Mengejar Bintang

Mengejar Bintang
Bab 12


__ADS_3

Laura berdiri di depan restoran Antonio. Satu tahun sudah restoran ini ditinggalkannya. Dari luar, restorannya masih tampak sama. Pintu kaca berwarna merah yang menjadi pintu masuk restoran Antonio seakan-akan memintanya masuk. Laura membuka pintu tersebut dan dentingan lonceng terdengar dari dalam ruangan. Ia melihat ada beberapa perubahan dekorasi meja dan kursi. Lebih cerah, lebih efesien, dan membuat ruangan terlihat lebih luas.


Terdapat beberapa pelayan sedang berkonsentrasi membereskan meja dan kursi. Mereka tidak melihat Laura yang sudah berada di dalam ruangan. Laura tersenyum. Maya keluar dari ruangan pelayan dan terpana. Laura memeluknya.


"Laura!" Seru Maya sambil tersenyum lebar. "kapan kau kembali? Kenapa kau tidak memberitahuku?"


Laura tersenyum lebar. "Rahasia. Aku ingin mengejutkan kalian."


Reaksi Maya menyadarkan pelayan lain yang akhirnya berkerumun mendekati Laura dan bergantian memeluknya. "Selamat datang kembali," kata mereka.


"Aku senang berada disini lagi." Laura tersenyum memandang rekan-rekan kerjanya.


"No!No!No!" teriak suara dari arah dapur. "Kau dipecat!"


Seorang pria muda keluar dari dapur dengan kesal, dan langsung membanting pintu keluar restoran.


"Dia tidak pernah berubah," Laura berkomentar.


Maya tersenyum kecut. "Hanya kau yang berhasil bertahan lama dengannya."


Laura melihat salah satu pelayan mengumpulkan uang dari teman-temannya. Pelayan itu tersenyum penuh kemenangan.


"Dua minggu. Aku kan sudah bilang dia tidak akan bertahan lebih dari dua minggu."


Laura mengerti sekarang. Ia lalu berpaling pada Maya. "Mbak ikut taruhan juga?" tanyanya penasaran.

__ADS_1


Maya mengangguk sambil menyerahkan uangnya pada si pemenang. "Aku bertaruh satu bulan."


Laura tidak bisa menahan tawanya.


"Maya!" teriak Antonio dari dalam dapur. "Carikan aku asisten baru."


Maya tersenyum kemudian balas berteriak. "Aku sudah menemukannya! Aku yakin kau tidak akan memecatnya kali ini."


"Itu juga yang kau katakan sebelumnya..." Antonio keluar dari dapur dengan kesal. "Kau bilang..." suaranya terhenti. Ia menatap Laura dengan kaget.


"Buona sera (selamat malam), Antonio". Laura mendekati bosnya dan memeluknya. "Senang melihatmu kembali. Kau tidak berubah."


Antonio gembira bukan main. "Kapan kau tiba? Kenapa kau tidak bilang-bilang?"


Laura melepaskan pelukannya. "Aku baru saja tiba pagi ini. Aku ingin memberi kejutan."


Laura tersenyum. "Pantas saja dia berusaha menjodoh-jodohkanku dengan cucu laki-lakinya.”


Antonio bersungut-sungut. "Dasar pria tua licik. Dia tidak bisa mengambil asistenku tanpa perlawanan. Kalau bulan depan kau masih di Italia, tadinya aku mau langsung menjemputmu pulang."


"Aku disini sekarang," kata Laura. "Jadi... mau kumasakkan sesuatu?"


Antonio menatap Laura tajam. "Kau mau membuktikan keahlianmu?"


"Aku cukup yakin kali ini kau akan menyukainya," kata Laura penuh percaya diri.

__ADS_1


"Dasar kalian para chef," kata Maya sambil menggeleng. "Belum juga sepuluh menit, kalian sudah ingin menuju dapur lagi."


Laura memandang Maya sambil tertawa. "Maaf. Aku akan memasak untuk kalian semua, tidak hanya untuk Antonio."


"Cukup basa-basinya," kata Antonio tidak sabar. "Aku tidak sabar ingin mencicipi masakanmu."


Laura berjalan menuju dapur. Ia mengambil salah satu celemek putih yang ada dilemari dan mengenakannya. Tangannya mengambil panci dan mulai mendidihkan air. Beberapa saat kemudian Laura selesai membuat dua masakan. Ia mengambil masing-masing satu porsi masakannya untuk diberikan pada Antonio.


"Spaghetti ala carbonara dan tagliatelle with tomato sauce and ricotta. Silahkan dinikmati." Laura menyodorkan kedua piring di depannya pada Antonio.


Antonio menikmati masakan dipiring yang pertama dan berdecak kagum. "Kau benar-benar mengalami kemajuan besar."


Saat mencicipi masakan di piring yang kedua, Antonio mencoba tidak meneteskan air mata. "Aku tidak tahu harus berkata apa. Masakanmu sempurna. Alberto benar-benar telah mengajarimu dengan baik."


Antonio meraih tangan Laura dan mengenggamnya. "Kau seorang chef pasta sekarang. Aku bangga padamu."


Laura balas menggenggam tangan Antonio. "Terima kasih." Mata mereka bertemu. Laura berhasil menjadi seorang chef pasta berkat kesempatan yang diberikan Antonio. Ia tidak akan pernah melupakannya seumur hidupnya. Kini Antonio dan Laura memiliki kesamaan. Mereka berbagi guru yang sama.Alberto.


"Aku tidak akan berhasil tanpa bantuanmu," kata Laura lagi sambil menatap Antonio dengan serius.


"Kau berhasil karena kau punya bakat dan keberanian. Dua hak yang kukagumi darimu," balas Antonio. Lalu memandang anak buahnya. "Kalian jangan diam saja. Ayo, cicipi masakan Laura."


Tanpa disuruh dua kali, para pelayan berebutan mengambil spageti yang dimasak oleh Laura.


Laura merasa bahagia. Masakannya di makan oleh orang-orang terdekatnya. Dan mereka menyukainya.

__ADS_1


Β 


__ADS_2