Menikahi Janda

Menikahi Janda
Tio Murka


__ADS_3

Mendengar ungkapan hati Regan dan mengetahui alasan yang membuat Regan tampak murung membuat mamah Tio terdiam memikirkan. Hingga Ceri yang berada di sampingnya segera mendekati.


"Tante, tolong jangan di pikirkan ucapan Regan. Ceri akan terus memberi pengertian padanya." Ceri benar-benar tidak enak, ia tak ingin menjadi beban orang lain.


"Nak, pernikahan Tio tinggal menghitung hari." Mamah Tio tampak menyesali semuanya, beliau merasa mengecewakan Regan.


"Tante, jangan seperti ini. Lakukan yang memang sudah di rencanakan. Ceri akan membujuk Regan untuk datang dan memberikan pengertian untuknya. Jangan karena Regan membuat Tante dan keluarga menjadi terbebani."


Ceri menatap mobil yang mamah Tio kendarai sudah menjauh pergi, ia segera masuk dan kembali duduk di sofa dengan mengeluarkan isi papar bag yang tadi di berikan oleh Tante Arsita. Matanya membola melihat sebuah gamis cantik berwarna Salem dengan baju kemeja kecil untuk Regan dan dress lucu untuk Rayya.


Dia tak menyangka mamah Tio begitu perhatian, tulus menyayanginya dan kedua anak-anaknya. Bersyukur di pertemukan dengan orang-orang baik. Kemudian netranya menangkap sebuah undangan yang bernamakan Tio dan Tiwi. Nama yang serasi dan semoga bahagia hingga nanti. Doa Ceri tersemat ketika melihat undangan pernikahan Tio.


"Ini yang terbaik untuknya."


🍀🍀🍀


Di rumah Tio begitu frustasi dengan wanita yang kini menyandang status sebagai calon istri. Sudah beberapa minggu Tiwi terus datang dan menempel padanya. Hingga tak jarang di jam kerja pun ia akan berkunjung hanya sekedar mengajaknya makan siang dan memintanya menemani kemana pun ia pergi.


Seperti hari ini, pagi-pagi setelah sang mamah pergi ke rumah Ceri dia datang dengan sengaja. Sebetulnya Tio akan ikut mamahnya karena sudah lama tak bertemu Regan sejak kejadian di mall tempo hari. Tapi karena Tiwi menghubungi mamahnya mengatakan ingin datang membuat Tio dilarang ikut karena tak enak dengannya.


"Mah, Tio kangen loh sama Regan."


"Tapi Tiwi mau datang kerumah, nggak enak donk sayang kalo kamunya nggak ada di rumah pas dia datang. Apa lagi udah ngabarin mamah sebelumnya."


Tio kesal, dia merasa tak nyaman saat dekat dengan Tiwi. Sahabatnya yang dulu begitu dekat kini berubah sifat dan sikap, ntah apa yang membuatnya begitu berubah.


Tio pun akhirnya mengalah, membiarkan mamah mengendarai sendiri mobilnya dan ia tetap tinggal di rumah. Hingga mobil Tiwi datang, ia segera masuk kamar dan berpura-pura masih terlelap. Begitu malas bertemu hingga membuatnya memilih menjauh.


"Bi, Tio nya mana ya?" tanpa salam Tiwi masuk ke rumah.


"Tadi ada non, mungkin sekarang sudah kembali ke kamarnya," jawab bibi.

__ADS_1


Tanpa meminta ijin Tiwi segera melangkah menuju kamar Tio, ia masuk tanpa mengetuk pintu. Kemudian duduk di pinggir ranjang menatap Tio dengan tatapan penuh arti. Bukan berniat membangunkan Tiwi justru merebahkan tubuhnya di samping Tio.


Dalam hati Tio mengumpat merutuki kebodohannya yang memilih untuk tidur tanpa memprediksikan jika Tiwi akan segila itu. Tio enggan untuk membuka mata, tapi saat belaian jemari Tiwi mulai turun dari kepala hingga ke leher jenjangnya. Tio segera menepis tangan Tiwi dengan emosi.


Niat Tiwi merangsang Tio agar lebih agresif dan berlanjut menerima walaupun berawal dari hasrat malah berujung amarah yang ia dapat.


"Mau ngapain loe! keluar dari kamar gue!" sentak Tio dengan tatapan tajam menghunus membuat nyali Tiwi menciut.


"Gue cuma mau bangunin loe aja, kenapa loe marah sich Tio!" ucapnya kesal menutupi rasa takutnya.


"Turun dan keluar!" titahnya dengan sikap dingin membuat Tiwi semakin tak bisa berkutik. Dia segera turun dari ranjang, merapikan dressnya yang sedikit berantakan.


"Keluar!" sentaknya lagi.


"Loe kenapa sich Tio? sebentar lagi kamar ini juga akan jadi kamar gue! loe lupa kalo Minggu depan kita menikah. Lagian apa salahnya kalo gue ikut tidur di ranjang loe, melakukan lebih pun gue rasa nggak masalah karena kita udah resmi bertunangan dan pasti akan menikah."


Tio menggelengkan kepala, tak menyangka jika Tiwi memiliki pemikiran seperti ini. "Gila loe! bergaul sama siapa loe semenjak lepas sama gue dan Sella. Gue jadi sanksi sama loe, apa jangan-jangan loe udah sering begitu sama cowok loe!"


"Kenapa? sadar nggak loe udah banyak berubah? loe jauh seperti yang gue kenal dulu. Dengan loe begini gue jadi mikir seribu kali buat jadiin loe istri!" celetuk Tio kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Dengan kesal ia membanting pintu membuat Tiwi terjingkat mendengarnya.


"Munafik loe Tio! gue yakin loe juga udah lebih sama Sella. Dan gue nggak akan biarin loe lepas dari genggaman gue!" Tiwi segera keluar dan pergi.


Di dalam kamar mandi Tio yang kesal meninju dinding hingga jemarinya terluka. Pernikahan di depan mata dan ia merasa semakin muak dengan Tiwi. Ada rasa menyesal telah menyetujui permintaan dari kedua orangtuanya.


"Tau gini mending gue sendiri, perempuan model begitu banyak di pasar Loak!"


Setelah membersihkan diri dan rapi dengan pakaian rumahannya kini Tio turun dan melihat mamah masuk rumah dengan wajah sedih. Tio yang penasaran segera mendekati dan duduk di samping beliau.


"Mamah kenapa? Regannya nggak ada di rumah?" tanyanya penasaran.


"Ada."

__ADS_1


Tio mengerutkan keningnya, ada apa dengan mamah yang hanya menjawab dengan begitu singkat.


"Terus?"


"Regan Tio..."


"Regan kenapa mah? sakit lagi?" tanyanya dengan perasaan khawatir.


Mamah menarik nafas dalam kemudian menatap sang putra dengan perasaan yang tak karuan.


"Regan merindukanmu nak.."


Mendengar itu Tio tersenyum bahkan tertawa kecil membayangkan wajah gembul yang begitu lucu. Walaupun dengan orang lain bocah itu bersikap datar dan sedikit dingin tapi itu menambah nilai plus penampilannya yang masih kecil saja sudah menarik perhatian.


"Tio juga kangen banget Mah, mau ikut malah mamah larang. Tau gitu tadi Tio ikut aja dari pada di datengin sama perempuan nyebelin. Tapi apa yang membuat mamah sedih begini?" tanyanya lagi.


"Mamah nggak tau alasan apa yang membuat Regan nggak suka sama Tiwi, dia menyebut Tiwi Tante galak. Dan sudah hampir tiga Minggu ini Regan murung dan susah makan. Dia sering mengurung diri di kamar, sempat senang ketika mamah datang. Tapi tak lama dia begitu marah kemudian menangis saat mamah memberikan baju untuk mereka menghadiri acara pernikahan kamu dan Tiwi."


"Apa yang buat Regan marah hingga sedih begitu Mah?"


"Regan...." Begitu berat untuk beliau mengatakan, entah ia pun begitu menyayangkan keputusan Ceri yang membuat Tio gagal menikahinya.


"Ada apa dengan Regan Mah? jika dia bersikap begitu terus dia bisa sakit lagi mah! Ceri juga ngapa nggak hubungin gue sich kalo anaknya pengen ketemu, kebiasaan! masuk rumah sakit lagi aja." Tio mendadak uring-uringan membuat sang mamah diam mengamati. Pantas jika Regan menginginkan anaknya, perhatian Tio luar biasa.


"Mah..."


"Regan ingin kamu menjadi Papahnya, dia nggak setuju kamu menikah dengan Tiwi."


Tio tercengang menatap sang Mamah, tanpa pikir panjang ia segera masuk ke kamar meraih kunci mobil dan jaketnya kemudian pergi tanpa mengganti pakaian.


...🌷🌷🌷...

__ADS_1


Dukung terus ya agar kehaluan othor bisa kasih dobel-dobel...


__ADS_2