Mengejar Bintang

Mengejar Bintang
Aku Dijebak, Mas


__ADS_3

Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Batin πŸ™πŸ™


⭐⭐⭐⭐⭐


Pak Hadi akhirnya menyetujui untuk mendatangi diskotik dan menangkap basah Sesil, agar wanita itu tidak dapat lagi mengelak.


Pak Hadi berada di dalam mobil bersama sang putri serta sang asisten pribadi. Sedangkan Riko, mengendarai mobilnya sendiri.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, Pak Hadi beserta rombongan tiba di lokasi.


"Nak Riko, kamu yakin dia ada di sini?" tanya Pak Hadi memastikan, setelah dia turun dari mobil yang diikuti oleh sang putri.


Pak Hadi nampak ragu melihat tempat yang sama sekali belum pernah dia kunjungi, seperti diskotik ini.


"Nama diskotiknya sesuai dengan yang diberitahukan oleh Leon, Om," balas Riko seraya menunjuk papan nama diskotik.


Mereka berempat segera masuk ke dalam ruangan yang penuh dengan hingar bingar suara musik. Bintang bahkan sampai harus menutup telinga karena tidak tahan dengan suara bisingnya.


Riko segera menemui salah seorang petugas security dan menanyakan keberadaan Leon di kamar yang berada di lantai atas, seperti yang disebutkan oleh orang suruhan Riko tersebut di dalam chat-nya.


"Maaf, itu bukan wewenang saya, Mas," tolak security dengan tegas.


"Di mana saya bisa bertemu dengan pemilik diskotik ini?" desak Toni yang ikut maju.


"Sama pengelolanya bisa, Pak. Di sebelah sana ruangan beliau," balas security tersebut, seraya menunjuk ke sebuah pintu yang tertutup rapat.


Toni dan Riko segera melangkah ke tempat yang ditunjuk. Pak Hadi dan Bintang menyusul di belakang mereka berdua, dengan Bintang memeluk erat lengan sang papa karena takut berada di tempat seperti itu.


Riko mengetuk pintu tersebut dengan tidak sabar. Setelah beberapa saat menunggu, keluarlah pemuda berwajah oriental yang merupakan pengelola diskotik, teman baik Sesil.


Pemuda itu mengerutkan dahi, menerima kedatangan empat orang yang sama sekali tidak dia kenali.


"Cari siapa?" tanyanya, tanpa basa-basi.

__ADS_1


Riko kemudian menjelaskan maksud dan tujuannya datang ke diskotik tersebut.


"Kami tidak ijinkan siapapun mengganggu tamu-tamu kami, apalagi tamu istimewa seperti orang yang Anda cari," tolak teman Sesil yang merupakan pengelola diskotik.


"Kalau sudah tidak ada perlu lagi di sini, silakan tinggalkan tempat ini!" usirnya ketus dan langsung masuk kembali ke dalam ruangannya seraya membanting pintu dengan cukup keras.


Membuat Riko menggeram marah. "Kurang ajar! Belagu sekali, dia!"


"Sabar Mas Riko. Nanti pasti ada jalan." Asisten Toni mencoba menenangkan Riko.


Wajar jika Riko terbawa emosi, darah mudanya tersulut karena merasa tidak dihargai.


Berbeda dengan Asisten Toni yang sudah cukup berumur dan sudah banyak makan asam garam kehidupan. Asisten pribadi Pak Hadi tersebut dapat bersikap bijak dan dapat meredam emosinya.


Riko menghela napas panjang, mengerti perkataan Toni.


Ya, awalnya mereka mengalami kesulitan ketika hendak langsung menuju kamar yang telah disewa orang suruhan Riko karena pihak pengelola diskotik tadi tidak memberikan ijin.


Namun, kedatangan polisi yang tiba-tiba, membuat security di tempat tersebut panik dan pengelola diskotik juga langsung keluar dari ruangannya.


"Maaf, Bos. Polisi datang untuk memeriksa tempat kita," jawab sang security, gugup.


"Selamat sore, Pak. Kami dari pihak kepolisian membawa surat tugas untuk memeriksa tempat ini karena kami mendapatkan laporan bahwa di sini merupakan pusat peredaran narkoba," ucap komandan polisi yang langsung maju menemui pengelola diskotik tersebut seraya menunjukkan surat tugas yang dia bawa.


Teman Sesil tersebut langsung terlihat pucat, apalagi setelah dia melihat beberapa petugas polisi ada yang sudah menangkap pelanggan di diskotiknya.


"Maaf, Ndan. Kami mau langsung menuju ke kamar target kami," ucap Riko pada komandan tersebut, membuat Pak Hadi dan Toni mengerutkan dahi.


"Mas Riko yang memanggil polisi itu?" bisik Toni, bertanya.


Riko yang kemudian segera menuntun Pak Hadi dan yang lain, mengangguk.


"Benar, Pak. Tadi Leon tidak sengaja melihat ada transaksi barang haram tersebut dan dia bilang pada saya," balas Riko.

__ADS_1


"Saya pikir, ini kesempatan bagus agar jika kita mengalami kesulitan untuk masuk ada yang membantu dan ketika kita menggerebek Mbak Sesil dan Leon, Leon tidak terkena pasal tindak asusila karena fokus para petugas tersebut hanya pada para pengedar dan penggunanya," lanjut Riko panjang lebar.


"Cerdas sekali kamu, Nak Riko," puji Pak Hadi, tulus.


"Anda benar, Tuan," timpal Toni, setuju dengan pujian sang atasan terhadap Riko.


Mereka kini sudah berada di lantai dua.


"Kamarnya yang mana, ya?" gumam Riko, bertanya.


Sementara di dalam kamar yang cukup mewah dan nyaman, Sesil dibuat seperti cacing kepanasan oleh Leon.


Leon seperti sengaja mempermainkan hasrat wanita seksi tersebut. Dia mencumbui Sesil, melenakannya tetapi ketika Sesil menuntut agar ular sanca milik Leon segera bersarang di goa kenikmatan Sesil, Leon selalu saja mengulur waktu.


"Ayo, Honey! Aku sudah tidak tahan, aku menginginkan milikmu," racau Sesil sambil mengocok miliknya sendiri dengan jarinya.


Leon tersenyum seringai. Bukannya menuruti keinginan Sesil, pemuda itu malah memainkan puncak dada wanita yang tengah dilanda gairah tinggi tersebut, hingga membuat Sesil semakin tersiksa dengan hasratnya yang belum tersalurkan.


"Leon, please ..." rajuk Sesil, memohon. Tatapannya sayu, dan wajahnya telah memerah karena menahan malu, amarah sekaligus hasrat yang sudah mencapai ubun-ubun.


Sesil benar-benar tersiksa dengan keadaan seperti ini. Apalagi, sudah satu jam lebih dia digantung seperti itu oleh Leon.


"Tangan kamu, Leon. Jika kamu tidak mau dengan milikmu, pakailah tangan kamu," pinta Sesil menghiba.


Leon tersenyum lebar. "Bagaimana kalau aku carikan alat bantu dulu di dapur? Barangkali ada timun, pare atau sejenisnya yang bisa memuaskan kamu?" Leon segera mengenakan celana dan pakaiannya kembal, setelah melihat ponselnya berkedip ada panggilan masuk dari Riko.


"Jangan lama-lama, Honey," rajuk Sesil yang benar-benar sudah tidak sabar ingin meledakan hasratnya.


Leon tidak menjawab. Pemuda itu hanya melambaikan tangan dan kemudian segera berlalu menuju pintu.


Baru beberapa saat Leon keluar dari kamar, pemuda itu telah kembali, tetapi tidak sendirian. Hingga membuat Sesil yang sedang asyik bermain solo, terkejut dan langsung menutup tubuh polosnya dengan selimut tebal.


"Em-Mas, I-ini tidak seperti yang kamu lihat. A-aku dijebak, Mas," ucap Sesil terbata.

__ADS_1


🌟🌟🌟🌟🌟 tbc ...


__ADS_2