
⭐⭐⭐⭐⭐
Petugas bagian informasi menerima lembar kertas putih dari tangan Pak Hadi dan kemudian menelitinya.
"Benar, Pak. Ini asli dan dikeluarkan oleh pihak rumah sakit," terangnya, membuat Bintang mengerutkan dahi.
"Sus, coba Anda cek kembali," pinta Bintang.
"Ini asli, Mbak," kekeuh petugas tersebut.
Sesil dan Delon tersenyum smirk, sementara Pak Hadi memijat pelipisnya yang terasa berdenyut, nyeri.
"Dokter Prima, saya harus bertemu dengan Dokter Prima, Sus," pinta Bintang, memaksa.
"Baik, Mbak. Silahkan Anda tunggu di sana, saya akan hubungi Dokter Prima," balas petugas tersebut yang kemudian mengangkat gagang telepon untuk menghubungi Dokter Prima.
Lunglai, Bintang melangkah menuju bangku yang tersedia dan kemudian mendudukkan diri di sana. Diikuti oleh Sesil yang kemudian duduk di sisi kanannya dan Delon, di sisi kiri Bintang.
"Apa sebenarnya yang kalian inginkan dariku?" tanya Bintang pelan, seraya menatap Sesil dan Delon bergantian.
"Aku benar-benar mencintaimu, Sayang, dan aku hanya ingin menjadikan kamu sebagai istri. Tidak ada niatan lain selain itu," balas Delon, mencoba meyakinkan Bintang.
"Benar, Bintang. Delon tulus mencintaimu dan kami tidak memiliki cara lain selain ini," timpal Sesil, berbisik.
"Cinta Kakak bilang." Bintang menatap Delon dengan tatapan menusuk. "Kalau Kak Delon memang cinta sama Bintang, Kakak enggak akan melakukan hal yang membuat Bintang menjadi sedih," lanjutnya.
"Sayang, aku 'kan sudah bilang kalau aku tidak memiliki cara lain," balas Delon.
__ADS_1
Delon dan Sesil masih terus berusaha meyakinkan Bintang. Sementara Pak Hadi berjalan mondar-mandir, gelisah menanti kedatangan dokter yang tadi menangani sang putri.
Seorang laki-laki berseragam dokter berjalan mendekat ke arah mereka.
"Mbak Bintang, Anda kembali kesini. Apa Anda mengajak orang tua dan calon suami Anda?" tanya dokter yang ber-name tag Dokter Prima.
Bintang mengerutkan dahi. "Tidak, Dok. Saya datang bersama Papa untuk mendengar penjelasan langsung dari dokter mengenai penyakit saya."
Bintang kemudian mendekati berdiri di samping papanya.
"Pa, beliau ini Dokter Prima. Dokter yang tadi mendampingi Bintang sewaktu menjalani pemeriksaan," terang Bintang.
Dokter Prima mengulurkan tangan pada Pak Hadi. "Selamat ya, Pak. Anda sebentar lagi akan memiliki cucu," ucapnya, tanpa beban.
"Dok, apa maksud Dokter?" cecar Bintang yang tidak pernah menyangka bahwa Dokter Prima bisa-bisanya mengatakan hal yang tidak benar pada sang papa.
"Maaf, Pak. Sepertinya, putri Bapak belum siap mendengar kabar kehamilannya. Itu sebabnya, dia menyangkal apapun keterangan saya tentang hasil tes USG dan tes darah yang tadi kami lakukan," terang Dokter Prima, mengabaikan protes Bintang.
"Dok, saya tidak depresi, Dok, saya baik-baik saja. Kenapa bisa-bisanya Dokter memberikan keterangan pal ...."
"Maaf, Pak. Saya sarankan pada Bapak, sebaiknya bawa putri Bapak ke psikiater atau nikahkan segera dengan laki-laki yang telah menaburkan benihnya di rahim Bintang, agar dia tidak merasa menanggung beban tersebut sendirian," saran Dokter Prima, memotong ucapan Bintang.
"Tidak, Pa. Dia bohong! Kalau Papa tidak percaya pada Bintang, Bintang bisa melakukan tes lagi, Pa. Kita cari rumah sakit lain," ajak Bintang seraya memegang tangan sang papa.
Pak Hadi mengusap kasar wajahnya, papanya Bintang tersebut menghirup napas dalam-dalam dan kemudian menghembuskan dengan kuat untuk mengurai beban yang menghimpit dada.
"Anda bisa melihat sendiri rekaman CCTV ketika kami melakukan pemeriksaan terhadap putri Anda, Pak." Dokter Prima mencoba meyakinkan Pak Hadi.
__ADS_1
Laki-laki berseragam dokter tersebut menjentikkan jari pada salah seorang petugas yang berjaga di belakang meja informasi, agar mengarahkan layar komputer pada Pak Hadi dan yang lainnya.
Sesil dan Delon sedari tadi diam, menyimak. Dalam hati kedua orang tersebut tertawa, penuh kemenangan.
Tatapan Pak Hadi dan Bintang kemudian tertuju ke arah layar komputer. Ayah dan anak tersebut tidak berkedip memperhatikan video di mana Bintang memasuki sebuah ruangan dan kemudian mulai menjalankan pemeriksaan.
Entah bagaimana caranya, Delon berhasil mengedit video tersebut sedemikian rupa. Sehingga hasil akhir dari video itu sama sekali tidak terlihat kalau semua adalah rekayasa dan telah diedit.
Akhir dari video tersebut menampakkan Dokter Prima tengah menjelaskan pada Bintang, mengenai janin sebesar kacang kedelai yang mulai tumbuh di dalam rahim. Entah rahim siapa?
"Bukan, bukan seperti itu, Pa! Rekamannya pasti telah diedit!" sangkal Bintang, dengan bibir bergetar.
Pak Hadi menatap sang putri dengan tatapan menusuk, tajam. "Papa kecewa sama kamu, Bintang."
Hanya satu kalimat yang meluncur dari bibir Pak Hadi, tetapi telah mampu mengoyak pertahanan Bintang.
Gadis berkulit putih seputih susu yang tadinya memiliki kekuatan untuk melawan penyakitnya karena mengira akan mendapatkan dukungan dari sang papa dan menyangka bahwa papanya tidak akan percaya pada orang lain dan lebih mempercayai dirinya, kini sudah tidak memiliki harapan lagi.
Bintang terdiam dan membeku di tempat. Sekuat hati dia mencoba untuk tetap berdiri, agar tubuhnya tidak ambruk dan jatuh ke lantai rumah sakit yang dingin.
'Harus dengan cara apalagi, aku meyakinkan papa? Apa papa mau, mendengar permintaanku untuk melakukan tes ulang di rumah sakit lain?' batin Bintang bertanya-tanya.
'Dan di rumah sakit lain nanti, apakah aku bisa mendapatkan pembelaan dengan diberikannya keterangan yang sebenarnya atas apa yang terjadi padaku jika seorang dokter yang telah disumpah saja bisa berbohong?' ragu, Bintang kini tak memiliki lagi kepercayaan terhadap petugas medis.
"Papa akan segera menikahkan kalian, agar anak yang ada di dalam kandungan kamu memiliki ayah," putus Pak Hadi secara sepihak, mengurai lamunan Bintang.
Bintang menggeleng kuat. Setetes air jatuh dari sudut matanya. "Tidak, Pa! Bintang tidak mau menikah dengan dia!" tolak Bintang, menuding Delon yang tengah tersenyum bahagia.
__ADS_1
"Kalau kamu tidak mau menikah dengan Delon, jangan pernah pulang ke rumah dan menunjukkan muka di hadapan papa!" tegas Pak Hadi, membuat pertahanan Bintang runtuh seketika.
🌟🌟🌟🌟🌟 tbc ...