
"Ada hubungan, hubungan apa? Apa maksud kamu, Sayang?" tanya Pak Hadi, pada Sesil.
"Loh, memangnya Mas enggak tahu? Sewaktu acara gathering itu 'kan, mereka berdua terlibat affair dan mereka melakukan hubungan terlarang di toilet, Mas. Makanya Bintang sampai lemes 'kan, waktu itu," terang Sesil, membuat Bintang membulatkan mata tak percaya bahwa calon istri papanya tersebut tega menyebarkan fitnah keji terhadap dirinya.
"Bintang! Papa tunggu di rumah!" Pak Hadi langsung menutup telepon tanpa menunggu jawaban dari Bintang.
"Ada apa, Beib? Sepertinya, papa kamu sangat marah?" tanya Surya yang dapat mendengar sayup-sayup percakapan Bintang dengan sang papa.
"Tidak marah, kok, Kak. Papa hanya ingin Bintang segera pulang karena papa khawatir," balas Bintang tak ingin jujur.
Bintang tidak ingin membebani sang kekasih dengan masalahnya yang jika Surya tahu tentang hal ini, bisa jadi kekasih Bintang tersebut akan menggagalkan penerbangan dan memilih mendampingi dirinya.
Sementara Riko tidak mendengar obrolan Bintang dan papanya karena begitu ponsel miliknya diserahkan pada Bintang tadi, Riko kemudian kembali masuk ke dalam lobi bandara untuk bertemu dengan orang tua Surya dan menjelaskan semua agar mereka tidak khawatir.
"Sayang, aku tidak ingin kamu menutupi apapun dariku," ucap Surya yang seolah tahu apa yang terjadi dengan sang kekasih.
"Tidak, Kak, Bintang tidak menutupi apapun. Kalau ada apa-apa, Bintang pasti akan cerita sama Kakak," balas Bintang.
'Tapi lain kali, jika Bintang sudah dapat menyelesaikan semuanya,' lanjut Bintang dalam hati.
"Bro, ayo!" ajak Gio ketika terdengar panggilan untuk segera bersiap.
"Sayang, aku berangkat dulu, ya. Nanti setibanya di sana, aku akan segera kabari kamu. Jaga diri baik-baik, Sayang. Love you," pamit Surya.
"Love you too, Kak," balas Bintang yang kemudian menutup telepon dengan air mata berderai.
Bintang merasakan langkahnya akan berat setelah ini. Gadis itu menarik napas panjang dan kemudian buru-buru mengusap air mata karena melihat Riko berjalan mendekat.
"Sudah, Kak? Bunda gimana?" tanya Bintang setelah Riko masuk ke dalam mobil.
"Tadinya, mereka sangat kecewa dengan Surya dan mereka sangat mengkhawatirkan kamu. Setelah aku jelaskan semua, mereka merasa lega, tapi Bunda sepertinya tetap khawatir sama kamu, Bin,' terang Riko.
__ADS_1
"Bunda memintaku untuk mengajak kamu ke rumahnya dulu sebelum mengantar kamu pulang," lanjut Riko seperti yang diminta oleh bundanya Surya.
Bintang merasa sangat bahagia karena bundanya Surya begitu perhatian terhadap dirinya, tak seperti calon ibu yang dipilih oleh sang papa yang justru menghadirkan masalah bagi Bintang.
"Maaf, Kak. Tadi papa menyuruh Bintang agar segera pulang," tolak Bintang dengan halus. "Kalau Kak Riko nanti main ke sana, Bintang nitip salam saja, ya," lanjutnya penuh penyesalan karena tidak dapat memenuhi keinginan bundanya Surya.
Riko yang sudah melajukan mobil, mengangguk. "Iya, enggak apa-apa. Nanti aku sampaikan pada bunda," balas Riko.
πππ
Setibanya di rumah Bintang, kekasih Surya tersebut langsung mengusir Riko begitu melihat aura kemarahan sang papa yang berdiri menantinya di teras.
Di samping Pak Hadir, berdiri Sesil dengan bersidekap dan tersenyum sinis ke arah mobil Riko, dimana ada Bintang di dalamnya.
"Bin, ada apa? Sepertinya, papa kamu sangat marah?" tanya Riko, hendak membuka handle pintu untuk ikut turun.
"Kak Riko, Kakak mau langsung ke tempat bunda, kan?" cegah Bingung dengan isyarat tangan. "Kakak enggak usah turun, ya, Kasihan bunda kalau lama menunggu Kakak," lanjutnya beralasan.
"Tapi, Bin. Papa kamu ...."
Riko mengangguk. "Makasih ya, Kak. Udah nganterin Bintang sampai rumah," pamit Bintang sebelum turun dari mobil Riko.
"Minggu depan aku baru berangkat ke ibukota, kalau ada apa-apa segera kabari aku," pinta Riko dengan perasaan khawatir. Sahabat Surya tersebut dapat menebak, bahwa Bintang menyembunyikan sesuatu.
"Iya, Kak. Kakak jangan khawatir dan terimakasih atas perhatian Kak Riko," balas Bintang seraya tersenyum.
Kekasih Surya itu kemudian segera turun dan melambaikan tangan pada Riko, ketika mobil Riko berlalu.
'Maaf, kak. Aku enggak ingin Kak Riko tahu masalahku karena pasti akan sampai ke telinga Kak Surya dan aku enggak mau membebani Kak Surya,' batin Bintang sambil berjalan lesu menghampiri sang papa.
Bintang tahu persis bagaimana persahabatan Surya dengan Riko dan Gio. Mereka seperti tak terpisahkan dan saling mendukung dalam segala hal.
__ADS_1
Apa yang disayangi oleh salah satu dari mereka, maka yang lain pun akan ikut menjaganya. Seperti menjaga saudara sendiri.
"Plak!" Satu tamparan mendarat di pipi Bintang yang langsung menghempas bukan hanya lamunan Bintang, tetapi juga tubuh gadis tersebut yang langsung terhuyung ke belakang beberapa langkah.
Perih memang dia rasakan di pipi, tetapi masih lebih perih hati Bintang saat ini.
Tanpa meminta penjelasan padanya, sang papa langsung menghakimi dengan memberikan tamparan yang sangat kuat.
Bi Narsih yang melihat kejadian tersebut dari ruang tamu, sampai menitikkan air mata dan terperangah tak percaya.
Berbeda dengan Bintang, gadis itu memang tidak percaya dengan apa yang barusan dia terima dari sang papa, tetapi Bintang sama sekali tidak mengeluarkan air mata.
"Anak kurang ajar! Pasti pergaulan kamu dengan Surya yang bebas itu yang membuatmu bisa melakukan hal menjijikkan dengan Delon kemarin!" hardik sang papa seraya menuding Bintang dengan jari bergetar.
Bintang memejamkan mata. Menyayangkan perkataan papanya yang bukan hanya menuduh dirinya melakukan perbuatan yang tidak-tidak, tetapi sang papa sekaligus menuduh Bintang dan Surya telah bergaul dengan bebas selama ini.
"Pa, apa kita bisa bicara dengan baik-baik?" pinta Bintang sambil melangkah kembali mendekati sang papa.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan! Kalau saja dari awal papa tahu, Surya tak sebaik yang papa kira, papa pasti akan melarang kamu untuk berhubungan dengan dia!" Suara Pak Hadi meninggi, emosi papanya Bintang tersebut sepertinya benar-benar sedang memuncak.
"Nasi sudah menjadi bubur! Bukan hanya dengan Surya, kamu bahkan sudah terbawa pengaruh buruk pemuda sialan itu sampai-sampai kamu bisa melakukan hal menjijikkan dengan Delon di toilet!" tuduh Pak Hadi tanpa bukti, seperti yang dia dengar dari Sesil.
Bintang menelan saliva, getir. Begitu buruk dirinya di hadapan samg papa saat ini, sedangkan dia sama sekali tidak dapat melakukan pembelaan karena sang papa sedang dikuasai oleh amarah.
Sementara di samping papanya, Sesil terus menyulut kemarahan Pak Hadi dengan mengarang cerita dan menjelekkan Surya.
"Mulai saat ini, jangan pernah berhubungan dengan Surya! Ponsel dan segala fasilitas kamu, papa sita!" pungkas Pak Hadi tanpa memperdulikan Bintang yang meringis menahan rasa sakit di kepala yang tiba-tiba kembali menyerang.
Setelah mengambil paksa ponsel Bintang, Pak Hadi dan Sesil melangkah menuju mobil. Entah mau kemana mereka.
Baru saja mobil mewah Pak Hadi yang dikendarai Sesil melaju meninggalkan pintu gerbang, tubuh Bintang ambruk dan kepalanya membentur lantai marmer yang dingin.
__ADS_1
"Non Bintang ..."
πππππ tbc ...