
"Robi, kau masak baked lasagna untuk meja delapan, Donna kau masak pasta salad untuk meja lima, Johan kau masak house tortellini untuk meja enam belas, dan aku masak pasta combo untuk meja sepuluh dan sebelas."
Ruang dapur terasa panas. Restoran dibanjiri pelanggan, hal yang biasa terjadi pada akhir pekan. Laura membagi-bagi pekerjaan kepada ketiga teman kokinya yang sudah ia kenal selama dua tahun. Sejak Antonio mengangkatnya menjadi asisten chef beberapa minggu lalu dan mulai menyuruh Laura memanggil namanya tanpa embel-embel signor', sedikit demi sedikit Laura mendapat respek dari ketiga koki yang lain. Lagi pula, di ruang dapur Laura tidak pernah menganggap mereka bawahannya, tetapi rekan kerjanya.
Karena Laura tidak bertemperamen buruk seperti Antonio, ketiga rekan kerjanya ini merasa lebih nyaman bekerja dengannya. Laura melihat Maya membawa pesanan baru.
"Shrim parmigiana dengan spageti, meja tiga," kata Maya sambil membaca pesanannya.
Laura mengernyitkan dahi. "Mbak, tolong bilang meja tiga, pesanannya mungkin sedikit terlambat. Aku akan langsung mengerjakan pesanan ini setelah dua pasta combo__nya selesai."
Maya mengangguk penuh pengertian. "Aku akan bilang pada mereka." "Thanks, mbak," kata Laura disela-sela kesibukan.
"Meat balk spagetti untuk meja tujuh." seorang pelayan lain masuk membawa pesanannya. "Aku akan ambil pesanan ini," saran Donna. "Aku sudah hampir selesai dengan pasta saladnya." "Oke," kata Laura lega.
Dalam dua jam berikutnya, tangan Laura tidak pernah beristirahat memasak. Ketika lelah, ia berhenti sejenak, menarik napas, dan melanjutkan lagi aktivitasnya. Tidak peduli sesibuk atau selelah apa pun, Laura merasa beruntung karena bisa melakukan hal yang paling disukainya.
Ketika jam menunjukkan pukul sebelas malam, restoran sudah mulai sepi. Hanya tersisa beberapa pelanggan. Laura memasak pesanan yang terakhir sebelum akhirnya bisa duduk untuk mengistirahatkan kakinya.
"Hari yang sangat sibuk," komentar Maya dari pintu dapur.
Laura tersenyum kelelahan. "Ya."
"Seandainya Antonio ada di sini sekarang, dia pasti bangga padamu," kata Maya lagi
"Berapa lama lagi Antonio pulang dari italia?" tanya Laura yang terkadang sudah tidak bisa mengingat lagi hari dan tanggal. "Aku benar-benar berharap dia cepat pulang. Dapur kita kekurangan orang. Terutama untuk akhir pekan seperti sekarang."
"Dia akan pulang lusa," kata Maya sambil menyodorkan segelas air putih dingin pada Laura. "ini minumlah. Sepertinya kau benar-benar butuh minum."
"Thanks, mbak." Laura mengambil minuman yang disodorkan Maya. "Mbak juga pasti kelelahan."
"Aku sudah terbiasa," kata Maya.
Laura memandang ketiga teman kokinya. "Kalian bisa pulang lebih awal. Aku yang akan membereskan dapur nanti."
"Thanks, Laura," kata ketiga temannya berbarengan.
Laura memandang ketiganya satu persatu. "Kerja yang bagus hari ini." "Kau juga," timpal mereka.
"Kami pulang dulu ya." Donna dan Johan sudah melepaskan celemek dan mengenakan jaket.
"Hati-hati di jalan," kata Laura.
Ketiganya melambaikan tangan lalu keluar dari dapur. Laura tahu mereka pasti ingin cepat-cepat kembali pada keluarganya.
"Tak terasa waktu cepat berlalu," kata Maya, pikirannya menerawang ke masa lalu.
Laura meminum air dari gelasnya. "yah... hampir empat tahun. Aku tidak pernah menyangka aku bisa berada di dapur ini."
Maya tersenyum. "Aku tidak pernah meragukan kemampuanmu. Sejak mencicipi spageti bolognese__mu, aku tahu Antonio sudah menemukan asisten yang dicari-carinya selama ini."
Laura meminum habis air di gelas nya, lalu beranjak ketempat cucian dan mulai mencuci semua peralatan yang digunakannya.
"Biar kubantu." kata Maya.
"Terima kasih," kata Laura.
Keduanya menutup restoran pukul dua belas malam.
*********
Pagi itu. Laura memulai hari seperti biasa. Setelah sarapan ia mandi, kemudian membaca koran yang ada di meja ruang tamu. Tatapannya jatuh pada bagian halaman iklan. Di situ tertulis bahwa sekolah SMA nya dulu akan mengadakan reuni untuk angkatannya. Seluruh alumni diharapkan hadir. Nama dan nomor hp Erika tertera disana sebagai ketua panitia alumni.
(Apakah sebaiknya aku pergi?) tanya Laura dalam hati. (Aku bisa datang dan bernostalgia di sekolahku dulu. Bertemu Niko. Mungkin sekarang dia sudah ditingkat akhir fakultas kedokteran).
Laura meletakkan korannya kembali ke meja, lalu berjalan kekamar tidurnya. Ia membuka kertas JANGAN MENYERAH dari Niko dengan perlahan. (Aku takut sampai sekarang dia belum memaafkanku), pikirnya lagi. (Hubungannya dengan Erika pasti semakin erat). Mungkin saja mereka sudah bertunangan. Apakah aku bisa melihat Niko tanpa perasaan sedih?).
Empat tahun. Orang-orang bilang waktu bisa menyembuhkan luka hati. Tapi Laura belum bisa melupakan Niko. (Apakah empat tahun berikutnya aku baru bisa melupakannya?) pikirnya. Laura mendesah. Ia sungguh tidak tahu. Selama ia masih belum melupakan Niko. Ia tidak bisa membuka hatinya untuk orang lain. Ia tahu ia memang bodoh karena masih mengingat Niko setelah sekian lama, tetapi hatinya tidak bisa berbohong.
*********************************
"Kau terlihat sedikit bingung hari ini." Mata Maya mengawasi Laura dengan tajam. "Tidak seperti biasanya. Apakah ada hal yang mengganggu pikiranmu?"
__ADS_1
Waktu menunjukkan pukul tiga sore. Laura sedang mengelap peralatan masaknya. "Aku tidak pernah bisa menyembunyikannya dari mbak, ya."
Maya tersenyum. "Tidak. Aku memang terbiasa mengamati orang-orang disekitarku. Salah satu tuntutan pekerjaanku. Kau baik-baik saja?"
Laura tersenyum. "Aku tidak apa-apa. Tadi pagi aku membaca koran, sekolahku mau mengadakan reuni."
"Kau ragu untuk datang?" tanya Maya.
"Yah, begitulah." Laura menarik napas perlahan.
"Ada orang yang tidak ingin kau temui?" Maya melihat tatapan Laura dan menganggap pertanyaannya telah mendapatkan jawaban. "Kau asisten chef sekarang, masa lalu biarkanlah menjadi masa lalu."
"Aku tahu." Laura menunduk. "Hanya saja, aku takut menemuinya lagi."
Maya terdiam. "Laura yang kukenal berani menantang seseorang yang hampir memecatnya dua tahun yang lalu."
Laura tersenyum. "Aku tidak seperti itu sewaktu sekolah."
Maya menyentuh tangan Laura. "Laura, kau tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di reunian itu. Tidakkah kau ingin pergi?" Laura terdiam.
Maya tersenyum lembut. "Kau tidak langsung mengatakan tidak. Apa salahnya bernostalgia dengan teman lama?"
"Thanks, mbak," kata Laura sunguh-sungguh. "Lebih baik datang daripada menyesal di kemudian hari, bukan?"
*****************************
Sore harinya, Laura memegang HP nya dengan gugup. Ia sudah memasukkan nomor Erika di HP nya. Jemarinya bergerak ragu antara mau menelepon atau tidak. Tapi sebelum sempat memutuskan, HP nya sudah berbunyi. Dari kantor mama.
"Halo," katanya.
Tak berapa lama kemudian wajah Laura berubah pucat. Telepon tadi berasal dari teman mama dikantor. Dia mengatakan bahwa mama pingsan di kantor dan sekarang sedang berada di rumah sakit.
Laura langsung meninggalkan rumah dan bergegas menuju rumah sakit. Di dalam taksi, ia mengirim pesan pada Maya bahwa ia tidak bisa bekerja malam itu.
Laura berlari menuju kamar rumah sakit tempat mama dirawat. Napasnya terengah-engah. Ia melihat mama terbaring di ranjang dengan selang infus ditangannya.
"Bagaimana keadaan mama?" tanya Laura panik. "Apanya yang sakit, ma? Apa kata dokter?"
"Bagaimana dengan pekerjaanmu?" mama menanyakan dengan cemas.
"Aku sudah memberitahu mbak Maya. Dia bilang tidak usah khawatir. Lagi pula besok Antonio sudah pulang dari italia. Jadi pekerjaanku sudah ada yang menggantikan." Laura membuka jaketnya dan duduk disamping ranjang. "mama mau makan sesuatu?" Mama menggeleng.
"Kalau begitu mama istirahat saja." Laura menyelimuti mama dan memperhatikan mama mulai memejamkan mata. Semalaman Laura tidak bisa tidur. Ia khawatir terjadi sesuatu pada mama. Pagi harinya, dokter mengatakan kondisi mama sudah membaik dan Laura sedikit lega.
"Pulanglah," kata mama sedikit mengomel. "Kau kelihatan lelah sekali. Istirahat saja."
"Baiklah," kata Laura tanpa berdebat. "Aku akan pulang. Aku akan mengambil baju mama untuk dibawa kemari. Dan aku akan tinggal dirumah sakit malam ini menemani mama."
Mama hendak menyelanya, tapi Laura sudah berkata lagi.
"Tidak ada bantahan kali ini. Pokoknya aku mau menginap disini sampai mama sembuh."
Melihat tekad putrinya yang tidak tergoyahkan, mama akhirnya menyerah.
****
"Kau tidak tidur?" tanya mama tiba-tiba.
Laura memandang mama yang terbangun di tengah malam. Sudah tiga hari Laura berada dirumah sakit menemani mama. Kondisi mama semakin hari semakin baik, dokter sudah mengatakan besok mama boleh pulang.
"Maaf, aku membangunkan mama." Laura menghampiri mamanya sambil menyuguhkan segelas air.
"Tidurlah. Mama sudah tidak apa-apa," kata mama setengah mengantuk.
"Aku akan tidur sebentar lagi," janji putrinya.
Beberapa saat kemudian, Laura melihat mamanya kembali tertidur pulas. Mata Laura tertuju pada kalender meja disebelah tempat tidur mama. Hari ini hari reunian. Laura tidak bisa datang, tapi ia tidak menyesal.
Mama orang terpenting baginya, lebih dari sebuah reuni ataupun pekerjaan. Tanpa mama, Laura tidak tahu harus berbuat apa. Mama mendukung pekerjaannya yang sekarang. Mama bilang selama Laura bahagia, apapun yang dikerjakan Laura, ia akan mendukungnya seratus persen.
Laura menatap mama dengan haru. Mama telah berhasil membanting tulang membesarkannya selama ini. Ia mengelus rambut mama dengan perlahan lalu mengecup keningnya.
"Mama ibu terbaik di dunia," bisiknya perlahan.
__ADS_1
Setelah itu ia berbalik ke jendela dan menatap langit. Malam bulan purnama. Bintang di langit bersinar terang. Laura teringat pada kenangan masa lalunya di sekolah. Tentang pertemuannya dengan Niko, melihatnya dari kejauhan, mengembalikan lukisannya, semobil berdua dengannya, tertidur di bahunya, sampai perpisahan dengannya. Ia mengambil kertas JANGAN MENYERAH Niko dari saku celananya.
"Mungkin sudah waktunya aku melupakan masa laluku," katanya perlahan. "Selamat tinggal Niko. Dimana pun kau berada."
Ketika Laura hendak membuang kertas tersebut, niatnya terhenti. Bagaimanapun kertas tersebut sudah menemaninya pada saat-saat tersulit dalam hidupnya. Laura melipat kertas tersebut dan menyimpannya kembali ke dalam saku. (Hanya satu kenangan ini) katanya dalam hati. (Biarkan aku menyimpan yang satu ini saja dan melupakan yang lain).
*****************************
Satu bulan kemudian, Laura menghadap Antonio dengan gugup. Wajah bosnya terlihat manakutkan. Itu artinya ia pasti melakukan kesalahan serius.
"Antonio...," katanya perlahan, "begini... soal menu baru restoran hari ini, the mixed spagetti, aku tahu seharusnya aku berkonsultasi dulu denganmu. Maaf."
Antonio memandang Laura dengan bingung. "Apa yang kau bicarakan?"
Kini giliran Laura yang bingung. "Bukankah kau memanggilku ke sini karena kau tidak suka dengan menu baruku?"
Antonio tertawa terbahak-bahak. "Tidak. Aku suka menu barumu."
"Kalau begitu, mengapa mukamu menyeramkan begitu?" tanya Laura terus terang.
Antonio cemberut. "Karena sepertinya aku bisa kehilangan asisten terbaikku."
"Kau memecatku?" Laura protes. "Bukankah kau bilang kau suka menu baruku? Jadi mengapa kau memecatku?"
"Laura, duduklah dan dengarkan aku dulu." perintah Antonio.
Laura tidak punya pilihan lain selain duduk dan mendengarkan perkataan bosnya.
"Aku tidak memecatmu," kata bosnya kemudian. "Bulan kemarin ketika aku pergi ke italia, aku berkunjung ke teman lama sekaligus pelatihku, Alberto Luceri. Aku bercerita tentang kau padanya. Jadi, kalau kau tertarik, kau bisa belajar banyak padanya."
Laura kaget sampai melongo. "Maksudmu... aku bisa belajar dari gurumu?"
"Jadi, bagaimana? kau tertarik?" tanya Antonio penasaran. "Kau akan mempelajari banyak hal darinya. Hanya saja kau harus pergi ke Italia. Aku yang akan menanggung akomodasinya."
Laura sangat berminat dengan usul Antonio. "Tapi berapa lama aku harus tinggal di Italia?"
"Mungkin setahun," kata Antonio mengira-ngira. "Aku tidak tahu. Semua terserah pada Alberto dan kau. Kau mau terima tawaran ini?"
Laura tertawa gembira. "Aku pasti sudah gila kalau menolak tawaran sebagus ini. Hanya saja aku harus mendiskusikannya dulu dengan mamaku."
Antonio mengangguk mengerti. "Aku harap mamamu mengerti dan mengizinkanmu pergi." "Aku akan berbicara pada mama hari ini," kata Laura.
"Laura," Antonio memberi peringatan. "Kalau kau jadi pergi ke Italia, jangan lupa untuk pulang dan bekerja kembali di sini."
Laura tersenyum. "Tentu saja aku akan kembali. Kau tidak usah khawatir."
**********************************
"Apakah kau masih perlu meminta izin mama?" mama memandang putrinya sambil tersenyum bangga. "Tentu saja mama mengizinkanmu. Ini kesempatan langka. Kau harus meraihnya." "Aku tahu....," katanya hati-hati. "Tapi..."
Mama menggeleng. "Kau tidak perlu khawatir soal mama. Mama sudah sembuh total kok.
Pergilah. Kejarlah mimpimu untuk menjadi seorang chef pasta."
Laura memeluk mama erat-erat. "Terima kasih ma. Aku berjanji akan sering-sering menelepon. Dan mama juga harus berjanji harus meneleponku kalau terjadi apa-apa. Aku pasti akan langsung pulang."
"Mama berjanji akan menjaga diri mama baik-baik. Kau tidak usah khawatir." Mama balas memeluk Laura dengan erat. "Kau juga harus menjaga diri disana."
"Aku berjanji," kata Laura bersungguh-sungguh.
**************************************
Dua minggu kemudian, para pelayan restoran,rekan kerjanya, Antonio,dan mama mengantar Laura ke bandara.
"Telepon mama sesampainya kau disana," kata mama sambil memberikan pelukan terakhir pada putrinya sebelum berangkat.
Maya juga memeluk Laura dan berbisik, "Jangan lupa untuk kembali. Kau satu-satunya asisten yang bisa diterima Antonio. Aku tidak tahu berapa lama dia bisa bertahan dengan asisten barunya yang akan datang besok."
"Aku berjanji akan kembali, mbak. "Laura melepas pelukannya dan mengucapkan selamat tinggal pada yang lainnya. Kemudian kakinya melangkah pergi menuju pintu masuk keberangkatan.
__ADS_1