
"Bagaimana?"
"Gue udah amanin. Gila sich tuh awewe, nggak nyangka gue. Loe sahabatnya gimana nggak paham sama kelakuan dia?"
"Gue sahabatan hanya selama SMA, itu juga karena dia dekat sama Sella. Gue nggak tau selama kuliah pergaulan dia bagaimana."
"Parah sich, gue udah dapet informasinya. Dan dia cukup terobsesi sama loe. Intinya kalo Deket loe pengennya tuh ketemu aja sama si Beno. Dia nggak bisa nahan kalo sama loe, kayak mengarah ke hiperseks tapi sebenarnya masih bisa dia atasi kalo mau konsultasi dokter dan ngelakuin semua yang positif biar nggak kebablasan. Tapi kayaknya dia menikmati jadi sulit sendiri. Udah candu mungkin."
"Tapi harusnya dia tau tempat!" Tio berdecak kesal, lagi-lagi harus berhubungan dengan wanita hiper. Bahkan sekarang ia yang menjadi incaran.
"Ya karena Cinta sama loe! makanya kalo liat loe bawaannya pengen di masukin aja. Hahahahha"
"Jangan ketawa loe! besok loe harus ada saat gue ketemu lagi sama dia. Gue nggak mau sampai kejadian tadi terulang lagi. Untung tadi gue masih selamat kalo nggak bisa ilang perjaka gue sama wanita macem dia!"
"Njiiiiir perjaka loe udah ilang lama kali sama kelima jari loe itu, atau malah ke sepuluh jari gara-gara gantian dapet tugas biar adil jinakin uler kadut! buahahahhahah......punya bini di anggurin aja giliran di goda wanita kelas kakap loe kelabakan," ledek Seto.
Tio menarik nafas dalam, dia dan Ceri memang tak pernah membahas urusan ranjang. Keduanya hanya sebatas berciuman dan itupun bisa di hitung pakai jari berapa banyak Tio melakukannya. Mereka lebih mengedepankan cinta dari pada nafsu, sebelum ada pernyataan cinta mungkin selama itu juga Tio masih perjaka.
"Ketawa terus loe! nggak bisa balik mingkem mampuuus loe!" kesal Tio."Udah gue matiin dulu, tidur sono loe jangan kebanyakan ngekepin bini, giliran gue butuh loe molor! dasar asisten luknut! untung sahabat kalo bukan udah gue pecat!"
"Jangan donk, gue belum bisa ngajak bini gue keliling dunia udah mau loe pecat. Sorry-sorry, ya udah gue matiin. Met malam pertama ya bro, kasian si beno udah tumpul ntar lama-lama buta jalan loe diemin aja!"
"Berisik loe!"
Tut
Tio menghela nafas panjang, masalah hati belum kelar sudah mulai di usik lagi dengan wanita gila. Kehadiran Tiwi juga membuat dia sadar akan keberadaan Ceri yang bukan hanya sekedar istri di buku nikah tapi istri yang berhak sepenuhnya akan dirinya.
Tio seakan di tampar oleh kenyataan, selama ini ia santai dalam menanggapi hubungannya dengan Ceri. Setelah pembicaraan di malam itu yang membahas tentang hubungan mereka, selain di buat sibuk dengan pekerjaan dia pun seakan lupa jika Ceri butuh perhatian.
Tapi setelah kejadian tadi, dunia seakan berbalik padanya. Ia merasakan takut kehilangan melebihi rasa takutnya saat di tinggal Sella menikah.
__ADS_1
Padahal ia merasa belum ada cinta yang bertunas di hatinya tapi takut akan Ceri menyerah dan meninggalkan membuat Tio frustasi dan hingga berlaku kasar pada Tiwi. Tio mendorong tubuh Tiwi hingga terjatuh ke lantai dan menggeretnya masuk ke toilet lalu mengguyur tubuh wanita itu hingga meronta meminta maaf.
Semua yang ia lakukan saat diri menolak tapi ada nafsu yang membuai, hampir membalas namun bayangan Ceri menyadarkannya.
"Andai gue lupa, terus apa bedanya gue dengan Reno."
Kini Tio memilih menyendiri di balkon kamar, menghisap nikotin yang menenangkan. Kebiasaan sejak lama yang belum bisa ditinggal. Saat hati ada masalah ia selalu menyendiri dengan kepulan asap rokok yang mengudara.
Tio belum keluar dari kamar dan mengabaikan jam makan malam. Ceri tak memaksa, ia cukup paham akan perasaan Tio yang sedang tidak baik-baik saja. Walaupun di hatinya, dia pun merasakan hal yang sama. Tapi Ceri mempunyai dua anak yang harus di urus dan di berikan perhatian.
"Mamah, Papah nggak makan bareng kita?"
"Kita makan berdua dulu aja ya sayang, Papah lagi capek butuh istirahat. Nanti kalo Papah sudah bangun pasti Papah makan."
Seperti kebiasaan sebulan ini, keduanya selalu makan malam bersama tanpa ada Tio. Jika kemarin Tio sibuk bekerja tapi hari ini ia sibuk menata hatinya.
"Tadi Regan lihat Papah pulang berkeringat terus Regan panggil diem aja Mah. Pekerjaannya berat ya mah, sampai Papah harus bekerja keras seperti itu. Kasian Papah Mah..."
...🍃🍃🍃...
"Kenapa selalu begini, dulu Reno terjebak dengan Kak Rika, sekarang Tio hampir tergoda dengan Tiwi yang ternyata mengalami kecanduan ****."
Ceri menghela nafas berat, ia tak tau harus bagaimana. Rumah tangga tak semanis kata-kata.
Ceri membuka pintu balkon kamar, melihat Tio diam dengan tatapan kosong ke depan. Langkahnya menggelitik Indra pendengaran Tio, membuat pria itu menoleh dan melihat Ceri mendekat.
"Belum tidur?"
Ceri menggelengkan kepala, kemudian ia memilih untuk berdiri dengan berpegangan pagar balkon.
"Selalu begini?"
__ADS_1
Tio yang tidak paham segera beranjak dari kursi dan mendekati. "Maksudnya?"
Ceri tak menjawab, hanya melirik ke arah asbak yang di penuhi dengan puntung rokok.
"Biasa pria punya selera!" jawab Tio santai. Kini keduanya sama-sama melihat langit malam dengan udara sejuk sebagai pelengkap.
"Anak-anak udah tidur?"
"Hhmm....udah laper belum?" tanya Ceri lagi.
Tio menggelengkan kepala, tak saling menatap tapi paham akan perasaan masing-masing.
"Besok ikut ke kantor ya!"
Kali ini Ceri menoleh, Tio yang paham segera membalas tatapan. "Pengen aja, biar terhindar dari syaiton."
Ceri mengangguk cukup mengerti kemudian memutuskan kontak mata dan kembali melihat ke arah langit.
"Ada atau nggaknya gue nggak berpengaruh apa-apa buat loe Tio. Tinggal si iman kuat apa nggak saat godaan datang lagi."
"Tapi tetangganya si iman ada si Beno Ceri, yang bisa khilaf kapan saja jika ada serangan. Seenggaknya kalo ada loe kan ada pawang yang bisa ingetin gue!" Tio masih memandang wajah Ceri yang saat ini justru tertawa kecil.
"Loe bukan anak kecil yang harus gue ingetin!"
"Gue tau, bahkan gue bisa bikin anak kecil tapi seenggaknya orang tau kalo gue punya loe!"
Ceri kembali menatap Tio dengan wajah tak percaya. "Loe mau go publish?"
"Tipis-tipis nggak apa-apa kan?"
"Kalo hanya untuk status buat apa Tio? kapan-kapan aja! Karena gue juga nggak butuh di kenal banyak orang menjadi istri seorang pengusaha muda, gue lebih baik nggak dapet status dan di anggap janda."
__ADS_1