
Jangan lupa vote dan kasih ulasan Bintang lima, yah π₯°
βββββ
Pak Hadi akhirnya pulang tanpa menunggu Sesil kembali setelah mencoba menelepon calon istrinya tersebut berulang kali, tetapi panggilannya tidak dijawab oleh Sesil.
Laki-laki yang saat ini wajahnya terlihat kusut masai, memutuskan untuk segera pulang setelah menyadari bahwa apa yang dilakukan barusan terhadap sang putri adalah sebuah kesalahan besar.
Tidak seharusnya dia lansung menghakimi Bintang, tanpa menanyakan terlebih dahulu kepada sang putri atau mencari kebenaran dengan menyelidiki sendiri.
"Bodoh! Aku memang ayah yang bodoh! Harusnya aku lebih percaya pada putriku, anak yang aku asuh sendiri sejak bayi dan bukannya mudah terkena hasutan seperti tadi!" umpatnya pada diri sendiri.
Laki-laki yang berada di dalam sebuah taksi tersebut kemudian memejam mata. 'Tapi Sesil, masak iya dia tega memfitnah Bintang? Ah, sebenarnya siapa yang harus aku percaya? CCTV, iya, aku harus melihat CCTV di sekitar toilet di hotel kemarin.' monolog Pak Hadi dalam diam.
"Pak," panggil Pak Hadi pada sopir taksi, bermaksud untuk meminta putar balik menuju hotel.
"Iya, Tuan," balas sopir taksi seraya menatap penumpang di belakang melalui pantulan kaca spion di hadapannya.
"Tidak-tidak, tidak jadi, Pak," ucap Pak Hadi, bimbang.
'Sebaiknya aku pulang dulu, aku khawatir Bintang kenapa-napa,' bisiknya dalam hati. Pak Hadi merasakan tiba-tiba perasannya menjadi tidak enak dan kepikiran sama sang putri.
Taksi yang membawa Pak Hadi terus melaju membelah jalanan beraspal yang ramai. Tak berapa lama kemudian, taksi tersebut memasuki pintu gerbang yang tinggi kediaman Hadinata.
Setelah membayar ongkos taksi dengan melebihkan pembayaran, Pak Hadi segera turun dari mobil jenis sedan berwarna biru muda tersebut.
__ADS_1
Berlari kecil, laki-laki berbadan tinggi tegap tersebut memasuki rumah seraya menyerukan nama sang putri.
"Bintang, Sayang. Kamu di mana, Nak?"
"Maaf, Tuan. Non Bintang sedang istirahat di kamarnya," jawab Bi Narsih, takut-takut. Pengasuh Bintang tersebut khawatir Pak Hadi berbuat kasar pada Bintang, mengingat kejadian tadi di halaman ketika Bintang jatuh pingsan.
"Si Non baru saja tidur setelah kepalanya bibi kompres," lanjutnya, ketika Pak Hadi hendak membuka pintu kamar sang putri.
Pak Hadi membalikkan badan dengan dahi berkerut dalam. "Kepala Bintang kenapa, Bi? Kenapa dikompres?" cecar Pak Hadi penuh kekhawatiran.
Bi Narsih kemudian menceritakan kejadian setelah Pak Hadi dan calon istrinya meninggalkan rumah.
Pak Hadi menghela napas kasar.
"Apa tadi Pak Jasmin meminta laptop dan dompet Bintang, Bi?" tanya Pak Hadi kemudian, dengan tatapan penuh penyesalan.
"Apa Bintang menangis?" tanya Pak Hadi kembali.
Bi Narsih menggeleng. "Non Bintang itu sangat tegar, Tuan. Dia juga tidak pernah mengeluh," balas Ni Narsih dengan netra yang telah berkaca-kaca. "Malah bibi yang nangis ketika Pak Jasmin mengatakan bahwa itu semua atas perintah Nona Sesil," lanjutnya.
"Bibi tidak tega, Tuan. Tuan sebagai papanya Non Bintang malah lebih mempercayai orang yang baru Tuan kenal, di banding putri kandung Tuan sendiri," lanjutnya dengan berani.
Wanita paruh baya tersebut sudah tidak tahan dan ingin mengeluarkan semua unek-uneknya.
"Sepengetahuan bibi, Den Surya itu tulus mencintai Non Bintang. Dan jika seorang pemuda itu tulus mencintai kekasihnya, maka dia akan menjaga dan tidak mungkin menodai kehormatan Non Bintang.' Bi Narsi bahkan berani menatap sang majikan.
__ADS_1
"Begitupun sebaliknya, Non Bintang juga tulus mencintai Den Surya. Maka sebagai seorang gadis yang benar-benar tulus mencintai kekasihnya, Non Bintang pun akan menjaga kehormatan dan akan menyerahkan kepada sang kekasih jika mereka berdua sudah halal nanti," pungkas Bi Narsih yang seolah menampar kesadaran sang majikan.
Bi Narsih kemudian berlalu dari hadapan sang majikan tanpa kata, hanya anggukan kepala sebagai tanda pamit untuk melanjutkan pekerjaannya kembali.
Sementara Pak Hadi terpaku di tempatnya berdiri, di depan pintu kamar sang putri.
'Apa yang dikatakan Bi Narsih benar adanya. Selama ini, Surya bersikap santun padaku dan tidak pernah kurang ajar pada Bintang. Apa yang mereka berdua lakukan masih dalam batas kewajaran.'
Pak Hadi menarik napas dalam-dalam, mengisi penuh rongga paru-parunya dengan oksigen yang tersedia bebas di sekitarnya.
'Bi Narsih juga benar, bahwa cinta yang tulus pasti akan menjaga miliknya dan tidak akan sembarang menyentuh atau menyerahkan sebelum semua benar-benar sah menjadi miliknya.'
Dahi Pak Hadi tiba-tiba berkerut dalam. 'Apa itu artinya, Sesil tidak tulus padaku? Mati-matian aku menjaga agar tidak menyentuhnya sebelum dia sah menjadi istriku, tetapi Sesil malah semakin gencar menggoda dan merayuku seperti tadi?'
Laki-laki yang sudah lama menduda itu menggelengkan kepala berulang-ulang dan kemudian menyugar kasar rambutnya.
Dia hembus kuat-kuat napasnya seolah hendak membuang beban berat yang menghimpit dada.
'Beruntung aku tadi tidak tergoda padahal dia sangat seksi dengan lingerie merah itu. Apalagi dadanya yang montok selalu dia tempelkan di lengan,' bisik Pak Hadi dalam hati, lega.
"Aku harus selidiki semua, sebelum terlambat," tekadnya yang kemudian membuka pintu kamar Bintang perlahan.
Pak Hadi tertegun di sisi ranjang Bintang. Dia lihat sang putri yang tengah berbaring dengan mata tertutup rapat, tetapi dahi Bintang berkerut dalam seakan ada sesuatu yang gadis itu pikirkan.
"Mama ... Bintang ikut mama."
__ADS_1
πππππ tbc ...