Mengejar Bintang

Mengejar Bintang
bab 17


__ADS_3

Laura turun dari taksi dengan terburu-buru. Setelah dua jam terjebak macet di jalan raya, ia menaiki tangga memasuki Gedung Rafael. Setahun lalu Laura mengusulkan untuk membuka jasa katering demi menaikkan penjualan restoran. Setelah uji coba beberapa kali dan berhasil, Antonio memutuskan untuk meneruskan jasa kateringnya untuk pesta ulang tahun, pernikahan dan pesta kantor.


Kini setelah satu tahun mengurus jasa katering tersebut, Laura berhasil mendapatkan klien besar.


Rafael Group bergerak di bidang properti, hotel, supermarket, dan otomotif. Direktur utamanya, Charles Rafael, yang pernah menyantap makanan di restoran Antonio, sangat menyukai masakan italia yang di masak Laura. Minggu kemarin ia menelepon untuk menyewa jasa katering restoran Antonio untuk pesta karyawan kantornya.


Walaupun belum pernah bertemu secara langsung dengan Charles Rafael, Laura bisa menyimpulkan bahwa beliau pria yang ramah setelah beberapa kali percakapan melalui telepon. Bahkan setelah mengetahui umur Laura yang masih muda, Charles Rafael bersikeras meminta Laura memanggilnya 'om'. Laura menganggap itu sebagai pertanda baik. Kalau jasa katering untuk Rafael Group berhasil, Laura yakin bisnis kateringnya bisa berkembang.


Setahun yang lalu Laura meminta mama untuk berhenti dari pekerjaannya. Setelah diangkat menjadi chef kepala di restoran Antonio, Laura tidak ingin mama bekerja keras lagi. Gaji Laura cukup untuk membiayai kebutuhan sehari-hari. Laura mengatakan pada mama, kini sudah saatnya dia yang menjaga mama.


Setelah dibujuk berulang kali, akhirnya mama setuju. Kini mama tinggal di rumah, dan untuk mengisi waktu dia mulai menjahit pakaian, hobinya yang dulu tidak sempat dilakukan.


Laura membawa kertas proposal untuk menu makanan pesta karyawan nanti sambil setengah berlari. Di depan lobi, dia diberi kartu tamu dan melanjutkan menuju lift yang akan membawanya ke lantai atas. Ia sudah terlambat satu jam dari janjinya. Pertanda yang tidak bagus untuk sebuah kerjasama yang baik. Ketika melihat pintu lift terbuka, Laura langsung berlari. Seorang pria masuk ke lift mendahului Laura. Saat Laura masuk, lift berbunyi. Tanda kelebihan orang. Laura mendesah kelelahan. Ia melihat orang-orang di belakangnya. Semuanya wanita, kecuali pria yang tadi ikut masuk dengannya.


"Maaf mas..." kata Laura sambil memohon. "Bisakah mas mengalah dan keluar lift ini? Saya sudah sangat terlambat untuk janji penting."


Pria itu memandang Laura tanpa rasa iba. "Aku masuk lebih dulu. Bukankah yang terakhir masuk yang harusnya mengalah?"


Laura tidak menyangka pria tersebut bisa berkomentar seperti itu. Dia kan pria satu-satunya di lift tersebut. "Saya benar-benar terlambat. Tak bisakah mas mengalah?"


Di belakang Laura, orang-orang mulai gelisah.


Dengan entengnya si pria berkata. "Bukan salahku kalau kau terlambat, kan?"


Akhirnya dengan berat hati karena tidak enak dengan orang-orang di belakangnya, Laura melangkah keluar dari lift. Sebelum pintu lift menutup, pria itu berkata lagi. "Kalian para wanita tidak mau diperlakukan khusus, kan? Wanita harus setara dengan pria. Hm.....apa itu istilahnya... emansipasi, bukan?"


Pintu lift tertutup. Laura kesal sekali. Pria tersebut benar-benar menjengkelkan. Terpaksa Laura menunggu lift berikutnya. Lima belas menit kemudian, ia sampai di ruang kerja Charles Rafael. Sekretaris Charles Rafael menyuruhnya untuk masuk setelah Laura memperkenalkan diri. Laura menarik napas panjang dan bersiap meminta maaf.


"Saya minta maaf, saya terlambat." Laura menatap mata Charles Rafael dengan sungguhsungguh. "Ada kecelakaan di jalan raya. Sehingga saya terlambat datang kemari. Maafkan saya."


Charles Rafael terpaku memandang Laura. Wajah Laura mengingatkannya pada seseorang di masa lalu.


Laura terdiam serba salah. Charles Rafael tidak berkomentar selama beberapa saat. "Ehm... Om... Saya Laura, chef kepala dari restoran Antonio. Maaf saya terlambat."


Charles Rafael kemudian tersadar dari lamunannya. "Oh iya, Laura. Aku sangat menyukai masakanmu."


"Terima kasih, om." Laura tersenyum. "Maaf, saya datang terlambat."


"Tidak apa-apa." Charles Rafael tersenyum ramah. "Silahkan duduk."


Laura duduk di sofa ruang kerja Charles Rafael. Ruang kerja tersebut sangat luas. Dekorasi bernuansa hitam putih mendominasi dinding ruangan. Laura menyiapkan kertas proposal menu yang sudah dibuatnya selama seminggu.


"Saya sudah membuat empat paket menu untuk pesta karyawan anda." Laura mengulurkan kertas proposalnya pada Charles. "Anda bisa memilih salah satu dari paket tersebut. Masing-masing paket terdiri atas makanan pembuka, makanan inti, makanan penutup, dan minumannya. Saya dengar acaranya nanti akan diadakan di hotel anda?"


Charles mengangguk. "Ya. Kau bisa berkoordinasi dengan manajer hotel. Acaranya minggu depan."


Laura mencatat nama manajer, waktu pelaksanaan, dan nomor telepon Hotel Rafael di bukunya. Tiba-tiba pintu ruangan Charles terbuka. Seorang pria masuk.


"Pa," kata pria tersebut. "Aku butuh tanda tangan untuk proyek ini."


Pria tersebut menyodorkan map biru pada Charles. Laura melihat wajah pria tadi dan kaget. Pria itu pria yang tadi di lift. Kekesalan yang tadi dirasakan Laura kembali muncul. Gara-gara pria di depannya tidak mau mengalah, Laura harus menunggu selama lima belas menit.


Charles menandatangani isi map tersebut lalu mengenalkan pria tadi pada Laura. "Laura, kenalkan, ini putraku. Luki...." Lalu katanya pada Luki, "Luki....ini Laura, chef kepala restoran Antonio yang akan mengurus pesta karyawan kita minggu depan."

__ADS_1


Luki tersenyum kecil melihat kekesalan di mata Laura.


"Laura... senang bertemu denganmu."


Laura tidak punya pilihan selain berdiri dan menjabat tangan Luki *si pria menyebalkan* Rafael dengan kesal. "Senang... bertemu dengan anda juga."


"Proposal menu Laura sangat menarik." Charles Rafael memberikan proposal tersebut pada putranya. "Kau belum pernah makan di restoran Antonio, kan? Papa jamin makanannya benarbenar enak."


Luki Rafael menatap Laura yang terlihat kesal dengan kejadian di lift tapi berusaha menutupinya dengan senyuman. "Pa, bagaimana kalau aku saja yang mengurus soal ini. Beberapa hari ke depan papa kan sibuk dengan kontrak kerja sama dengan perusahaan Jepang."


("Apa?") Laura berteriak dalam hati. ("Aku harus bekerja dengan pria menyebalkan seperti


Luki? Tolong jawab tidak, om. Saya tidak mau bekerja dengan putra om.") "Benar juga." Charles mengangguk. "Kau tidak keberatan mengurus ini, Luki?"


"Tidak sama sekali." Luki tersenyum lebar dan memandang Laura yang mati kutu.


"Kau tidak keberatan aku bekerja denganmu, kan?" Luki berkata pada Laura lagi.


Laura berusaha menahan kekesalannya dan terpaksa tersenyum. "Tentu saja tidak. Aku akan senang bekerja bersama anda."


Luki mendekati Laura dan berkata perlahan. "Oh.... kita akan bersenang-senang kok." Sudah lama Luki tidak bermain-main dengan seseorang. Dia yakin permainannya dengan Laura pasti akan menyenangkan. Sejak kembali dari luar negeri enam bulan yang lalu, hari-hari Luki di penuhi pertemuan bisnis. Sebenarnya Luki lebih suka bersenang-senang di luar negeri dengan mobil formula satunya. Tapi setelah kecelakaan kecil yang menyebabkan kakinya patah, papanya menyuruhnya pulang. Ketika Luki bersikeras tidak mau pulang, papa malah terkena serangan jantung dan harus dirawat dirumah sakit. Akhirnya Luki mengalah dan pulang ke Indonesia. Hubungan Luki dan papanya memang tidak pernah akur, tapi Luki tidak mau papanya sakit garagara dia. Jadi selama enam bulan ini dia berusaha menjadi putra yang baik bagi papa supaya penyakit papa tidak kambuh lagi.


Luki melihat papa yang sedang memandangi wajah Laura dengan penuh perhatian. Luki mengernyitkan kening.


Merasa dipandangi oleh Charles, Laura berkata, "Apakah ada sesuatu pada wajah saya?"


Charles tersenyum. "Tidak. Hanya saja wajahmu mengingatkanku pada seseorang."


Laura tersenyum. "Oh, begitu." Pandangan Laura beralih pada Luki. "Saya akan menghubungi anda lagi, Luki. Saya harap dalam dua hari anda bisa menentukan menu mana yang anda pilih. Maaf, saya masih ada pekerjaan di restoran. Apakah saya boleh permisi?"


Begitu pintu ruangan Charles tertutup, Luki menatap wajah papanya dengan tajam. "Gadis itu mengingatkan papa pada siapa? Wanita itu?"


Charles manarik napas kesal. "Wanita itu ibumu."


Kini giliran Luki yang mendengus kesal. "Ibuku sudah meninggal. Papa menikahi wanita itu hanya setahun setelah mama meninggal. Apakah papa tidak ingat?"


"Papa ingat." Charles memandang putranya dengan tajam. "Untung saja wanita itu tidak pernah muncul lagi di hadapanku." Luki menatap papa dengan kesedihan yang mendalam.


"Suka atau tidak, dia masih istri papa." Charles menatap putranya dengan kesal.


"Aku harap papa tidak pernah bertemu lagi dengan wanita itu," kata Luki perlahan tapi pasti.


"Luki.....kau...." Charles tidak tahu harus mengatakan apa untuk mengungkapkan amarahnya. "Aku tidak mau kembali ke sini," Luki membuka pintu ruang kerja papanya, "tapi papa memaksaku datang. Aku sudah memenuhi permintaan papa. Apalagi yang papa mau? Aku tidak mau bertengkar lagi tentang masa lalu."


Pintu ruang kerja Charles ditutup. Charles duduk kembali di kursi kerjanya. Dia menarik laci mejanya, dan memandang foto seorang wanita yang sedang tersenyum padanya.


 


*******************************************


Laura sudah setengah jalan dari restoran ke gedung Rafael ketika HP nya berbunyi. Di layar HP tertulis Luki Rafael.


"Apa?" Tanya Laura kesal. Sudah sejak pukul lima pagi, saat Laura masih tidur lelap, Luki mengganggunya dengan meminta memasakan Menu A untuk dibawa ke gedung Rafael sebelum jam kantor mulai. Luki bilang dia hanya punya waktu luang pada waktu tersebut. Setelah terburu-buru mandi dan berpakaian seadanya, Laura pergi ke restoran untuk menyiapkan makanan di menu A. Setelah selesai, dia memasukkan makanan tersebut ke kotak makanan dan memanggil taksi.

__ADS_1


Kini lima belas menit kemudian Luki meneleponnya.


"Aku lupa bilang....," kata Luki tanpa rasa bersalah." Rasanya aku lebih cocok dengan menu B.


Apakah kau bisa membawakanku menu B saja? Menu A nya tidak jadi."


Reaksi Laura adalah ingin mendamprat Luki saat itu juga, tapi ia tahu ia tidak bisa melakukannya. Pelanggan adalah raja. "Aku akan kembali ke restoran untuk memasak menu yang baru."


"Thanks," kata Luki. "Maaf merepotkanmu."


Mulut Laura cemberut, tapi perkataan yang keluar adalah, "tidak apa-apa. Kemungkinan aku akan datang terlambat ke kantormu."


"Kalau bisa jangan lebih dari jam delapan pagi," Luki mengingatkan.


Laura menutup teleponnya dengan kesal dan berkata pada sopir taksinya, "Pak, kembali ke restoran."


 


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


Pukul 07.58, Laura tiba di depan kantor Luki.


"Aku kira kau tidak akan sempat," kata Luki ketika Laura memasuki kantornya.


Laura meletakkan paket menu B di depan meja Luki. "Satu-satunya penjelasan adalah... hmmm..... karena aku seorang chef yang hebat. Selama ini aku tidak pernah mengecewakan pelangganku."


Luki tersenyum melihat kepercayaan diri Laura, tapi sebentar lagi dia akan menghancurkannya. "Bisakah kau membukakan kotak makanannya?"


Laura membuka kotak makanannya dan menyodorkan garpu ke hadapan Luki, setengah berharap garpu tersebut bisa menusuk jantung pria itu. Tapi Laura menggantinya dengan tersenyum manis. ("Ingatlah,Laura,") katanya dalam hati, ("dia adalah pelanggan").


Luki mencoba mencicipi spageti Laura, tapi kemudian meletakkan garpu. "Ehm... aku rasa sebaiknya aku pindah lagi ke menu A. Jadi sebaiknya kau menyiapkan lagi menu A untuk besok pagi. Waktu yang sama. Sebelum jam delapan."


Laura memandang Luki dengan tenang. Luki kebingungan dengan tatapan Laura padanya. "Kau bisa keluar dari ruanganku sekarang. Sampai jumpa besok."


Laura berdiri dan mengambil satu-persatu kotak makanan dari tas yang dibawanya tadi dan meletakkannya di depan Luki. Totalnya berjumlah sembilan kotak makanan. Laura membuka semua tutup kotak tersebut dan menunjuk tiga kotak paling kiri. "Menu A." Lalu menunjuk tiga kotak selanjutnya. "Menu C." Terakhir dia menunjuk tiga kotak paling kanan. "Menu D. Kau bisa mencoba semua menu hari ini juga."


Luki tercengang. Dia tidak menyangka Laura bisa menyiapkan semua menu dalam waktu yang singkat.


Laura tersenyum penuh kemenangan melihat tampang Luki yang terdiam. "Kau sudah mencicipi menu B. Silahkan mencicipi tiga menu yang lain..... Aku sudah bilang kan, aku chef hebat?" Laura mengambil garpu baru dari tasnya dan menyodorkannya pada Luki. "Aku tidak punya banyak waktu untuk menyiapkan bahan makanan untuk tiga ratus karyawan yang tinggal dua hari lagi. Kalau kau tidak keberatan, aku mau kau memutuskan menunya hari ini juga."


Luki mengambil garpu baru dari tangan Laura. Kali ini dia mengaku kalah pada gadis di depannya. Setelah mencicipi semua menu, Luki memutuskan untuk memilih menu A.


Laura mengeluarkan selembar kertas. "Aku mau kau menandatangani kertas ini."


"Apa ini?" Tanya Luki sambil mengambil kertas dari mejanya.


"Perjanjian kerjasama antara perusahaanmu dan restoranku. Di situ tertulis kau sudah memilih menu A dan tidak akan mengubah pilihanmu lagi. Kalau kau mengubahnya sehari sebelum pesta, perusahaanmu yang menanggung semua ganti ruginya."


Luki membaca perjanjian tersebut. Dia sudah meremehkan kemampuan Laura. Kali ini dia kalah telak dari seorang gadis. Luki mengambil balpoinnya dari meja dan menandatangani perjanjian tersebut.


Laura memberikan satu salinan untuk Luki dan mengambil satunya lagi untuk dirinya. "Terima kasih."


Laura membereskan kotak makanan di meja Luki dan merapikannya kembali ke dalam tasnya. Sebelum Laura pergi, Luki berkata, "aku terlalu meremehkan dirimu bukan?"

__ADS_1


"Aku tidak menyukai permainanmu, Luki," kata Laura serius. "Aku menyukai pekerjaanku. Aku tidak akan bermain-main dengan pekerjaanku. Sampai ketemu dua hari lagi."


Laura meninggalkan Luki yang menatap pintu kantornya lama setelah itu.


__ADS_2