Menikahi Janda

Menikahi Janda
Operasi


__ADS_3

Setelah sholat subuh, Tio mengecup kening Ceri hingga mengusik tidur sang istri. Matanya terbuka dengan senyuman yang indah.


"Assalamualaikum istriku..."


"Wa'allaikumsalam mas..."


"MasyaAllah cantiknya yang baru bangun tidur, aku bersihkan tubuhmu ya sayang!" ucapnya lalu segara mengambil baskom yang berisi air hangat dan waslap yang telah di siapkan oleh suster.


Dengan telaten Tio membersihkan wajah hingga turun ke tangan dan badan Ceri. Rutinitas yang sudah hampir dua minggu ini ia lakukan dan Ceri pun sudah terbiasa hingga tak lagi risih hanya saja cukup kasihan jika melihat Tio yang menahan sesuatu.


"Kapan ya sayang kamu bisa pulang... Rasanya aku sudah tak tahan," ucapnya saat mulai mengusap bagian depan tubuh Ceri.


"Tutup matanya mas!"


"Kalo di tutup nggak bisa liat donk sayang," jawabnya dengan sesekali menahan nafas. "Ini terlalu indah untuk di siakan, jangankan mataku yang terus ingin melihat, lihat sarungku mendadak ada yang benjol kan sayang!" Tio terkekeh menatap wajah Ceri yang merona saat matanya melihat ke arah sarung Tio.


"Aduh sayang melihatnya jangan seperti itu bikin tambah berdiri!" keluh Tio menggoda.


"Maasssss....."


Tio kembali tertawa walaupun harus bersabar menahan tetapi cukup berkesan saat ia kembali bisa membuat Ceri kesal.


Hari ini Ceri harus bersiap untuk menjalankan operasi, kondisinya sudah semakin stabil dan ia sudah tidak sabar karena ingin segera pulang dan bertemu dengan anak-anaknya yang sangat ia rindukan.


Apalagi kabarnya Rayya sekarang sudah bisa berjalan dan sangat menggemaskan. Ceri pun sering melihat kegiatan kedua anaknya lewat video yang dikirim oleh mamah mertua.


"Sudah siap sayang?"


Ceri hanya tersenyum, kini dia akan memasuki ruang operasi. Tio mengantarnya sampai pintu kamar operasi dan meminta sedikit waktu untuk bisa melihat wajah istrinya yang lebih berseri dari biasanya.


"Semangat ya sayang, aku terus mendoakanmu agar di beri kelancaran dan bisa benar-benar sembuh."


cup


"Aku mencintaimu..." kata penguat bagi Ceri, setiap Tio mengungkapkan perasaannya.

__ADS_1


Tio menarik nafas panjang saat pintu ruang operasi mulai tertutup. Kedua orang tuanya mendampingi dan ikut menunggu.


"Makasih Mah Pah sudah menyempatkan datang." Tio merasa tak enak karena selalu merepotkan, bahkan membuat Papah kembali bekerja di kantor untuk membantu Seto yang terkadang mengalami kesulitan.


Mamah pun lebih sering datang kerumah karena Rayya yang semakin aktif dan membuat bibi kewalahan jika hanya mengurus semua sendiri.


"Pasti nak, kami ingin mendampingimu dan memberi semangat untuk kalian berdua. Semoga lancar dan Ceri kembali pulang kerumah," ucap Papah dengan menepuk pundak Tio.


Selama operasi Tio terus berdzikir di mushola rumah sakit. Ia memohon dan meminta agar semua dipermudah dan diperlancar. Hatinya lebih tenang dan ikhlas. Hingga tepukan di pundak membuatnya terkesiap.


Sudah hampir 5 jam dia di mushola dan operasi Ceri pun sudah selesai. Seto yang kebetulan datang menghampiri Tio dan memintanya segera kembali ke ruangan.


Ucapan syukur kembali tersemat setelah dokter mengatakan jika operasi berjalan lancar dan kini Ceri sudah di pindahkan kembali keruangan. Hanya saja masih belum sadar, tapi itu cukup melegakan karena kondisi Ceri stabil tanpa ada kendala.


"Alhamdulillah Mah..." Tio memeluk sang mamah, ia terisak di pelukan beliau. Setelah beberapa bulan melewati hal pahit kini ia merasa lega karena cahaya masa depan mulai terbuka.


"Assalamualaikum warahmatullahi..."


"Assalamualaikum warahmatullahi..."


Tio terduduk sila dengan tangan menengadah ke langit, mengucapkan untaian doa dan harap untuk kehidupan keluarganya kelak. Meminta ampun dan mengucap rasa syukur telah di beri kekuatan untuk melewati semua aral dan rintangan yang ada.


"Aamiin...."


Tio menoleh ke arah brangkar, pria itu segara beranjak dan melipat sajadah. Melangkah menuju sang istri yang telah sadar dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.


"Alhamdulillah sayang, kamu sudah sadar. Alhamdulillah ya Allah...." Tio ingin memeluk Ceri tetapi segera ia urungkan saat teringat luka perban yang ada di dada Ceri.


"Nggak jadi peluk, cium aja dech ya."


cup


Tio mengecup kening Ceri begitu dalam, air matanya terjatuh membasahi kening Ceri hingga haru menyelimuti. "Aku bersyukur, sangat bersyukur, terimakasih ya Allah...." gumamnya dan tersenyum menatap mata lentik yang masih sayu dengan binar bahagia.


.

__ADS_1


.


.


Setelah hampir tujuh hari pasca operasi, kini Ceri sudah bisa duduk dan berdiri kembali. Bahkan dengan telaten Tio membantu Ceri berjalan dan mulai meraih apapun yang ia inginkan. Tubuhnya sudah tak sekaku dulu, kini Ceri semakin lancar dan dokter sudah mengijinkan lusa boleh pulang.


"Alhamdulillah sudah semakin ada kemajuan, sebentar lagi siap tempur donk!" Tio merenggangkan ototnya dengan menggoyangkan kedua lengannya bergaya seperti orang sedang berolahraga.


"Tempur? kamu mau ngajak aku perang?" tanyanya dengan wajah polos.


Tio yang gemas segera mencubit kedua pipi Ceri hingga sang istri mengaduh kesakitan. "Iya aku mau ajak kamu perang, perang di ranjang! kamu nggak kasian sama Beno? dia udah hampir kaku karena menahan tapi tak kunjung di keluarkan."


"Kamu mesum banget sich mas!" Ceri memalingkan wajah, otaknya sudah berlarian dan dirinya pun sudah merindukan. Tetapi kondisi masih harus di jaga karena operasi besar yang ia lakukan.


"Harus donk sayang, mesum itu wajib dalam rumah tangga! Agar tercipta keluarga yang harmonis. Lagian apa salahnya mesum sama istri sendiri? Sementara nggak bisa aku naikin, bantu tipis-tipis juga boleh, anggap aja pemanasan setelah si Beno ikut rehat hampir berbulan-bulan."


"Mas..."


"Iya sayang, mau sekarang?" tanya Tio dengan seringai nakal dan mata yang jelalatan. "Aku siap, tapi tangan kamu sudah lemas belum buat bekerja keras?"


"Stop mas kamu buat jantung aku berdebar."


"Biar sehat sayang, anggap saja sedang mereyen jantung baru, biar kuat di ajak jadag jedug!" ucapnya asal. " Ayo sayang, mumpung malam nggak akan ada yang datang. Aku kunci pintunya, ya?"


Dengan semangat Tio berlari ke arah pintu dan segera menguncinya. Dokter sudah tak akan datang karena setengah jam lalu telah memeriksa keadaan Ceri. Dan kesempatan emas tak akan Tio siakan saat si Beno sudah tak tahan dan Ceri bisa di ajak kerjasama. Anggaplah ia tak sabar, tapi puasa berbulan-bulan membuatnya sakit kepala. Dan butuh penyegaran. Tak apa hanya melalui sentuhan yang terpenting bisa mengeluarkan cairan yang telah lama mengendap di dalam.


Ceri mendelik melihat si Beno yang sudah tegap berdiri, bahkan Tio tidak malu untuk memamerkan dan justru sengaja mendekati dan mau tak mau harus Ceri tangani.


"Eugh sayang.....enak banget! agak cepat dikit sayang! yes......"


Tio begitu menikmati bahkan terus mengeluarkan kata-kata yang membuat Ceri meremang. Dan sentuhannya mampu membuat Tio melayang bahkan mengerang kala pelepasan ia dapatkan.


"Aaaaarrrggghhh sayang...."


Tio tersenyum gemas dan segera membersihkan sesuatu yang telah ia buang sia-sia.

__ADS_1


"Makasih ya sayang..."


cup


__ADS_2