
Meskipun sangat terkejut, tapi Flo dan Nisa sudah bisa menduga kenapa mereka berdua di panggil ke ruangan kepala sekolah.
Tanpa menunggu lama lagi, Flo dan Nisa langsung mengikuti pak guru itu menuju ruangan kepala sekolah.
Sesampainya di sana setelah mengetuk pintu dan mendapatkan sahutan dari dalam, pak guru dan Flo serta Nisa langsung masuk ke dalam ruangan itu.
Ternyata di dalam kelima siswa yang di hajar Flo kemarin beserta orang tua mereka sudah berada di sana begitu juga dengan orang tua Rosa dan Bobi, mereka semua memandang kedatangan Flo dan Nisa dengan tatapan yang sangat tidak suka.
Nisa langsung memegang tangan Flo, dan Flo hanya mengangguk agar Nisa tenang menghadapi mereka.
Tidak lama setelah Flo dan Nisa masuk ke dalam ruangan itu, awalnya Flo sedikit gugup dan takut, tapi setelah mengedarkan pandangannya, tak sengaja Flo melihat Alan dan pemuda yang berpapasan dengannya kemarin juga berada di tempat itu, sehingga membuat Flo langsung tenang.
FLO yakin meskipun asisten pribadi papahnya itu tidak mengenalinya, tapi ada harapan untuk Flo menghadapi semuanya, maka dengan langkah tenang Flo menghadapi mereka semua.
__ADS_1
Berbeda dengan Nisa yang sudah pasrah apapun yang terjadi padanya hari ini akan ia terima bagaimana pun akhirnya.
" Ini dia siswa yang sudah membuat kelima anak ini babak belur. Hei kamu, saya tanya kenapa kamu melakukan semua itu pada mereka, apa yang sudah kamu lakukan sehingga kamu menghajar mereka haah... ?" tanya kepala sekolah itu membuka suara.
" Saya... saya hanya membela diri pak, mereka semua mau memukuli kami jadi saya melawan mereka " jawab Flo dengan tenangnya, sedangkan Nisa tidak berani berkata apapun.
" Benar apa yang di katakan anak ini, apa kalian mau memukul mereka berdua... ?" tanya Alan yang akhirnya bersuara sebelum kepala sekolah itu bicara.
" Tidak pak, kami hanya menggertak nya saja, tapi dia malah menghajar kami sampai seperti ini, kami berharap bapak beri hukuman yang setimpal untuk mereka berdua karena sudah menyakiti kami " kata salah satu pemuda yang masih babak belur itu.
Kepala sekolah itu langsung grogi, dan kelihatan sekali saat ini ia sangat kesal terhadap Flo dan Nisa.
Sedangkan para orang tua siswa itu malah tidak terima dan saling berbisik satu sama lain.
__ADS_1
" Tentu saja tidak, sekolah ini memang elite, tapi siapapun siswa yang mau masuk dan mampu sekolah di sekolah ini meskipun ia berasal dari keluarga yang tidak mampu, atau masuk melalui beasiswa, semuanya sama tidak ada yang di bedakan, memangnya kenapa kamu bertanya seperti itu ?" kata Alan balik karena ia bingung dengan penuturan siswa ini.
" Itulah yang terjadi pada kami berdua pak, mereka melarang kami menggunakan fasilitas sekolah termasuk Kantin, dan mereka juga sudah membullly dan memukuli saya, dan teman saya ini, hanya karena kami orang yang tidak mampu yang masuk ke sekolah ini dengan beasiswa. " kata Flo dengan beraninya mengatakan semuanya.
Mendengar itu Alan langsung melihat ke arah kepala sekolah itu dan para siswa yang lainnya.
Mereka semua yang di tatap Alan langsung menunduk, berbeda dengan Rosa yang juga kelihatan begitu sangat marah.
" Mereka berdua bohong pak, mana buktinya kami melakukan itu pada kalian, yang ada kalian berdua lah yang sudah memukuli teman - teman kami sampai babak belur seperti ini. Jadi saya minta pada pak kepala sekolah dan pak Alan, sebaiknya keluarkan saja mereka berdua dari sekolah ini, karena akan sangat membahayakan bagi para siswa yang lainnya kalau mereka masih bersekolah di sini " kata Rosa dengan angkuhnya, dan langsung di anggukan oleh orang tua siswa yang lainnya.
FLO langsung gugup mendengar itu apalagi Nisa yang sudah berkaca-kaca menahan tangisnya karena di tuduh seperti itu.
Sedangkan Sean yang sedari tadi berada di situ dan hanya diam mendengarkan begitu sangat geram pada mereka semua yang sudah menyudutkan gadis pujaannya itu, tangan Sean mengepal kuat, ingin sekali ia menampar wajah perempuan tidak berperasaan dan memutar balikan fakta itu.
__ADS_1
" Tunggu saja kalian semua, hmm... " kata Sean dalam hati dengan sangat geramnya.