
Setelah pertengkaran di tengah pernikahan kini Tio dan Ceri berada di kamar. Kedua orang tua Tio masih ada di sana sedang bermain bersama kedua cucunya.
Sempat menanyakan tentang kebenaran yang terjadi pada Tio, karena Ceri yang hanya menangis tak bisa menjawab. Dan sebisa mungkin Tio memberi pengertian hingga kedua orang tuanya tenang.
Sedangkan Seto di minta untuk segera mengurus undangan pernikahan yang sudah tersebar. Membatalkan semua yang sudah tersusun dan terencana sebelumnya. Dan nanti tinggal Tio dan kedua orang tuanya yang datang menemui keluarga Tiwi.
Tugasnya sekarang menenangkan Ceri yang begitu terpuruk dengan keadaan yang terjadi padanya.
"Ceri, maafin gue ..."
"Ini bukan salah loe Tio! emang gue pantas dapatkan ini semua," lirih Ceri di tengah Isak tangisnya.
Tio membuang nafas kasar, ia berusaha mendekati Ceri tetapi wanita itu terlihat menghindar.
"Kenapa?"
"Tentang kematian Reno_"
"Gue nggak permasalahkan itu, gue cuma mau meluk loe! gue tau loe lagi butuh bahu buat bersandar." Tio kembali melangkahkan kakinya tetapi Ceri kembali menghindar hingga Tio gemas dan dengan sekali tarikan di pinggul Ceri mampu membuat wanita itu jatuh dalam pelukannya.
Tangis Ceri kembali pecah, ia tak tau harus bagaimana. Sedangkan tuduhan Tiwi merupakan fitnah, ia bukan perebut seperti yang Ceri tuduhkan.
"Kalo mau nangis, nangis aja nggak apa-apa. Walaupun kita menikah bukan karena cinta, tapi gue bakal memperlakukan loe dengan baik. Kita bisa berteman dan saling mengenal."
Ceri seperti menemukan kembali sandaran setelah Papahnya tiada, walaupun dulu bersama Reno statusnya istri tapi peran Reno hanya sebatas teman atau lebih tepatnya musuh di rumah sendiri.
Berbeda dengan Tio, dekapannya menghangatkan dan aroma tubuhnya menenangkan.
"Setelah ini gue mau kerumah Tiwi, jangan banyak pikiran. Gue bakal pulang sebelum makan malam," ucapnya dengan tangan terus mengusap lembut punggung Ceri.
__ADS_1
Ceri menganggukkan kepala, kemudian menatap Tio dengan mata teduh yang sedikit menghipnotis Tio hingga ia mengalihkan pandangannya dan kembali menatap Ceri dalam diam.
"Makasih dan maaf, gue udah buat hidup loe sulit. Makasih juga buat pelukannya dan ketenangan yang loe kasih." Ceri melepas pelukan Tio, masih dengan tatapan yang sama dia mundur satu langkah memberi jarak.
"Gue tau kita masih sama-sama terbelenggu dengan masa lalu, tapi loe tanang aja. Sebisa mungkin gue bersikap layaknya istri buat loe. Karena gue sadar pernikahan ini sakral sekalipun kita belum bisa menjalankan peran."
Tio menganggukkan kepala, ia membenarkan perkataan Ceri. Pernikahan ini sakral hanya manusianya yang belum bisa menyatu dalam konsep pernikahan.
"Loe bener gue belum bisa membuka hati buat siapapun. Maaf.....tapi gue akan berusaha menjadi bapak yang baik untuk Regan dan Rayya. Walaupun gue belum bisa jadi suami yang seharusnya."
Setelah melihat Ceri tenang dan terlelap dengan kebaya putihnya, Tio memutuskan untuk segera menyelesaikan masalahnya dengan keluarga Tiwi. Dia tak ingin semakin berlarut dan membuat dirinya semakin sulit terlepas.
Kedua orangtuanya pun ikut serta karena mereka ingin meminta maaf dengan apa yang telah terjadi. Apa lagi Pak Juna, dia rela seandainya memang Papah Tiwi mau mengakhiri kerjasama yang telah terjalin.
"Seto tadi mengabari, untuk gedung serta undangan dan semua yang telah di persiapkan sudah di batalkan. Maaf jika keputusan Tio membuat Papah pun merugi, tapi menurut Tio ini lah yang terbaik dari pada Tio harus menikah dengan Tiwi."
Tio hanya bisa menganggukkan kepala, ia pun sudah membicarakan itu semua pada Ceri. Beruntung Ceri mengerti dan tak menuntut banyak hal padanya.
Jika di ujung jalan hatinya terbuka untuk wanita yang berstatus istri, ia pun tak akan menyangkal dan membiarkan cinta itu tumbuh dengan sendirinya.
"Mamah juga berpesan padamu, walaupun kalian belum saling cinta. Tapi jangan sampai bertengkar dan saling menjaga jarak. Perilakumu pun harus di jaga, jangan kasar karena ia memiliki trauma tersendiri dalam hidupnya," lanjut mamah.
"Hhmm...."
Setelah melakukan perjalanan yang lumayan menyita waktu kini mereka sudah sampai di kediaman keluarga Tiwi. Tio dan kedua orangtuanya turun dari mobil dan segera melangkah ke arah pintu utama yang terbuka lebar.
Bugh
Bugh
__ADS_1
Bugh
"Auwh..ssstt... " Baru sampai di ambang pintu Tio sudah mendapatkan sambutan yang membuat wajah tampannya membiru. Tak tanggung-tanggung tendangan di layangkan ketika Tio oleng hingga membuat tubuhnya terjerembab ke lantai tepat di depan kaki pria yang memukulnya dengan amarah.
"Tio!" mamah yang ingin menolong Tio segera di hentikan oleh suaminya. Hingga isterinya menatap bingung.
"Biarkan Tio menyelesaikan masalahnya, anakku pria sejati dia mampu menyelesaikan semua tanpa kita. Disini tujuan kita adalah untuk meminta maaf dan mendampingi. Bukan untuk membantunya!" tegas Pak Juna.
Beliau yakin Tio bisa menyelesaikan sendiri, ini pendidikan juga untuknya karena dia akan mengemban tanggung jawab yang besar di hidupnya ke depan.
"Berani kamu menginjakkan kembali kakimu di rumahku setelah membuat anakku dan keluargaku menanggung malu! Biaadap kamu!"
Tio berusaha untuk bangkit, dia menatap papah Tiwi yang kini menatapnya dengan wajah emosi.
"Saya kesini mau minta maaf Om, saya tau saya salah. Tapi menikah dengan Tiwi bukan kehendak saya, semua terjadi karena Om yang menginginkan perjodohan ini. Tapi sebelum semua terlambat karena saya pun tak cinta, lebih baik saya segera membatalkan walaupun harus mengecewakan."
"Saya pun terima apapun kata-kata Om pada saya, sekalipun Om menganggap saya baajingan. Saya pun mau meminta maaf pada Tiwi, karena telah menyakiti. Mungkin takdir kami hanya sebatas sahabat. Karena sejak dulu pun kami tidak lebih dari sahabat. Dan jika Om mau marah dan menyalahkan, saya lah yang pantas menerima. Jangan Om libatkan kedua orang tua saya dalam masalah ini."
Dengan menahan nyeri di wajahnya, Tio berusaha keras untuk berucap. Dia tak ingin menjadi pria pengecut yang lari dari masalah.
"Sekarang kamu angkat kaki dari rumah saya dan ajak kedua orang tuamu pergi dari hadapan saya. Dan untuk kerja sama mulai hari ini saya batalkan!"
"Baik Om, saya akan pergi. Sekali lagi saya minta maaf." Tio menundukkan kepala, sedikit membungkukkan tubuhnya sebagai salam hormat terakhir yang ia layangkan sebelum benar-benar pergi dari sana.
"Tunggu!"
"Tiwi!"
"Aku bersedia jadi istri ke dua."
__ADS_1