
Hujan deras menyelimuti jalan. Tepat pukul setengah lima sore, Laura keluar dari rumahnya untuk bekerja. Sesampainya di restoran Antonio, ia melepas jas hujan dan melipat payungnya perlahan. Restoran masih sepi. Para pelayan lain biasanya baru datang pukul setengah enam. Setengah jam sebelum restoran dibuka.
Laura memandang restoran yang kini sudah menjadi rumah keduanya selama hampir dua tahun. Ia tidak menyangka bisa bekerja selama itu. Tadinya ia ingin melanjutkan kuliah, tetapi ia merasa masih banyak yang bisa dipelajari di restoran Antonio, jadi ia memutuskan menunda kuliahnya setahun lagi.
Laura memulai pekerjàannya dengan membersihkan meja-meja makan. Ia suka saat-saat sepi seperti ini. Setelah selesai, ia beralih membersihkan meja dapur. Tangannya menyentuh alat-alat dapur dengan perlahan. Entah kapan ia bisa berdiri di sana dan menggunakan alat-alat tersebut.
Tak berapa lama kemudian terdengar suara pintu depan terbuka. Beberapa pelayan termasuk Maya masuk dengan tergesa-gesa. Mereka berusaha menghindar dari derasnya hujan.
"Jangan lupa," Maya mengingatkan sebelum mereka semua memulai pekerjaan. "Hari ini jam setengah tujuh ada tiga puluh orang yang akan merayakan hari ulang tahun pelanggan tetap kita. Aku mau semuanya berjalan lancar."
"Siap, mbak," kata para pelayan termasuk Laura.
Ketika waktu menunjukkan pukul 18.00 dan Antonio masih belum datang, Laura melihat Maya merasa khawatir. Maya langsung menelepon Antonio dan mendapat informasi bahwa bosnya itu terkena macet dan belum tahu kapan bisa tiba di restoran.
Mendengar penjelasan bosnya, Maya mulai panik. Ia mendapat telepon lima menit sebelumnya bahwa tamu mereka akan datang setengah jam lagi. Acara dibuka dengan tiup lilin dan potong kue, setelahnya dilanjutkan dengan menu spageti bolognise buatan Antonio. Seharusnya jam segini Antonio sudah menyiapkan spageti buatannya. Kalau ditunggu sampai tamunya datang pasti akan terlambat.
Maya menatap tiga koki lain yang berada di dapur. "Kalian bisa menggantikan Antonio memasak spagetinya?"
Ketiga koki berpandangan dan menggeleng. Selama ini Antonio tidak pernah mempercayakan memasak spageti special buatannya kepada para kokinya. Dan karena asistennya yang terakhir sudah dipecat minggu kemarin, Maya tidak punya jalan keluar.
"Apa yang harus kulakukan?" tanyanya pada para pelayan. "Antonio meminta untuk menunggu. Tapi tanpa kepastian. Kalian, para koki, tidak ada yang bisa memasak spageti buatan Antonio. Aku tidak mungkin membatalkan pesta ulang tahunnya. Restoran kita pasti akan kena dampaknya."
Maya bertanya lagi pada para koki, "kenapa kalian tidak mencoba dulu untuk membuatnya?"
Ketiga koki memandang Maya seakan-akan maya sudah kehilangan akalnya.
"Aku tidak bisa melakukannya," kata salah seorang koki. "Apakah mbak tahu bagaimana sifat bos menyangkut makanan buatannya? tidak ada seorangpun berani membuat makanannya. Lagi pula, kami tidak mau kena risiko dipecat."
"Jadi, maksud kalian aku harus membatalkan seluruh pesanannya?" kata Maya kesal.
Para koki mengangguk. Diikuti oleh para pelayan lain. Maya tampak putus asa.
"Jangan dibatalkan," kata Laura tiba-tiba. "kalau para koki tidak mau memasaknya, saya yang akan memasaknya."
Semua memandang Laura tidak percaya, termasuk Maya.
"Kau bisa memasak spageti bolognese seperti kepunyaan Antonio?" tanya Maya bingung.
Laura mengangguk. "Saya sudah mencobanya beberapa kali dirumah. Hasilnya tidak beda dengan kepunyaan signor Antonio."
Para pelayan lain tercengang mendengar keyakinan yang diungkapkan Laura.
"Bagaimana kalau sekarang saya masak satu porsi," saran Laura, "lalu mbak Maya bisa mencobanya terlebih dulu. Kalau masakan saya sama dengan kepunyaan signor, maka saya bisa memasak yang sama untuk tiga puluh orang berikutnya. Tapi kalau rasanya beda. Mbak bisa memutuskan untuk membatalkan pestanya."
"Kau yakin kau bisa melakukannya?" tanya Maya sekali lagi.
Laura mengangguk. "Saya yakin."
"Kalau begitu," kata Maya optimis, "silahkan kau gunakan dapurnya."
Laura tersenyum dan bergegas menuju dapur, lalu mulai mengisi panci dengan air dan memasaknya. Ia sudah melakukan ini berpuluh-puluh kali di dapur rumahnya. Ini pertama kalinya ia melakukannya di dapur restoran. Langkah-langkah yang dilakukan Antonio untuk membuat spageti bolognese sudah terpatri di ingatannya.
Saat mencicipi masakan Laura, Maya menatap Laura dengan senang. "Kau sudah melakukannya. Kau bisa meniru persis masakan buatan Antonio. Rasanya sangat enak."
"Terima kasih," kata Laura senang.
"Kau sanggup membuat tiga puluh lagi?" tantang Maya.
Laura mengangguk.
Tak berapa lama kemudian, para tamu berdatangan. Laura sudah siap dengan spagetinya dan tinggal membagi-baginya ke dalam tiga puluh piring serta menambah bumbunya.
Antonio baru sampai di restoran pukul 19.30. Para tamu sudah selesai menyantap makanannya. Dia langsung menuju dapur untuk meminta penjelasan.
"Siapa yang memasak spageti bolignese di depan?" teriaknya tanpa basa-basi sambil memandang para kokinya.
Ketiga koki yang ditatap menundukkan wajah untuk menghindari amarah Antonio.
"Saya yang memasaknya," kata Laura jujur dari belakang para koki.
Antonio berbalik dengan tidak percaya. "Kau? Kau berani memasak makanan buatanku?"
__ADS_1
Laura berusaha memberi penjelasan. "Maaf. Tapi kalau saya tidak memasaknya, pesta ulang tahun di depan bisa batal."
Antonio mengernyit kesal. "Biarkan saja batal. Tidak ada yang boleh memasak spageti bolognese selain aku. Itu menu special chef."
Laura terdiam. Ia tidak menyangka Antonio akan semarah ini.
"Kau," tunjuk Antonio pada Laura, "jangan pulang dulu nanti malam." Laura mengangguk perlahan.
Sepanjang malam itu hati Laura gelisah. Ia takut Antonio akan memecatnya. Saat tengah malam tiba dan restoran ditutup, Antonio melangkah ke ruang makan dan meminta Laura mengikutinya. Mereka tiba didepan restoran.
"Apakah kau bisa membaca nama restoran yang tertera di atas?" pinta Antonio keras.
Laura menjawab dengab gugup, "....Antonio."
Antonio mengangguk. "Benar. Apakah namamu ada disana?" Laura menggeleng.
"Aku tidak suka masakanku di masak oleh orang lain," Jelasnya marah-marah. "Apalagi kau tidak punya pengalaman memasak. Apa jadinya kalau orang-orang tadi mengetahui masakannya di masak oleh pelayan?"
Laura menunduk sedih. "Maaf."
"Katakan padaku," kata Antonio lagi, "kapan terakhir kali kau memasak spageti untuk orang sebanyak itu?"
Laura menelan ludah. "Saat bazar sekolah dulu."
Antonio tersenyum sinis. "Bazar sekolah? Kau samakan restoranku dengan bazar sekolah?"
"Tidak, bukan seperti itu." Laura berusaha memberi penjelasan.
"Saya benar-benar minta maaf. Saya tidak akan melakukannya lagi."
Antonio memandang Laura dengan kejam. "Tentu saja kau tidak akan melakukannya lagi. Bereskan barang-barangmu. Aku tidak mau melihatmu lagi."
Laura terpaku sesaat mendengar perkataan bosnya. Kakinya gemetar, tangannya lemas. Bayangan terburuk dipikirannya sudah menjadi kenyataan. Ia kehilangan pekerjaan.
Maya yang sedari tadi melihat mereka tanpa memberi komentar, tiba-tiba berkata pada Antonio.
"Ini semua bukan salah Laura. Aku yang menyuruhnya membuat spageti itu. Tolong maafkan Laura."
"Jangan marahi mbak Maya," kata Laura perlahan. "saya yang mengajukan diri untuk memasaknya."
Antonio menatap Laura lagi. "Jadi keputusanku memecatmu sudah tepat."
Laura terdiam. Ia melihat mata Maya yang berkaca-kaca menahan tangis. Lalu ia melihat pintu depan restoran yang sudah ia lalui ratusan kali. Hatinya tidak mau meninggalkan semua itu.
Saat Antonio hendak melangkah masuk, tiba-tiba Laura berbicara lagi. "Tunggu," ucapnya sambil mengumpulkan keberaniannya, "beri saya waktu satu minggu."
Antonio berbalik dan keningnya mengernyit keheranan. "Apa? Satu minggu?"
Jantung Laura berdetak kencang. Ia tidak tahu sampai kapan keberaniannya bisa bertahan. Jadi sebaiknya ia memanfaatkan momen ini untuk berterus terang pada Antonio.
"Kalau dalam satu minggu saya tidak bisa memasak makanan yang sesuai dengan selera anda, anda bisa memecat saya. Tapi kalau dalam satu minggu itu saya dapat melakukannya, saya ingin anda menarik kembali pemecatan diri saya... dan... saya ingin menjadi salah satu staf di dapur anda."
Antonio memandang gadis di depannya dengan sedikit kaget. Dia tidak menyangka ada orang yang berani menantangnya. (menarik juga), pikirnya.
"Baiklah," katanya sambil tersenyum singkat. "satu minggu. Aku memberimu waktu satu minggu saja. Tidak lebih. Kau kalah Laura. Aku yakin aku akan melihatmu keluar dari pintu ini seminggu lagi."
Mata Laura menantangnya. "Tidak kalau saya yang menang."
"Kita lihat saja nanti." balas Antonio.
Hari pertama
Laura memasak lasagna.
Antonio memandang sebelah mata. Mencicipinya sekilas lalu membuang masakan buatan Laura ke tempat sampah tepat di depan mata Laura.
Hari kedua
__ADS_1
Laura membuat fettucini.
Antonio hanya mencium baunya nasibnya berakhir sama dengan masakan Laura di hari sebelumnya.
Hari ketiga
Laura membuat ravioli keju.
Antonio mengambil salah satu ravioli buatan Laura tanpa minat dan mengunyahnya. Dia menghabiskan satu ravioli tanpa memuntahkannya. Harapan Laura sedikit naik saat itu. Tapi lalu kandas saat Antonio menyuruh salah satu kokinya membuang ravioli buatannya ke tempat sampah.
"Maaf," kata Antonio tersenyum mencibir. "Aku bahkan tidak bisa membuang sendiri makananmu karena perutku terasa mual setelah mencoba ravioli buatanmu."
Laura mulai berpikir bahwa apa pun makanan yang dimasaknya tidak akan diterima oleh Antonio. Tapi masih ada waktu empat hari lagi. Ia ingin membuktikan bahwa ia masih bisa melakukannya.
Hari keempat
Laura membuat spageti.
Antonio hanya memandangnya sambil berkata, "apakah kau tidak mau menyerah juga?"
"Tidak." Laura menggeleng. "Saya tidak akan menyerah."
"Kau sudah hampir kehabisan waktu," katanya mengingatkan.
"Anda belum merasakan makanan saya yang ini," kata Laura sambil menyodorkan piring spagetinya pada Antonio.
Antonio menggeleng. "Aku tidak perlu merasakannya. Aku sudah tahu spageti buatanmu tidak layak dimakan. Akui saja, kau tidak punya bakat untuk menjadi seorang chef."
Hari kelima
Laura membuat pizza.
Antonio menyindir Laura. "Dari mana kau belajar membuat pizza? Apakah dari buku tentang bagaimana membuat pizza untuk orang-orang bodoh? kau sama sekali tidak punya bakat."
Perlahan Antonio mengambil pizza Laura dan membuangnya ke tempat sampah, tanpa mencicipinya.
Hari keenam.
Pada hari keenam, Laura sudah lelah, baik secara fisik maupun mental. Penolakan demi penolakan yang dilakukan Antonio sudah mematahkan semangatnya. Pada hari keenam, Laura membuat spageti bolognese yang dibuatnya enam hari sebelumnya.
Antonio mengernyit kening ketika spageti itu berada di depannya. Dia mengambil garpu dan mencicipinya. Saat meletakkan garpunya kembali, dia memandang Laura dengan perasaan tidak suka. Tak berapa lama kemudian, nasib spageti bolognesenya sudah berada ditempat sampah.
"Kenapa?" protes Laura. "Saya membuatnya sama persis dengan buatan anda. Bahkan rasanya pun sama."
"Benar," kata Antonio tegas. "Kau membuatnya sama persis dengan buatanku. Apakah kau hanya bisa menjadi peniru? Kau tidak punya kreativitas. Seperti yang kukatakan sebelumnya berulang-ulang, kau tidak punya bakat. Sebaiknya besok kau menyerah saja dan bereskan barang-barangmu."
Mendengar itu, Laura merasa kecewa pada dirinya sendiri. Walaupun Antonio telah memperlakukannya dengan kejam, kata-kata pria itu memang ada benarnya. Siangnya, ketika Laura melayani pelanggan, ia tidak bisa berkonsentrasi, sampai ia tanpa sengaja menjatuhkan makanan yang dibawanya didepan seorang pelanggan.
Untungnya, Maya cepat-cepat mengatasi hal itu. Ia langsung meminta maaf, bersama dengan Laura, dan memberikan makanan cuma-cuma kepada si pelanggan.
Melihat semua itu dari jendela dapur, Antonio hanya mendengus. Saat Laura mengambil pesanan berikutnya dari dapur, Antonio berkata lagi, "Bagaimana mungkin kau bisa menjadi seorang chef hebat, kalau kau tidak bisa melakukan pekerjaanmu yang sekarang dengan benar?"
Laura meminta maaf.
"Pulanglah!" teriak Antonio. "kau hanya akan menambah kekacauan kalau terus berada disini."
Maya melihat muka pucat Laura sekeluarnya dari pintu dapur. Ia menghela napas panjang kemudian mendekati Laura. "Antonio memarahimu lagi?" Laura mengangguk.
"Tapi kali ini perkataannya benar. Sebaiknya kau pulang beristirahat. Kau benar-benar kelelahan." Maya menepuk pundak Laura perlahan. "Pelayan yang kelelahan tidak dapat bekerja dengan maksimal. Sebaiknya sore ini kau tidak usah masuk. Kau benar-benar butuh istirahat." Laura mengangguk.
Sebelum Laura pergi untuk mengganti seragamnya, Maya berkata lagi, “Laura. aku ingin kau tahu bahwa beberapa hari ini aku sepenuhnya mendukungmu. Sebelumnya tidak pernah ada orang yang berani melawan Antonio sepertimu. Jadi, pulanglah, istirahatlah, dan besok kejutkan Antonio dengan makananmu."
Laura tersenyum. " Terima kasih atas dukungannya, mbak."
__ADS_1