
Mendengar sang putri mengigau memanggil sang mama dan ingin ikut dengan mamanya, membuat hati laki-laki itu hancur.
"Maafkan Papa, Nak. Maaf ...." Pak Hadi berlutut di sisi ranjang dan kemudian mengusap puncak kepala Bintang, dengan air mata berlinang.
Pak Hadi mengusap air matanya dengan lengan baju dan kemudian mencium kening putrinya dengan dalam.
Rasa penyesalan yang teramat sangat membuat air matanya kembali jatuh dan membasahi wajah Bintang, hingga membuat gadis cantik yang sedang tidur itu terbangun.
"Papa," sapa Bintang, membuat Pak Hadi menjauhkan sedikit wajah dan kemudian tersenyum hangat pada putrinya dengan air mata yang masih menggenang di pelupuk mata.
"Benarkah ini Papa? Bintang tidak sedang bermimpi kan?" Bintang meraba wajah sang papa, hingga membuat air mata penyesalan Pak Hadi kembali mengucur dengan deras.
"Maafkan papa, Sayang. Maaf ..." ulang Pak Hadi yang kemudian memeluk sang putri.
Bintang membalas pelukan papanya seraya tersenyum bahagia. Tak ada dendam di hati Bintang, meski apa yang dia terima tadi begitu menyakitkan.
"Bintang senang papa kembali pulang," ucap Bintang setelah sang papa melerai pelukan.
Gadis itu kemudian menyandarkan kepalanya dengan manja di bahu sang papa, setelah Pak Hadi duduk sambil menyandarkan punggung pada head board ranjang, di samping Bintang.
"Pa, sebenarnya ada yang mau Bintang tunjukkan pada papa, tapi ...." Sejenak Bintang menghentikan ucapannya dan kemudian mendongak menatap sang papa.
"Tapi apa, Sayang? Katakanlah," titah sang papa.
"Papa jangan marah, ya," pinta Bintang.
"Kenapa papa harus marah?" Pak Hadi mengerutkan dahi.
__ADS_1
"Gadis berpenampilan seksi yang bersama Kak Surya tadi, Pa. Dia, dia adalah orang suruhan," terang Bintang.
"Suruhan siapa?" tanya Pak Hadi nampak tidak sabar.
"Papa bisa lihat sendiri siapa yang menyuruhnya dan buktinya ada di ponsel Bintang," balas Bintang.
"Katakan saja, Nak?" desak Pak Hadi.
Bintang menggeleng. "Bintang khawatir, Papa akan salah paham dan mengira Bintang memfitnah orang lain," tolak Bintang yang memilih bungkam.
Pak Hadi menghela napas kasar. Meski penasaran, tetapi dia tidak mau memaksa putrinya. Jika Bintang tidak mau mengatakan secara langsung, pastilah karena putrinya itu masih merasa tidak nyaman karena dia asal menuduh Bintang tadi.
"Papa akan telepon Mama Sesil agar mengantar mobil papa ke rumah karena ponsel kamu ada di dalam mobil," ucap Pak Hadi seraya menelepon sang calon istri.
"Halo, Mas," sapa Sesil di seberang sana dengan napas memburu, setelah tiga kali Pak Hadi menelepon dan barulah pada panggilan ketiga, teleponnya diterima oleh wanita muda tersebut.
"Aku baru saja masuk ke lobi, Mas. Aku lari tadi dari parkiran," kilah wanita yang masih berada di unit apartemen milik Delon.
Mereka berdua baru saja pindah dari bath-up untuk melanjutkan permainan di ranjang yang empuk.
Delon dengan terpaksa menghentikan aktifitasnya karena ponsel wanita yang sedang berada di bawah kungkungannya, terus berdering.
Sesil segera beranjak dari pembaringan dan kemudian mengambil ponsel yang berada di kantong cardigan, yang dia buang sembarangan di lantai berkarpet tebal di kamar mewah milik Delon.
Delon yang masih berada di puncak hasratnya, menyusul sang wanita dan menusuk Sesil dari belakang ketika wanita itu menerima panggilan.
"Kamu bisa ke rumah sekarang, kan? Ada yang harus kita bicarakan," pinta Pak Hadi, kemudian.
__ADS_1
"Jangan sekarang ya, Mas. Nanti jelang makan malam saja, sekalian aku bawakan makanan untuk Mas dan Bintang," balas Sesil, mencoba mengambil hati sang calon suami.
Pak Hadi sudah berada di kediamannya dan itu artinya, calon suami Sesil itu sudah bertemu dengan Bintang.
Mungkin saja, Bintang sudah mengklarifikasi bahwa dia tidak pernah ada hubungan apa-apa dengan Delon dan Sesil harus berpikir keras untuk kembali membuat Pak Hadi tidak percaya pada putrinya.
Untuk itulah, Sesil harus bersikap manis pada sang calon suami dan calon anak sambungnya tersebut.
"Hem, baiklah," balas Pak Hadi yang kemudian menutup teleponnya, membuat Sesil yang masih dikerjai Delon, bernapas dengan lega.
"Huh, untung saja dia percaya padaku kalau aku habis lari-larian dari parkiran," ucap Sesil seraya terkekeh senang.
Sesil kemudian melempar ponselnya ke atas ranjang dengan asal dan segera menyambut cumbuan Delon yang sekarang menyerang Sesil dari depan, setelah puas mencumbui saudara sepupunya itu dari belakang.
"Tua bangka itu memang bodoh! Tidak dapat membedakan mana suara yang berhasrat dan mana suara yang benar-benar ngos-ngosan," ledek Delon yang kemudian tergelak, senang.
Pemuda itu melepaskan jerat tangannya pada tubuh Sesil dan kemudian berjalan menuju almari pendingin kecil yang berada di atas meja, di sudut kamar.
Delon mengambil dua botol kecil minuman beralkohol tinggi, membuka tutup kedua botol tersebut dan kemudian menyerahkan satu botol kepada Sesil.
Keduanya bersulang sebelum meminum minuman yang dapat menghangatkan tubuh, melenakan dan membangkitkan kembali gairah.
"Kamu masih punya banyak waktu, kan?" Delon kembali memeluk tubuh polos Sesil dan mulai mencumbui area sensitif saudara sepupunya.
"Aku selalu memiliki banyak waktu untuk bermain denganmu, Brother," balas Sesil dengan suara mende*sah manja.
Kedua insan yang masih ada ikatan darah tersebut, kembali melanjutkan permainan yang sempat terjeda.
__ADS_1
Hingga ruangan yang kedap suara milik Delon, kembali dipenuhi dengan suara-suara seksi karena pergulatan panas di atas ranjangnya yang empuk.