
Harapan hanyalah harapan dan anak kecil tetaplah anak kecil, yang rengekannya membuat kepala nyeri. Sudah dua minggu Ceri dibuat pusing oleh permintaan Regan yang ingin bertemu dengan Tio, sedangkan sejak kejadian di mall itu mereka sudah tak bertemu lagi.
Ceri tak tau lagi alasan apa yang ia berikan sedangkan sudah tiga hari ini Regan sulit di suruh makan dan terus diam di kamar tanpa mau bermain keluar seperti biasa. Protes yang berhasil membuat Ceri pusing sendiri.
Sedangkan di sekolah pun, Bu guru sudah menegurnya karena Regan yang tak fokus belajar dan diam saja ketika di tanya. Bermain dengan teman pun jarang, ia lebih suka di kelas dengan menundukkan kepala.
Pernah di tanya oleh Bu guru alasan apa yang membuat Regan seperti ini, tapi anak itu hanya menjawab jika rindu Papah. Dan itu membuat Ceri sedih. Wanita itu memutuskan untuk mengajak Regan ke pemakaman Reno.
"Sayang, kata Bu guru anak Mamah sedang merindukan Papah. Ayo kita ke pemakaman Papah nak!" bujuk Ceri tapi segera di jawab dengan gelengan kepala oleh Regan.
Ceri bernafas berat, sebagai ibu ia tau betul apa yang membuat Regan berubah tapi jika ada hal lain yang membuat Regan kembali seperti dulu lagi apapun akan Ceri coba.
"Terus?" tanyanya lembut.
"Papah Reno suka galak sama mamah, tapi kalo Om Tio nggak, dia baik sama Regan. Sama mamah juga nggak pernah marah-marah. Regan suka sama Om Tio Mah, tapi Regan sedih Om Tio mau nikah sama Tante galak itu. Om Tio nggak sayang Regan ya mah?" tanyanya polos dengan mata berkaca.
Ceri mengusap lembut kepala Regan, hatinya sakit melihat sang putra mengharapkan orang lain sebagai Papahnya. Sedangkan dirinya belum bisa menerima pria lain dalam hidupnya.
Hari ini Romi datang berkunjung, kesibukannya membuat ia tak ada waktu untuk sekedar menemui Ceri. Jika tak di sempatkan pun hari ini ia akan gagal lagi, sedangkan rindu mulai menyita akal pikirannya.
"Dimana Regan?" tanyanya setelah menyeruput kopi buatan Ceri.
"Ada di kamarnya, tumben nggak sama Tante Tina?" kini keduanya duduk di teras rumah.
"Kalo sama mamah nggak bebas, mau ngomong kangen sama kamu aja aku canggung. Udah beberapa Minggu nggak ketemu, kamu nggak kangen sama aku? padahal aku kerja di Jakarta demi kamu loh. Aku mau kita bisa dekat."
Ceri menarik nafas dalam, dia tau kemana arah pembicaraan Romi. Ceri menatap wajah Romi yang kini juga melihatnya dengan penuh harapan.
"Jujur aku belum bisa membuka hati buat siapapun, lagian kepergian Reno belum ada satu tahun. Nggak semudah itu untuk lupain sedangkan hati masih enggan meninggalkan semua tentang dia. Rom, jangan melakukan apapun semata-mata hanya demi aku. Karena aku nggak mau kecewa nantinya."
Ceri mengalihkan pandangannya ke arah depan,tatapan kosong mengisyaratkan kesedihan yang ia derita.
__ADS_1
" Aku bukan wanita yang bisa di harapkan Rom. Aku hanya janda anak dua yang di tinggal mati suaminya. Kamu belum pernah menikah, apa tidak sebaiknya mencari yang sama dengan statusmu? kalo kamu bertahan di sini hanya demi aku, bukan hanya aku takut mengecewakanmu tapi juga aku tidak ingin persahabatan kita hancur hanya karena aku tak membalas perasaanmu."
"Cer....tapi aku serius dan hati ini masih sama. Aku udah pernah mencoba buka hati untuk yang lain, tapi hasilnya nihil. Aku hanya menginginkan kamu." Romi mencoba menggenggam tangan Ceri, tapi dengan cepat Ceri menghindar. Melihat itu Romi paham, dia tak marah tapi mencoba mengerti jika Ceri sekarang menjaga batasan.
"Aku mohon, buka sedikit hatimu untukku."
Ceri bingung harus menjawab apa, sedangkan hati tak bisa di paksakan. Di tambah lagi persoalan Regan yang sangat menginginkan Tio sebagai Papahnya belum usai.
"Beri aku waktu Rom, aku akan mencoba berdamai dengan hatiku. Dan aku akan menanyakan dulu pada Regan."
Sepulang Romi dari rumahnya, kini Ceri tampak berpikir langkah apa yang harus ia ambil. Ceri menatap Regan yang kini tertidur lelap. Badannya mulai terlihat perubahan karena sudah mulai susah makan.
Ceri tak mungkin memohon pada Tio untuk kembali menjalankan amanah papahnya, atau harus membuka hati untuk Romi agar Regan tetap mendapat kasih sayang seorang Papah seperti yang ia inginkan.
Pagi ini Ceri sudah rapi, sebelumya ia sudah memandikan Rayya dan menyiapkan baju ganti untuk Regan. Walaupun weekend, Ceri membiasakan anaknya tak bermalas-malasan untuk membersihkan diri.
Seperti biasa Rayya akan tertidur setelah mandi dan di beri ASI. Saatnya Ceri membujuk Regan untuk sarapan pagi. Masuk ke kamar putranya kemudian duduk di samping ranjang tepat Regan berdiam diri.
"Tapi Regan belum lapar Mah," jawabnya.
"Kalo gitu mamah akan menunggu Regan sampai mau makan. Jika Regan nggak makan Mamah pun nggak akan makan." Ceri berusaha bersabar menghadapi anaknya. Entah sampai kapan Regan akan seperti ini. Sedangkan pernikahan Tio tinggal seminggu lagi.
"Mamah jangan ikutan Regan, nanti mamah sakit."
"Biar saja mamah sakit, asal mamah bisa makan bareng jagoan mamah," Ceri mulai tersenyum saat melihat Regan yang berpikir kemudian turun dari ranjang dan keluar kamar.
Kini keduanya sudah berada di meja makan, Ceri dengan sigap mengisi piring Regan dengan nasi, sayur dan lauk kesukaan Regan.
"Ini sayang, mau mamah suapi?"
"Nggak mah, Regan sudah besar. Regan makan sendiri," ucapnya dengan wajah datar tapi justru membuat Ceri gemas. Dia bersyukur Regan mau makan kembali dan berharap kali ini piringnya bersih tak banyak menyisakan nasi seperti kebiasaannya akhir-akhir ini.
__ADS_1
Keduanya makan dan tak ada lagi perbincangan. Ceri tersenyum melihat piring Regan, walaupun masih ada sisa setidaknya sudah banyak yang anaknya makan.
"Mau kemana nak?"
"Regan mau duduk di luar," kebiasaan Regan setiap Minggu tiba. Akan duduk di luar menunggu Tio datang dan hal itu tak dapat Ceri cegah.
"Assalamualaikum..."
"Wa'allaikumsalam Oma." Regan segera menghampiri kemudian menangis dalam dekapan beliau.
"Kenapa menangis nak?" tanyanya, kemudian menatap Ceri dengan wajah bertanya.
"Regan rindu Om Tio, mana Om Tio Oma?" tanyanya di sela tangis yang memilukan.
"Om Tio sedang sibuk nak, nenek kesini untuk menjenguk Regan dan Rayya. Oma rindu kalian," ucapnya kemudian mengajak Regan untuk duduk di sofa.
Ceri datang membawakan minuman, ia pun ikut duduk dan melihat wajah sang putra yang begitu kecewa.
"Apa sibuk untuk menikah dengan Tante galak?"
Mamah Tio tampak tertegun mendengar pertanyaan Regan dan Ceri pun tampak tak enak. Tapi setelahnya ia tau siapa yang Regan maksud.
"Tante Tiwi?"
"Iya Oma.
Mamah Tio tersenyum melihat Regan yang tampak merajuk, "Iya nak, Minggu depan Regan datang ya, Oma sudah menyiapkan baju untuk Regan, Rayya dan mamah. Ini, Oma sudah bawakan bajunya sama undangan pernikahan Om Tio." Mamah Tio meletakkan paper bag di meja tapi betapa terkejutnya beliau saat mendengar ucapan Regan.
"Om Tio nggak sayang Regan, Regan mau Om Tio jadi Papah Regan Oma!" seru Regan kemudian pergi ke kamar dengan berurai air mata.
...πππ...
__ADS_1
Jangan lupa like, coment dan vote ya....makasih banyakπ€