Menikahi Janda

Menikahi Janda
Terdiam


__ADS_3

Setelah makan malam Tio dan Ceri kembali ke kamar, Tio segara merebahkan tubuhnya di ranjang sedangkan Ceri masuk ke kamar mandi untuk berganti baju tidur dan mengambil wudhu.


Ceri mengerjakan kewajibannya 4 rakaat kemudian menyempatkan untuk membaca Qur'an, mengirim doa untuk almarhum Reno dan kedua orangtuanya yang sudah berpulang.


Pipinya mulai basah saat mengingat kembali semua kenangan dengan Reno. Kenangan pahit yang membekas di jiwa tetapi karena cinta semua seakan tak terlihat.


Ceri menghela nafas berat kemudian melipat sajadah dan merapikan mukenah lalu menaruh di tempatnya.


Wanita itu terjingkat saat membalikkan tubuhnya, Tio sudah ada di depan mata. Menatapnya dengan tatapan penuh makna.


"Ke..kenapa? bukannya tadi loe udah tidur?" Ceri gugup melihat tatapan Tio yang begitu dalam terhadapnya. Apa lagi jarak keduanya yang begitu dekat hingga menimbulkan detakan jantung berkali lipat.


"Nggak usah di inget-inget lagi yang pait-pait! lupain! sekarang loe istri gue, walaupun gue belum cinta sama loe tapi seenggaknya gue nggak nyakitin loe!"


Tio mengusap lembut kepala Ceri membuat hati wanita itu berdesir dengan tatapan sendu. "Jangan gini Tio, kalo gue nyaman ntar repot urusannya!"


"Emang ngapa kalo nyaman ma laki sendiri?" tanyanya menatap intens Ceri yang mendongak mengimbangi tatapan Tio.


"Gue capek mencintai sendirian Tio! loe nggak ngerti juga, berasa bodoh jadi perempuan kalo sampe terulang lagi. Tapi karena udah cinta dan pengabdian sebagai seorang istri buat gue mau nggak mau ya harus terima!"


Tio menganggukkan kepala, ia paham apa yang Ceri rasakan. Tapi dirinya juga tak akan melakukan seperti yang Reno lakukan. Berusaha menghargai apa yang ia punya walaupun belum ada rasa sayang.


"Hhmm....gue paham, tapi gue nggak ngelarang loe suka sama gue, apa lagi cinta. Itu hak semua manusia, berarti ketampanan gue nggak bisa di ragukan." Tio menaik turunkan alisnya menggoda Ceri.


"Apa sich loe Tio!" ucapnya dengan tangan memukul lengan Tio.


"Tuh kan udah berani gebuk-gebuk! demen loe ntar sama gue!" ledeknya lagi.


"Stop Tio!" sahut Ceri, kemudian membuang wajahnya.


Tio tertawa melihat wajah Ceri yang sudah memerah bak tomat. "Cie....wajahnya merah cie...."

__ADS_1


"Nggak usah ketawa!" Ceri segera melangkah menuju ranjang dan itu tak membuat Tio berhenti meledeknya.


"Aduh...malah ngajak ke kasur lagi. Udah siap banget kayaknya nich ngasih jatah buat gue!"


Bugh


"Wah kdrt nich!" lemparan bantal yang Ceri layangkan tepat di wajah Tio membuat wajah pria itu memerah.


"Sakit nggak? sorry ya....Tapi wajah loe lucu sumpah! ha ha ha ha ....." keduanya bercanda, saling menggelitik hingga lupa jika hati mereka belum bisa bersama. Semakin akrab hingga candaan itu berakhir di ranjang dengan Tio yang kini berada di atas tubuh Ceri.


Keduanya terdiam dengan mata saling memandang. Jantung mereka pun sama-sama berdetak kencang. Belum ada rasa tapi tubuh merespon dengan kejutan yang akan membuka jalan untuk cinta masuk menyelinap di dalam hati mereka.


Keduanya mulai terbawa suasana, melihat Tio yang mulai mengikis jarak, Ceri seketika memejamkan mata. Dia paham apa yang akan terjadi selanjutnya karena keduanya sudah terhanyut dengan romansa yang sama.


Hembusan nafas semakin terasa menerpa wajah ayu Ceri, perlahan matanya terpejam karena wajah Tio semakin mendekat.


"Cer, loe kurang vitamin C ya, bibir loe kok pecah gini!"


Mata Ceri terbuka, ia sangat malu. Ingin sekali memukul kepalanya, karena sudah berani berpikir yang tidak-tidak.


Ceri kembali membuang muka, ia segera mendorong tubuh Tio hingga ke sisi ranjang dan menarik selimut menutupi tubuhnya lalu membelakangi tubuh Tio dan kembali memejamkan mata.


Mendapat reaksi spontan dari Ceri, Tio tersenyum getir tak menanggapi. Dengan terpejamnya mata Ceri ia paham jika wanita itu membuka jalan. Dirinya pun tak memungkiri, jika ia tergoda. Tapi Tio paham cinta belum hadir di antara keduanya. Dia tak sanggup untuk melanjutkan.


Keduanya terdiam lalu tertidur tanpa ada lagi canda dan pembicaraan. Hingga pagi menjelang Ceri segara bangun dan bergegas membersihkan diri. Ceri menyiapkan pakaian kerja Tio. Meletakkan sepatu serta tas kerja di tempat yang dengan mudah Tio jangkau. Dan keluar kamar dengan membawa Rayya.


Tio terbangun dengan sendirinya, menatap ranjang sebelah yang telah kosong dan segera turun dari ranjang lalu masuk ke kamar mandi.


Setelah 15 menit ia keluar dan segera memakai pakaian yang telah tersedia. Melihat sepatu dan tas kerja yang sudah di siapkan membuat hati Tio menghangat. Dia teringat akan kejadian semalam yang berujung saling diam. Ada rasa bersalah tapi menurutnya ini yang terbaik untuk mereka selama cinta belum kunjung datang.


Setelah rapi ia keluar kamar dan lanjut menuju meja makan untuk sarapan. Di sana ia tak menemukan Ceri ataupun Regan. Tio melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul Setengah 8 pagi. Biasanya Regan masih sarapan tapi pagi ini tak ada siapapun selain Bibi yang sedang menjemur Rayya di halaman.

__ADS_1


Tio meminum kopi kemudian keluar rumah untuk menanyakan tentang keberadaan istrinya.


"Bi, Ceri dan Regan kemana?"


"Non Ceri sudah berangkat mengantar den Regan tuan."


Tio terdiam sejenak, hatinya merasa tak nyaman. Entah mengapa ingin kembali ke meja makan pun enggan.


"Sarapan dulu Tuan, tadi non Ceri sudah menyiapkannya."


Tio menganggukkan kepalanya, kemudian kembali ke meja makan hanya untuk mengambil tas kerjanya dan memutuskan untuk segera berangkat.


Sesampainya di kantor, ntah apa yang terjadi di dirinya, ia merasa tidak tenang dan ingin segera pulang. Berulang kali membuang nafas kasar, beruntung hari ini pekerjaan tak terlalu padat. Hingga dirinya yang sedang tak fokus meminta Seto untuk mengerjakan sebagian pekerjaannya.


"Loe kenapa? gelisah gitu?" tanya Seto dengan membawa berkas yang harus Tio tanda tangani.


"Ck, gue juga nggak ngerti. Kerjain ini sekalian, gue nggak bisa mikir!"


"Kangen bini kali loe!"


Tio hanya terdiam tak niat menimpali, ucapan Seto membuatnya teringat akan sikap Ceri yang mendadak diam. Semalam ia pikir diamnya Ceri hanya sebentar saja. Tapi pagi-pagi istrinya seakan menghindar dan sudah mengantar Regan. Padahal hampir seminggu dia yang selalu mengantar Regan ke sekolah.


"Udah nggak usah di pikirin, ini gue kerjain biar sore kita udah balik. Bini gue lagi pengen ngajak jalan."


"Ya udah kerjain itu dulu, gue kerjain yang lainnya."


Tio hanya mampu mengerjakan yang ringan-ringan, otaknya seketika tak bisa berpikir dengan lancar. Hingga sore pekerjaan yang seharusnya bisa di kerjakan hanya dengan waktu 30 menit justru baru selesai saat Seto sudah kembali mengembalikan berkas yang sudah selesai ia kerjakan.


"Gila loe jam segini baru kelar?"


"Yang penting kelar," jawabnya tak niat.

__ADS_1


"Gila, ini sich loe kena virus bucin bro. Makan siang kagak, kerjaan nggak kelar, di tambah ngelamun Bae loe...udah pulang sana jangan kelamaan di sini! kesambet loe ntar!"


__ADS_2