Mengejar Bintang

Mengejar Bintang
Membangkitkan Gairah


__ADS_3

Di dalam toilet, Bintang memuntahkan semua isi di dalam perutnya. Makanan yang baru saja masuk tersebut, keluar kembali memenuhi wastafel.


Sementara perempuan bercadar yang mengikuti Bintang, merekam momen tersebut dengan kamera ponselnya, seolah dia sedang menelepon seseorang.


Setelah memastikan bahwa sudah tidak ada lagi yang bisa dikeluarkan, Bintang mencuci wajahnya agar terlihat sedikit lebih segar. Dia tidak mau, sang papa khawatir jika mengetahui dirinya muntah-muntah.


"Sepertinya sudah tidak begitu kentara jika aku habis muntah," gumam Bintang seraya mengusap wajah dengan tissue.


Gadis itu segera merapikan kembali rambut dan pakaiannya, mematut diri sebentar di depan cermin lebar yang ada di dalam toilet tersebut dan setelah yakin bahwa dirinya terlihat baik-baik saja, Bintang segera keluar.


"Sayang, apa kamu baik-baik saja?" tanya sang papa, begitu Pak Hadi melihat putrinya keluar dari dalam toilet.


"Tidak apa-apa, Pa. Bintang cuma kebelet pipis tadi," balas Bintang seraya tersenyum, malu.


"Kenapa lama sekali?" cecar Pak Hadi yang tidak percaya begitu saja pada ucapan sang putri.


"Namanya juga perempuan, Pa. Ya pasti ribet, lah, tidak seperti laki-laki yang bisa cepat kalau lagi ke kamar kecil," balas Bintang, meyakinkan.


Pak Hadi mengangguk, membenarkan. "Ya, sudah. Ayo!" ajak Pak Hadi seraya merangkul pundak sang putri.


Mereka berdua berjalan keluar dari restoran, yang kemudian diikuti oleh wanita bercadar dengan menjaga jarak aman.


Setelah Bintang dan sang papa masuk ke dalam mobil, wanita bercadar tersebut terlihat menghubungi seseorang.


🌟🌟🌟


Setibanya di rumah, Bintang hendak segera masuk ke dalam kamar.


Sang papa yang berusaha mencegah karena masih ingin ngobrol bersama putri tunggalnya tersebut, Bintang tolak dengan alasan sudah mengantuk berat. Padahal dia hanya butuh beristirahat sebentar, untuk menghilangkan rasa pusing yang menyerangnya sejak tadi.


"Maaf, Pa. Bintang sudah ngantuk banget," tolaknya, memelas.


"Ya sudah, istirahatlah." Sang papa kembali mengalah, demi melihat wajah Bintang yang memelas tersebut.


Pak Hadi kemudian mencium puncak kepala sang putri dan membiarkan Bintang masuk ke dalam kamarnya.


Laki-laki yang masih terlihat tampan di usianya yang hampir mencapai lima puluh tahun tersebut menghela napas panjang.


'Apa ada sesuatu yang disembunyikan putriku, ya?' batin Pak Hadi, bertanya-tanya.


Sementara di dalam kamar, Bintang langsung merebahkan tubuh di atas pembaringan empuk tanpa berganti pakaian terlebih dahulu.


Bintang memejamkan mata rapat, meskipun dia tidak tidur. Dinikmatinya sensasi rasa pusing yang menyerang kepalanya.


'Apa sebenarnya yang terjadi padaku?Apa ini rasa pusing biasa ataukah ada sesuatu yang salah dengan tubuhku?' tanya Bintang dalam hati.


'Sebaiknya, besok aku ke rumah sakit dan menemui Om Gun. Aku harus konsultasi sama beliau. Tapi ... tidak-tidak, papa tidak boleh tahu. Sebaiknya aku cari dokter dan rumah sakit lain, jangan di rumah sakit Om Gun karena nanti Om Gun pasti akan cerita sama papa.' Monolog Bintang masih sambil terpejam.


Cukup lama gadis itu memejamkan mata, hingga rasa nyeri di kepalanya berangsur berkurang.

__ADS_1


Dering ponselnya yang menggelepar di atas nakas, memaksa Bintang untuk beringsut dan kemudian mengambil ponselnya.


Tanpa melihat si penelepon karena Bintang sudah hafal dengan nada dering khusus tersebut, dia segera menerima panggilan dari sang kekasih pujaan hati.


"Halo, Kak Surya Sayang," sapa Bintang dengan suara ceria.


"Hai, Cantik. Belum tidur?" balas Surya dari seberang sana.


"Udah mau tidur, sih, tapi enggak jadi karena Kakak telepon," balas Bintang.


"Oh, ya udah. Aku matiin saja, ya," ucap Surya yang kemudian benar-benar mengakhiri panggilan teleponnya.


Bintang mengerutkan dahi, tak percaya dengan apa yang Surya lakukan. Tak biasanya kekasihnya itu mematikan telepon hanya dalam waktu sekejap.


Biasanya, Surya akan menelepon dirinya dengan durasi waktu yang panjang. Bahkan Bintang terkadang sampai ketiduran dan Surya dengan setia akan menemani sambil bercerita seolah sedang mendongeng untuk menina-bobokkan sang kekasih.


"Kak Surya kenapa, sih? Aneh banget!" Bintang mengerucutkan bibir, tak mengerti dengan sikap Surya barusan.


"Ya udahlah, mungkin dia tiba-tiba lagi ada sesuatu." Bintang mencoba untuk berpikir positif.


Bintang baru saja menyimpan ponsel di atas nakas dan hendak kembali merebahkan tubuh, ketika ponselnya kembali berdering.


Gadis berambut panjang sebahu itu mengerutkan dahi dan sedetik kemudian tersenyum, kala melihat panggilan video dari sang kekasih.


Buru-buru Bintang menerima panggilan video tersebut. Senyum Bintang semakin lebar ketika melihat wajah tampan sang kekasih yang sedang tersenyum manis, memenuhi layar ponselnya.


"Ah, Kakak selalu aja bikin Bintang terkejut," protesnya dengan bibir mengerucut.


"Katanya, kamu udah mau bobok. Ya udah, bobok gih! Biar aku temani," balas Surya yang menelepon sambil rebahan, sama seperti Bintang.


Mereka berdua kemudian melepas rindu dengan saling bercerita dan bercanda ria, hingga sangat lama. Bintang bahkan harus sambil mengisi daya baterainya karena sudah mulai lemah.


"Sayang, kalau udah ngantuk, sambil bobok aja. Posisikan ponselnya seperti biasa, ya," pinta Surya yang belum ingin mengakhiri panggilannya.


Bintang patuh. Dia tidur dengan posisi miring menghadap ke arah ponsel, di mana ada wajah sang kekasih yang sekarang tersenyum pada dirinya.


"Good night, Kak," pamit Bintang yang kemudian memejamkan mata.


"Good night, Cinta," balas Surya seraya menatap wajah Bintang melalui layar ponselnya. Tatapan yang hangat, penuh kasih dan sayang yang tulus.


Surya kemudian dengan lirih menyanyikan sebuah lagu pengantar tidur untuk sang kekasih hati. Lagu rindu yang dinyanyikan oleh Kerispatih, lagu andalan di album pertama mereka yang dirilis tahun 2005 silam.


'Bintang malam katakan padanya


Aku ingin melukis sinarmu di hatinya


Embun pagi katakan padanya


Biar ku dekap erat waktu dingin membelenggunya'

__ADS_1


'Bintang malam sampaikan padanya


Aku ingin melukis sinarmu di hatinya


Embun pagi katakan padanya


Biar ku dekap erat waktu dingin membelenggunya'


Tahukah engkau malam ini


Ku ingin bertemu membelai wajahnya


Kupasang hiasan angkasa yang terindah


Hanya untuk dirinya


Lagu rindu ini kuciptakan


Hanya untuk bidadari hatiku tercinta


Walau hanya nada sederhana


Ijinkan kuungkap segenap rasa dan kerinduan' ...


🌟🌟🌟


Sementara di apartemen Sesil. Delon yang baru saja masuk ke dalam apartemen kakak sepupunya tersebut, mencak-mencak setelah tes kesehatan yang dia lakukan tadi siang keluar hasilnya.


"Kita harus membalas perbuatan mereka, Sis! Aku tidak terima, pokoknya Bintang juga harus merasakan apa yang kita rasakan!" geram Delon, sambil membanting apa saja yang ada di hadapannya.


"De, tenangkan dirimu dulu." Sesil memeluk Delon, mencoba menenangkan adik sepupu sekaligus pemuas nafsunya tersebut, agar Delon tidak semakin merusak dengan membanting barang-barang miliknya.


"Aku tahu bagaimana cara membalaskan dendam kita, De. Kamu tenanglah dulu," pinta Sesil seraya menuntun Delon menuju kamarnya, untuk menghindari pecahan beling dan kaca yang berserak di lantai ruang tamu.


"Katakan sekarang juga, apa itu?" tagih Delon yang sudah tidak sabar ingin segera melihat Bintang menderita.


"Sabar, De, karena kita butuh waktu yang tepat," tolak Sesil yang belum ingin mengatakan apa rencananya karena dia tahu persis bahwa adik sepupunya tersebut orang yang sangat ceroboh dan kurang perhitungan, sehingga rencana Delon seringkali gagal termasuk ketika pemuda itu menculik Bintang di acara perpisahan sekolah waktu itu.


"Kenapa enggak sekarang aja, Sis?" kejar Delon.


Sesil menggeleng. "Nanti, jika saatnya sudah tepat, aku akan menghubungi kamu."


Sesil tersenyum penuh kemenangan. Wanita seksi itu kemudian duduk di pangkuan Delon yang sudah mulai tenang.


Dia mulai mencumbui leher Delon seperti biasanya, hingga membuat gairah Delon bangkit dalam waktu yang singkat.


"Kamu selalu pandai membangunkan milikku, Dear," bisik Delon di telinga Sesil. Pemuda itu kemudian menggigit kecil telinga Sesil, hingga membuat kakak sepupunya itu mende*sah manja.


Desa*han yang semakin membangkitkan gairah kelelakian Delon.

__ADS_1


🌟🌟🌟🌟🌟 tbc ...


__ADS_2