Menikahi Janda

Menikahi Janda
Panas


__ADS_3

Makan malam mengandung kecanggungan karena kejadian di kamar mandi membuat Ceri mendadak diam. Tio paham sedangkan Regan merasa heran.


Beberapa kali Regan meminta nambah ayam tapi Ceri hanya diam walaupun tangannya tetap mengambilkan. Tio melirik Ceri sekilas kemudian mengusap rambut Regan dengan gemas.


"Papah, mamah diam saja apa giginya sedang sakit?" tanyanya polos.


"Mamah......." Tio melirik Ceri lagi, setelahnya barulah ia menatap Regan memberi pengertian.


"Mamah sedang menenangkan diri. Orang dewasa jika sedang ada yang di rencanakan pasti berpikir dengan matang, begitupun mamah. Jadi mamah lebih diam terlihat kalem sebenarnya merencanakan sesuatu yang kita tidak tau."


Ceri diam menyimak, dia meneruskan makan tanpa menoleh dan memilih fokus agar cepat selesai.


"Memang mamah merencanakan apa Pah?" tanya Regan lagi. Ingin bertanya pada mamahnya takut tidak di jawab. Dan dia lebih memilih bertanya pada Papah yang sejak tadi tersenyum ramah.


"Mungkin sedang merencanakan adik untuk kamu dan Rayya."


uhuuuk uhuuuk uhuuuk.....


Tio dengan sigap mengambil minumnya dan memberikan pada Ceri, dengan cepat Ceri merebutnya karena memang ia sangat membutuhkan.


"Pelan-pelan minumnya!"


Ceri menganggukkan kemudian meminum air tersebut hingga habis. Tio mengusap punggung Ceri dengan rasa bersalah.


"Kalo udah makannya cepat ajak Rayya ke kamar! biar Regan sama gue," ucapnya lembut dan lagi-lagi hanya di jawab dengan anggukan.


Ceri segera beranjak dari tempat duduknya dan melangkah menuju kamar bersama Rayya yang sudah terlelap setelah tadi di timang oleh Bibi.


"Mah, kapan buat adiknya? nanti kasih tau Regan ya, biar Regan bantuin!" seru Regan membuat langkah kaki Ceri yang sudah sampai di undakan pertama seketika terhenti dan tubuhnya berbalik menatap wajah Regan yang kini tersenyum bahagia dengannya.

__ADS_1


Sedangkan Tio tercengang dengan ucapan Regan, gimana maksudnya jika membuat adik di bantu dengan bocah kecil. Apa tidak merusak suasana. Regan benar-benar membuat Tio gemas.


"Regan sayang, buat adik itu tidak boleh ada campur tangan anak kecil. Regan cukup berdoa agar usaha mamah diperlancar."


Ceri menggelengkan kepala mendengar jawaban yang di berikan Tio pada Regan, dia segera naik ke atas dan tak mau terlibat lagi dengan pemikiran bapak dan anak yang membuatnya semakin tak mengerti.


"Ceri....udah tidur?" Tio menepuk pundak Ceri yang tidur memunggunginya, tapi tak ada hasil karena kemungkinan Ceri sudah nyenyak.


Tio menarik pundak Ceri hingga tidur terlentang, menatap wajah cantik dengan kulit putih dan bersih. Tangannya mengusap Surai hitam yang terjuntai, menghirup aroma rambut Ceri yang menenangkan. Dan terlelap dalam mimpi dengan memeluknya.


Sudah hampir dua bulan pernikahan mereka dengan segala kesibukan Tio yang semakin membuat intensitas pertemuannya dengan Ceri hanya di ranjang dan saat weekend saja.


Perkembangan dari hubungan mereka pun tak terlalu pesat karena kurangnya komunikasi. Tio benar-benar di buat sibuk dengan projects baru yang mengharuskan ia bolak balik Jakarta Bandung. Terkadang jika sudah sangat lelah ia memilih menginap di Bandung baru keesokan harinya kembali ke Jakarta.


Regan pun sudah cukup mengerti dengan kesibukan Papahnya, Tio selalu menyempatkan mengajak pergi saat weekend tiba walaupun hanya sekedar makan es krim di luar.


"Masuk!"


Tiwi tersenyum tipis melihat Tio yang sibuk di meja kerjanya, ia datang dengan membawa beberapa gambar contoh furniture yang akan Tio pilih.


"Sendiri?" tanya Tio saat ia tak menemukan sekertaris Tiwi yang biasa menemani.


"Iya, mau dimana? sofa atau meja kerja?"


"Sofa aja!" Tio segera beranjak dari duduknya dan melangkah menuju sofa untuk melihat gambaran yang akan ia pilih.


Tiwi beralih mendekat duduk di samping Tio dengan menunjukkan beberapa gambar dan menjelaskan lebih rinci detailnya. Dengan jarak yang sangat dekat Tiwi bisa merasakan aroma maskulin yang begitu menusuk di hidung hingga mengganggu konsentrasi dan meningkatkan libido dalam tubuhnya.


Tio masih santai tak menanggapi akan perubahan yang Tiwi tunjukkan. Sedangkan Tiwi mulai sedikit gelisah dengan membayangkan sesuatu yang semakin membuat panas tubuhnya. Di tambah lagi suara Tio begitu dekat di telinga, membuat tubuhnya meremang merasakan hawa yang mulai panas.

__ADS_1


Entah apa yang terjadi dengan Tiwi, setelah putus dari pacarnya saat masih kuliah ia tak pernah bisa menahan saat posisi sudah dekat dengan pria yang ia suka. Sebelumya Tiwi tak pernah merasakan ini dengan Tio karena memang saat bertemu selalu ada jarak aman yang masih cukup membuatnya bisa menahan. Tapi entah mengapa hari ini ia betul-betul menginginkan.


"Loe kenapa sich?" tanya Tio yang mulai sadar akan kegelisahan yang Tiwi tunjukkan.


"Oh nggak, ayo gue lanjutin lagi jelasin yang lainnya," jawabnya dengan menggelengkan kepala dan sikap yang berusaha untuk tenang, Tio kembali memfokuskan diri dengan gambar yang ia lihat.


Tiwi pun tidak membiarkan Tio melihat dirinya yang sudah on dengan suhu tubuh semakin tinggi. Bisa saja wanita itu menyerang, tapi bukan itu yang ia inginkan. Bermain cantik hingga kembali akrab dan mampu mengambil hati.


"Gue milih yang ini Tiwi!" Tio menunjukkan gambar yang ia inginkan membuat Tiwi semakin mendekat. Hawa panas semakin menjalar hingga ia terasa seperti orang yang meminum obat perangsang padahal tidak. Tiwi mengalami ketagihan *** dan itu mempengaruhi keinginan memiliki sesuatu menjadi besar. Itu pula yang menyebabkan ia rela di jadikan istri kedua oleh Tio. Pergaulan bebas saat kuliah membawanya jatuh pada pemuda yang hiperseks dan Tiwi menikmati hingga tak dapat mengontrol diri.


Tio cukup terkejut saat mendapati tangan Tiwi sudah singgah di pahanya,pria itu menyorot dengan tajam hingga Tiwi salah tingkah. Bukan karena takut, tapi karena sorot mata Tio membuat Tiwi semakin kalut.


Bak api di siram bensin, Tiwi semakin frustasi dengan tubuhnya yang tidak bisa mengontrol hingga terasa gatal dan ingin lekas bersenggama.


Tio masih menatap Tiwi dengan awas, tingkah Tiwi membuatnya curiga apa lagi keringat yang mulai muncul di tengah kesejukan ruangan yang ber-AC. Tio yakin jika ada yang tidak beres dengan Tiwi. Pandangan matanya pun sudah sayu penuh keresahan.


Tiwi yang terus di tatap oleh Tio semakin menatapnya penuh minat. Hasratnya semakin meledak apa lagi melihat wajah Tio penuh selidik, baginya sangat sexy dan ia menyukai.


Tio kembali di kejutkan dengan tangan Tiwi yang tiba-tiba menyentuh dada, dan mencengkeram kemejanya dengan kencang.


"Tiwi loe gila! lepas!"


Tiwi seperti sudah tertutupi oleh nafsu ia semakin maju mengikis jarak hingga tubuh Tio mundur kebelakang.


"Mau apa loe Tiwi?" Tio berusaha melawan dan terus menghindar.


"Gue mau loe Tio!" lirihnya.


Gerakan Tio kalah gesit dengan Tiwi yang sudah menindih dan menyambar bibir.

__ADS_1


__ADS_2