Menikahi Janda

Menikahi Janda
Hilang


__ADS_3

Ceri panik saat kembali ke ruang keluarga tetapi tak menemukan Rayya, sedangkan ia ingat betul tadi dia meninggalkannya dalam posisi tertidur untuk mengambilkan Regan makan. Tapi saat kembali tak ia temukan Rayya di sana.


"Bi....bibi lihat Rayya?"


"Nggak non, Bibi dari tadi kan setrika baju di belakang non. Bukannya neng Rayya dari tadi sama non di depan?"


"Iya Bi, tapi tiba-tiba nggak ada Bi. Bi ayo tolong bantu saya cari Rayya Bi. Ayo Bi!" Seru Ceri tampak cemas dengan air mata yang sudah menggenang. Rayya baru belajar merangkak dan tidak mungkin jika tak ada yang mengangkatnya dan membawa Rayya.


"Mamah kenapa?" tanya Regan yang sedang makan. Anak itu bingung melihat mamahnya tampak sibuk kesana kemari hingga berlari keluar rumah dan masuk lagi.


"Rayya nggak ada nak, Rayya hilang!"


"Adik hilang?" Regan segera turun dari tempat duduknya dan berlari ke kamar Ceri dan kamarnya sendiri. Anak itu turun lagi saat menemukan Rayya tak ada di kamar.


"Nggak ada mah..."


Ceri sudah menangis terduduk di sofa, sedangkan Bibi masih terus mencari hingga keluar pagar. Beliau tak menemukan ada yang membawa Rayya, mencoba bertanya pada tetangga tak ada juga yang melihat Rayya di bawa keluar dari rumah.


"Bagaimana Bi?" lirih Ceri saat melihat Bibi kembali masuk kerumah.


Bibi menggelengkan kepala dan itu menambah kesedihan di hati Ceri, ia sudah tak bisa berpikir positif. Ceri yakin jika ada yang menculik Rayya saat ia ke dapur.


Melihat sang mamah yang hanya terduduk lemas, Regan segera mencari ponsel Ceri untuk menghubungi Tio. Regan tak tega melihat mamahnya hanya bisa menangis setelah mencari Rayya tak kunjung di temukan.


"Hallo sayang.."


"Papah...."


"Hai boy, ada apa?"


"Rayya hilang Pah..."

__ADS_1


"Maksudnya gimana sayang? mamah mana?" Tio begitu terkejut dengan kabar yang tak mengenakan. Ia butuh penjelasan dari Ceri tetapi tampaknya Ceri tak bisa di ajak bicara.


"Mamah nangis Pah."


"Oke Papah pulang sekarang." Tio segera menutup panggilan tersebut.


"Pak saya minta maaf, ada kabar kurang baik dari rumah. Saya harus segera pulang, anak saya hilang. Nanti bisa di atur ulang meeting selanjutnya ya Pak, Set ikut gue!" Tio segara beranjak dari duduknya.


"Permisi Pak.."


"Baik Pak Tio." Klien itu pun tampak bingung, yang ia tahu Tio belum menikah lalu anak siapa yang ia maksud.


Tio segera berlari menuju mobil, hatinya tak tenang di tambah Regan mengabarkan jika Ceri menangis.


"Anak loe ilang beneran?"


"Gue juga nggak tau pastinya gimana, yang jelas tadi Regan telpon kalo Rayya hilang dan Ceri dari tadi nangis. Ayo cepetan antar gue balik dulu setelah itu kita Cari Rayya!" titah Tio segera masuk kedalam mobil.


"Cepet Set!" seru Tio yang sudah tidak sabar.


"Iya bentar lagi sampe.." Seto melajukan dengan cepat tapi tetap menjaga keselamatan. Ia tak ingin keduanya malah berujung ke rumah sakit.


Setibanya di rumah, Tio segera berlari masuk menemui Ceri yang hanya diam menangis dengan memanggil Rayya.


"Sayang..."


Ceri menoleh lalu segera beranjak dari duduknya dan berlari menghampiri Tio saat mendengar suaranya dari ambang pintu. Ceri memeluk erat dengan tangis yang menyesakkan. Ia tak tau lagi harus bagaimana dan hanya Tio tempatnya berkeluh kesah.


"Ada apa sebenarnya sayang?"


"Rayya hilang....Rayya hilang...hiks hiks hiks...."

__ADS_1


Tio menarik nafas dalam mencoba untuk menenangkan dan melirik Seto memberi kode padanya. "Kamu tenang ya, kita cari sama-sama. Aku tau ini berat tapi yakin Rayya pasti akan di temukan."


Ketiga teman Tio melacak keberadaan orang yang di curigai menyelinap memasuki rumahnya tanpa sepengetahuan Ceri. Dapat dilihat dari cctv rumah mereka jika ada orang berbaju serba hitam masuk ke dalam rumah dan tak lama keluar dengan membawa Rayya.


Seto menghubungi orang-orang terpercaya yang bisa membantu dalam pencarian. Melacak mobil putih yang di duga di pakai orang tersebut dalam menjalankan aksinya.


Hingga malam semua tampak sibuk dengan tugas masing-masing, sedangkan Tio kewalahan menenangkan Ceri yang berulang kali tak sadarkan diri. Regan pun selalu menempel pada mamahnya tak ingin meninggalkan.


"Sayang makan dulu ya, kata Bibi kamu belum makan dari siang. Aku suapin ya..." ucap Tio lembut tapi di jawab gelengan kepala oleh Ceri. Jangankan untuk makan, minum saja ia serasa tak bisa menelan.


Tio memeluk Ceri dengan mengusap punggungnya agar tenang dan terlelap, sejak tadi Tio tak dapat kemana-mana karena kondisi Ceri yang tak bisa di tinggal. Hingga ia memasrahkan pencarian pada Seto dan yang lainnya.


Regan sudah terlelap di samping mamahnya begitupun dengan Ceri yang mulai tenang serta menghentikan tangisnya dan ia yakin jika sebentar lagi Ceri pun akan terlelap agar ia bisa ikut mencari dimana penjahat itu mencoba membawa Rayya ke suatu tempat yang sulit di lacak.


"Bagaimana?" tanya Tio setelah memastikan Ceri tidur dengan nyenyak dan aman ia tinggal sejenak.


"Masih sulit di temukan, dia meninggalkan mobil yang tadi dipakai dan beralih dengan mobil lain yang tak terlihat dari cctv jalanan."


"Dimana mobil putih itu sekarang?"


"Ada di rental setelah tadi di ambil oleh pemiliknya di tengah jalan. Ternyata itu mobil sewaan dan gue rasa dia sengaja nggak ninggalin identitas saat nyewa itu mobil. Soalnya gue tanyain pemiliknya dia nggak tau dan hanya menerima sewa 5 kali lipat dari harga normal. Habis itu dia membiarkan mobil itu di pakai tapi hanya dalam watu dua jam, nomor yang buat menghubungi itu tukang rental juga udah nggak aktif lagi. Terakhir ia pakai di tempatnya bertukar mobil." ucap salah satu teman Tio.


Mereka saat ini berkumpul di mobil Tio yang di lengkapi dengan beberapa laptop untuk melacak dan meretas cctv jalanan.


"Cari terus, ikutin jejak mobil hitam yang ia pakai. Gue nggak mau tau, kita harus bisa menemukan penculik itu secepatnya. Bini gue bisa sakit kalo anaknya nggak cepat di temukan. Dan gue nggak akan maafin orang itu seandainya berani nyakitin anak gue!"


"Set, retas semua cctv jalanan. Dan liat ciri-ciri si penculik. Apapun yang bisa di jadikan petunjuk akan kita selidiki. Tapi kira-kira penculiknya laki-laki atau perempuan?"


"Kalo di lihat dari posturnya yang bawa anak loe itu laki-laki, tapi kita juga nggak tau siapa di balik dalang penculikan ini. Kalo gue rasa ada sesuatu yang mereka inginkan dari loe!"


..."Apapun alasannya gue nggak akan maafin dia setelah orang itu berani buat istri gue menangis...."...

__ADS_1


__ADS_2