Menikahi Janda

Menikahi Janda
Nggak Mungkin


__ADS_3

"Kenapa istri saya pingsan lagi dok?"


"Kondisi istri anda masih belum kuat dan jantungnya pun masih lemah." Dokter mencoba untuk memberi pengertian. Tetapi tampaknya Tio tak terima.


"Kenapa alat bantunya di lepas? dokter mau membunuh istri saya?" sentak Tio tak terima. Tio sudah tak bisa menahan sesak di dadanya, baru tersenyum dan bahagia sebentar sudah kembali harus merasakan kesedihan karena Ceri kembali pingsan.


"Tio sabar Tio, bukan salah dokter. Tapi Ceri sendiri yang meminta untuk di lepaskan. Dan dokter sudah melarang." Papah Juna mencoba memberi pengertian agar Tio bisa tenang.


"Sekarang pasang! jangan sampai terjadi sesuatu dengan istriku!" ucap Tio dengan sikap dinginnya.


Dokter memasang kembali alat bantu untuk Ceri, kondisi masih belum stabil membuatnya tak mampu berlama-lama berkomunikasi. Berbagai tindakan kembali di upayakan berharap ada titik terang setelah Ceri kembali sadar dari koma berbulan-bulan.


Tio pun terus berdoa dan memohon untuk kesembuhan istrinya. Hanya Ceri harapan satu-satunya dan ia tak tau lagi bagaimana dirinya jika Ceri benar-benar tiada.


Sejak tadi Tio merasa tak tenang, lampu tanda operasi sudah menyala dan Ceri sedang berjuang dengan operasi cangkok jantung yang dilakukan. Semudah itu jika ada uang, semua pun dapat di beli dengan mudah. Hanya nyawa yang tak dapat di tukar oleh mata uang manapun.


Tio mondar mandir tak diam hingga kedua orangtuanya pusing melihatnya. Tapi cukup mengerti jika Tio sedang di landa kekhawatiran. Untaian doa tak putus hingga lewat dari tiga jam operasi belum kunjung usai dan ketakutan semakin melanda.


Air mata Tio menetes, ia teringat akan ucapan dokter jika kemungkinan kegagalan lebih besar dari pada keberhasilan mengingat kondisi Ceri yang lemah dan tak stabil.


Kedua orang tuanya terus menguatkan tetapi mulutnya seakan bungkam dan tak mampu bicara hanya merasakan kepedihan mendalam dan menguatkan hati jika memang sudah harus pergi.


Dokter keluar dari ruangan dengan menghela nafas panjang. Tio melihat pintu terbuka segera berlari menghampiri tapi saat ingin bertanya bibirnya terasa kelu hingga mundur kembali.

__ADS_1


Air matanya kembali menetes dengan menahan isak kekecewaan. Sudah di pastikan kabar yang tak mengenakkan akan terucap melihat raut wajah yang begitu pucat dan helaan keputusasaan begitu ketara dari dokter yang kini berdiri di ambang pintu.


"Maaf...."


Kata maaf di awal hanya meninggalkan luka di akhir penantian. Dunia Tio runtuh, tak ada lagi yang ia harapkan. Tio tak sanggup mendengar kembali lanjutan kalimat yang akan di utarakan.


"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi kondisi pasien tak mendukung dan sekarang kritis. Pak Tio, pasien meminta ingin bertemu. Silahkan Pak Tio masuk setelah pasien di pindahkan kembali keruangannya."


Tio tak menjawab, kini tubuhnya luruh ke lantai, menundukkan kepala dengan tetesan air mata yang membasahi lantai.


"Apa salahku ya Tuhan..."


Tio melangkahkan kakinya masuk keruangan dengan senyum yang mengembang. Hatinya perih melihat wanita yang ia cintai tersenyum samar dengan wajah pucat. Ini kedua kalinya ia menemui Ceri dalam keadaan sadar setelah berbulan-bulan hanya mampu melihatnya dalam keadaan koma.


"Tio..." lirihnya dengan terbata.


"Aku titip anak-anak...jaga mereka..."


Tio menggelengkan kepala, bukan ini yang ia mau, bukan ucapan demikian yang ia inginkan.


"Jangan bicara yang tidak-tidak sayang, kamu pasti sembuh. Kita akan sama-sama lagi yach...!" Tio menggenggam erat tangan Ceri dan mengecupnya begitu dalam. Rasanya ia ingin menutup telinga saat kata-kata Ceri kembali menyesakkan.


"Kelak, Rayya yang akan menggantikan posisiku.."

__ADS_1


"Apa maksud kamu? nggak ada yang menggantikan posisi kamu, kamu akan selalu ada untuk aku, di samping aku dan menemani aku!"


"Jaga Rayya, dia yang akan menjadi penggantiku...."


"Dan jaga Regan, jadikan dia pria baik sepertimu...."


Tio sudah tak bisa lagi membendung air matanya, dia terus menggelengkan kepala agar Ceri tak lagi berucap hal yang tak ingin ia dengar.


"Dan kamu jangan sedih, ikhlaskan aku dan bersabarlah menunggu Rayya dewasa..."


Nafas Ceri tersengal, dadanya semakin sesak dan perlahan melemah. Tio melebarkan matanya, dia menggoyangkan bahu Ceri agar terus sadar dan tak memejamkan mata hingga dokter seketika masuk dan memeriksa keadaan Ceri.


"Maaf Pak Tio, Ibu Ceri telah tiada...."


deg


"Nggak mungkin...ini pasti salah! ini pasti salah dok!"


"Periksa istri saya lagi dok!"


"Periksa! istri saya masih hidup, istri saya belum mati!" teriak Tio.


"Sayang bangun sayang...sayang bangun! jangan tinggalin aku. Kita akan membesarkan anak-anak bersama. Aku nggak bisa tanpa kamu. Ayo bangun sayang!"

__ADS_1


"Banguuunnn!" teriak Tio.


Dunianya gelap, tak ada lagi harapan dan kini semua hanya tinggal kenangan.


__ADS_2