
Ceri menyusul Tio ke kamar, dia ingin berusaha agar mendapat ijin, karena Romi adalah sahabatnya sejak kecil. Tante Tina pun sangat baik dan sudah seperti ibu sendiri. Mana mungkin ia tega mengabaikan permintaan beliau.
"Tio...." Panggilnya dengan mendekati Tio yang sedang berdiri di balkon kamar.
"Hhmm..."
"Gue minta ijin njenguk Romi di rumah sakit. Kasian Tante Tina. Walau bagaimanapun Romi sahabat gue dari kecil sama dengan Reno. Nggak enak aja dia udah baik masa giliran lagi kena musibah, terus gue nggak bisa nyempetin datang."
Tio membalikkan tubuhnya, menatap Ceri yang saat ini berdiri di hadapannya dengan wajah memohon. Sebenarnya tak tega, tapi entah mengapa dirinya tidak suka Ceri menemui Romi.
"Ia sahabat yang gagal dapetin hati loe, yang sampai saat ini masih terus ngejar loe, tapi kalah saing sama gue!" ucapnya datar membuat Ceri menganga mendengarnya.
"Loe kok gitu, berasa di posesifin suami. Lagian kasian Romi, gue cuma mau nengokin dan pastiin keadaan dia nggak lebih. Gue yakin loe juga tau tujuan gue dan permintaan Tante Tina tadi. Tadi loe udah denger sendirikan?" tanyanya dengan wajah polos.
Tio gemas melihat Ceri, apa lagi wanita itu tau jika dirinya mendengar semua yang mereka bicarakan. Tio membuang muka mengalihkan pandangan. Tak ada jalan lain selain mengijinkan.
"Belum banyak yang tau tentang status baru loe, jadi gue berharap loe tau batasan!"
Ceri diam mendengar peringatan dari Tio, melihat pria itu berjalan melewati dengan sedikit menyenggol bahunya.
"Udah berani nyenggol-nyenggol..." lirihnya tanpa ia sadar Tio mendengar dan menghentikan langkahnya.
"Mau gue kawinin juga sah-sah aja!" sahut Tio.
deg
Mata Ceri melebar mendengar ucapan Tio yang terkesan mesum. Dia tak menyangka Tio akan berkata seabsurd itu. Dengan wajah memerah Ceri menoleh kebelakang, tampak Tio membuka pintu kamar. Kemudian menoleh ke arahnya.
"Nggak usah di pikirin Cer, ntar malah ngebayangin yang nggak-nggak repot loh. Ayo turun, gue mau makan!" Tio tersenyum miring kemudian mengedipkan sebelah mata dan melangkah keluar kamar.
__ADS_1
Ceri serasa ingin masuk kedalam bathtub dan merendam wajahnya di sana, pipi yang memerah semakin panas setelah melihat dan mendengar ucapan Tio. Apa lagi gaya tengil dengan kegenitan yang tercampur di dalamnya.
"Bisa nggak sich mereka makan tanpa gue," keluhnya kemudian ia menutup kembali pintu balkon dan segera turun menuju meja makan.
Malam ini Regan libur belajar karena besok libur sekolah dan Ceri membebaskannya main asal tak boleh melebihi waktu tidur.
Setelah makan malam mereka berkumpul di ruang keluarga, Ceri duduk di karpet dengan Rayya yang tertidur di sana. Dan Regan bermain mobil-mobilan bersama dengan Tio. Mereka terlihat seperti keluarga yang harmonis.
Malam Minggu pertama dengan anggota yang pas. Ceri tersenyum melihat keakraban Regan dan Tio. Apa lagi Tio yang bisa mengimbangi dan bersikap layaknya Papah sekaligus teman. Sehingga menimbulkan rasa nyaman bagi Regan.
"Besok jalan-jalan nggak Pah?"
"Regan mau jalan-jalan?" Tio berbalik tanya.
"Iya dong Pah, Papah kan libur." Dengan wajah ceria dan mata berbinar Regan berharap bisa jalan-jalan lagi seperti awal mengenal Tio.
Ceri yang sedang duduk membelakangi mereka karena Rayya meminta asi, seketika segera menoleh ke arah keduanya.
" Tapi besok mamah mau ke_"
"Ikut ya Mah, kan mamah belum pernah jalan-jalan bareng Papah. "
Melihat Regan dengan wajah memohon, Ceri pun tak tega ingin menolak. Padahal besok ia berencana berkunjung ke rumah sakit untuk menjenguk Romi.
Ceri menganggukkan kepala pasrah, apa pun untuk anak ia dahulukan. Tapi saat matanya melihat senyum Tio yang mencurigakan ia tau jika itu akal-akalan Tio yang sengaja menggagalkan.
Ceri lebih dulu masuk kamar dan merebahkan tubuh Rayya di dalam boks bayi. Setelah di lihat aman ia segera masuk ke dalam kamar mandi berganti piyama. Kemudian membersihkan wajah dan memakai krim malam.
Sedangkan Tio menemani Regan sebelum tidur dan membacakan cerita hingga matanya terpejam.
__ADS_1
"Pas ini anak jadi anak gue, gue ajarin tengil biar gedenya nggak gampang baperan."
Tio masuk ke dalam kamar dan segera masuk kamar mandi, sebelumnya ia sempat melirik Ceri yang sudah menempatkan dirinya di ranjang dengan ponselnya di tangannya.
Setelah sikat gigi dan memastikan semua bersih, Tio segera menempatkan tubuhnya di samping Ceri.
"Gimana besok?" tanyanya dengan tatapan mata ke arah langit-langit kamar.
" Ikut kalian dulu, mungkin sore baru kesana. Atau lusa sekalian biar bebas nggak ada yang berusaha gagalin lagi!" ucapnya tanpa menoleh ke arah Tio.
Tio merubah posisinya dengan miring menghadap ke Ceri, menatap wanita berhijab yang masih sibuk menatap layar ponsel.
"Emang bebas mau ngapain? nggak usah ngadi-ngadi, nyokap bokap tau ntar gue harus ngomong apa?"
Ceri meletakkan ponselnya di atas nakas kemudian memiringkan tubuhnya menghadap ke Tio hingga tanpa sadar membuat posisi keduanya saling berhadapan. Tapi hanya sesaat, setelah mata mereka bertemu Ceri segera merubah kembali posisinya.
"Emang gue ngapain sampe takut mamah papah tau? Gue nggak kayak yang loe pikirin Tio!" Celetuknya kemudian merubah posisi memunggungi Tio.
Melihat itu Tio segera meraih pundak Ceri hingga wanita itu berbalik dengan posisi terlentang.
"Kenapa sich? gue mau tidur." Ceri lama-lama geram dengan tingkah Tio, tapi dia juga tak sanggup melawan karena pada dasarnya ia bukan wanita bar-bar.
"Nggak sopan, gue belum selesai ngomong!" ketusnya.
Tio segera membalikkan tubuhnya memunggungi Ceri yang kini tercengang melihat Tio justru melakukan hal yang sama dengan apa yang ia lakukan.
"Ini gimana sich konsepnya, kalo istri nggak boleh kalo suami boleh gitu. Kenapa gue berasa dicurangi ya...." lirihnya dengan menatap nanar punggung Tio.
"Tidur Ceri! jangan terus ngegibah suami. Pamali!" celetuk Tio dan alhasil kini mereka tidur dengan saling memunggung. Hingga pagi menyapa keduanya nyaman dengan posisi mereka saat ini.
__ADS_1