melangkah masuk ke dalam.


Tak mendapati Delon di dua ruangan yang dia lewati, Sesil terus melangkah masuk ke dalam kamar utama, kamar dimana dia sering bermain bersama saudara sepupunya tersebut.


Kamar tersebut kosong, dahi Sesil berkerut dalam. "Apa jangan-jangan, dia mengerjaiku?" Wajah Sesil mulai kesal karena dia sudah benar-benar butuh pelampiasan saat ini, tapi Delon malah tidak ada di tempat.


Sesil sudah ingin melampiaskan kemarahan, tetapi dering ponsel di saku cardigan, mengurungkannya.


"Delon?" Sesil segera menerima panggilan tersebut.


"De, kamu mengerjaiku, ya? Aku sudah di kamar kamu, tapi kamu tidak ada! Keterlaluan kamu, De!" cecar Sesil, geram.

__ADS_1


Bukannya menjawab, Delon malah tertawa. "Kangen banget, ya?" goda Delon.


"Jangan becanda, De! Aku benar-benar lagi on fire, ini!" geram Sesil karena merasa dipermainkan.


Delon semakin terkekeh, on fire adalah bahasa mereka berdua ketika lagi benar-benar butuh pelampiasan.


"Jangan marah-marah, Kakakku Sayang," balas Delon.


"Coba kamu pejamkan mata dan kemudian kamu ikuti aroma terapi yang kamu hirup, disitulah aku berada," titah Delon.


Bagai kerbau dicucuk hidungnya, Sesil patuh. Dia pejamkan mata dan terciumlah dengan kuat aroma terapi yang membangkitkan gairah, yang sebenarnya sudah diciumnya dari tadi.


Sesil kembali membuka matanya dan kemudian tersenyum, ketika menyadari bahwa aroma terapi tersebut berasal dari kamar mandi.


"Dasar nakal! Dia pasti ingin bermain liar di bath-up." Sesil membuka cardigan dan membuangnya dengan asal.


Tidak sabar, dia membuka pintu kamar mandi yang tidak tertutup rapat sehingga aroma wanginya keluar dan tercium olehnya.


Senyuman merekah menghiasi bibir Sesil yang berjalan dengan seksi menghampiri Delon yang sedang berendam di dalam air berbusa dan menyambut kedatangannya dengan tatapan berkabut gairah.


"Kemarilah, Sayang. Aku sudah menginginkan kamu sejak masih di bandara tadi." Delon merentangkan kedua tangan, siap menyambut tubuh Sesil yang kini sudah bebas tanpa selembar benang pun.


Ya, Sesil telah melepaskan gaun tipisnya dan membuang dengan asal gaun yang tidak berhasil membuat sang calon suami melirik padanya.


"Andai kamu bukan saudaraku, De, aku pastikan untuk mendapatkan hatimu dan aku tidak butuh lagi laki-laki lain." ucapan tersebut meluncur begitu saja dari bibir Sesil, seirama dengan tubuhnya yang meluncur masuk ke dalam bath-up dan menindih tubuh Delon.


"Kenapa, hem? Apa aku begitu mempesona di matamu, Sis?" Delon tersenyum, bangga.


"Sangat, De. Aku selalu puas bermain denganmu," balas Sesil, seraya menatap Delon dengan tatapan sayu.


Air di dalam bath-up yang tadinya tenang, kini beriak hingga tumpah karena pergerakan liar dua insan yang sedang mencari kenikmatan.

__ADS_1


🌟🌟🌟🌟🌟 tbc ...


__ADS_2