
Mendengar ucapan Romi dan suara deheman seorang pria di belakangnya membuat Ceri sadar akan posisinya saat ini. Dia sedang di kelilingi oleh calon suami dan kedua orangtuanya.
Ceri segera meminta Regan untuk kembali duduk dan mempersilahkan Romi dan Tante Tina untuk duduk juga.
Ada rasa janggal di hati Romi, dia sadar akan perubahan sikap Ceri yang mendadak setelah ia berucap jika bersedia di panggil papah oleh Regan. Dia pun melirik pria yang kini sedang duduk di samping Regan dengan tatapan menyelidik.
Pengajian di laksanakan dengan lancar, banyak para tamu yang hadir mendoakan. Rasa rindu selalu di rasa saat nama sang Papah di ucapkan. Hingga air mata tak dapat terbendung lagi dari pelupuk mata.
"Nak Ceri acaranya sudah selesai, Alhamdulillah banyak yang ikut mendoakan."
"Iya Tante, makasih banyak Tante juga sudah membantu sampai selesai."
"Sudah kewajiban Tante nak, tapi Tante mau tanya sesuatu boleh?" tanya mamah Tio.
"Mau tanya apa Tante?" saat ini para tamu sedang bercengkrama ringan dengan menikmati hidangan yang di suguhkan.
"Siapa orang itu nak? yang bernama Romi dan juga ibunya?" tanyanya lagi membuat Ceri mengikuti arah pandangan beliau.
"Oh itu, sahabat Ceri yang baru datang dari Amerika Tante. Sudah lama kami tidak berjumpa dan kebetulan tadi saat di supermarket bertemu. Tante Tina juga dari dulu dekat dengan Ceri, sudah Ceri anggap seperti mamah Ceri sendiri."
Mamah Tio mengerti sekarang, siapa mereka dan kedekatan seperti apa yang terjalin hingga Romi berani meminta Regan menganggap dirinya sebagai Papah.
Setelah acara selesai semua orang sudah mulai meninggalkan kediaman keluarga Nugraha. Begitu pun dengan Romi dan mamahnya. Mereka pamit pulang tepat pukul 9 malam.
"Sayang Tante pulang dulu ya, kapan-kapan main kerumah biar di jemput sama Romi. Sudah lama kan nggak makan masakan Tante."
"Iya Tante, nanti Ceri main kerumah bersama Regan."
"Ceri, aku pamit ya. Besok-besok aku kesini lagi, jaga kesehatan kamu. Jangan capek-capek, kasian baby-nya, udah mau masuk ke bulannya juga kan?"
"Iya bawel!" Ceri tertawa mendapatkan perhatian dari Romi yang berlebihan. Sejak dulu Romi tak berubah menurutnya.
"Di bilangin juga, Regan Om pamit pulang dulu ya. Nanti kalo libur om ajak jalan-jalan mau?"
"Mau Om tapi aku pamit Om Tio dulu ya, karena udah janji sama Om Tio tiap libur beli es krim," jawab Regan polos. Tapi membuat Romi merasa tak nyaman. Pandangannya kembali pada sosok pria yang sejak tadi dekat dengan Regan, kemudian beralih pada Ceri yang seketika menunduk.
"Oke Regan, nanti Om hubungi mamah ya kalo mau ajak Regan jalan-jalan."
Setelah Romi dan mamahnya pulang kini tinggal tersisa keluarga dari Tio yang masih membantu membereskan rumah.
__ADS_1
"Tante sudah, biar besok Ceri dan bibi yang bereskan lagi. Tante sudah membantu Ceri sejak pagi. Kasian Tante pasti capek."
"Dikit lagi sayang, biar kalian tidur dengan nyenyak kalo rumahnya sudah rapi. Tio dan Papah juga masih menggulung tikarnya."
"Mah, ayo pulang!"
"Sudah selesai Tio?"
"Sudah mah, ayo Pah!"
"Regan nya mana?" tanyanya lagi.
"Regan sudah Tio pindah tidur di kamar, tadi dia sempat tidur di sofa. Mungkin kelelahan sampai nggak kuat menahan kantuk."
"Kasian, cucu mamah."
"Ceri, om pulang ya. Kalo ada apa-apa jangan sungkan menghubungi kami. Tio kamu sudah meninggalkan nomor ponselmu pada Ceri?" tanya Papah.
"Belum Pah," Tio menyodorkan ponselnya pada Ceri, "masukin nomor loe biar gue telpon!"
Ceri mengambil ponsel tersebut kemudian mengetikkan nomor ponselnya. Dan mengembalikan kembali pada Tio.
"Save nomor gue!"
"Iya."
"Ya sudah kami pamit ya nak," Ceri mengantarkan hingga ke teras depan.
"Hati-hati ya Tante, makasih banyak sudah membantu Ceri."
"Sama-sama sayang."
Sudah hampir seminggu kehidupan Ceri kembali seperti biasa, mulai kembali membiasakan diri tanpa Papah. Regan pun semakin hari semakin pintar dan banyak belajar segala hal.
" Mah, mamah kenapa?" tanya Regan saat melihat Ceri meringkuk di kasur tak seperti biasanya.
"Pinggang mamah sakit nak, mungkin kecapekan," keluh Ceri dengan sesekali mengusap pinggangnya yang terasa panas, sakit ngilu jadi satu.
Jika ibu hamil lainnya sedang merasakan sentuhan tangan sang suami yang mengusap hingga sakitnya reda, tapi Ceri harus berjuang sendiri.
__ADS_1
"Mah Regan pijit ya pinggang mamah," tangan kecil Regan memijit pinggang sang mamah, ada rasa haru di hati Ceri, di kehamilan yang sudah mulai memasuki bulannya ini ia sudah sering mengeluh dan merasa payah jika malam hari.
Regan pun sudah beberapa malam ini tidur dengan mamahnya, menemani Ceri di setiap rintihannya. Mengusap bagian yang Ceri eluhkan hingga sang mamah terlelap.
"Kasian mamah, andai ada papah pasti bisa temani mamah. Regan sayang sama mamah, mamah sehat-sehat terus ya." Regan mengecup kening sang mamah ketika sudah melihat mamahnya tertidur nyenyak kemudian ikut tertidur di sampingnya dengan memeluk punggung Ceri.
Pagi harinya Regan sudah rapi, setelah mandi di kamarnya dan memakai pakaian sendiri kini ia turun dari kamar menuju ruang makan.
"Mah...."
"Sayang, anak mamah udah mandi ya. Ayo kita sarapan dulu." Ceri sedang menyiapkan makanan di meja makan. Setiap pagi tubuhnya terasa sehat dan bugar. Jadi ia bisa melakukan apapun serta memasak untuk anaknya.
"Iya mah," Regan segera mengambil nasi dan lauk sendiri. Sudah banyak perubahan yang Ceri lihat dari Regan.
"Mah, om Tio hari ini ajak aku jalan-jalan nggak?"
"Mamah kurang tau sayang, nggak ada pesan apa-apa dari Om Tio."
"Yach, kan Om Tio udah janji kalo libur mau ajak Regan jalan-jalan mah." Regan tampak lesu, pagi-pagi dia sudah mandi di hari libur karena ingin jalan-jalan dengan Tio.
"Mungkin Om Tio sibuk jadi tidak sempat menghubungi mamah." Ceri mengusap lembut kepala Regan, "anak mamah pintar, harus banyak bersabar dan nggak boleh merajuk."
Hingga siang hari, Regan tak kunjung masuk ke dalam rumah, ia duduk di teras sambil menunggu kedatangan Tio yang sudah seminggu tak terlihat dimatanya. Ada rasa rindu di hati Regan dan rasa kehilangan karena sebelumnya sempat sangat dekat.
"Regan, masuk yuk sudah siang. Nanti kalo Om Tio nggak sibuk pasti datang ke rumah." Ceri mengajak Regan masuk, ada rasa iba di hatinya karena ceri paham jika Regan membutuhkan sosok papah yang ia rindukan hingga begitu berharap dengan Tio.
Mereka masuk kedalam rumah, Regan tampak sedih hingga rasanya ingin menangis tapi ia tahan karena Tio pernah bilang jika tidak boleh menangis lagi.
"Regan."
Langkah Regan terhenti, mendengar suara seseorang yang sejak tadi ia rindukan. Bocah kecil itu membalikkan badan dengan senyum mengembang dan berlari menghampiri.
"Om......" Regan menangis di pelukan Tio. Tangis yang sejak tadi ia tahan hinga serasa sesak akhirnya pecah sudah.
"Jangan nangis boy, maaf om Tio telat. Om Tio baru pulang dari luar kota dua jam yang lalu."
"Regan kangen sama Om, Regan pikir om nggak inget Regan lagi. Kan sudah janji mau ajak Regan jalan-jalan."
"Om nggak lupa sayang, hanya sedang sibuk bekerja. Hari ini kita jalan-jalan sepuasnya. Regan nggak boleh sedih lagi, oke!"
__ADS_1
"Oke om."