Menikahi Janda

Menikahi Janda
Ya Allah


__ADS_3

"Ceri bangun sayang ....bangun Ceri!"


"Nggak mungkin..."


"Bangun sayang..."


dugh


auwh


"Monyet!


"Hah.....loe ngapain di bawah gue, gue masih normal anjir!"


"Loe yang ngapain! berisik! bangun....bangun .....si Beno yang bangun! loe pingsan aja bisa ngigoo gimana tidur beneran loe! Gue rasa Rayya loe ajak perang!" sewot Seto...."Pakai nibanin gue lagi, udah kayak ketimpa karung beras gue!....auwh....."


"Rayya...maksud loe perang sama Rayya...." seketika ia ingat akan mimpinya tadi, Ceri berpesan untuk menunggu Rayya dewasa. Tio menggelengkan kepala, "Nggak....nggak...."


"Abis ngigau gila loe! bangun! ngapain loe di lantai, mau ngepel!" kesal Seto, dia yang sejak tadi menunggu Tio sadar karena kembali pingsan ketika tiba-tiba Ceri tak sadarkan diri justru di buat kesal, sedang mengantuk dia begitu terkejut mendapati teriakan dari Tio, dan bagai jatuh tertimpa tangga saat ingin bangkit membangun kan justru dia yang kejatuhan tubuh Tio hingga pinggangnya ingin patah.


"Ceri?"


"Masih ditanganin dokter, tapi kalo dia bisa denger teriakan loe tadi, asli bukan cuma Ceri yang bangun....itu kamar mayit juga penunggunya pada bangun."


Seto masih saja memijat pinggangnya yang sakit hingga mengaduh ke ranjang, tanpa ia tau jika Tio sudah keluar dan "Anjing gue di tinggal, mampus aja loe Tio!" Seto seketika bergidik mengingat apa yang ia katakan tadi.


"Maaf ...maaf....."


"Aakhhhh Tio!" seru Seto segera berlari mengejar Tio.


.


.


.


"Apa dosa ku ya Allah? mengapa setiap aku mencintai wanita selalu berujung di tinggalkan. Aku hanya ingin bahagia dengan wanita yang aku cintai."


"Ampuni aku jika selama ini aku lupa dan menjauh dariMu, ampuni aku jika ini suatu teguran agar aku kembali padaMu. Aku sadar berapa banyak kenikmatan yang Engkau berikan tapi justru membuat aku lupa, syukurku hanya di lisan tanpa aku mau melaksanakan kewajiban."

__ADS_1


"Ya Allah...berikan aku kesempatan sekali lagi, kesempatan untuk dapat berkumpul kembali dengan istriku dan kesempatan untuk dapat mencintainya. Jika ini terguran untukku, aku berjanji Ya Allah aku akan memperbaiki sholatku dan menjadi imam yang baik untuk keluargaku."


Di atas sajadah, di samping brangkar Ceri, Tio menengadahkan tangan. Pertama kalinya setelah sekian tahun melupakan kewajibannya. Air mata terus mengalir deras, ini cara terbaik darinya datang dan memohon agar doa dan harapnya diijabah.


Mungkin Tuhan merindukannya, merindukan tangisnya, merindukan rintihannya, dan merindukan akan rayuannya dalam meminta suatu permohonan dan pengampunan.


Ceri kembali kritis sesaat setelah Tio datang dan ia yang tak kuat melihat sang istri kembali di tangani dengan banyak dokter kembali down dan terkulai pingsan.


Tio kembali bersujud setelah hatinya merasa lega mengadu pada tempat yang tepat. Isakannya kembali terdengar ketika keningnya menempel kembali ke sajadah.


"Rabbana atinna fiddunya Hasanah wafil'akhiroti Hasanah waqina adzabanar"


"Tio..."


deg


"Ceri..." lirihnya, Tio segera beranjak dan melipat sajadah. Ia menghampiri Ceri yang kembali membuka mata.


"Alhamdulillah ya Allah...." gumamnya, Tio memejamkan mata dengan cairan bening yang kembali menetes. Ia segera menghapusnya dan mengecup kening Ceri.


"Assalamualaikum istriku...."


Tio tersenyum, walaupun samar terdengar ia masih bisa dengan jelas mendengar jawaban Ceri dengan pujian yang terselip disana.


"Ada yang sakit? aku panggil dokter ya ...."


Tio segera memencet tombol agar dokter datang memeriksa. Tio menarik nafas dalam kembali menatap Ceri dengan rasa syukur yang mendalam.


"Maaf...jika sejak awal belum bisa menjadi imam yang baik untuk kamu. Sembuh ya...kita bangun lagi keluarga yang baik dari awal. Kamu mau kan sayang...."


Ceri tersenyum, tampak air matanya menetes dan Tio segera menghapusnya. "Jika ini air mata bahagia maka akan aku biarkan dia jatuh tapi jika bukan tak akan aku biarkan istriku menangis sedih. Hanya kebahagiaan yang boleh kamu rasakan. Semangat ya sayang....aku mencintaimu..."


cup


"Iya...." lirih Ceri dengan sedikit menggerakkan tangannya.


Pergerakan Ceri masih terbatas, berbulan-bulan koma membuat tubuhnya kaku dan suaranya masih terbata. Setelah dokter memeriksa, Ceri kembali di anjurkan untuk istirahat. Tio pun selalu mendampingi dengan sabar.


Kondisi masih lemah dan butuh penanganan serius, dokterpun ikut semangat menanganinya setelah hampir putus asa dan menyerah. Tanpa Tio minta semua berjalan lancar. Dokter mengerahkan semua personilnya untuk benar-benar mengupayakan kesembuhan Ceri.

__ADS_1


Rasa syukur Tio semakin mendalam, di saat ia mendekat dunia sekaan lebih mudah. "Alhamdulillah ya Allah..."


Tio pun dapat tersenyum kembali melihat Ceri bisa kembali membuka mata tanpa ia merasa beban. Rasa ikhlas lebih mendominasi, ikhlas dalam segala hal. Mungkin selama ini ia belum ikhlas dalam menerima apapun kegagalan. Tapi sekarang ikhlas nya hati mampu menciptakan ketenangan di jiwa.


"Sayang makan ya..."


Ini seminggu setelah Ceri dinyatakan siuman dan berangsur membaik. Dan selama itupun Tio kembali fokus menjaga Ceri dan mendekat pada sang ilahi. Ia mengesampingkan urusan pekerjaan. Beruntung Seto mengerti dan mendukung apa yang ia lakukan.


"Pinter istri aku...."


"Mas, pecinya miring!" lirihnya.


"Apa sayang? coba ulangi?"


"Mas..."


"MasyaAllah indahnya....mas? aku boleh cium nggak?" Tio rasanya ingin loncat kegirangan saat panggilan "mas" terlontar dari bibir Ceri. Tapi ia cukup waras dan hanya bersyukur di dalam hati.


cup


"Aku bahagia..." bisiknya kemudian kembali mengecup bibir Ceri. Rasanya ingin lebih tapi ia cukup sadar diri dan berusaha mengendalikan diri.


"Sini!"


"Oh iya benerin sayang..."


Tio memajukan wajahnya agar Ceri bisa lebih mudah membenarkan letak pecinya.


"Sarung nya mau di benerin juga nggak?"


"Mas..." wajah Ceri merona, Tio mengulum senyum melihatnya. Sudah ada perkembangan dari wajah yang awalnya hanya pucat kini mulai berwarna. Ingin rasanya Tio bawa pulang dan ia keloni di rumah tapi ia masih harus banyak bersabar.


"Aku merindukanmu..." lirihnya dengan menatap wajah Ceri.


"Beno juga!"


"Tio!"


"hahahahha......"

__ADS_1


Akhirnya setelah sekian purnama Tio bisa tertawa lepas, ia bisa merasakan bahagia walaupun masih banyak yang harus ia lewati dalam penanganan Ceri agar lebih membaik. Tapi rasa syukur yang kuat mambuatnya lebih bahagia atas apapun limpahan karunia yang ia dapatkan.


__ADS_2