Menikahi Janda

Menikahi Janda
Meminta Restu


__ADS_3

Ceri menatap nanar sang putra dengan kepala berbalut perban. Ntah apa yang menyebabkan putranya bisa terjatuh hingga terbentur lantai dan pingsan.


Ceri melangkah mendekati, wajah pucat begitu polos memejamkan mata. Regan adalah dunianya, kebahagiaan pertama yang ia dapatkan. Penguat di saat Ceri mulai goyah dengan rumah tangganya, penyembuh luka kala ucapan Reno menyayat hati.


Dan kini, anak yang ia jaga dan ia pertahankan sejak dalam kandungan. Harus merasa kecewa dan terluka karenanya. Benar kata Tio, sebagai ibu dia egois. Dia tak memikirkan apa yang anaknya inginkan, dia tak perduli dengan harapan Regan.


Ceri mengusap pipi sang putra, tercetak jelas wajah kecewa si sana. Ceri mengecup keningnya, di hati ia meminta maaf pada putranya. Dan berjanji akan berkorban demi kebahagiaan kedua anak-anaknya.


Sejak tadi Tio diam mengamati. Dia tak banyak bicara hanya diam memperhatikan. Melihat anak yang begitu mengharapkannya sekarang kembali lagi di rawat membuatnya ikut terluka.


Tio keluar dari kamar Regan dan menelpon seseorang, orang yang bisa membantunya dan melancarkan rencananya untuk menikah.


"Halo...."


"Napa bro? minggu-minggu telpon gue, ada masalah?"


"Cariin gue penghulu, urus surat-surat buat besok gue nikah."


"Siapa yang mau nikah?" tanyanya memastikan.


"Gue!"


"Hah? mendadak banget! Tiwi bunting?"


"Ngaco loe! bukan sama dia, tapi sama Ceri."


"Pengantinnya ganti lagi?"


"Berisik! udah urus aja, gue bakal minta berkas-berkas punya Ceri buat loe ajuin."


"Gila loe, nggak ngerti gue. Mau nikah udah kayak bikin Indomie!"


"Udah, loe tau apa yang harus loe lakuin!"


Tut.


Di seberang sana Seto mengumpat kesal. Dia yang sedang menunggu istrinya keluar dari kamar mandi ingin memanjakan Beno mendadak harus terganggu dengan mandat yang harus segera di kerjakan.


Tio kembali masuk, setelah menghubungi Seto dan kedua orangtuanya. Pemandangan yang mengusik hati saat melihat Ceri yang tertidur dengan posisi duduk dengan berbantal lengan. Dan tangan sebelahnya menggenggam jemari Regan dengan erat.


Tio membuang nafas kasar, pernikahan yang awalnya di batalkan harus terjadi dengan alasan lain. Sedangkan statusnya sekarang yang rumit. Resmi menjadi tunangan Tiwi dan harus bertanggung jawab menghadapi keluarga Tiwi yang sudah pasti tak akan terima dirinya membatalkan begitu saja. Sedangkan persiapan pernikahan sudah hampir selesai, dan undangan sudah di sebar.

__ADS_1


Tapi Tio akan menanggung semua resikonya, ia tak mungkin membiarkan Regan kembali dalam bahaya. Jika di suruh memilih ia lebih baik menikahi Ceri yang memang membutuhkan dari pada Tiwi yang kelakuannya akhir-akhir ini membuat pusing kepala.


Kedua orang tua Tio datang tepat di saat Regan sudah sadar. Dengan cepat Mamah Tio segera melangkah mendekat.


"Cucu Oma, kenapa lagi nak? Ya Allah....ini kepalanya kenapa?"


"Sakit Oma, Regan jatuh."


"Jatuh dimana sayang? kok bisa sampai jatuh?" tanyanya lagi.


"Regan terpeleset Oma," jawabnya Regan teringat akan dirinya yang tadi keluar dari kamar mandi dan ingin segera kembali ke ranjang saat mendengar suara ketukan pintu. Buru-buru ingin masuk ke dalam selimut dan tak mau membukakan pintu, tapi malah dirinya terjatuh.


"Kasian cucu Oma, lain kali jangan merajuk sama mamah ya sayang. Tidak baik nak!" ucap mamah Tio lembut.


"Tapi Regan mau bertemu Om Tio, Regan nggak mau Om Tio menikah dengan Tante galak. Regan mau Om Tio jadi Papah Regan."


Kali ini Tio mendengar sendiri apa yang Regan inginkan, hatinya begitu tersentuh. Ia rasa keputusannya sudah benar walaupun untuk menjalani rumah tangga dengan Ceri masih tampak samar.


"Regan mau Om jadi Papah Regan?"


"Iya Om," jawabnya antusias dengan menganggukkan kepala.


"Regan cepat sembuh, setelah itu Om akan menikah dengan mamah Regan."


"Om Tio mau jadi Papah Regan?" tanyanya dengan mata berbinar.


"Iya, Om Tio akan menjadi papah Regan dan Rayya." Regan bangun dan memeluk tubuh Tio dengan erat, ia begitu bahagia akan memiliki Papah.


Setelah Regan tidur, kini Ceri Tio dan kedua orangtuanya duduk di sofa. Sejak tadi kedua orang tua Tio masih diam. Menunggu Regan tidur dan Ceri datang setelah mengambil baju Regan dan memompa ASI untuk Rayya.


Pak Juna membuang nafas kasar, kemudian mamah pun menenangkan dengan mengusap lengan Pak Juna dengan lembut.


"Apa benar Tio, kamu akan menikahi Ceri?" pertanyaan Pak Juna membuat Ceri yang sejak tadi gelisah mendongakkan kepala menatap beliau. Ceri tidak tau kapan Tio memberitahukan rencananya, dan ia tak menyangka jika Tio benar-benar serius.


"Iya Pah."


"Kapan?" tanyanya lagi.


"Besok Pah, sepulangnya Regan dari sini."


Pak Juna memijit pelipisnya, kemudian kembali bertanya. "Kamu serius?"

__ADS_1


"Demi Regan Pah." Tio menjawab singkat namun tegas.


"Lalu bagaimana Tiwi? Apa kamu juga akan menikahinya?"


"Aku akan membatalkannya Pah!"


Sejak tadi Ceri hanya diam, dia menundukkan kepala. Sesungguhnya ia malu, andai ia tak membatalkan perjanjian maka tak akan ada hati yang terluka.


"Pernikahan kalian sudah di depan mata. Dan undangan sudah tersebar, apa mungkin masih bisa di batalkan? sedangkan kamu akan mengecewakan keluarga nya."


"Itu resiko Tio Pah, Tio akan membatalkan setelah menikahi Ceri."


Kedua orang tua Tio saling memandang, mereka pun akan malu jika pernikahan itu batal. Akan banyak yang di pertaruhkan, bukan cuma hati tapi juga bisnis.


"Pah, maaf jika Tio membuat masalah. Seharusnya pernikahan Tio dan Ceri sudah terselenggara sebelum papah menyetujui ajakan Papahnya Tiwi. Tapi Tio akan bertanggungjawab, Tio yang akan datang sendiri meminta maaf."


" Dan Tio minta sama mamah dan papah untuk merestui hubungan kami." Ucapan Tio membuat sudut hati Ceri tersentuh, walaupun ia tau semua hanya karena Regan. Dan belum tau akan bagaimana hubungan mereka setelah menikah. Tapi Ceri mengakui sebagai pria Tio bertanggungjawab.


" Sejak awal kami sudah menyetujui, tapi bukan berarti harus memutuskan di saat hubungan sudah serius begini. Apa kalian mulai ada perasaan? Papah yakin bukan hanya Regan penyebabnya!"


Tio dan Ceri saling memandang, beberapa detik terdiam kemudian saling mengalihkan pandangan.


"Semua bisa di jalani dulu Pah," jawabnya membuat Ceri tersenyum getir.


Setelah berbicara serius, kedua orang tua Tio memutuskan untuk segera pulang karena masih ada urusan, tinggalah Tio yang memutuskan untuk menemani Ceri hingga esok hari Regan di perbolehkan untuk pulang.


Berulang kali ponsel Tio berdering, tanpa niat menerima dan hanya di abaikan. Hingga Ceri risih dan meminta Tio untuk menerimanya.


"Kenapa nggak dia angkat? siapa tau penting."


"Nggak ada yang penting tentang dia, paling suruh jemput terus ngajak jalan. Capek gue, lagian juga mau gue batalin," jawab Tio santai dengan merebahkan tubuhnya di sofa.


"Maaf ya, karena gue dan Regan loe jadi banyak masalah," ucapnya menyesal.


"Hhmm.... jalanin aja, lagian bukan salah kalian. Anggap aja emang gue jodoh loe! beres.... udah istirahat, nggak usah banyak pikiran. Tidur sana biar gue yang jagain Regan!" titah Tio dengan santai. Bahkan Ceri sudah hafal dengan sikap kasar Tio, tapi di balik itu semua dia tau Tio orang baik.


"Oh iya, sorry hari ini banyak banget kejadian tak terduga. Dari gue datang sampe tadi gue meluk loe! sorry ya..." ucapnya tulus membuat wajah Ceri merona mengingat semua kejadian yang seharusnya tak terjadi, apa lagi mereka belum halal.


"Nggak usah merona juga muka loe! pake tersipu begitu, suka ya?"


"Tio!"

__ADS_1


Bugh


__ADS_2