Mengejar Bintang

Mengejar Bintang
bab 14


__ADS_3

"ANDA sudah siap memesan?" Niko memandang seorang pelanggan wanita di depannya.


Si pelanggan wanita tersenyum, kemudian memberikan pesanannya pada Niko.


Niko mengantar pesanan tersebut kedapur. Jam menunjukkan pukul tiga sore. Kedai makan tidak terlalu di penuhi pengunjung. Di luar jendela,daun-daun mulai berguguran. Sesekali angin musim gugur menerbangkan daun-daun tersebut. Niko sudah satu tahun di New York. Karena memang suka merancang, Niko merasa kuliahnya kali ini tidak sesulit sebelumnya. Dia selalu mendapatkan nilai tertinggi pada setiap tes.


Niko membeli berlian pertamanya beberapa bulan yang lalu. Dan mulai mempraktikkan apa yang dia pelajari selama kursus dan membuat karya pertamanya. Sebentuk cincin bintang. Kini cincin tersebut bersematkan berlian pertamanya. Masih tersisa 34 lagi. Niko menyimpan cincin tersebut di laci meja tidurnya. Setiap hari dia selalu melihat hasil karyanya sebelum pergi belajar dan bekerja.


"Veggie burger dan cafe latte," Niko menyuguhkan pesanan tersebut pada sang pelanggan wanita.


"Terima kasih...." Si pelanggan melihat bagian atas saku Niko dan membaca namanya, "Niko." "Panggil saya kalau anda masih membutuhkan pesanan lain," kata Niko sopan.


Setengah jam kemudian, Niko menerima tips dari pelanggan wanita itu. "Terima kasih," ucapnya.


Tiba-tiba wanita itu menyodorkan selembar kertas putih. "Nomor teleponku," katanya. "Namaku Michelle. Telepon aku kapan-kapan."


Niko tersenyum dan memberikan kembali kertas tersebut pada wanita itu. "Maaf, aku tidak bisa menerimanya."


Michelle mengangguk mengerti. "Kau sudah punya seseorang."


Niko hanya tersenyum tanpa menjawab.


"Baiklah," kata Michelle, lalu mengambil kertas yang ditulisnya dan keluar dari kedai.


Saat Niko duduk beristirahat di meja kasir, Mike mendekatinya.


"Aku sudah sering melihatmu menolak nomor telepon para wanita. "Mike menggelengkan kepala. " Kau punya pacar?"


Niko menggeleng. "Tidak."


"Kalau begitu, kenapa kau tidak menerima salah satu dari mereka?" Mike menepuk pundak Niko perlahan.


Niko memandang Mike dengan tatapan sedih. "Hatiku belum siap menerima seseorang."


Mike tertawa perlahan. "Masih belum bisa melupakan cinta pertamamu? Tidak ada salahnya kau mulai bertemu dengan wanita lain. Siapa tahu salah satu dari mereka bisa menyembuhkan luka di hatimu."


Niko tertawa mendengar nasihat Mike. "Cinta pertama? Aku tidak tahu apakah itu cinta pertama atau bukan. Tapi aku tidak bisa melupakannya."

__ADS_1


"Kau benar-benar menyukainya, ya?" Mike melihat mata Niko bersinar sedih saat membicarakan orang yang disukainya.


"Aku baru menyadari aku menyukainya setelah orang itu pergi," kata Niko penuh penyesalan. "Aku bahkan tidak tahu apakah dia menyukaiku atau tidak." "Apakah dia ada di sini juga?" tanya Mike penasaran.


Niko menggeleng. "Aku tidak tahu dia di mana sekarang."


Mike mendecak. "Sebaiknya kau mencoba melupakannya."


"Aku rasa aku tidak bisa melakukannya," Niko tersenyum sedih, mengenang masa lalunya. "Dia membantuku mengejar impianku."


"Ah...." Mike mengangguk. "Apakah dia cantik?"


Niko tertawa mendengar komentar Mike. "Tidak," benak Niko mengingat wajah Laura. "Tapi dia cantik di mataku. Aku tidak tahu apakah suatu saat nanti aku bisa melupakannya atau tidak. Tapi saat ini aku tidak ingin memulai hubungan dengan seseorang. Tidak akan adil bagi wanita itu kalau hatiku tidak bersamanya. Bagaimana dengan istrimu, Mike? Aku dengar kau sudah menikah lebih dari dua puluh tahun."


Mike tersenyum. "Cinta pada pandangan pertama. Aku tidak pernah bersama wanita lain selain dengannya."


"Wah, aku benar-benar iri padamu, Mike." Niko tersenyum. "Aku harap aku bisa sepertimu."


Mike tertawa lebar. Tapi, sesuatu tampak ganjil. Tiba-tiba tawa Mike terhenti. Dia memegang dada kirinya lalu jatuh pingsan di lantai.


Niko melepaskan dasi Mike dan melonggarkan kerahnya. Dia mengecek denyut nadi di leher Mike dan tidak menemukannya. Niko memiringkan kepala Mike perlahan dan mengangkat dagunya. Dia memberikan napas buatan melalui mulut Mike dua kali. Lalu telinganya mencoba mendengar napas Mike kembali. Tapi tidak ada bunyi napas.


Niko menyilangkan kedua telapak tangannya di dada Mike dan mulai menekannya. "Satu... dua... tiga... empat... lima..." Niko menghitung dalam hati. "Ayolah, Mike, bernapaslah... satu....dua… tiga... empat... lima...." Niko menekan dada Mike.


Niko terus-menerus menekan dada Mike tanpa henti. "Ayolah, Mike. Bernapaslah."


Tak berapa lama kemudian Mike terbatuk. Niko bernapas lega. "Kau akan baik-baik saja, Mike. Teruslah bernapas perlahan."


Tim paramedis tiba tak lama kemudian dan memberikan bantuan. Setelah itu Mike dibawa dengan ambulans.


Sepulang kerja Niko pergi kerumah sakit untuk menengok Mike.


Niko melihat Mike ditemani istrinya yang terlihat lega bercampur sedih, karena Mike sudah bisa tertawa dan bercanda.


"Hai, Mike." Niko masuk ke kamar tempat Mike dirawat dan meletakkan buah yang dibelinya di meja samping tempat tidur. "Bagaimana keadaanmu?"


"Niko.....!" seru Mike gembira. "Aku baik-baik saja sekarang. Kenalkan ini istriku. Carie."

__ADS_1


Niko tersenyum. "Hai, Carrie."


"Terima kasih telah menyelamatkan suamiku," ujar Carrie sambil menggenggam tangan Niko.


"Sama-sama," jawab Niko.


"Paramedis bilang kau melakukan CPR (Cardiopulmonary Respiratory/ napas buatan) dengan baik." Mike menekan tombol untuk meninggikan ranjangnya. "Kau masuk kuliah kedokteran?"


Niko tertawa perlahan. "Tidak."


Mike memandang Niko dengan pandangan berbeda. "Kau belajar apa?"


"Gemologi." kata Niko. "Perhiasan," jelas Niko setelah melihat alis Mike yang mengernyit kebingungan.


"Perhiasan?" ungkap Mike tidak menyangka. "Kau pernah berlatih CPR sebelumnya? Para pelayan lain bilang kau terlihat seperti sudah terlatih melakukannya."


"Aku sudah berlatih melakukan CPR sejak berumur dua belas tahun," Niko memberi penjelasan. "Ayah dan ibuku dokter. Mereka berharap aku masuk kedokteran juga. Tapi aku tidak bisa melakukannya. Aku sangat menyukai perhiasan."


Carrie menggenggam tangan Niko. "Aku yakin orangtuamu akan mengerti. Hidupmu adalah pilihanmu."


Niko berharap seandainya papa bisa pengertian seperti Carrie.


"Ibuku mengerti, tapi ayahku... yah, dia masih perlu diyakinkan."


Mata Carrie melembut. "Bagaimana kalau kapan-kapan kau ikut makan malam di rumah kami?"


"Anda tidak usah repot-repot," Niko merasa tidak enak hati. "Aku senang Mike sudah baikan."


Mike membantah perkataan Niko. "Tidak perlu sungkan. Kau harus datang ke rumahku untuk makan malam sepulangnya aku dari rumah sakit."


"Baiklah," Niko mengalah. Dia yakin Mike akan terus memaksa sampai setuju.


Hubungan Mike dengan Niko sejak saat itu semakin erat. Niko merasa mendapatkan perhatian seorang ayah yang tidak dia dapatkan dari papa. Dan Carrie sudah seperti ibu kedua baginya.


Beberapa bulan kemudian, di awal tahun barunya, Niko sudah mendapatkan diploma ahli perhiasan dari GIA. Selanjutnya Niko mengicar program perhiasan untuk menjadikannya seorang ahli perhiasan profesional.


 

__ADS_1


__ADS_2