
Di kediaman Dirga, saat ini Naya sedang santai di ruang keluarga sambil membaca novel online kesukaannya.
" Si kembar mana Nay, kenapa jam segini belum pulang ?" tanya Nadiya yang ikut duduk di sebelah putrinya.
" Tidak tahu Mom, mungkin sebentar lagi pulang " sahut Naya.
Mendengar itu Nadiya mengangguk mengerti.
" Apa kamu tidak ke kantor lagi Nay, jam segini masih Santai di sini ?" tanya Nadiya lagi.
" Tidak Mom, tanggung mau balik lagi ke kantor sudah jam segini, jadi di rumah saja lagi. " sahut Naya.
Mendengar itu Nadiya pun mengangguk mengerti.
***
Di rumah sakit, setelah lama menunggu akhirnya datang juga dua orang yang langsung masuk ke dalam ruangan tempat dimana gadis cupu itu di rawat.
__ADS_1
" Ya tuhan Nak, apa yang sudah terjadi hiks hiks hiks kenapa sampai seperti ini hiks hiks hiks... " kata wanita paruh baya yang langsung memeluk gadis Cupu yang masih terbaring lemah itu.
" Maaf kami baru datang nak, terimakasih sudah membantu, kalau boleh tahu apa yang sudah terjadi pada putri kami ?" kata pria paruh baya sambil mendekati si kembar yang masih duduk di kursi yang ada di ruangan itu.
" Tidak apa-apa pak, sama - sama pak, sebenarnya yang terjadi padanya karena ia di bully, tadi pas kami pulang sekolah di jalan kami melihatnya di bully oleh beberapa orang hingga sampai seperti ini. Karena kondisinya yang sangat parah makanya kami langsung membawanya ke rumah sakit " jelas Dito yang juga di anggukan Denis.
" Ya tuhan Nak, kenapa kamu sampai di bully hiks hiks hiks... ibu tidak rela anak ibu di perlakukan seperti ini Pak hiks hiks hiks... " jerit wanita paruh baya itu yang tidak terima melihat anaknya sampai seperti ini.
" Bapak juga Bu, bapak akan laporkan ke polisi orang yang sudah membullly anak kita, tunggu saja " kata pria paruh baya itu dengan wajah yang merah padam menahan amarahnya.
Mendengar itu Dito dan Denise hanya diam saja dan mengiyakan apa yang di katakan kedua paruh baya itu.
Dito dan Denise saling pandang, mereka bingung harus menjawab apa, tapi melihat amarah pabak itu mau tidak mau mereka berdua mengatakannya.
" Mereka adalah siswa yang juga satu sekolah dengan kami Pak, tapi kita tidak bisa langsung melaporkan mereka, karena kita tidak mempunyai bukti untuk menjerat mereka " sahut Dito.
" Benar Pak, meskipun kita tahu orangnya, kalau tidak ada bukti akan percuma saja " sahut Denis juga membenarkan.
__ADS_1
Mendengar itu wajah bapak paruh baya yang tadinya penuh amarah, berubah menjadi sendu dan sedih.
" Kalian benar... Ya tuhan apa yang harus hamba lakukan, hamba tidak rela anak hamba satu - satunya di perlakukan sampai seperti ini, hiks hiks hiks... " kata pria paruh baya itu lagi yang merasa sangat tidak berdaya dan tidak mampu untuk melindungi putri semata wayangnya itu.
" Sabar Pak, mau bagaimana lagi, kita hanya orang biasa tidak mungkin kita bisa melawan orang - orang seperti mereka, kita tidak punya apa-apa untuk melawan mereka " kata wanita paruh baya itu lagi sambil memeluk suaminya yang terduduk lemas.
" Sudahlah Pak, yang penting putri kita sudah selamat sekarang, setelah ini ibu tidak mengijinkan lagi putri kita sekolah di sekolah itu, ibu tidak mau hal seperti ini terjadi lagi pada putri kita " kata wanita paruh baya itu menatap sedih putrinya.
Si kembar yang mendengar itu hanya bisa diam, mereka juga tidak dapat berbuat apa-apa, meskipun sebenarnya mereka ingin membantu untuk memberi hukuman pada orang yang membully gadis cupu itu.
Tapi si kembar tidak punya bukti untuk menjerat mereka, sehingga tidak ada yang dapat mereka lakukan sekarang.
Setelah menjelaskan semuanya, si kembar pun pamit pulang karena merasa tugas mereka sudah selesai, dan orang tua gadis cupu itu sangat berterima kasih atas bantuan mereka berdua, hingga putrinya selamat.
" Huuuh... kasihan sekali, jaman sekarang yang ber duit lah yang akan menang, mereka orang - orang yang tidak mampu hanya bisa menerima keadaan saja " kata Dito dalam perjalanannya.
" Apa kau menyukai gadis cupu itu, kalau begitu bantu dia mendapatkan keadilan " kata Denis juga di sela perjalanan pulang.
__ADS_1
Dito tidak menjawab, dan hanya diam saja memikirkan semuanya, begitu juga dengan Denise.