
Malam itu, Surya dan kedua sahabatnya memutuskan untuk nongkrong sebentar saja di kafe. Mengingat, Surya baru saja mengalami hal buruk, meski tak sampai membuat kekasih Bintang tersebut terluka.
Surya kemudian pulang dengan melajukan motor sport miliknya sendiri dengan diiringi oleh kedua sahabatnya yang tak ingin sesuatu yang buruk kembali menimpa Surya.
Setelah mengantarkan Surya pulang, Gio kemudian mengantarkan Riko pulang ke rumah sahabatnya tersebut.
Sementara Surya yang telah tiba di rumahnya tak langsung beristirahat, tetapi berkemas terlebih dahulu dan memastikan tak ada lagi barang yang tertinggal.
"Apa lagi, ya?" Surya memindai almari pakaian yang terbuka lebar.
Pemuda itu tersenyum ketika melihat ke atas nakas dan menatap foto dirinya bersama sang kekasih dalam bingkai cantik hadiah dari Bintang di hari jadi mereka yang pertama.
Saat itu, Bintang datang ke rumahnya bersama Riko dan Gio untuk menjenguk Surya yang sedang sakit.
Ketika kedua sahabatnya keluar dari kamar Surya, Bintang mengeluarkan sebuah bingkai foto dati dalam tasnya dan kemudian menyimpan di atas nakas.
"Bintang simpan di sini ya, Kak, agar setiap kali Kakak bangun di pagi hari, yang pertama kali Kakak lihat adalah foto kita berdua," ucap Bintang kala itu seraya tersenyum manis. Senyuman yang tak pernah bisa Surya lupakan.
"Aku akan membawanya dan menyimpan foto ini di samping tempat tidurku, agar aku bisa selalu melihat foto kita berdua, baik sebelum menutup mata maupun saat pertama kali membuka mata, Sayang," gumam Surya seraya melangkah dan kemudian mengambil bingkai foto tersebut.
Surya kemudian menyimpannya di dalam koper.
Setelah memastikan semua masuk ke dalam kopernya, Surya kemudian menyimpan koper tersebut di sudut ruangan.
Pemuda itu segera membersihkan diri dan kemudian mengistirahatkan tubuh lelahnya, di atas pembaringan yang empuk.
πππ
Pagi harinya, Surya telah berpakaian rapi. Setelah sarapan, dia berpamitan pada bundanya untuk berangkat terlebih dahulu karena hendak menemui Bintang.
"Bund, Surya minta diantar Pak Tamam, ya. Nanti Bunda langsung ke bandara saja sama ayah," pamit Surya seraya menyalami wanita seusia papanya Bintang yang masih sangat cantik.
"Apa tidak terlalu pagi, Kak?" tanya sang Bunda. "Ini baru jam tujuh lebih dikit, loh. Ayah saja baru berangkat ke kantor," lanjutnya dengan dahi berkerut.
"Biar bisa agak lamaan dikit, Bund, ketemu sama Bintang," balas Surya, jujur.
Wanita cantik itu tersenyum pada sang putra, penuh pengertian. "Ya, sudah. Kirim salam buat Nak Bintang, ya."
__ADS_1
Surya mengangguk dan kemudian segera berlalu, meninggalkan sang bunda yang masih tersenyum seraya geleng-geleng kepala.
"Anak jaman sekarang, pacarannya sudah berani terang-terangan di depan orang tua. Tidak seperti kami dulu yang harus sembunyi-sembunyi, tapi ada baiknya juga, sih, karena kami jadi bisa mengenal siapa teman dekat anak-anak kami," gumamnya.
"Dan aku bersyukur karena yang menjadi kekasih Surya adalah Bintang. Dia gadis yang baik, sopan dan tidak neko-neko meskipun dia berasal dari keluarga kaya," imbuhnya.
Sementara Surya yang sudah berada di dalam mobil bersama sopir keluarganya, langsung menghubungi Bintang.
"Sudah bangun, belum?" tanya Surya ketika panggilannya diterima oleh sang gadis pujaan.
"Sudah, dong. Masak mau menyambut sang pengeran, malah belum bangun," balas Bintang yang kini sudah pandai menggombal, seperti halnya Surya.
Surya terkekeh pelan. "Tuan putri dandan yang cantik, ya," pinta Surya.
"Oh, ya. Kamu mau aku bawain apa, Cinta?" lanjutnya bertanya.
"Enggak perlu, Kak. Bintang cuma mau Kakak, enggak mau yang lain," balas Bintang.
"Ya, udah. Aku bentar lagi sampai," pungkas Surya yang kemudian menutup teleponnya.
Pak Tamam yang sedang mengemudikan kendaraan dengan kecepatan tinggi seperti permintaan Surya, tersenyum mendengar keromantisan putra sang majikan terhadap kekasihnya.
"Dimasukkan ke dalam koper, begitukah maksud Pak Tamam?" balas dan tanya Surya, bercanda.
"Eh ... ya bukan begitu, Den, maksud bapak. Diajak pindah ke sana, Den," terang Pak Tamam seraya terkekeh pelan.
Mobil yang dikemudian Pak Tamam terus melaju, menuju kediaman orang tua Bintang.
"Belum boleh sama papanya Bintang, Pak. Mungkin tahun depan, Bintang baru boleh menyusul ke sana," balas Surya dengan wajah yang tiba-tiba berubah menjadi sendu.
"Satu tahun itu bisa lama, tapi bisa juga sebentar, Den. Lama jika Den Surya hanya fokus memikirkan Non Bintang dan akan terasa sebentar, jika Den Surya fokus dengan kuliah di sana," ucap Pak Tamam yang dibenarkan Surya dengan anggukan kepala.
Dalam hati Surya berjanji, akan fokus dengan kuliahnya agar rindunya pada Bintang tidak terlalu membelenggu dirinya dan malah menghambat studinya.
Kerinduannya pada Bintang harus dia jadikan sebagai penyemangat, agar dia bisa segera merampungkan studi di sana dan kemudian segera pulang untuk Bintang.
"Bapak nunggu di sini, apa nanti siang bapak jemput lagi, Den?" tanya Pak Tamam ketika mobil yang dikendarai memasuki pintu gerbang kediaman Hadinata.
__ADS_1
"Terserah senyamannya Pak Tamam saja," balas Surya yang tak ingin mengekang Pak Tamam.
"Bapak pulang dulu saja ya, Den. Siapa tahu, nyonya juga butuh sesuatu," ijin Pak Tamam sebelum Surya turun dari mobil.
"Oke, Pak," balas Surya, singkat.
Pemuda bertubuh tinggi tersebut kemudian segera turun dan melangkah dengan pasti memasuki kediaman orang tua sang kekasih.
Meninggalkan Pak Tamam yang kemudian didekati oleh Pak Jaya yang sedang menyiram tanaman.
"Turun dulu, Pak. Ngopi dulu kita," tawar Pak Jaya yang sudah beberapa kali bertemu dengan sopir keluarganya Surya tersebut.
"Wah, terimakasih banyak, Pak Jaya. Kebetulan, saya belum ngopi. Baru dibuatkan teh saja tadi sama Arum," balas Pak Tamam, setuju.
Kedua laki-laki paruh baya tersebut kemudian segera menuju teras samping.
"Bu, buatkan kopi dua!" seru Pak Jaya yang melihat istrinya melintas di ruang tamu.
Bi Narsih mengangguk, patuh.
Di ruang keluarga, Bintang yang sudah menanti kedatangan Surya langsung menyambut dengan bergelayut manja pada lengan kekasihnya. Membuat hati Surya semakin sedih untuk meninggalkan sang kekasih.
"Kita ngobrol di balkon aja, yuk," ajaknya seraya menyeret pelan tangan Surya menuju balkon di lantai dua.
Surya hanya pasrah saja ketika Bintang menuntunnya menaiki anak tangga.
"Apa papa kamu sudah berangkat ke kantor?" tanya Surya setelah mereka duduk di bangku panjang.
"Sudah, papa berangkat lebih awal tadi agar nanti bisa segera pulang," balas Bintang.
"Papa kekeuh pengin ikut mengantar Kakak ke bandara karena Mbak Sesil membujuknya semalam," lanjut Bintang.
"Mbak Sesil?" Dahi Surya berkerut dalam.
"Iya. Semalam setelah kakak pulang, dia ke sini," balas Bintang.
Dahi Surya semakin berkerut dalam. 'Sesil merencanakan apa, ya?' batin Surya yang tiba-tiba merasa tidak nyaman.
__ADS_1
πππππ tbc ...