Menikahi Janda

Menikahi Janda
Maafkan Daddy


__ADS_3

Tio mulai kembali ke kantor, bekerja seperti biasa dan menggantikan kembali posisi Papah. Seto pun masih setia mendampingi, dia sering membawakan makan untuk Tio hasil dari masakan istrinya.


Seto cukup prihatin dengan apa yang menimpa Tio, apa lagi saat ini tubuh Tio nampak kurus dengan pipi tirus. Bermalam di rumah sakit sudah pasti menyiksa tapi membuat hati Tio senang. Seto pun selalu menyempatkan diri untuk menengok Ceri setiap pulang kerja sekaligus melihat kondisi Tio.


Semua berjalan tak semudah yang di bayangkan, nyatanya Tio tak sekuat yang di harapkan. Ia kembali sakit di bulan ketiga menemani Ceri di rumah sakit. Mental yang belum kuat di tambah tubuh lelah kurang nutrisi karena nafsu makan menurun dan istirahat pun jarang.


Sudah berulang kali Tio mendapat wejangan tapi selalu saja menolak pulang. Dan sakitnya ia kali ini benar-benar butuh penanganan serius. Hingga hampir dua bulan ia berbaring di rumah sakit tanpa aktivitas dan hanya menengok Ceri sesekali saja.


Setelah dinyatakan pulih Tio akhirnya mengalah dan mau mendengarkan. Demi kesehatannya dan demi bisa berjalan sendiri melihat Ceri dan kedua anaknya yang sangat membutuhkan figur dirinya.


Keadaan Ceri pun belum ada perkembangan yang melegakan, hidup Ceri masih bergantung dengan alat. Dan entah sampai kapan Tio akan terus bertahan dan membiarkan Ceri terbaring tanpa ada keputusan.


"Tio nggak akan melepaskan alat itu dan membiarkan Ceri mati. Jika bukan Tuhan sendiri yang mencabutnya!"


Selalu kata-kata itu yang terucap setiap kali Tio mendapat pertanyaan tentang keputusannya. Hingga semua hanya bisa pasrah dan dokterpun tetap memantau andai kata ada pergerakan.


"Rayya maaf kan Daddy nak, karena Daddy sekarang Rayya harus putus ASI. Tapi Daddy janji, Daddy akan memberikan yang terbaik untuk Rayya. Tumbuhlah dengan sehat nak, walaupun tanpa sosok ibu yang mendampingi. Tapi Rayya masih punya Daddy dan Abang Regan."


Sejak pulang ke rumah Tio selalu tidur berdua dengan Rayya, bayi yang sebentar lagi berumur satu tahun. Bayi yang sedang aktif-aktifnya bergerak dan belajar berjalan. Bayi cantik yang menggemaskan dan tak pernah Tio tinggalkan sendirian saat malam.


Sedangkan Regan semakin pintar dan dewasa. Dia cukup paham dengan keadaan dan tak banyak menuntut. Regan juga sudah mulai di ajak oleh Tio menengok mamahnya di rumah sakit, melihat mamahnya yang pucat dengan tubuh lemas. Dan semakin paham dengan kondisi Ceri setelah Tio beri pengertian setiap kali berjumpa dengannya.


.


.


.


"Abang, pulang sekolah di jemput Oma ya, jangan sekali-kali naik taksi sendiri. Daddy tidak mau terjadi apa-apa dengan kamu, oke!"


"Oke Dad,"

__ADS_1


cup


"Regan sayang Daddy.."


"Hati-hati nak!" seru Tio saat melihat Regan berlari menuju kelas.


Tio seperti single Daddy saat ini, bahkan banyak yang masih tidak tau akan pernikahannya dengan Ceri karena belum sempat mengadakan resepsi tapi sudah terjadi tragedi.


"Sekretaris loe makin gencar aja, dia tau semuanya makanya berasa ada peluang."


"Gue nggak perduli, gue butuh otak dan tenaganya untuk bekerja di sini bukan badannya yang rela dia pertontonkan secara gratis. Bahkan si Beno melek juga kagak lihatnya."


"Beneran punya loe nggak melek? jangan-jangan si Beno ikut koma?" tanya Seto khawatir.


"Mulut loe belum pernah gue timpa pake meja! si Beno cuma butuh rehat, dia tau pawangnya masih belum bisa di sapa."


Seketika ingatan akan Ceri terlintas, malam bersamanya yang baru beberapa kali mereka lewati tapi begitu indah di ingatan Tio.


"Pengen....pengen nabok mulut loe!"


Seto mendengus kesal melihat reaksi Tio, dia menatap jengkel atasannya yang bagi Seto setengah gila. Tio menjadi sosok yang semakin dingin dan tak tersentuh oleh wanita. Bahkan dengan klien wanita saja ia hanya menatap datar dan tak ada kata tergoda.


"Loe masih waraskan? gue cuma mau berpesan sama loe, si Beno mandiin pake kembang tujuh rupa biar mau hidup normal lagi. Kasian banget, gue rasa dia udah nggak punya wibawanya sekarang."


"Diem loe! keluar sana! berisik!" Tio melemparkan pulpennya pada Seto tepat mengenai keningnya. Hingga Seto memilih kabur sebelum kursi benar-benar melayang ke wajahnya.


Hari ini pekerjaan Tio cukup padat hingga ia belum sempat melihat keadaan Ceri. Pekerjaan sedikit membuat kesedihannya teralihkan dan mulai mengurangi mental yang turun setiap kali bertemu Ceri dan kedua anaknya.


Sedangkan kedua anaknya kini sudah mulai di asuh kembali oleh Bibi, karena fisik mamah yang mudah lelah membuat Tio memutuskan untuk membiarkan mamah pulang agar beristirahat. Meskipun sesekali datang dan menginap satu malam untuk melepas rindu.


Dering ponsel membuyarkan konsentrasi Tio, dia melirik sekilas kemudian segera menerima panggilan tanpa memutus kontak pada layar laptop.

__ADS_1


"Ada apa dok?"


"Bisa ke rumah sakit sekarang?"


"Apa ada perkembangan dengan Ceri?"


"Ceri sadar."


Seperti di siram air hangat, hati Tio kembali bahagia setelah sekian lama ia menunggu dan mempertahankan tapi tak kunjung ada perkembangan. Dan di kala dirinya mulai pasrah, takdir berpihak kepadanya dengan mengembalikan jantung hatinya yang sudah lama terlelap.


Tio segera beranjak dan meraih kunci mobil serta tas, berlari keluar ruangan dengan tergesa menuju mobil. Seto yang melihat itu segera kembali ke ruangannya dan mengambil kunci mobil serta ponsel untuk mengikuti Tio khawatir ada hal yang tak diinginkan.


Tio tak perduli dengan seruan dari siapapun, ia segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit dengan senyum dan air mata kebahagiaan. Fokusnya saat ini hanya satu, Ia ingin melihat istrinya dan memeluk melampiaskan rasa yang selama ini menyesakkan.


Tio berlari menuju ruangan Ceri, nafasnya ngos-ngosan dengan senyum yang tak luntur. Hingga ia mampu melihat wanita yang ia cintai membuka mata dengan senyum tipis menyambut dirinya.


"Sayang ..."


Langkah Tio mendekat dengan tatapan tak percaya, ia tak menyangka semua doanya di kabulkan dan bisa kembali melihat mata lentik itu terbuka. Bahkan Ceri sudah tak memakai alat bantu pernapasan, wajahnya benar-benar terlihat sempurna.


Di sana sudah ada dokter serta kedua orangtuanya yang menatap haru sepasang suami istri yang kembali bertemu. Tio meraih jemari Ceri dengan mata terus memandang wajahnya. Tak akan ia biarkan sekali saja pandangannya teralih dari wanita yang mengisi seluruh hatinya.


"Alhamdulillah...kamu sadar sayang."


Ceri hanya tersenyum dengan mata sayu menatap Tio yang begitu kuyu tak seperti terakhir ia bertemu.


"Makanlah yang banyak agar tubuhmu kembali gagah."


Kata pertama yang Ceri ucapkan untuknya dengan lirih dan terbata. Kata yang mengandung makna dan Tio begitu senang atas perhatian yang Ceri berikan.


"Iya sayang...aku janji akan seperti dulu lagi. Nampaknya istriku tidak suka aku terlihat kurus."Ceri hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Tio. Sedangkan Tio begitu antusias mendapati istrinya kembali bangun dan tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2