Menikahi Janda

Menikahi Janda
Ngambek


__ADS_3

"Jadi kamu sudah tau Ceri telah menikah nak?" tanya mamah dengan tatapan sendu, ia tau putranya sangat mencintai Ceri. Hingga menunggu bertahun-tahun lamanya tanpa mau melirik wanita manapun.


Romi menganggukkan kepala, menarik nafas dalam untuk menenangkan kembali hatinya setelah melihat keharmonisan hubungan Ceri dan suami.


"Kenapa nggak bilang mamah? pasti sakit kan nak?"


"Sangat mah, bahkan aku sampai mencoba bunuh diri dengan menabrakan mobilku tapi Tuhan masih menginginkanku untuk hidup."


"Jadi ...." mamah tak dapat meneruskan ucapannya, beliau membungkam mulutnya dengan menahan air mata.


Romi menganggukkan kepala, ia hancur saat melihat ijab kabul Ceri dan Tio di selenggarakan. Ia yang ingin menjenguk Regan di buat terkejut dengan adanya acara yang entah bagaimana bisa terjadi tanpa ia ketahui.


Dunianya runtuh, kakinya tak mampu untuk berpijak, hatinya bagai di sayat dan tak kuat untuk menerima kenyataan. Romi berlari menuju mobil dan melajukannya dengan kencang. Hingga ia melihat truk melintas di tengah jalan saat mobil yang ia kendarai harusnya berhenti di lampu merah tapi ia justru melajukan dengan kencang hingga menabrak truk dan mengikhlaskan mobil kesayangannya hancur.


Setragis itu tapi jika Tuhan belum berkehendak tak akan ia pulang. Bahkan semua yang melintas sudah meyakini jika pengendara tak mungkin tertolong.


"Apa kamu nggak inget mamah nak? apa saat itu kamu tidak memikirkan mamah? bagaimana dengan mamah jika kamu pergi? Apa mamah sanggup hidup tanpa kamu?" Mamah sudah tak dapat lagi membendung air matanya, beliau menangis dan menyayangkan apa yang anaknya lakukan. Tapi beliau pun bersyukur Allah masih melindungi putra satu-satunya yang ia punya.


"Maafin Romi mah..." lirih Romi dengan bersimpuh dan mencium tangan mamah, ia sudah menyesali perbuatannya dan mengikhlaskan Ceri dengan pasangan barunya.


"Jangan lakukan itu lagi nak, ikhlaskan mungkin Ceri memang bukan jodohmu. Akan ada wanita baik selama jalanmu pun baik. Jangan takut nak, Allah sudah menyiapkannya untuk putra mamah."


Romi menganggukkan kepala dengan air mata yang tak terbendung. Suatu kebodohan yang sangat ia sesali, beruntung ia masih di beri kesempatan untuk hidup dan memperbaiki kesalahannya.


...🍃🍃🍃...


"Kenapa nggak bilang kalo Romi datang?" Tio sejak tadi tak bisa menahan diri untuk mengintrogasi Ceri, rasanya ia seperti sedang di siram minyak gosok yang panasnya sampai ke tulang.


"Udah dong cemburunya, aku nggak tau kalo Tante Tina mau datang. Lagian Tante Tina tuh udah seperti mamah aku sendiri, nggak mungkin juga aku usir. Tadi saat kamu telpon, aku lagi di depan pas banget Romi datang. Makanya aku nggak tau, udah ya aku kan nggak ngapa-ngapain juga."

__ADS_1


"Dia datang di sambut, giliran aku kamu nggak tau!" kesalnya dan Ceri hanya bisa menghela nafas panjang.


Tio masih saja tidak bisa mengendalikan diri untuk tidak cemburu dengan Romi. Dia paham betul Romi mencintai sejak lama. Dan kembali ingin bersama tapi sudah di tikung olehnya. Sungguh kasihan, tapi bukan berarti ia akan melepas Ceri begitu saja.


Ceri menghampiri dengan tubuh berbalut baju tidur tipis di atas lutut. Setelah makan malam bersama Romi dan Tante Tina. Keduanya masuk kamar setelah memastikan anak-anaknya tertidur nyenyak.


Tio nampak masih kesal, ia hanya diam dengan mata fokus ke layar ponsel yang ia genggam. Mode merajuk yang membuat Ceri gemas. Ceri membaringkan tubuhnya di sisi ranjang yang kosong, seakan mengabaikan tapi tak juga membiarkan. Tidur membelakangi tanpa menarik selimut.


"SHIIITT...."


Ceri mengulum senyum mendengar umpatan Tio, dia menghitung dalam hati sebelum akhirnya Tio menyerah.


"Satu....dua....tiga...."


"Sayang kamu mau menggodaku?" tanyanya dengan suara berat.


"Kenapa sich? kalo ngambek tuh diem nggak usah nanya-nanya!"


Tubuhnya merespon baik dan mulai tak tahan dengan pemandangan yang menggugah selera. Jantungnya berdebar seraya bangkitnya si Beno dengan sempurna.


Berulangkali Tio menghela nafas panjang dan akhirnya pertahanan runtuh juga. "Bini gue emang beda...."


"Kamu sengaja menggoda aku kan! ini apa?" bisik Tio membuat tubuh Ceri meremang.


plak


"Akh Tio!"


"Makanya jangan suka bikin macan ngamuk!"

__ADS_1


plak


"Ssssttt sakit Tio!"


"Sakit apa enak hhm? udah on gereget banget, ayo Tio lagi sayang...."


Ceri menutup wajahnya dengan bantal, dia yang menggoda tapi dirinya yang di goda. Hingga Tio yang gemas segara menarik bantal tersebut dan segera membungkam bibir tipis yang membuatnya gemas. Tangan merajalela di titik-titik sensitif Ceri tanpa melihat tampak begitu lihai.


Dan malam indah kembali terjadi dengan liukan tubuh Ceri yang menambah keindahan dalam penyatuan yang melenakan. Malam dimana pertukaran Saliva dan keringat menyatukan kedua insan hingga mencapai pelepasan yang luar biasa.


"Makasih sayang," Tio mengecup kening Ceri di ujung penyatuan.


"Istri siapa sich ini lincah banget!" Tio mengusal pipi Ceri hingga si empunya melenguh kegelian. "Dulu mamah kamu ngidam belut ya sayang?"


"Tio!"


Tio terkekeh kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh polos keduanya. "Jangan ngegas sayang, seperti biasa istirahat sejam langsung naik lagi ya!" ucap Tio dengan seringai tipis dan alis yang ia naik turunkan.


"Ngambek tapi minta nambah, emang udah kelar ngambeknya?"


" Udah donk sayang, kan udah keluar tadi barengan sama cairan cint@ kita." Tio menatap gemas wajah Ceri yang kini melihatnya dengan tatapan polos.


"Aku ingin mengadakan resepsi pernikahan," Tio mengecup pundak polos Ceri dan sedikit menggigitnya.


"Ssstt....harus banget ya?" tanyanya dengan menahan wajah Tio yang merusuh.


"Banget, aku capek kamu di anggap orang masih janda. Lagi musimnya janda semakin di depan. Nggak mau nanggung resiko, nyari aman aja."


"Udah cinta banget ya sama aku?" ledek Ceri.

__ADS_1


"Cantiknya kebangetan, servisnya memuaskan, pelayanannya nggak ada tandingannya gimana gue nggak jatuh cinta. Coba tanya sama mbah google obatnya apa kalo udah kecanduan sama bini?"


__ADS_2