Mengejar Bintang

Mengejar Bintang
Bab 5


__ADS_3

Bulan telah berganti tahun. Perasaan suka Laura pada Niko sedikit demi sedikit memudar. Lagi pula, kini Laura lebih berkonsentrasi pada pelajarannya, karena ujian nasional tinggal beberapa bulan lagi. Namun, kalau hatinya sedang lengah, ia mendapati dirinya memandang Niko di kejauhan.


Besok, hari minggu, sekolah akan mengadakan piknik ke pantai untuk seluruh siswa kelas 3. Kepala sekolah ingin anak-anak mendapatkan selingan sebelum berkonsentrasi menghadapi ujian nasional.


Laura bangun dengan semangat baru di hari itu. Ia ingin melupakan soal-soal ujian di benaknya untuk sesaat.


''Selamat pagi, sayang,'' kata mama melihat putrinya yg baru keluar dari kamar.


''Selamat pagi ma,'' balas Laura.


Mama mendekati putrinya lalu menciumnya. ''Selamat ulang tahun, sayang.''


Laura baru menyadari hari ini hari ulang tahunnya. Selama ini ia sibuk dengan pelajaran, hingga melupakan hari ulang tahunnya sendiri. Mama menghadiahinya baju baru.


''Kau bisa memakainya hari ini, untuk piknik sekolah, bersenang-senanglah.''


Laura mengangguk setuju. ''Terima kasih, ma.''


***


Sesampainya di sekolah, jam sudah menunjukkan pukul 07.30. Piknik ke pantai dijadwalkan berangkat pukul 08.00. Sudah banyak siswa yang berkumpul di lapangan. Enam bus besar sudah terparkir di depan area sekolah. Laura menatap Niko yang sedang mengobrol dengan teman-temannya. Hati Laura sedikit goyah. Ia tidam pernah melihat Niko mengenakan baju santai. Dengan kaus biru, celana jeans hitam, dan topi hitam, Niko terlihat sangat tampan.


Laura membalikkan badannya. (''Aku tidak boleh terus-menerus memandangnya, aku tdk ingin perasaanku jatuh lebih dalam lagi''). Ia buru-buru naik ke bus dan duduk di kursi belakang. Kepala sekolah meminta para siswa masuk bus masing-masing. Sepuluh menit kemudian, bus yang ditumpangi Laura melaju menuju pantai. Sepanjang perjalanan Laura mendengar musik dari hp nya. Ia berusaha tidak menatap Niko yang berada di kursi paling depan. Dua jam kemudian, terlihat hamparan laut dari kaca jendela bus. Laura tersenyum.


Laura belum pernah ke pantai. Selama ini ia hanya melihatnya dari buku-buku atau televisi. Cahaya matahari pagi membuat air laut berkilauan. Setelah bus berhenti ditempat parkir, para siswa langsung turun dan berteriak gembira menuju pantai. Laura turun paling akhir. Kedua kakinya menginjak pasir pantai dengan senang. Setelah itu, ia bergegas mengikuti jejak teman-teman yang lain untuk merasakan air laut. Laura melepas sandal yang dikenakannya dan membiarkan kakinya terendam air laut. Para siswa lain sedang bermain pasir. Laura memandang lautan luas di depannya, senang menghabiskan ulang tahunnya di tempat seperti ini.


***


Keringat mambasahi punggung Niko. Setelah beberapa sesi bermain voli pantai bersama teman-temannya, dia sedikit kelelahan. Teman-temannya mengajak naik banana boat, tapi Niko memutuskan utk beristirahat sejenak.


Dia berjalan menuju kafe utk membeli minuman. Dilihatnya Laura sedang mengantre.


''Hai Laura,'' sapa Niko.


Laura berbalik perlahan. ''Niko, hai. Mau antre beli minuman juga?'' 


Niko mengangguk. Saat antrean sampai pada giliran Laura, Niko menyela. ''Biar aku yg traktir.''


Laura keberatan dgn usul itu. ''Tidak usah, Niko, biar aku bayar sendiri saja.''


Tapi Niko sudah memesan pd petugas kafe. ''Kopi dingin, dua.''


''Niko,'' sela Laura lagi.


''Aku tahu kau tidak mau ditraktir. Tapi anggap saja ini hadiah karena sudah membuat kelas kita menang sewaktu bazar dulu. Aku belum sempat mengucapkan selamat padamu.''


"Ehm... bukan begitu,'' lanjut Laura ragu. ''Bisakah kau mengganti pesananku? Aku tidak bisa minum kopi. Ganti jus jeruk saja.''


Niko keheranan. ''Kau tidak bisa minum kopi?''


Laura mengangguk. ''Aku pernah mencobanya sekali. Tapi perutku langsung mual. Jadi sejak itu aku menghindari kopi. Aku rasa kopi kurang cocok untuk perutku.''


''Baiklah,'' kata Niko, lalu berkata lagi pd petugas kafe, ''Ganti pesanannya, satu kopi dingin dan satu jus jeruk.''


''Terima kasih,'' kata Laura.

__ADS_1


Mereka duduk berdua di kafe menunggu pesanan.


''Di mana Erika? Dia tidak bersamamu hari ini?' 'tanya Laura bingung. Biasanya Erika selalu berada disamping Niko.


''Dia pergi keluar kota. Ada kompetisi marching band disana,'' kata Niko memberi penjelasan. ''Dia baru saja mengirimiku kabar. Katanya dia lebih suka berada disini. Tapi bagaimanapun, sebagai ketua club, dia harus berada di sana. Lagi pula, ini kompetisi terakhir yang akan dia hadiri.''


''Semoga Erika bisa memenangkan kompetisinya,'' kata Laura tersenyum. ''Aku pernah melihatnya beraksi. Dia mayoret hebat.''


Niko tersenyum. ''Ya, dia memang hebat.''


Sang pelayan kafe mengantarkan pesanan mereka. Niko menyodorkan jus jeruk di depannya untuk Laura. Keheningan meliputi ke duanya. Niko meletakkan gelas kopinya di meja.


''Kita jarang berbicara lagi sejak bazar waktu itu.''


Laura berhenti meminum jusnya. ''Ya, aku tahu.''


''Kau tidak perlu merasa bersalah. Aku sudah melupakan masalah itu. Aku sudah baikan dgn papa,'' kata Niko memberi penjelasan.


''Syukurlah,'' ujar Laura lega.


''Aku tdk pernah menyalahkanmu. Maafkan aku, aku tdk ingin kau jd tdk enak hati karena kejadian itu.'' Niko menatap Laura seakan meminta maaf.


Laura menggeleng cepat. ''Tidak, kau tidak perlu minta maaf. Aku yang minta maaf karena sudah mencoba meyakinkanmu untuk memajang gambarmu.''


Niko tersenyum. ''Sudahlah, lupakan saja masalah itu. Aku senang waktu gambarku dipajang. Hampir semua orang mengatakan gambarku bagus.'' (''kecuali papamu,'') pikir Laura. ''Saat itu aku benar-benar puas,'' lanjut Niko lagi.


Laura menatap Niko dgn lembut. ''Kau memang berbakat, seandainya kau menjadi perancang perhiasan, aku pasti akan memakai perhiasan buatanmu.''


Niko tertawa pelan, ''Terima kasih.'' Lalu mata Niko menerawang dan dia menatap Laura lagi. ''Aku sudah menyukainya sejak kecil. Waktu umurku 10 tahun, papa dan mama mengajakku ke pameran perhiasan. Dan saat itu aku melihat kalung berlian yg sangat indah. Mataku tak bisa berpaling dari situ, menurutmu aneh tidak kalau seorang pria menyukai perhiasan wanita?''


“Tampaknya hanya kau yang tidak menganggapnya aneh.'' Niko tersenyum lagi. ''Orang tuaku manganggapnya aneh. ''Menurut mereka aku tidak cocok menjadi perancang perhiasan. Lagi pula orangtuaku ingin aku menjadi seperti mereka.''


Laura tidak tahu bagaimana perasaan seorang anak yang ditentang orangtua untuk meraih keinginannya, karena selama ini mama selalu mendukungnya. Pasti perasaan Niko sedih sekali. Apalagi waktu itu Niko masih kecil.


''Niko'', kata Laura serius, ''gambar cincin bintang yang pernah aku kembalikan padamu, kenapa kau menggambarnya?''


Niko menjawab tanpa ragu, ''Aku ingin setiap wanita merasakan bagaimana mengenggam bintang dijarinya. Tidak hanya harus memandangnya dari kejauhan''.


Laura terpana dengan jawaban Niko. (''tolong jangan buat aku menyukaimu dari awal lagi. Karena aku tidaj yakin aku bisa melupaknmu kalau itu terjadi lagi''), kata Laura dalam hati sambil memandang Niko.


Niko menghela napas panjang. ''Aku ingin siapapun yg mengenakan cincin itu tahu bahwa dia bisa menggapai sesuatu yang tidak mungkin. Tapi kelihatannya aku berharap terlalu banyak,ya?''


Jantung Laura berdetak kencang. Perkataan Niko membuat perasaan yang telah dipendamnya kembali muncul. Ia semakin menyukai Niko.


''Aku beranggapan tidak ada yang mustahil kalau kau berusaha,' 'kata Laura memberi tanggapan atas pertanyaan Niko.


Niko menatap Laura dgn lembut, hatinya sedikit tergerak mendengar perkataan itu. Sinar mentari sore jatuh mengenai wajah Laura. Niko terdiam. Laura sangat cantik di matanya saat itu. Niko memejamkan mata sesaat dan membukanya kembali. Laura tersenyum padanya. Niko tdk bisa menjelaskan perasaan apa yg berkecamuk dihatinya.


Laura berkata lagi, ''Kau ingin jalan-jalan ke sekitar pantai?''


''Oh...baiklah,'' balas Niko, masih sedikit bingung dgn perasaannya.


Mereka berjalan-jalan melihat matahari tenggelam. Niko merasakan keberadaan Laura disampingnya membuatnya tenang dan nyaman. Ia tdk pernah memberitahukan mimpinya menjadi perancang perhiasan kepada orang lain. Bahkan orang tuanya tidak pernah menanyakan alasan Niko ingin melukis perhiasan. Mereka hanya langsung melarang.


Laura mengambil beberapa kerang indah di pasir.

__ADS_1


''Aku tidak pernah menyangka pemandangan matahari tenggelam sungguh indah,'' katanya.


''Kau tidak pernah ke pantai sebelum ini?'' tanya Niko.


''Belum'' jawab Laura, ''Ini yang pertama kali.'' (Dan aku senang bisa menghabiskan hari ulang tahunku di pantai bersamamu).


''Teman-teman mengusulkan acara perpisahan sekolah setelah ujian nanti di adakan disini. Bagaimana menurutmu?'' tanya Niko.


''Wah ide bagus,'' sambut Laura gembira.


''Malam harinya kita bisa membuat acara api unggun, aku akan mengusulkan hal ini pada kepala sekolah besok.''


Laura berharap kepala sekolah mengabulkan usul Niko.


''Apa itu?'' tanya Niko tiba-tiba.


Laura mengikuti arah pandang Niko. Penglihatannya jatuh pada sebatang pohon tua. Banyak daun kertas disana. Sebagian siswa jg berada disana.


''Ayo kita kesana,'' ajak Niko.


Sesampainya di depan pohon tersebut, mereka baru tahu bahwa pohon tersebut dinamakan pohon keinginan. Pohon itu sudah tidak berdaun, hanya ada ranting-ranting pohon. Di sebelahnya terdapat meja dengan ratusan daun kertas yang tersusun rapi. ''Tulis keinginanmu di sini lalu ikatkan pada pohon keinginan.''


 ''Kau mau mencobanya?'' tanya Niko.


Laura mengangguk. Niko mengambil dua lembar daun kertas dan memberikannya satu kepada Laura. Keduanya menulis keinginan masing -masing di daun tersebut, setelah itu mengikatkannya pada pohon keinginan. Tak berapa lama kemudian, kepala sekolah mengingatkan mereka untuk berkumpul di bus, karena piknik mereka di pantai sudah berakhir.


Dalam perjalanan menuju bus, Niko menanyakan keinginan Laura. ''Apa keinginanmu?''


Laura menggeleng. ''Apakah aku harus memberitahukannya padamu?''


Niko tersenyum. “Tadi aku menulis supaya semua anak kelas tiga lulus ujian. Jadi apa keinginanmu?''


Laura berkata perlahan, ''sesuatu yg tidak mungkin.''


Niko tertawa. ''Bukankah kau mengatakan tidak ada yang mustahil kalau kita berusaha?''


 ''Aku tahu,'' sorot mata Laura terlihat sedih, ''tapi yang ini pasti tidak mungkin.''


Niko beranjak menaiki bus. ''Oke. Aku tidak akan memaksamu mengatakan keinginanmu. Aku rasa apapun itu, kau pasti bisa mendapatkannya.''


Laura ikut menaiki bus sambil tersenyum lirih. Ia tahu pasti keinginannya tdk akan terpenuhi. Dalam perjalanan pulang, Laura tdk bisa menahan kantuknya dan tertidur. Ketika ia bangun entah berapa lama kemudian, kepalanya bersandar di pundak seseorang. Matanya bertemu dgn mata Niko.


''Maaf,'' katanya sambil berusaha menjauh dari Niko.


''Tidak apa-apa,'' kata Niko, ''kau kelihatan lelah sekali.''


Laura menatap Niko lagi. ''Tapi, bukankah kau duduk di bangku depan?''


''Tadinya iya,'' kata Niko, ''Tapi teman sebangkuku mendengkur sambil tidur, jadi aku memutuskan pindah, dan kursi yang tersisa hanya kursi belakang.''


''Oh begitu,'' kata Laura cepat.


Untunglah bus sudah sampai disekolah, sehingga Laura tidsk perlu terlalu lama menahan malu karena sudah tidur di pundak Niko.


''Sampai jumpa besok dikelas,'' kata Niko.

__ADS_1


Laura mengangguk. Sementara itu, berpuluh-puluh kilometer dari sana, di pohon keinginan, sehelai daun kertas terjatuh. Terdapat sebuah permohonan disana. Permohonan Laura. (Semoga hari ini tak pernah berakhir). Daun kertas tersebut lalu tersapu air di pantai dan tidak terlihat lagi.


__ADS_2