Mengejar Bintang

Mengejar Bintang
Cinta Kami Begitu Kuat


__ADS_3

Bintang dan Surya bercengkrama di balkon dan menghabiskan waktu yang masih tersisa, sebelum Surya terbang ke Ausie untuk melanjutkan studinya.


Mereka berdua duduk saling berdempetan, seolah enggan jika harus dipisahkan oleh jarak dan waktu yang pasti akan membuat keduanya saling merindu.


Bintang senantiasa bergelayut manja di lengan kekar kekasihnya. Sementara Surya tak henti menciumi puncak kepala Bintang dan menyimpan aroma wangi rambut sang kekasih dalam memori.


"Kak, Kak Surya harus selalu sempatkan waktu untuk menghubungi Bintang, ya?" pinta Bintang seraya mendongak, menatap netra elang Surya.


Surya hanya mampu mengangguk, mengiyakan. Pemuda berkulit putih bersih tersebut tak sanggup untuk menjawab dengan kalimat karena itu hanya akan membuat dadanya terasa sesak.


'Kalau begini terus, mana sanggup aku beranjak dan pergi dari sini,' batin Surya seraya memejamkan mata, ketika mencium kening Bintang untuk waktu yang cukup lama.


Sejenak, kedua netra mereka saling bertaut dalam. Seolah bercengkrama dalam diam.


Bintang kemudian melabuhkan ciuman di pipi Surya dengan penuh rasa sayang. "Bintang cinta sama Kakak," ucapnya dengan netra berkaca-kaca.


Surya buru-buru mendekap Bintang ke dalam dada bidangnya. Pemuda itu tidak mau sang kekasih melihat air matanya luruh dan tak mampu lagi untuk dia bendung.


'Cintaku bahkan lebih besar kepadamu, Sayang, tapi maaf aku tak mampu untuk mengatakan,' bisik Surya dalam hati. Dia kembali menciumi puncak kepala sang kekasih dengan segenap perasaan.


Waktu terus berlalu, tak ada lagi percakapan. Hanya terdengar suara napas keduanya yang saling bersahutan.


"Sudah siap, Sayang?" Suara Pak Hadi yang baru saja datang, dengan diiringi Sesil di sampingnya, mengurai pelukan sepasang kekasih tersebut.


"Memangnya, ini jam berapa, Pa?" tanya Bintang.


"Hampir jam dua belas, Sayang. Tuh, dibawah Pak Tamam sudah menunggu Nak Surya," balas Pak Hadi seraya menatap Surya.


Ya, ternyata sudah empat jam lebih mereka berdua duduk bersama tanpa bergeser sedikitpun. Namun, rasanya baru sekejap saja mereka bertemu. Bahkan, minuman yang disuguhkan oleh Bi Narsih, belum sempat mereka sentuh.


"Pa, kata Kak Surya, kita enggak usah ikut ke bandara," ucap Bintang.


"Rasanya kurang etis, Bintang. Tidak enak, kan, sama kedua orang tua Surya kalau kamu tidak ikut mengantar sampai bandara," sahut Sesil tanpa diminta.


Pak Hadi mengangguk, membenarkan perkataan sang calon istri. "Benar apa kata Mama Sesil, Sayang. Kita harus ikut mengantar Nak Surya ke bandara," timpal Pak Hadi.

__ADS_1


Sesil nampak tersenyum puas.


"Baiklah kalau begitu," balas Bintang, pasrah.


"Enggak apa-apa, kan, Kak?" Bintang menoleh ke arah Surya.


"Asal kamu mau berjanji, nanti di sana jangan ada air mata," pinta Surya seraya menatap dalam netra sang kekasih.


Bintang mengangguk. "Bintang janji, di sana nanti Bintang akan tersenyum melepas kepergian Kakak," balas Bintang, yakin.


Mereka kemudian segera beranjak dan berlalu dari balkon. Surya dan Bintang berjalan di belakang dan menuruni anak tangga dengan saling bergandengan tangan.


Benar saja, setibanya di teras, Pak Tamam telah berada kembali di kediaman Hadinata untuk menjemput Surya dan mengantarkan putra sang majikan ke bandara.


"Kita berangkat sekarang, Den Surya?" tanya Pak Tamam seraya membukakan pintu untuk Surya.


"Surya duduk di belakang saja, Pak, sama Bintang," ucap Surya.


Pak Tamam menutup kembali pintu depan dan kemudian membukakan pintu bagian belakang.


"Om, Bintang sama Surya, ya?" ijin Surya sebelum sang kekasih naik ke dalam mobilnya.


Pak Hadi kemudian mengajak Sesil untuk menuju ke mobilnya.


Iring-iringan dua mobil mewah itupun segera keluar dari pintu gerbang kediaman Hadinata, membelah jalanan beraspal untuk menuju ke bandara.


Sepanjang perjalanan menuju bandara, sama sekali tak ada percakapan di antara keduanya.


Bintang yang menyadarkan kepala di bahu kokoh sang kekasih, memilih memejamkan mata dan menikmati sentuhan tangan Surya yang senantiasa mengelus lengannya.


Surya pun memilih diam dan menikmati kebersamaan yang sebentar lagi tidak dapat mereka lakukan.


"Mau mampir dulu tidak, Den? Barangkali ada yang mau dibeli?" Suara Pak Tamam, memecah keheningan.


"Tidak, Pak. Semua sudah disiapkan bunda," balas Surya seraya tersenyum bangga pada sang bunda yang selalu siaga untuk dirinya.

__ADS_1


Ya, Surya adalah sosok pemuda yang sangat beruntung. Dia terlahir dan dibesarkan dalam keluarga yang sangat harmonis, saling mengasihi dan menyayangi. Hingga membuat Surya tumbuh menjadi pribadi yang baik dan memiliki rasa empati terhadap sesama yang sangat tinggi.


Meski bukan berasal dari keluarga konglomerat seperti Delon, tetapi orang tua Surya termasuk golongan menengah atas yang mampu menuruti semua keinginan putra-putrinya, hanya saja mereka tidak memanjakan Surya dan sang adik.


Hal itulah yang membuat Surya menjadi pribadi yang mandiri dan tidak manja. Terlebih, sang bunda selalu mengajarkan agar Surya dan adiknya senantiasa menjadi anak yang rendah hati dan baik budi.


"Andai Bintang masih punya mama," gumam Bintang, membuat air mata Surya menggenang.


"Bundaku adalah bundamu, Sayang. Sering-seringlah main ke rumah, bunda pasti akan sangat senang. Terlebih Bulan, dia pasti akan menahan kamu seharian," ucap Surya seraya mengusap pipi Bintang.


Bintang mendongak dan kemudian tersenyum pada sang kekasih. "Bintang pasti akan ke rumah bunda tiap weekend."


Obrolan keduanya terhenti, ketika mobil yang dikendarai Pak Tamam telah terparkir di area parkir bandara.


Surya segera turun yang diikuti oleh Bintang dari pintu yang sama.


"Pak, Surya pamit, ya. Tolong, bapak bantu jaga bunda dan Bulan. Jangan biarkan Bulan kelayapan tanpa pengawasan Bapak," pamit dan pesan Surya pada sopir keluarga yang setiap hari mengantar jemput adik Surya ke sekolah.


"Siap, Den. Den Surya jangan khawatirkan Non Bulan. Dia anak yang manis dan tidak pernah neko-neko," balas Pak Tamam, menyambut uluran tangan Surya.


"Den Surya hati-hati ya, di sana. Jaga kesehatan dan jangan lupa kasih kabar sama orang rumah," pesan Pak Tamam yang sudah seperti keluarga di keluarga Brata yudha, orang tua Surya.


Surya mengangguk seraya tersenyum dan kemudian segera berlalu bersama Bintang, meninggalkan sopir keluarganya yang langsung pulang ke rumah sang majikan.


Sementara Pak Hadi dan Sesil yang sampai di sana hampir bersamaan, langsung menyusul langkah Surya dan Bintang masuk ke dalam bandara.


Di dalam lobi bandara, ayah dan bundanya Surya telah menanti bersama Bulan. Ada juga Gio dan kedua orang tuanya yang juga sudah berada di sana, sejak beberapa saat yang lalu.


Sementara Bintang yang berjalan bersisihan dengan Surya, tiba-tiba menghentikan langkah dan mengamati gerak-gerik seseorang yang menutupi wajahnya dengan masker dan mengenakan hoodie yang menutupi tubuh hingga kepalanya. 'Kak Delon, sedang apa dia di sini?'


"Ada apa, Cinta?" tanya Surya yang ikut menghentikan langkah.


Bintang menggeleng dan segera melanjutkan langkah ketika dia melihat pemuda berpenampilan tertutup yang dia yakini sebagai Delon, memberikan isyarat pada Sesil.


"Tidak ada apa-apa, Kak," balas Bintang yang tak ingin membuat sang kekasih khawatir.

__ADS_1


Bintang mengeratkan genggaman tangannya. 'Apapun yang mereka rencanakan, itu tidak akan mampu memisahkan kami karena cinta kami begitu kuat.'


🌟🌟🌟🌟🌟 tbc ...


__ADS_2