Mengejar Bintang

Mengejar Bintang
Bintang, Kamu Kenapa?


__ADS_3

Motor sport milik Surya terus melaju, pemuda itu bahkan tak perduli ketika di perempatan barusan terpaksa dia menerobos rambu-rambu lalu lintas saat lampu menyala merah karena dia sudah dapat melihat mobil Delon jauh di depan sana.


Surya tak ingin lagi kehilangan jejak, apalagi ponsel Bintang sudah tidak dapat lagi terlacak.


"Pegangan, Rik!" seru Surya yang ingin menambah kecepatan laju motor sport miliknya.


Riko yang duduk di bangku belakang dan sedah ketar-ketir sejak tadi, hanya bisa pasrah. Dia peluk tubuh sahabatnya karena Riko tidak ingin sesuatu hal yang buruk terjadi padanya, kalau sampai dirinya terlempar dari atas motor Surya yang melaju dengan kencang.


"Gila! Cinta memang mengalahkan logika!" seru Riko, terselip protes di sana karena Surya mengabaikan keselamatan diri sendiri demi untuk dapat mengejar Bintang.


Dahi Surya berkerut dalam seiring pelannya laju motor sport yang dia kendarai. "Apartemen?" gumam Surya.


Riko melepaskan pelukan dan kemudian melihat kearah kanan, di mana mobil Delon memasuki area parkir khusus penghuni apartemen, di basemen.


"Apa kita bisa ikut masuk ke sana, Sur?" tanya Riko, khawatir. Dia tahu, apartemen yang dituju Delon adalah apartemen mewah, di mana hanya orang yang memiliki kartu akses khusus yang bisa masuk ke dalam apartemen.


"Kita akan coba," balas Surya yang kemudian memutar-balik motornya dan masuk melewati jalur depan.


Surya segera memarkirkan motor di tempat yang tersedia dan kemudian segera turun.


"Rik, kamu coba masuk ke dalam dan tanya ke bagian resepsionis di mana unit Delon berada. Aku akan mencari tumpangan pada orang baik, agar bisa membawaku masuk ke dalam," pinta Surya.


Patuh, Riko langsung melesat masuk ke dalam lobi apartemen untuk mencari informasi tentang unit milik Delon.


Sementara Surya mulai mendekati orang-orang yang baru saja turun dari mobil, yang dia yakini sebagai penghuni apartemen.


"Maaf, Ibu. Bolehkah saya minta tolong," pinta Surya dengan sopan kepada seorang wanita paruh baya, seusia bundanya.

__ADS_1


"Maaf, Dik. Saya buru-buru," tolak wanita paruh baya tersebut yang sepertinya takut, Surya akan berbuat jahat padanya.


Sebenarnya, Surya bisa saja minta tolong pada pihak security apartemen, tapi tentu mereka akan lebih mengutamakan privacy penghuni apartemen tersebut dan tidak akan percaya begitu saja apa yang akan dikatakan oleh Surya.


Sementara di dalam lobi, Riko telah mendapatkan informasi di mana unit Delon berada dengan mengatakan bahwa dia adalah saudara jauh yang sudah memiliki janji temu sama Delon, tetapi nomor ponsel saudaranya itu tidak dapat dihubungi.


Benar saja, saat petugas resepsionis mencoba menghubungi ponsel Delon, nomor yang dituju memang aktif tetapi panggilannya tidak diangkat oleh Delon karena pemuda tersebut, saat ini pasti sedang membopong tubuh Bintang.


"Mbak, boleh saya nunggu teman saya di sini," ijin Riko setelah mendapatkan informasi tentang unit Delon.


Petugas resepsionis yang cantik tersebut, mengangguk. Riko kemudian duduk di bangku di samping meja resepsionis, untuk menunggu Surya.


Di luar, beberapa orang telah Surya mintai tolong, tetapi usahanya belum juga membuahkan hasil.


"Duh, gimana ini?" Surya mengedarkan pandangan, dia kemudian berjalan mendekati seorang nenek yang baru saja turun dari taksi bersama cucu laki-lakinya yang lasak.


"Sean! Jangan lari, nanti kamu kesasar!" seru nenek tersebut pada sang cucu yang berusia sekitar empat tahun.


"Tos dulu, Boy. Siapa nama kamu?" Surya mencoba mengakrabkan diri dengan anak kecil tersebut. Merasa bahwa Surya adalah orang baik, anak kecil itu menyebutkan nama dan tersenyum pada Surya.


"Sean, namaku sebenarnya panjang, Om, tapi orang-orang memanggilku Sean," terangnya dengan suara yang jelas.


"Nama Om siapa?" Sean kecil balik bertanya.


"Panggil saja, om Surya," balas Surya yang kemudian membopong tubuh Sean.


Sean yang merasa tubuhnya tiba-tiba melayang, tertawa senang.

__ADS_1


"Maaf, Nek. Boleh saya bantu gendong cucu Nenek sampai di unit Nenek? Bukan apa-apa, Nek, tadi saya dengar Nenek berseru dan takut Sean akan kembali kesasar. Saya hanya khawatir, Nenek kerepotan menjaga Sean," ucap Surya penuh harap.


Wanita tua itu tersenyum tulus dan kemudian mengangguk. "Baiklah anak muda, sepertinya kamu tulus. Jujur nenek benar-benar repot menjaga cucu yang satu itu."


Surya melangkah dengan pasti seraya menggendong Sean, mengikuti langkah wanita tua yang berbaik hati akan membawa Surya masuk ke dalam apartemen yang penjagaannya ketat tersebut.


Begitu memasuki lobi, Riko langsung mendekati sang sahabat. "Lantai tiga lima," ucap Riko yang kemudian menyebutkan nomor unitnya.


"Kalian mau menuju ke lantai tiga lima?" tanya neneknya Sean. "Lantai yang sama dengan unit kami berada," lanjutnya seraya menatap Riko sekilas dan kemudian melanjutkan langkah menuju lift.


Surya bernapas dengan lega.


Pemuda itu kemudian berjalan mendahului nenek tersebut dan menanti di depan lift, sementara Riko berinisiatif membantu wanita tua tersebut dengan menggandeng tangannya.


"Terimakasih, Nak," ucapnya seraya tersenyum pada Riko.


Sang nenek segera menempelkan kartu akses untuk membuka pintu lift dan setelah terbuka, mereka semua segera masuk.


Tak butuh waktu lama, kotak besi tersebut telah membawa mereka menuju ke lantai tiga lima.


"Sean, kamu digendong sama Om Riko, ya." Tanpa aba-aba, Surya yang sudah tidak sabar ingin segera mencari unit Delon, menyerahkan Sean pada Riko.


"Maaf, Nek. Saya tidak bisa mengantar sampai ke unit Nenek, tapi Nenek jangan khawatir, teman saya yang akan menemani sampai ke unit," pamit Surya yang langsung melesat.


Surya mengamati satu persatu pintu unit yang dia lalui. Sudah jauh kakinya melangkah, tetapi nomor unit yang dicari belum juga dia temukan.


Di ujung koridor di kejauhan, Surya melihat pintu lift lain yang baru saja terbuka dan seorang wanita paruh baya yang sepertinya dia kenali keluar dari lift tersebut, kemudian diikuti oleh sosok yang sangat dia kenal sedang membopong tubuh seorang gadis.

__ADS_1


"Bintang, kamu kenapa?"


🌟🌟🌟🌟🌟 tbc ...


__ADS_2